Love At The First Sight

Love At The First Sight
Bab 31



Akhirnya Brian dan Vera pun berangkat menuju kediaman orang tua Brian yang berada di luar kota. Bohong jika Vera tidak gugup hingga telapak tangannya pun berkeringat dingin.


Brian meraih tangan Vera kemudian digenggamnya seolah memberi kekuatan kepada Vera bahwa tidak akan terjadi apa-apa sehingga Vera tidak perlu takut. Vera menoleh ke arah Brian.


"Santai aja Yank, kog gugup gini sih." ucap Brian yang masih menggenggam tangan Vera sambil melirik ke arahnya.


"Aku takut Yank, nanti aku harus gimana ketemu sama keluarga kamu?" tanya Vera.


"Kamu gak perlu gimana-gimana. Kamu hanya perlu jadi diri kamu sendiri." jawab Brian, karena dari awal pertemuan mereka Brian menyukai Vera yang apa adanya tentu saja Brian tidak mau Vera berubah menjadi seseorang yang sengaja dibuat-buat agar orang lain menyukainya.


Vera hanya mengganggukkan kepalanya, kemudian tangan Vera yang digenggam Brian pun dicium oleh Brian.


Setelah melewati perjalanan yang cukup macet akhirnya mereka sampai juga dikediaman orang tua Brian. Seperti biasa mereka sudah menyambut didepan rumah begitu mobil Brian memasuki halaman.


Brian kembali tersenyum kepada Vera memberi kekuatan supaya Vera tidak minder dan takut. Akhirnya keduanya keluar dari mobil dan segera menghampiri seluruh keluarga yang sudah menyambutnya.


Dan benar saja Vera menjadi dirinya sendiri, dia begitu sangat sopan ketika berhadapan dengan keluarga Brian. Bukan semata-mata agar direstui oleh mereka tetapi memang begitu lah adanya Vera. Apalagi dengan keramahan Vera membuat semuanya akrab dengan cepat.


Vera memberitahukan apa pekerjaannya, dimana orang tuanya tinggal dan bagaimana keluarga nya tanpa ada yang ditutupi sama sekali. Sehingga keluarga Brian pun bisa menilai bahwa Vera memang pantas untuk Brian. Dan setelah itu mereka makan bersama, meskipun dirumah Brian dan Vera sudah makan tetapi mereka tidak ingin mengecewakan tuan rumah yang sudah menyiapkannya selain itu karena memang Brian sudah merasa lapar lagi setelah mengemudikan mobilnya dengan keadaan yang lumayan macet.


Selesai makan mereka berkumpul diruang keluarga. Sebenarnya untuk membahas tujuan mereka bertemu dengan keluarga Brian.


"Begini Nak Vera, kamu tahu kan tujuannya Brian mengajak kamu kesini?" tanya Papanya Brian.


Sebelum menjawab Vera melirik ke arah Brian terlebih dahulu yang duduk didepannya bersama dengan keponakannya dan Papanya. Sedangkan Vera sendiri duduk disebelah Mamanya Brian dan kakak perempuannya yang saat itu kebetulan ada dirumah orang tua Brian.


"Hmm... Sebenarnya belum tahu Om, tiba-tiba saja kemarin Brian ngajak pergi ke rumah Om dan Tante gitu." jawab Vera polos.


Mendengar jawaban Vera sukses membuat kakak Brian tertawa lepas karena memang kakaknya suka sekali menggoda Brian.


"Hahahaha kasihan sekali kamu Dek, omong-omong bawa calon istri tapi gak diakui hahhaa." Kakak Brian sengaja menggodanya.


"Kakak ihh! Apaan sih!" seru Brian kesal.


"Yank! Kog gak tau sih? Kan aku uda bilang mau nikahin kamu." lanjut Brian yang beralih kepada Vera.


Vera hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kaku.


"Yeee bilang aja Vera gak mau nikah sama kamu wleekk." Kakaknya Brian masih menggodanya.


"Apaan anak-anak ku kan tidur, bebas donk aku mau ngapain." jawab Kakaknya Brian.


"Sudah.. Sudah! Kebiasaan kalian ini kalau ketemu suka sekali ribut. Gak malu ada Nak Vera." lerai Mamanya Brian.


"Ya beginilah mereka Nak Vera kalau ketemu. Tapi kalau gak ketemu mereka saling kangen." ucap Papanya Brian memberitahu.


"Yeee siapa juga yang kangen sama buntelan pisang gitu." ledek Brian yang ditujukan untuk Kakaknya. Memang ada alasannya Brian menjuluki Kakaknya seperti itu, karena setelah melahirkan badannya Kakaknya berubah menjadi sedikit berisi sehingga Brian suka sekali bodyshimming terhadap kakaknya sendiri.


"Dari pada kamu krempeng gitu, jangan mau Ver sama Brian." ledek Kakaknya lagi.


"Sudah cukup! Kalau dibiarkan kalian gak akan berhenti. Kakak ke kamar dulu aja biar Papa sama Mama yang bicara." tegas sang Papa.


"Iya Pah." akhirnya Kakaknya Brian pun meninggalkan ruang keluarga kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk menemani sang anak yang sedang tertidur.


"Maaf ya Nak Vera mereka memang kayak anak kecil. Tapi sejujurnya mereka saling menyayangi." Papa Brian menjelaskan karena tidak ingin Vera berpikiran bahwa Kakaknya Brian sangat tidak dewasa.


"Iya gak apa-apa Om, wajar kog kan sama keluarga sendiri apalagi mereka kan sudah sering bersama sejak kecil." jawab Vera dewasa sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau kamu mengerti. Karena nanti kalau kamu menikah sama Brian, Om tidak mau masalah kedekatan Brian dengan Kakaknya menjadikan pertengkaran kalian suatu saat nanti."


"Sekarang intinya, Om dan Tante meminta kamu apakah bersedia menikah dengan anak Om? Om sengaja tanya dulu ke kamu, kalau kamu setuju nanti kita atur waktu kita akan temui orang tua kamu untuk melamar kamu secara resmi." lanjut Papanya Brian menjelaskan tujuan mereka diundang ke rumah orang tua Brian.


Belum sempat Vera menjawab, tiba-tiba saja Brian berjalan ke arah Vera dan berlutut didepannya sambil merogoh saku celananya untuk mengambil kotak yang berisi cincin yang memang khusus dia berikan untuk Vera. Sebenarnya waktu ketemu dengan Eveline beberapa waktu yang lalu, waktu itu Brian ingin melamar Vera tetapi ternyata karena ketidaktegasan Brian terhadap Eveline membuat kesalahpahaman antara Brian dan Vera terjadi.


"Didepan kedua orang tua ku aku meminta kamu untuk mau menerimaku dan menjadikanku sebagai imam mu." ucap Brian sambil menyodorkan kotak yang sudah dia buka dan terlihat disana cincin emas putih yang sangat indah.


"Yank..." Vera sampai tidak bisa berkata-kata dan matanya pun terlihat berkaca-kaca, ternyata seserius ini Brian dengan dirinya. Bukan karena Vera tidak percaya tetapi Vera masih sedikit trauma.


"Aku serius Yank ingin menikahimu." lanjut Brian.


...****************...


Diterima gak yaa? 🤭🤭


Tetap semangat kak 💪


Selamat hari vote, jangan lupa like, komen dan hadiahnya juga 🙏