Love Us My Husband

Love Us My Husband
familiar



.........


Dion mendarat dengan selamat meskipun tadi sempat terlepas satu pijakan.


Saat berhasil turun banyak wanita muda, janda, bahkan emak-emak terpesona dengan ketampanan dan kharisma yang di miliki Dion.


Bukan hanya para wanita. bahkan laki-laki di sana pun di buat bengong melihat betapa sempurna nya Dion di ciptakan sebagai seorang lelaki meskipun dia minim akhlaq serta tanggung jawab.


"Astagfirullah ganteng banget jen!" cicit beberapa remaja perempuan yang melintas.


Lelaki itu tidak ambil pusing karena hal seperti itu sudah wajar bahkan sering ia temui saat berada di tengah-tengah masyarakat.


Dion meraih ponsel yang ada di saku nya. setelah mendapat shareloc ia langsung tancap memasuki bangunan megah pusat perbelanjaan itu.


Sudah ada dua anak buah Arga yang menunggu kedatangan Dion didepan pintu nya.


Mereka menggiring Dion agar ikut kemana harus dituju. Jarak antara Arga dengan kumpulan Dara sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja banyak sekat membuat mereka terlindung dan hampir tidak terlihat jika memang tidak jeli dalam memperhatikan sekitar.


Setelah sampai ke tempat yang di tuju. Arga menunjuk dimana keberadaan Anak istri Bos nya itu.


"Itu mereka Tuan!"


Dion mengikuti arah telunjuk Arga. jantungnya berdebar tidak karuan. perasaan bahagia dan terharu bercampur menjadi satu, sehingga sangat sulit di ucapkan dengan kata-kata.


"Sayang Cintaku." cicit Dion pelan


Dara menoleh ke area sekitar. telinga nya seperti mendengar sesuatu. kontak batin perasaan cinta itu masih ada, hanya saja kecewa dan benci yang menutupi perasaan itu.


Kecewa dan Benci yang terlanjur mendarah daging akan sulit di sembuhkan, meskipun si pelaku sudah bersungguh untuk menebusnya namun paku yang terlanjur melubangi itu tidak akan mampu di tutup kembali.


"Bi! lo ada ngomong sesuatu." tanya Dara berkedip


Bira melepaskan gigitan burger dari mulutnya."Ngomong? gak ada."


"Ya kah?"


"Serius! lagian lu denger suara apa?" tanya Bira heran.


Dara tersenyum lalu menggeleng, mungkin hanya perasaan saja, pikirnya.


"Mau nambah sayangnya mimi?" tanya Dara kepada kedua buah hati nya. karena mereka jarang-jarang pergi ke kota, jadi lebih baik memuaskan lidah anak-anak nya dulu sebelum kembali ke kampung.


"Zelin kenyang mimi!" sahutnya lucu


Beda lagi dengan Zain. bocah laki-laki itu masih ingin karena menurutnya burger di sini sangat nikmat apalagi dengan saus keju nya yang melimpah, membuat bocah laki-laki itu semakin bersemangat dan mau-mau lagi.


"Abang mau nambah sayang? biar mimi pesankan lagi." tawar Dara lembut


Zain mengangguk malu." Mau nambah mimi, Zain belum kenyang." ucap bocah itu apa adanya. padahal sebelum pesan, Dara lebih dulu menawarkan mau makan nasi dulu, atau apa? tapi kedua anaknya ngotot ingin memakan burger.


"Siap." Dara mengangakat telapak tangan seperti salam hormat membuat kedua anaknya terkikik dengan tingkah ibu mereka. bagi Dara kedua buah hatinya harus selalu bahagia, dia hanya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk anak-anaknya. pengalaman pahit mengajarkannya untuk selalu menjadi ibu yang penuh ke lembutan, karena ia tahu sebagai seorang anak hanya ingin di sayangi meskipun hidup dalam keterbatasan.


Dion yang memperhatikan segala aktifitas Dara semakin di buat tidak sabaran untuk mendatangi Istri nya. dia mengikuti langkah Dara saat melihat wanita itu menjauh dan mendekati tempat pemesanan.


Karena terlalu fokus, Dara tidak sadar dan malas memperhatikan sekeliling. hingga dia mencium aroma yang tidak asing menusuk indra penciuman nya.


