Love Us My Husband

Love Us My Husband
Puncaknya



............


"Mau kemana lagi..??" tanya Dion dengan suara beratnya.


"Mas!! jangan..." Cengkeraman Dion ditangannya sangat kuat. Dara menggelengkan kepala hingga tubuhnya bergetar sampai kelutut.


"Aku sudah menunggumu dari beberapa jam yang lalu." sambung Dion masih terdengar berat bahkan begitu dingin.


"Aku.. aku dari rumah sakit. percayalah..."


"Kenapa kamu selalu menguji amarah ku Ra?? kenapa kamu mempermainkan aku Ra.. kenapa setelah aku memilihmu kamu berani mengelabuiku Ra...?" pekik Dion menarik tubuh Dara kedalam dan mendorongnya ke sofa.


"Mas ..!! apa - apaan kamu? kapan aku mengelabuimu " pekik Dara karena terjungkal untung saja Ia mendarat di sofa, coba kalau dilantai?.


"Shut up.." Dion mengacungkan tunjuk." Apa hukuman yang ku beri tidak cukup. bukankah sudah kuperingatkan jangan keluar dari Apartemen ini."


"Apa maksud mu Mas,, aku kerumah sakit . kalau tidak percaya aku punya buktinya." Dara terisak. mengambil tas yang tergorok dilantai lalu membongkar dan mengeluarkan kertas hasil pemeriksaan tadi.


Dara menggasakan asal kertas itu ke tangan Dion. air mata nya tidak berhenti keluar karena lagi - lagi Dion memperlakukannya semaunya.


"Liat mas.. baca..!! seharusnya kamu bertanya dulu padaku bukan langsung menghakimi seperti ini, aku kecewa sama kamu Mas." Ucap Dara sendu. lalu berlari kekamar dan langsung mengunci pintunya.


Dion melihat kertas yang tampak kumal itu. terlihat dari sampulnya bertuliskan alamat rumah sakit serta tanggal kapan dibuat.


Dion meremasnya hingga berbentuk seperti bulatan." Aakkkhhhhhh." lalu melemparnya asal dan segera pergi meninggalkan Apartemen.


.............


Satu bulan kemudian.


Setelah kejadian beberapa waktu lalu. Dion memilih bermalam dikantor, hampir tidak pernah tidur di Apartemen, dia hanya sesekali datang untuk mengambil baju ganti. dan itu membuat Dara semakin terluka. sebegitu kekanakannya kah Dion hingga pergi dari rumah tanpa bicara baik - baik dengannya.


Selama itu Dara tetap rutin menyiapkan makanan untuk sang suami meskipun Dion tdk pernah lagi mencicipi bahkan memakannya. tanpa bosan, setiap malam Dara menunggu kedatangan Dion melalui balkon.


Dara menengadah melihat langit. merasakan hembusan angin yang memenuhi rongga dadanya.


Dara memutar kenangan yang tersimpan di memorinya. senandung lagu ia sematkan melalui angin agar suaminya mendengar meskipun itu sangat mustahil.


Kata orang, tidak ada gunanya bernyanyi disaat mempunyai masalah. lebih baik panjatkan Do'a meminta kepada yang maha kuasa. tapi Dara sudah melakukannya dan Ia ingin sesekali mengungkapkan isi hati melalui syair.


..._ _ _ _...


...Angin titip rindu ini...


...Sampaikan isi hatiku, pada orang pemilik cintaku...


...Aku tak tau lagi.. tak kuat lagi memikul beban sendiri...


...Sepanjang hari melamun, setiap malam ku terisak.. menunggu dia datang dan mendekap tubuhku ini...


...Apa aku salah mencintainya??...


...Benarkah Cintaku ini berat sebelah??...


...Tanyakan padanya wahai angin apa masih kah aku bersemayam dihatinya ..??...


...Berikan ku jawaban agar tidak berlarut dalam kisah ini.....


............


pagi menjelang.


Dara terbangun dari tidurnya. dia bergegas ke wc, karena ari - arinya seperti mau pecah sebab terlalu banyak menampung kemih. Dara berjalan perlahan, kakinya bengkak seperti gajah. belum lagi frekuensi buang air kecilnya meningkat, mengalami Diare , bahkan sakit punggung seperti mau haid.


"Ahh.. kenapa tubuhku terasa berat. Ya ampun mau ke wc saja aku butuh perjuangan. ssshhhh.." baru sampai dipintu Wc, Dara lebih dulu terkencing di celana sungguh dia tidak sanggup lagi menahannya hingga air itu mendesak keluar tanpa bisa dicegah. " Yahh basah deh. sekalian mandi ajalah. " gumam Dara geli pada diri sendiri.


Dokter bilang perkiraan waktu Dara melahirkan kurang lebih dua minggu lagi, itupun antara maju atau mundur. yang artinya hari perasalinan tidak dapat diprediksi tepat waktu. Dara melakukan pemeriksan itu seminggu sebelumnya sehingga Ia takut akan melahirkan kapan saja.


Mertua Dara beberapa hari ini rutin mengunjunginya meskipun tidak bisa berlama - lama. maklumlah ibu - ibu sosialita pasti sibuk seperti gemar berbelanja, ngikutin tren kekinian , selalu ingin tampil modis tanpa mengingat umur sehingga lupa daratan. beliau tidak mengetahui kalau Dion masih bersitegang dengan menantunya. Ia pikir hubungan anaknya sudah rukun seperti semula.


Bukan hanya mertuanya. Bira setiap hari mengunjunginya, itupun sudah sore, mengingat siang hari dia bekerja dan menyempatkan diri mampir sebentar.


"Mas !! kamu pulang.." Dara memeluk Dion dari belakang.sungguh Ia sangat rindu, ia tidak akan melepaskan kesempatan hari ini.


