Love At The First Sight

Love At The First Sight
Bab 7



Beberapa waktu berlalu, saat ini Edi sudah resmi menjadi seorang TKI di luar negeri. Dia bekerja disebuah pabrik dengan menjadi karyawan biasa. Dia merasakan betapa berat pekerjaan yang dia kerjakan saat ini. Tetapi dia tidak pernah mengeluh karena dia sudah berjanji akan menjadi lebih baik lagi untuk bisa membuktikan kepada Erni bahwa dia bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya suatu saat nanti.


2 bulan berlalu dan mulai saat ini Edi sudah bisa memberi nafkah untuk kedua anaknya. Karena dibulan-bulan pertamanya dia harus bisa menyesuaikan diri lebih dulu sehingga baru bisa memberikan pada bulan ini.


Kehidupan Edi sudah mulai membaik kembali, dia sudah memiliki ponsel sendiri untuk bisa menghubungi Erni. Edi meminta tolong kepada temannya yang sudah banyak membantunya untuk meminta nomer ponsel Erni.


Dan saat ini sepulang bekerja Edi berniat ingin menghubungi Erni. Meskipun ada perbedaan jam di negara mereka tetapi masih terbilang belum terlalu malam untuk menelpon Erni.


Erni yang saat itu akan bersiap beristirahat tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Karena sudah merasa lelah Erni pun membiarkan ponselnya terus berdering. Tetapi semakin dia membiarkan semakin terus saja ponsel itu berdering. Dan Edi pun tidak putus asa untuk menghubungi Erni.


"Ish..! Siapa sih malam-malam gini telpon? Gak ngerti apa orang mau tidur!" gerutu Erni. Dengan malas dia beranjak untuk mengambil ponselnya yang dia taruh diatas nakas.


Sebelum Erni menjawabnya dia melihat terlebih dahulu pada layar ponselnya siapa yang menghubunginya.


"Nomor siapa ini? Kayak nomor luar negeri?" gumam Erni menatap heran layar ponselnya.


Karena Erni memang tidak tahu bahwa Edi menjadi TKI di luar negeri dia hanya tahu bahwa Edi sudah bekerja dan dia merasa bersyukur. Sedangkan kemarin teman Edi yang meminta nomor ponselnya hanya mengatakan bahwa Edi sudah bekerja karena memang Edi tidak mau kalau Erni mengetahui bahwa Edi menjadi TKI.


Ponsel Erni masih terus berdering, karena rasa penasaran yang tinggi akhirnya Erni pun menjawab panggilan tersebut.


"Halo.." ucap Erni lirih setelah dia menggeser tombol hijau pada ponselnya.


Begitu mendengar suara Erni yang masih sama sejak dulu, tiba-tiba saja membuat jantung Edi berdesir senang. Tanpa sengaja matanya pun berkaca-kaca dan hampir saja mengeluarkan air mata.


Karena merasa tidak ada jawaban Erni pun kembali bersuara dan seketika membuyarkan lamunan Edi.


"Halo.. Ini siapa ya?" tanya Edi.


Erni pun merasa tidak asing dengan suara seseorang yang berada diseberang telepon itu.


"Mas Edi?" tanya Erni tanpa menjawab pertanyaan Edi.


"Iya ini aku Er." jawab Edi dengan tersenyum seolah Erni bisa melihat senyumnya.


"Kog nomornya luar negeri?" tanya Erni.


"Iya sekarang aku kerja di sini Er." jawab Edi.


"Ow iya aku mau kirim nafkah buat anak-anak tolong kirim nomor rekening kamu ya. Maaf mungkin masih belum seberapa tapi aku janji tiap bulan akan terus kirim." lanjut Edi mengutarakan maksudnya menghubungi Erni dan sebelum Erni banyak bertanya kenapa harus kerja jadi TKI.


"Tapi Mas.." Erni berusaha untuk menolak.


"Er, tolong kasih aku kesempatan ya buat kasih nafkah kalian. Kalau kamu gak mau terima sama saja kamu belum bisa maafin aku." Edi kembali bersuara dengan memotong perkataan Erni. Karena Edi yakin bahwa Erni pasti akan menolak niatnya tersebut.


Akhirnya Erni pun menerima niatan Edi tersebut dengan catatan kalau memang Edi tidak punya jangan sampai memaksakan diri. Dan mereka pun mengakhiri panggilan tersebut dengan saling menguatkan satu sama lain.


...****************...


Tetap semangat 💪


Tinggalkan jejak like, komen dan hadiah 🙏


Jangan lupa vote nya donk kak 🤗