
"Ow gitu, kirain kalian lagi ada masalah." jawab Erni.
"Gak ada kog. Ya uda aku kerja lagi ya nanti kalau ponselnya uda aktif aku kasih tahu deh kalau kamu nyariin dia." ucap Vera dengan perasaan yang tidak menentu dan ingin segera mengakhiri panggilan dari Erni.
"Ya uda deh, thanks ya Ver. Kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri, ingat kamu punya aku!" tegas Erni.
Erni tentu saja bisa merasakan bahwa sahabatnya sedang ada masalah dengan Brian. Tetapi Erni tidak mau memaksa jika Vera belum mau bercerita kepadanya.
Vera pum hanya menganggukkan kepalanya seolah Erni bisa melihatnya. Dan mereka pun mengakhiri panggilan tersebut.
Setelah panggilan berakhir, pikiran Vera pun semakin menjadi-jadi tentang Brian. Apalagi dengan kabar dari Erni bahwa ponsel Brian tidak bisa dihubungi. Vera berfikir apakah setelah pertemuan Brian dengan mantan pacarnya semalam akhirnya mereka menghabiskan waktu bersama dan Brian tidak mau diganggu sama sekali sehingga harus menonaktifkan ponselnya?.
Vera pun semakin bertambah gelisah, ingin menghubungi Brian juga tetapi dia cukup gengsi untuk memulainya lebih dahulu apalagi Vera berfikir bahwa Brian tidak berusaha mencari dan menjelaskan semuanya kepada Vera.
Akhirnya Vera pun memilih melupakan sejenak permasalahannya ini dan kembali fokus bekerja.
...****************...
Sedangkan disebuah kamar di bar yang semalam Eveline datangi, terlihat disana Eveline yang baru saja terbangun dari tidurnya. Begitu membuka mata dia merasakan kepalanya sangat pusing karena efek dari minuman alkohol yang semalam dia minum.
"****! Pusing banget kepala ku!" gumam Eveline sambil memegangi kepalanya dan mencoba duduk dikepala ranjang.
Eveline tidak merasa bingung dan asing berada dikamar tersebut karena dia memang sudah terbiasa seperti itu ketika sedang mabuk jika di bar. Dan seorang bartender yang merupakan temannya pun selalu siap sedia memesankan kamar untuknya. Tetapi sudah bisa dipastikan bahwa Eveline tidak tidur dengan laki-laki yang sembarangan.
Begitu sudah duduk tiba-tiba saja dia dikejutkan suara laki-laki dikamarnya.
"Kamu tidur apa pingsan sih? Lama bener bangunnya!" gerutu Jay dengan kesal.
"Orang baru melek itu dikasih minum dulu bukannya malah diomelin." gumam Eveline yang masih menahan rasa pusing dikepalanya dan gumamannya pun dapat didengar oleh Jay sang bartender.
"Uda buruan transfer uangnya aku mau pulang ini." ucap Jay mengingatkan Eveline.
"Iya-iya cerewet!" kesal Eveline. Tetapi meskipun begitu dia tetap mengambil ponselnya didalam tas untuk segera mentransfer sejumlah uang untuk upah Jay karena sudah menjalankan tugasnya dengan baik.
Ponsel Jay pun berbunyi menandakan ada notifikasi yang memberitahukan bahwa baru saja ada sejumlah uang masuk ke rekeningnya.
"Dari tadi gini kan manis." ucap Jay dengan tersenyum senang sambil terus melihat ponselnya karena saldo rekeningnya semakin bertambah.
Setelah itu Jay segera bangkit berdiri dan berjalan ke arah ranjang Eveline. Jay memberikan minuman botolan kepada Eveline.
"Minum ini supaya pusingnya berkurang. Makanya kalau gak kuat minum gak usah minum apalagi sampai mabuk." ucap Jay sambil berjalan keluar dari kamar Eveline.
Eveline pun menerima minuman tersebut dan menatapnya.
"Thanks. Mau kemana kamu?" tanya Eveline yang melihat kepergian Jay.
"Pulanglah! Kamu pikir aku bakal nungguin kamu terus gitu?" tanya Jay dengan kesal dan tetap berlalu keluar dari kamar Eveline.
"Siapa tahu mau antar aku pulang sekalian." lirih Eveline yang masih bisa didengar oleh Jay.
"NO WAY!" seru Jay dan dia benar-benar keluar dari kamar Eveline.
" Dasar mata duitan!" Umpat Eveline kesal.
Eveline pun meminum minuman yang baru saja diberikan oleh Jay dan setelah itu dia membersihkan diri dikamar mandi sebelum kembali pulang ke apartemennya.
...****************...
Tetap semangat 💪
Tinggalkan jejak like, komen dan hadiah 🙏