"Ra lepas.. " Dion berusaha melepas belitan Dara dipinggangnya.


"Gak mau. sebelum kamu maafin aku." Ucap Dara mengalah.


"Ra lepas. aku lagi memilih baju ini." Ucap Dion seraya memasukan beberapa pakaian ke koper.


Dara menggerakan kepala mengikuti arah tangan Dion." Ada apa dengan koper itu? kamu mau kemana mas...?" tanyanya terkejut.


"Bukan urusan kamu." sahut Dion cuek.


Dara melepas tautan tangannya, lalu Ia menarik koper itu menjauh sehingga membuat Dion mendelik


" Kemarikan koper itu Ra.." Ucapnya tegas.


"Gak !!! . Kamu mau kemana dengan koper ini Mas??" Dara mencengkram nya dan menyeretnya kebelakang.


Dion menghembuskan nafas gusar." Aku mau pergi, ada urusan."


"Urusan apa Mas,, pliss jangan pergi lagi aku mohon. sudah sebulan kamu pergi dari rumah, apa kamu tidak menghawatirkan kami Mas..." sahut Dara berkaca - kaca.


"Maaf Ra.. aku harus menemani Mirra ke belanda melanjutkan kemoterapi nya." Ucap Dion berkata jujur.


Duarrrrrrrr 🌋🌋🌋


Suara Bom Atom meledakan jantung Dara, dadanya terasa ngilu bahkan nafasnya terputus - putus. pegangannya terlepas dari koper itu. amarah tiba - tiba membuncah mendengar tuturan Dion


" Mirra ? Belanda ? kemoterapi ?. apa yang kamu katakan Mas...?? Mirra lagi, Mirra lagi,, sampai kapan kamu akan mengurusi wanita itu. sebentar lagi aku akan melahirkan apa kamu tidak ingin menemaniku dan menjadi orang pertama yang menyambut anak kita.. Apa ini yang kamu katakan mencintai ku dan menyayangi triplets? Ya Allah Mas, aku disini menunggumu tapi kenyataannya kamu menghawatirkan wanita lain." Dara memegang kepalanya yang terasa pening. Ia hampir terduduk jika saja Dion tidak segera menyambut tubuhnya.


"Ra .. kamu gak papa??" tanya Dion khawatir, lalu mengangkat tubuh Dara membawanya ke kasur.


Dara kembali bangun. dia menahan pergelangan Dion membuat Dion kembali marah. Ia berasumsi bahwa Dara kembali mengelabuinya dengan pura - pura lemah.


"Lepas....." Bentaknya, membuat Dara terjingkat kaget dan langsung melepas pegangan itu.


Dion kembali ke walk in closet mengambil koper serta berkas yang akan dibawanya.


Dara tidak patah semangat . dia mengejar Dion, dan menggiring kemana laki - laki itu melangkah.


"Jangan pergi Mas.. aku mohon temani aku. aku takut melahirkan sendirian,, huuu huu huuu." Dara terisak mencoba menggapai Dion.


Dion berjalan cepat hingga sampai diruang tamu tepatnya disamping mini bar yang terdapat berbagai minuman botol serta gelas berisi air bekasnya minum.


"Mass..jangan tinggalin aku pliss."


Dion berbalik dengan wajah datar. "Apa tidak bisa sekali saja kamu mengerti dengan ucapanku?.. Mirra membutuhkan bantuanku Ra, disini dia tdk memiliki keluarga. sedangkan kamu masih punya Orang tua serta Mommy Daddy ku. jikapun saatnya kamu melahirkan masih ada mereka yang akan menemanimu . dan satu yang harus kamu ingat !! Kalau bukan karena kamu hadir diantara kami Mirra tdk akan depresi hingga membuatnya sakit seperti sekarang. jadi jangan coba - coba menghalangi aku." Tunjuk Dion tepat didepan muka Dara.


Sakit tentu sakit mendengar perkataan Dion. bahakan dia tdk mampu mengeluarkan kata - kata saking sakitnya. ternyata suaminya menganggapnya jadi penyebab dari penderitaan Mirra.


Ternyata selama ini ungkapan Cinta Dion hanya kepalsuan saja. Ia tdk mampu menghilangkan jejak cintanya untuk Mirra sehingga Ia akan menjadi yang terdepan bila menyangkut wanita itu, dan melupakan statusnya sebagai lelaki beristri.


"Begitukah !! jadi selama ini kamu menyesal menikahiku dan mempertanggung jawabkan kehamilan ku ini..? kamu lupa kamulah yang menghancurkan hidupku mas !!! jahat kamu ...." Dara menggoyang bahu Dion membuat laki laki itu menepis hingga tersenggol gelas diatas meja itu.


" Praaaang..." gelas tadi hancur berserakan bahkan airnya meluber kemana - mana.


Dara menahani ujung baju Dion, mencegah laki - laki itu meninggalkan rumah.


Dion tetap pada keputusannya. Ia melihat jam yang bertengger dilengannya, dan terus melangkah. karena saat waktunya tidak banyak. sudah pasti Mirra menunggunya dan parahnya mereka bisa tertinggal pesawat.


"Jangan pergi Mas... jangan jadi pecundang kamu..."


"Lepas Ra.. aku bisa terlambat."


"Jangan pergi Mas." Dara tetap menarik baju suaminya, hingga membuat Dion menepis dan mendorongnya pelan agar sedikit menjauh. setelah merasa ada kesempatan Ia segera berlari hingga mencapai pintu membukanya lalu ditutup tanpa menoleh.


Sedangkan Dara yang didorong tadi, tidak sengaja menginjak air sehingga Ia terpeleset beberapa meter kebelakang


"Aaakkkkhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh......"