Love At The First Sight

Love At The First Sight
Bab 52



Begitu sampai dikamar, Brian meletakkan Vera diranjang mereka dengan sangat hati-hati agar Vera tidak terbangun. Begitu sudah berada diranjang, Vera hanya menggeliat saja dan kembali tertidur pulas. Setelah memakaikan selimut di tubuh Vera, Brian segera keluar dari kamar dan mengunci pintu rumah mereka.


Kemudian Brian kembali ke kamar untuk segera mandi karena dia merasa tubuhnya sudah lengket dan bau asap rokok serta minuman alkohol, karena kalau dia biarkan seperti itu akan membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Meskipun jam sudah menunjukkan waktu tengah malam, tetapi Brian tetap memilih mandi dengan pilihan air hangat.


15 menit berlalu, Brian sudah selesai dengan semua aktifitasnya dan dia ingin menyusul istrinya tidur tetapi rasa kantuk tidak juga menyerangnya justru tiba-tiba dia kembali ingat dengan segala sesuatu tentang Eveline.


Akhirnya Brian memutuskan untuk berjalan keluar dari kamar menuju ke balkon kamarnya. Brian berdiri dipinggir pagar pada balkon dan menyalakan rokok kemudian menghisapnya dalam dan mengeluarkan asapnya pelan. Memang ketika sedang merasakan sesak pada pikirannya Brian akan melakukan hal itu berharap bahwa sesak itu akan hilang.


"Aku merelakan kamu Eve. Aku mengikhlaskan jika memang anak itu belum rejeki ku dan kita tidak menjadi jodoh. Mungkin ini karma ku hingga saat ini aku belum memiliki anak. Semoga kamu bahagia dan mendapatkan seseorang yang mau menerima kamu apa adanya." gumam Brian.


Sedangkan didalam kamar, Vera mengeliat dari tidurnya kemudian dia membuka mata perlahan merasa ada yang aneh dengan dirinya.


"Kog aku ada dikamar? Tadi perasaan kan di sofa." gumam Vera sambil mengingat yang terjadi, tapi percuma saja dia tidak bisa mengingatnya.


Tetapi ketika Vera menoleh melihat ke arah balkon disana terlihat bayangan Brian sedang berdiri dan pintu balkon yang tidak tertutup rapat. Akhirnya Vera berpikir bahwa Brian lah yang telah melakukan semua itu.


Akhirnya Vera memilih untuk bangun dan berjalan perlahan menuju balkon. Dia melihat dari belakang Brian yang sedang terlihat memikirkan sesuatu.


"Apa yang dipikirkannya? Bukannya seharusnya dia bersenang-senang? Tapi kog malah sedih?" pikir Vera.


Vera berjalan perlahan menghampiri Brian, kemudian memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Brian.


Brian pun menyadari kedatangan Vera dan mengusap tangannya yang melingkar di perutnya sambil tersenyum teduh.


"Kog bangun? Hmmm." tanya Brian dengan lembut.


"Karena gak ada guling hidupnya." jawab Vera manja.


"Lagi mikirin apa Sayang?" tanya Vera sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat Brian yang masih dalam posisi memeluknya.


"Gak mikirin apa-apa. Cuma mikirin kamu aja." jawab Brian sambil mencolek hidung Vera dan tersenyum teduh.


"Maaf.." lirih Vera.


"Maaf kenapa?" tanya Brian sambil memegang dagu Vera agar menatapnya.


"Maaf karena belum bisa memberimu keturunan." sendu Vera.


"Ssstt! Kamu ngomong apa sih? Memangnya kamu yang bisa menghadirkan anak? Kog ngomongnya gitu. Yang penting kita sudah berusaha mencobanya dan jangan pantang menyerah, nanti juga kita pasti dikasih." jawab Brian membesarkan hati Vera.


Karena benar apa yang dikatakan Brian, bukan Vera atau Brian yang menghadirkan anak tetapi Yang Maha Kuasa. Asalkan sebagai manusia dia sudah berusah maksimal.


"Ya uda sekarang kita usaha lagi yuk." ucap Brian sambil menaikturunkan alisnya.


Vera pun tersipu malu dan menganggukkan kepalanya. Brian pun segera menggendong Vera ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar. Dan malam itu menjadi saksi Brian benar-benar melepaskan Eveline dengan ikhlas.


...****************...


Tetap semangat kak 💪


Tinggalkan jejak dengan cara like, komen dan hadiah jangan lupa 🙏