Jantung Dara berdebar, dia tidak mampu menguasai perasaannya." Ya Allah kenapa bau ini?" Dara mengusap pipi nya menghalau rasa gundah itu.


Tubuh tinggi yang di baluti jas mahal itu menutupi seluruh badan Dara. bukan menutupi tetapi melindungi pandangan orang lain dari belakangnya karena Dion berada tepat di belakang tubuh Dara.


Deg..


Deg..


Dara terpaku di tempatnya saat ini. kakinya seketika berhenti melangkah mendengar suara yang begitu familiar di telinga nya itu.


"Ya Allah ! jangan." pinta nya memohon dalam hati


"Sayang." panggil Dion sekali lagi, lalu meraih bahu Dara membuat wanita itu langsung berbalik.


Duaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrr


Begitu terkejut nya Dara melihat siapa yang ada di depannya ini.


Tubuh tinggi besar, wajah yang sangat tampan dengan rahang tegas itu berdiri tepat di depannya.


Jangan kira Dara akan terpesona, karena wajah tampan laki-laki itu menjadi sumber kepahitan kedua untuk Dara. Tidak di pungkiri meskipun Dion bejat tetapi ia tidak pernah menyesal dengan kejadian itu sehingga dianugrahi kebahagian melalui kehadiran anak-anaknya.


Laki-laki yang ia harapkan menjadi tempat labuhan terakhir itu berani datang setelah apa yang di perbuat kepada nya serta anak mereka?


Namun keterkejutan itu hanya sementara karena saat itu juga Ia langsung menguasai diri nya. karena dia sadar cepat atau lambat hal seperti ini pasti akan terjadi.


Dara berbalik kembali dan meneruskan langkahnya dan memesan tambahan untuk putra tampan nya.


Dion meraih tangan Dara membuat wanita itu segera menghempaskan tautan Dion.


"Jangan lancang Tuan." geram Dara mengilatkan api amarah, membuat beberapa pengunjung terkejut dengan reaksi Dara. mereka pikir mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


Dion sudah menduga akan mendapatkan respon seperti ini. namun kepalang tanggung membuatnya nekat menarik pergelanngan tangan Dara dan membawa nya menjauh dari kerumunan orang-orang.


"Sayang ku mohon ikutlah sebentar."pinta nya menghiba


Dara tersenyum mengejek bahkan terlihat seram."Siapa yang kau panggil,Tuan? jangan membuat kekacauan di sini."Hardik Dara melepaskan tautan tangan itu. sungguh dia jijik di pegang oleh lelaki penghianat dan pembunuh seperti Dion.


"Ikut atau aku gendong kau di sini." ancam Dion.


Dara tidak menghiraukan permintaan Dion. hingga pesanan nya selesai di buatkan


Bira, dan si kembar juga ikut memperhatikan ulah laki-laki yang mengganggu Dara, hingga Zain nekat mendatangi Mimi nya dan mendorong Dion sekuat tenaga yang ia miliki.


"Paman jangan ganggu mimi Zain." protes bocah tampan itu berkacak pinggang


Hanya kaki Dion yang tergeser, bahkan posisi nya tetap di tempat semula. Senyum haru menghiasi bibir nya, jantung nya semakin tidak karuan karena saat ini ia dapat menatap wajah putra nya dari dekat."Paman."gumam Dion dalam hati. ia merasa miris karena putra nya tidak menengenali kalau ia adalah ayah kandung nya sendiri.


Lalu tidak seberapa datang lagi Zelin dan langsung menarik tangan ibunya agar menunduk, bermaksud membawa Mimi nya ke dalam pelukan.


Sedangkan Bira yg hendak menyusul dihadang oleh Arga membuat wanita itu kembali duduk.


"Kau!!" tunjuk Bira dengan mata melotot


Arga mendelik tajam,meminta kepada wanita jadi-jadian itu agar tidak mengganggu pertemuan Bos nya.


Dara menarik kedua anaknya, membuat Dion gagal meraih putra nya tadi.


"Jangan berani menyentuh anak-anakku Tuan! seharusnya anda malu menampakan wajah berdosa mu di hadapan kami."Ucap Dara dingin. dia berbicara pelan agar pengunjung Mall tidak mengerumuni mereka, walau bagaimana pun masih ada rasa malu di hatinya jika sampai permasalahan mereka di tonton oleh orang banyak.


.........