Love At The First Sight

Love At The First Sight
Bab 42



Vera dan Brian sampai juga di bandara Ngurah Rai. Kemudian mereka segera naik taksi untuk menuju hotel yang sudah dipesankan kakaknya Brian untuk mereka. Hanya sekitar 30 menit akhirnya mereka sampai juga di hotel. Mereka segera check in kemudian diantar menuju kamar yang sesuai dengan nomor.


Setelah mengucapkan terima kasih dan memberi sedikit tips kepada pegawai tersebut, Vera dan Brian pun segera masuk ke dalam kamar kemudian Brian memilih membaringkan tubuhnya dahulu di bed sedangkan Vera segera membersihkan diri dia masuk ke kamar mandi. Begitu selesai Vera menghampiri Brian yang ternyata sudah terlelap entah sejak kapan. Vera berdiri disamping ranjang.


"Pa, gak mandi dulu?" tanya Vera, tetapi Brian bergeming hingga akhirnya Vera sedikit mengguncang bahu Brian untuk membangunkannya.


"Pa! Mandi dulu." ulang Vera.


Brian kemudian menggeliat dan melihat ke arah Vera yang ternyata sudah mandi dengan bau harum khas orang yang selesai mandi.


Tanpa banyak kata Brian justru menarik tangan Vera sehingga membuat Vera menjerit karena kaget. Vera jatuh dipelukan Brian. Vera sedikit meronta tetapi justru Brian semakin mengeratkan pelukannya sehingga akhirnya membuat Vera pasrah saja.


Kemudian Brian mendekatkan wajahnya dengan wajah Vera kemudian mencium kening Vera dengan dalam dan mata mereka saling menatap dengan penuh cinta.


Tangan Brian perlahan bergerak menyingkirkan anak rambut Vera yang ada didekat matanya. Kemudian membelai pipinya dan turun kebawah sehingga menyentuh bibir Vera. Brian meraba bibir Vera dengan lembut kemudian Brian perlahan mendekat sehingga wajah mereka pun hampir tidak berjarak.


Dan tanpa menunggu lama lagi kedua bibir mereka pun bertemu. Brian melu-mat dengan lembut sehingga Vera pun menikmatinya dan juga bahkan membalasnya. Cukup lama mereka bertukar saliva, hingga pada akhirnya tangan Brian pun bergerak untuk mencari benda kenyal lainnya yang juga dimiliki oleh Vera.


Brian mencari pengait yang menghalangi benda tersebut dipunggung Vera yang ada diatasnya tanpa mereka melepaskan ciuman mereka.


Akhirnya pengait tersebut terlepas, Brian pun melepaskan ciumannya. Pandangan mereka kembali bertemu tetapi pandangan kali ini sudah bercampur dengan kabut gairah.


Brian segera menyingkap baju Vera ke atas sehingga terpampang nyata lah pemandangan yang sangat indah disana. Selama mereka berpacaran Brian memang tidak pernah menyentuh bagian sensitif Vera hanya untuk sekedar have fun, tetapi memang Brian memiliki prinsip bahwa akan menyentuh ketika mereka sudah resmi menikah.


Brian menyentuh kedua benda tersebut bergantian bahkan sedikit mere-masnya dan memainkan ujungnya. Sedangkan Vera pun hanya bisa mende-sah merasakan sentuhan dari Brian.


Setelah puas bermain dengan itu Brian segera bangkit berdiri dan segera melucuti semua pakaian yang dia pakai, hingga tinggal satu celana yang belum dia lepas tetapi Vera cukup bisa melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang sudah menonjol didalam sana. Vera menggigit bibir bawahnya melihat pemandangan didepan matanya.


Brian pun segera melepaskan pakaian Vera sehingga Vera sudah polos tanpa busana. Kemudian Brian segera melepaskan satu-satunya kain yang menempel ditubuhnya kemudian mendekat ke arah Vera yang sudah pasrah berada dibawahnya.


Vera hanya menganggukkan kepalanya. Brian segera membuka sedikit kaki Vera sehingga dia bisa melihat dengan jelas sesuatu yang tersembunyi dibalik itu sebelumnya dan terlihat sekali sudah siap untuk dimasuki.


Brian pun segera memposisikan diri kemudian mengarahkan senjatanya ketempat yang seharusnya. Brian sedikit menekan lebih keras karena memang sangat sulit untuk memasukkannya sedangkan Vera terlihat menahan nafas dan meringis menahan sakit. Brian kembali teringat ketika pertama dan terakhir kali melakukan dengan Eveline waktu itu, rasanya hampir sama karena merasa sangat susah untuk melakukan penyatuan.


Beberapa kali mencoba Brian masih belum berhasil hingga membuat Brian semakin merasa kesakitan bahkan keringat pun sudah bercucuran ditubuhnya padahal AC sudah dinyalakan cukup dingin tetapi tidak terasa untuk mereka berdua yang sedang mengarungi kenikmatan bersama.


"Sakit Pa." rintih Vera dengan sedikit merengek.


"Sakit ya Ma? Maaf. Tahan sebentar ya." pinta Brian, karena bagaimanapun Brian tidak ingin berhenti ditengah jalan begitu saja.


Dan Vera pun tidak tega untuk menghentikan Brian ketika melihat wajah Brian yang memang menginginkannya. Sehingga Vera menahan rasa sakitnya.


Dengan kembali mendorong lebih keras akhirnya Brian berhasil menembus sesuatu yang sangat berharga milik Vera. Bersamaan dengan itu Vera sedikit berteriak karena merasakan sakit dan nyeri secara bersama. Dan mereka merasakan ada sesuatu yang mengalir disela-sela penyatuan mereka.


Mereka berhenti sejenak untuk menetralkan rasa yang baru saja mereka rasakan bersama untuk pertama kalinya bagi Vera. Setelah merasa cukup tenang dan nyaman Brian bergerak perlahan memajumundurkan tubuhnya serta tangan Brian pun juga ikut bekerja memberi rangsangan Vera terhadap benda kenyal didepannya. Vera yang awalnya merasakan sakit lama-kelamaan hanya rasa nikmat yang dia terima.


Hingga akhirnya mereka bergerak dengan sendiri sesuai naluri mereka. Dan lama-kelamaan mereka merasakan sesuatu yang hampir keluar dan hal itu tidak bisa mereka tahan hingga akhirnya mereka keluarkan secara bersamaan.


"Aghhh..." Brian pun ambruk didada Vera dengan nafas terengah-engah tetapi tidak sampai menindih supaya sesuatu yang mengalir dibawah sana bisa mengalir dengan sempurna ke tempat yang seharusnya. Karena Brian memang ingin segera mempunyai anak tanpa harus menundanya.


Brian pun menatap mata Vera kemudian mencium keningnya dan mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan dan menjaga sesuatu yang sangat berharga untuknya.


...****************...


Tetap semangat 💪


Tinggalkan jejak dengan cara like, komen dan hadiah jangan lupa 🙏