
Sesuai pentunjuk nona Emma, Lenka sudah berada di sekitar SD Tunas Harapan 1. Duduk di halte, tempat anak-anak pulang sekolah menunggu dijemput.
Sambil memainkan ponselnya, Helena terus menunggu. Dari banyak anak-anak, hingga tersisa beberapa siswa saja. Ada puluhan bahkan mungkin ratusan siswa akankah dia menemukan anak yang dimaksud ratu Acasha?
"Hai, menunggu jemputan ya?" tanya Helena.
"Iya." Jawab anak gadis itu pendek.
"Adek namanya siapa, kelas berapa?"
"Aimee, kelas 1 kak."
Owh, pasti anak ini. Batin Helena.
"Belum dijemput ya ?"
"Iya, mamiku bilang memang agak terlambat. Mungkin sebentar lagi sampai."
Selang beberapa saat kemudian, seorang lelaki bepakaian dan berkacamata hitam keluar dari mobil menghampiri Aimee, menyeretnya paksa dan membekap mulutnya.
"Awh...hpphh.." pekik Aimee.
Helena tersentak terkejut, menarik Aimee.
"Jangan ikut campur masalah orang lain." Hardik pria itu.
"Jangan kasar sama anak kecil." Tukas Helena.
"Sok ikut campur urusan orang. Aku akan membuat perhitungan denganmu." Lelaki itu melepas cekalannya dan membanting tubuh kecil Aimee.
"Dasar.." Cetus Helena seraya menolong Aimee.
Braaaakkk..
Sebuah mobil menghantam tubuh Helena dan Aimee.
Owh, tidak.. tubuh kecil itu tidak bergerak setelah terpelanting 2 meter dari tempat sebelumnya.
Tabrak lari yang disengaja.
Helena melambai ke arah seseorang.
Kaki Helena terkilir, tapi masih mampu meraih sosok berlumuran darah itu, tertatih menggendongnya masuk ke dalam mobil yang telah disewanya beserta supir.
"Jalan pak, ke rumah sakit terdekat." Perintah Helena.
"Baik, nona." Sahut pak supir sambil melajukan mobilnya.
Dengan menghiraukan kesakitannya sendiri Helena terus mengkhawatirkan gadis kecil dipangkuannya.
"Bertahanlah Aimee. Kamu anak yang kuat."
"Ya, Tuhan. Selamatkan anak ini, berilah yang terbaik untuknya." Ujar Helena berulang-ulang.
"Apakah dia keluarga anda, nona?" tanya pak supir tanpa memindahkan arah pandangannya dari jalan di depan.
"Tidak, pak. Saya perlu bertemu seseorang di sekolah itu tadi, tidak tahu justru mengalami hal ini."
"Nona, tenanglah. Jika anda panik, anda tidak bisa berpikir jernih nanti. Jangan lupa anda memeriksa diri anda juga, sepertinya anda terluka." Usul supir mobil sewaan itu.
"Baik pak, terimakasih. Apa masih jauh?"
Pak supir mengecek di aplikasinya.
"Kurang lebih 5km lagi, nona."
Aimee segera ditangani tim medis begitu tiba di unit gawat darurat. Dengan sigap para perawat menangani gadis kecil yang ternyata mengalami luka serius di kepalanya.
"Maaf, anda orangtua pasien?" Tanya perawat.
"Owh, eh.. bu-bukan, saya hanya kebetulan berada di tempat kejadian." Jawab Helena.
"Kami perlu identitas dan penanggungjawab atas tindakan yang akan kaki lakukan, bu."
Dan benar saja, Helena menemukan nomor ponsel mami Aimee di kotak pensilnya.
Cepat mengetik dan menghubungi nomor tersebut dan mengatakan keadaan Aimee begitu tersambung.
"Maaf, bu. Apa anda terluka?" Tanya perawat itu lagi.
Helena mengernyit heran dan menggeleng.
"Sebaiknya anda kami tangani juga, sebab.. bagian bawah anda berdarah." Ujar perawat itu lagi.
Berdarah? Cepat Helena melihat ke arah yang dimaksud. Ya, Tuhan..
"To-tolong saya, bu. Saya sedang hamil muda." Ujar Helena lemah sebelum ambruk tidak sadarkan diri.
π»π»π»
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janin anda, bu."
Suara ramah menyadarkan Helena dari pingsannya.
Berpikir sejenak, Helena menghela nafas.
Sebagai seorang ibu, Helena sedih tidak bisa mempertahankan janin yang baru bertumbuh itu, tapi sisi lain tentu Lenka senang karena dari awal dia tidak menginginkan kehasiran bayi itu.
