
Tepat sore hari Brian sampai dirumah Vera. Disana sudah ada mobil Erni yang terparkir dihalaman rumah Vera.
"Waduh sudah ada mak lampir disini. Bisa ambyar aku dikroyok tu emak-emak." gumam Brian sebelum dia keluar dari mobilnya.
Tetapi Brian tidak mau jadi pengecut, dia akan menghadapi apapun yang ada didepannya apalagi ini menyangkut masa depannya bersama dengan Vera nantinya.
Akhirnya dengan penuh percaya diri Brian berjalan menuju rumah Vera dan benar saja begitu dia sampai didepan pintu terlihat jelas Vera dan Erni yang sedang menatap ke arahnya secara bersamaan. Tetapi tatapan mata Erni lebih tajam daripada tatapan mata Vera terhadapnya. Brian hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Kalau boleh memilih dia lebih baik berkelahi dengan sesama pria daripada harus dihadapkan dengan kemarahan wanita apalagi dua wanita sekaligus.
"Aku tunggu dikamar Ver, kalau ada apa-apa teriak aja aku akan langsung keluar!" ucap Erni dengan penuh penekanan tanpa menatap Vera justru melirik tajam ke arah Brian bahkan Erni tidak menyapa Brian sama sekali.
Vera hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Erni sengaja meninggalkan Vera dan Brian berdua, supaya mereka bisa menyelesaikan masalah mereka dengan kepala dingin. Erni tidak mau ikut campur terlalu jauh, karena bagaimanapun juga keputusan ada ditangan Vera.
Begitu Erni sudah tidak terlihat, Brian segera duduk disebelah Vera dan memegang tangan Vera.
"Yank, maafin aku!" lirih Brian dengan penyesalan yang terlihat jelas diwajahnya.
Vera perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Brian. Brian pun menyadari hal itu, dia bahkan melihat tangan Vera yang tidak mau digenggamnya.
"Gak ada yang perlu dimaafkan, kamu gak salah apa-apa." jawab Vera dengan senyum yang dipaksakan, dan tentu saja senyuman itu mengandung rasa sakit yang begitu dalam.
"Yank, please! Silahkan kamu maki aku, kamu marah-marah ke aku tapi aku mohon jangan diamkan aku kayak gini." ucap Brian yang kembali meraih tangan Vera. Vera pun berusaha melepaskannya tetapi dengan kuat Brian menahannya jadi mau tidak mau Vera pun membiarkan tangannya digenggam oleh Brian.
"Aku tahu aku salah Yank, aku gak bisa tegas tapi sumpah demi apapun aku uda gak ada apa-apa sama dia semenjak dia pergi ninggalin aku gitu aja." Brian mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
"Kemarin ketemu dia jujur aja aku shock sempet gak percaya dan maaf kalau terkesan aku gak bisa nolak dia." lanjut Brian karena Vera hanya diam saja dengan tatapan menerawang ke depan.
"Aku gak mau jadi orang ketiga, karena aku juga wanita jadi bisa merasakan bagaimana sakitnya diduakan." jawab Vera setelah diam cukup lama, dan tetap memandang kedepan tanpa melihat Brian yang sedari tadi duduk disampingnya.
"Gak ada orang ketiga, keempat, kelima, keseratus Yank! Cuma kamu satu-satunya!" ucap Brian meyakinkan Vera dan Vera hanya kembali diam.
Brian menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia kembali berbicara.
Mendengar perkataan Brian, sukses membuat Vera menoleh seakan tidak percaya kepada Brian. Dan tentu saja Brian tahu bahwa Vera masih meragukannya.
Brian pun melepaskan tangan Vera yang semula dia genggam, kemudian merogoh ponsel yang ada disaku celananya. Vera hanya terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Brian karena Brian terlihat akan menghubungi seseorang.
Dan tidak berapa lama Brian berbicara kepada seseorang yang berada diseberang sana.
"Halo Ma, besok pagi Brian mau pulang sekalian mau kenalin ke Mama dan Papa calon istri Brian namanya Vera." ucap Brian dengan menekankan kata 'calon istri' dan nama 'Vera' sambil melirik ke arah Vera karena ingin melihat reaksi apa yang akan Vera berikan.
Dan hal itu sukses membuat Vera ingin meraih ponsel Brian tetapi dengan gerakan cepat Brian menghindarkan ponselnya agar tidak bisa diraih oleh Vera justru malah Vera jatuh kepelukan Brian dan kesempatan itu Brian gunakan untuk tetap memeluk Vera.
"...."
"Iya Ma besok sekitar jam 9 pagi kami berangkat dari sini. Mama sama Papa siap-siap aja buat menyambut calon mantu." jawab Brian yang masih dalam posisi memeluk Vera.
"...."
"Iya Mama atur aja. Oke udah dulu ya Ma salam buat Papa dan semua."
Akhirnya Brian pun memutuskan panggilan tersebut dan menaruh ponselnya diatas meja didepannya. Vera pun baru menyadari bahwa posisi mereka saling berpelukan akhirnya Vera sedikit meronta ingin melepaskan diri tetapi justru Brian semakin memeluknya dengan erat dan menempelkan kepalanya dipunggung Vera.
"Biarkan seperti ini sebentar aja Yank. Aku kangen sama kamu, aku serius sama kamu." lirih Brian.
Akhirnya Vera pun terdiam dan memberi waktu Brian untuk melepaskan rasa kangennya. Karena kalau boleh jujur dia juga kangen dengan Brian. Dan saat ini Vera benar-benar melihat kesungguhan Brian karena akan mengenalkannya kepada keluarganya esok hari.
...****************...
Ahh uda akur, lega deh rasanya 😍
Tetap semangat yuk 💪
Tinggalkan jejak like, komen dan hadiah 🙏