
Waktu terus berlalu, tanpa terasa lusa adalah hari pernikahan Vera dan Brian. Keluarga Vera yang ada di Surabaya hampir semua sudah datang begitu juga keluarga Brian. Dan untuk Vera serta Brian sendiri saat ini sedang di pingit, mereka tidak boleh bertemu satu sama lain sejak satu minggu yang lalu. Dan saat ini Vera dan Brian sudah mengajukan cuti untuk persiapan pernikahan mereka.
Malam ini Erni dan Edi berada dirumah Vera. Sebagai sahabat dekat Vera, Erni selalu menjadi orang terdepan bagi Vera tentu saja setelah keluarganya. Ya, Erni dan Edi sudah memutuskan untuk kembali bersama lagi dan mereka sudah menikah sah secara sederhana beberapa bulan yang lalu.
Brian sangat gelisah karena sudah hampir satu minggu dia tidak bisa bertemu dengan Vera. Bahkan sekedar bertukar kabar pun mereka tidak diijinkan.
Saat ini Brian tahu kalau Erni sedang berada dirumah Vera. Karena beberapa hari yang lalu Erni memberitahu Brian kalau Erni akan datang ke rumah Vera. Brian pun mencoba menghubungi Erni.
Saat itu kebetulan Erni sedang bersama Vera menyiapkan keperluan untuk pernikahan dengan dibantu keluarga yang lain. Tiba-tiba saja ponsel Erni berdering. Ternyata Brian yang menghubungi. Saat ini Brian sedang berada dikamarnya dan anggota keluarga yang lain sedang berkumpul untuk menyiapkan perlengkapan pernikahannya besok lusa.
"Brian, Ver? Kenapa tu anak?" tanya Erni menoleh kepada Vera ketika melihat nama dilayar ponsel Erni.
"Gak tahu. Ya uda terima aja siapa tahu penting." jawab Vera, karena dia sendiri juga takut apabila terjadi apa-apa dengan Brian.
Erni pun menganggukkan kepalanya kemudian menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Halo Brian, ada apa?" tanya Erni begitu panggilan tersambung.
"Eh Er, ehm kamu sekarang lagi dirumah Vera kan?" tanya Brian.
"Iya, emang kenapa?" tanya Erni tetapi melirik kepada Vera yang ada disampingnya. Karena Erni merasa curiga pasti Brian meminta aneh-aneh padanya tentang Vera.
"Jangan bilang siapa-siapa ya, tolong kasih ponsel kamu ke Vera donk. Kangen ni mau ngomong sama dia. Uda satu minggu aku gak boleh ketem kan." jawab Brian dengan nada yang dibuat sedih.
Sedangkan Erni menahan tawa setelah tahu alasan Brian yang ingin berbicara dengan Vera. Memang banyak akal itu anak, pikir Erni.
"Ow gitu ya, aduh kasihan banget kamu ya." ucap Erni seolah-olah dia merasa sedih juga atas apa yang menimpa Brian.
"Iya, kasihan kan. Gimana kalau kamu jadi aku pasti tersiksa kan?" Brian pun semakin mendramatisir keadaannya, padahal dia tidak tahu sebenarnya bahwa Erni tahu akal bulusnya.
"Gitu ya.." jawab Erni seolah akan tersentuh dengan ucapan Brian.
"Heem."
"GAK! Enak aja, uda dibilang kamu itu masih dipingit kog uda gak sabar. Tunggu sampai lusa. Ngerti!" jawab Erni tegas. Seolah sedang memarahi anaknya. Sedangkan Vera yang ada disampingnya sudah mati-matian menahan tawanya agar tidak keluar.
"Er, please! Bentar aja. Cuma denger suaranya, udah." ucap Brian bernegoisasi.
Tapi bukan Erni kalau dia menyerah begitu saja dengan Brian.
Sedangkan diseberang sana Brian sudah misuh-misuh karena Erni tidak bisa membantunya.
Sebenarnya Erni melakukan itu semua ada alasannya, karena semua itu merupakan adat jadi Erni tidak berani melanggarnya. Biarkan saja Vera dan Brian menahan rindu selama satu minggu karena sebentar mereka juga akan bersama selamanya melalui ikatan suci.
"Kasihan Er, calon suamiku itu." ucap Vera sambil terkekeh begitu Erni selesai mengakhiri panggilan dari Brian.
"Biarin aja, gak sabaran gitu. Lusa juga uda sah kog." jawab Erni.
"Ya uda aku pulang dulu ya, kasihan anak-anak sama Siti sendirian." lanjut Erni.
"Iya hati-hati, makasih ya." ucap Vera tulus sambil berdiri dan mereka berpelukan sebentar.
Sedangkan Erni mengajak Edi pulang yang saat itu dirinya sedang duduk tidak jauh darinya, yang sedang mengobrol dengan anggota keluarga Vera yang lain.
Vera mengantar Erni dan Edi ke teras.
"Buru-buru pulang mau bikin Adik buat Sifa sama Leoni ya?" goda Vera.
"Jelas donk. Lusa nanti kamu juga bakal tahu rasanya kayak gimana, pasti gak bisa nolak deh." jawab Erni ambigu sambil tersenyum dan menaikturunkan alisnya.
"Dek!" tegur Edi karena merasa malu meskipun itu dengan Vera.
"Ow dasar kamu ya! Uda pulang sana bikin pikiran ku terkontaminasi aja." ucap Vera sambil mengusir Erni.
Sedangkan Erni yang diperlakukan seperti itu tidak merasa sakit hati justru dia malah semakin tertawa bis membuat sahabatnya kesal.
"Ya uda kita pamit dulu ya Ver." Edi pun berpamitan kepada Vera.
"Iya Mas, hati-hati. Terima kasih." jawab Vera.
Akhirnya Erni dan Edi pun berjalan menuju mobilnya kemudian mereka segera melajukan mobilnya untuk pulang. Dan begitu mobil Erni menghilang dari pandangannya Vera segera masuk ke dalam rumah dan berpamitan kepada keluarganya untuk ke kamar beristirahat.
...**************...
Tetap semangat 💪
Tinggalkan jejak dengan cara like, komen dan hadiah jangan lupa 🙏