"Anda harus rawat inap ya, bu. kami akan melakukan prosedur kuret untuk membersihkan rahim anda." Ujar tim medis sebelum meninggalkan ruangan
Helena mengangguk lemah sambil mengelus perutnya yang sedikit nyeri.
Cermin, ya Helena butuh cermin untuk berkomunikasi dengan Lenka.
"Lenka, maafkan aku. Aku lalai menjaga kandunganmu." Lirih Helena.
"Untuk apa meminta maaf, aku justru senang. Kamu kan tahu sendiri aku tidak sudi anak itu ada." Ketus Lenka.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Dengan tergopoh-gopoh Langit menghampiri Helena.
Cepat-cepat Helena menyimpan kembali cermin kecilnya.
"Aku keguguran, janinnya tidak bisa diselamatkan" ujar Helena pelan.
Langit menarik nafas. Entah, seperti semburat kelegaan justru terpancar di wajahnya.
Helena tidak mengerti akan apa yang sudah terjadi. Ketika pingsan tadi, dia mengalami bahwa dirinya sebagai Lenka telah menolong Aimee. Orang asing itu marah karena Lenka telah menggagalkan rencananya membunuh anak kecil itu, sehingga membuatnya membuat perhitungan dengan mencelakai dan memperkosa Lenka beberapa hari kemudian, sampai gadis itu mengalami koma.
Dahinya berkerut, bingung. Bukankah seharusnya, jika memang itu yang menyebabkan Lenka harus dirawat lantas kenapa kejadian Aimee baru saja terjadi ? Dan bukankah nama Aimee, sosok imut itu beberapa waktu lalu ada di list pilihan sebagai salah satu media baginya untuk menyelesaikan misi ketika Helena masih di Shelter Transitee ?
Ah, mungkin ini yang dimaksud ratu Acasha bahwa takdir tidak bisa bermain dengan orang-orang yang masuk ke shelternya, berarti apa saja bisa terjadi dengan atau tanpa alasan logis ?
Nona Emma tiba-tiba muncul dengan senyum sumringah.
"Hai. Apapun yang kamu pikirkan, terima saja Helena. Kejadian tadi sebenarnya hanya pengujian atas ketulusanmu dari ratu Acasha. Tergolong kasus berat karena nyawamu terancam dan seharusnya kamu mengalami hal seperti anak itu juga. Tentu kamu tidak menyadari kan kalau tadi kamu telah khawatir hingga kamu berdoa demi keselamatan seseorang yang bukan apa-apamu dan tidak mengenalnya sama sekali? Kamu mengharapkan yang kebaikan bagi orang lain tapi justru kamu mendapat kebaikan itu juga. Kamu mendapat point 1000 dan misimu selesai sempurna. Selamat ya Helena." Ujar nona Emma.
"Jadi anak itu..?" tanya Helena bingung. Nona Emma sudah tidak tampak lagi dihadapannya.
"Sayang, anak itu sekarang koma." Jawab Langit.
"Apa keluarganya sudah datang?"
"Iya, aku sudah bertemu ibunya. Ibunya sempat berpikir kamu telah menculik anaknya. Pernikahan mereka tidak disetujui oleh orang tua dari ayah Aimee, tapi karena multi konflik mereka akhirnya bercerai. Hak asuh jatuh ke tangan ayah Aimee tapi ibunya tidak mau menyerahkan Aimee sementara orang tua dari ayah Aimee tidak suka anak mereka terus meminta agar Aimee diasuh olehnya. Sehingga, mereka ingin membunuh Aimee saja, mengaturnya seolah terjadi kecelakaan. Jadi harapan mereka, baik ayah maupun ibu Aimee sama-sama tidak memiliki bocah. Mereka sengaja mencelakai anak kecil itu karena khawatir keberadaannya bisa saja membuat kedua orangtua Aimee bersama lagi." Sambung Langit.
"Bukankah Aimee masih ada, walaupun koma?" tanya Helena.
Langit hanya mengangkat kedua bahunya singkat.
"Ya, gadis kecil itu sekarang berada di kondisi kritis. Luka dikepalanya sangat serius, mustahil dia bisa selamat, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi." Timpal Langit lagi.
"Semoga dia cepat pulih." Prihatin Helena.
"Sayang apa yang membuatmu berada di sekolah itu, bukankah letaknya jauh dari rumah. Apa keperluanmu, karena niat baikmu justru membawamu ke dalam bahaya."
Helena memilih bungkam saja, Langit jelas tidak mungkin percaya jika ini adalah bagian misi dari ratu Acasha.