
Rembang sore sudah berganti gelap, Langit dan Helena bergegas kembali ke rumah pak Kasan dengan perasaan masih tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata yang tepat. Helena senang karena sudah jujur atas keberadaannya sementara Langit masih bingung atas kebenaran yang didengarnya tadi tapi keduanya memilih pulang dengan rasa bahagia, karena membawa beberapa ekor belut.
Meskipun merasa geli melihat ikan yang menyerupai ular tapi Helena juga penasaran akan rasanya yang ujar Langit gurih dan lezat itu.
"Astaga, kalian dari mana?" tegur grandmom yang melihat Langit dan Lenka, masuk melalui pintu samping.
"Sawah," sahut Langit cuek.
"Payah kamu Lang, pacaran kok ke sawah," omel grandmom.
"Bingung nyari tempat yang asyik tapi ngirit ongkos, grandmom. Maklum modal kawin perlu duit banyak," canda Langit.
"Huuu, perhitungan amat sih kamu Lang, buat sekali seumur hidup ini," balas grandmom sambil melotot.
"Lihat nih kami bawa apa dari sawah," seru Langit memperlihatkan isi plastik yang dibawanya.
Grandmom yang tadinya sebel melihat calon pengantin itu seketika senang, "Asyik, kalian dapat belut segar dari sawah? Wuiiih makan enak nih."
"Len, kalau kamu sudah beres-beres, siapin bumbu sama lihat stok nasi, gih. Belutnya biar aku saja yang bersihkan," ujar Langit pada Helena yang langsung jawab anggukan.
"Em, enaknya dimasak apa, ya?" gumam Helena sambil melangkah menuju dapur.
"Lenka, kenapa bengong gitu?" tanya grandmom.
"Hm, aku gak pernah masak belut, grandmom," ujar Helena jujur.
"Sama kaya kamu masak ikan biasa aja Len, digoreng kena, dipanggang boleh atau eeh ... kamukan pinter masak, coba deh bikin belut saus padang aja," usul grandmom.
Helena segera meraih ponselnya dan berselancar mencari resep masakan yang dimaksud grandma. Setelah melihat persediaan bumbu, ia segera meracik. Sesekali Helena mengusap keringat yang mengucur di dahinya, ia masih belum terbiasa mengulek bumbu menggunakan cobek. Ada sih blender yang pasti akan meringankan kerjaannya itu, tapi ia memilih untuk menggunakan alat tradisional yang unik menurutnya.
"Len, ini udah siap dimasak," Langit memberikan belut yang sudah ia bersihkan untuk Helena.
"Ok, makasih, Lang."
"Hm, apa kamu juga mendapat poin dari tiap masakan yang kamu buat?" tanya Langit setengah berbisik.
"Gak tau juga, Lang," sahut Helena, ia mengabaikan rasa geli terhadap ikan tanpa sisik itu, ia meraih sarung tangan plastik dan segera berkutat dengan masakannya.
"Well, masak yang enak ya sayang, aku mandi dulu, cup," Langit mencuri kecupan di pipi Helena sebelum berlalu
"Hei, aku masih Helena, lho," protes Helena pelan dengan pipi yang bersemburat merah.
"Tahu, kok. Tenang saja, itu pipi Lenka yang aku cium, bukan pipimu, haha," elak Langit.
"Kasan, Surya ... ayo kita makan malam bersama," panggil grandmom pada kedua calon besan yang tampak asyik mengatur jalan bidak caturnya.
"Hei, ayo ..." ulang grandmom lagi saat kedua pria itu masih enggan beranjak.
Nasi putih hangat beserta air putih sudah terhidang di meja makan, tampak Langit sedang membantu Helena menata menu makan malam mereka.
"Wow, aromanya enak sekali, nih," celetuk pak Surya sambil memasuki ruang makan.
"Ya, mari kita bersantap," ajak Langit.
"Eit, jangan lupa berdoa menurut kecepatannya masing-masing," imbuh pak Surya.
"Hehe ... udah lapar pake banget, mom. Jadi disegerakan saja," jawab pak Surya lagi dengan tidak sabaran menyendookan lauknke piringnya.
"I-ini?" pak Kasan tampak heran melihat hidangan yang tersedia.
"Sayur bening bayam, belut goreng dan belut saus padang," sahut grandmom.
"Be-belut? Emang ada yang jual sebesar, sesegar dan sebanyak ini?" tanya pak Kasan.
"Gak beli, tapi ini hasil anak-anakmu yang pacaran ke sawah, dapet belut ini, deh," terang grandmom lagi.
"Unyu banget sih kalian, pacaran sampe sawah segala, haha ..." pak Kasan tertawa geli, terbayang bagaimana sepasang kekasih yang akan segera menikah itu berlumpur-lumpur ria demi lauk yamg sehat dan nikmat itu.
"Mmm ... it's deliciousoooo," gumam pak Surya sungguh-sungguh.
"Selain lezat, belut sangat baik untuk kesehatan, sebab belut mengandung protein yang tinggi yang busa meningkatkan daya tahan tubuh dan dipercaya bisa untuk mencegah kanker," urai grandmom serupa SPG yang mempromosikan lauk mereka saat itu.
Sedikit ragu Helena mulai mengambil belut goreng. Meniru Langit, ia makan tanpa sendok kali ini. Helena mengambil sedikit daging belut lalu dicampur nasi hangat dan memasukkan ke mulutnya. Hm ... empuk, gurih dan ada manis-manis gimanaaa, gitu.
"Enak," ujar Helena singkat lalu ia mengambil belut yang dimasak saus padang, rasa sedikit pedas dan asam membuat olahan itu terasa segar di lidahnya. Lagi-lagi Helena memakan masakan yang tidak pernah dihidangkan di kerajaan Hanover Raya. Sejenak ia berfikir, jika ia kembali ke raga aslinya, belum tentu akan mencicipi ikan ini dan belum tentu ia akan mengalami lagi hal-hal yamg tidak pernah ia alami sebelumnya. Menjadi seorang Lenka meskipun banyak pergumulan tapi mengasyikkan. Ah, jadi Lenka harusnya bahagia. Bagaimana kalau ....
"Nah, enak kan, Len?" ujar pak Kasan membuyarkan lamunan singkat Helena.
"Dulu waktu masih kecil, saat libur sekolah kamu dan abangmu sering ayah ajak ke sawah, pertama kali lihat belut kamu loncat-loncat sampai terjatuh di lumpur karena mengira itu ular, giliran sudah dimasak pun, kamu gak mau makan karena merasa geli. Giliran dapat belut bareng calon suami, jadi mau nih makan belut," lanjut pak Kasan lagi.
Helena nyengir dan Langit tersenyum menatap Helena, ia paham jika ini pengalaman pertamanya memakan ikan tersebut.
Makan malam berakhir menyisakan rasa kenyang dan puas. Benar kata orang, bahagia itu sederhana. Sesederhana hati yang suka bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah berikan. Salah satu bentuknya seperti yang mereka malam ini, makan bersama orang-orang terkasih.
"Ayo kita pulang ke apartemen Langit," ajak pak Surya pada ibu dan juga putranya.
"Sana Lang, pulang sama papamu," sahut grandmom.
"Lho, grandmom sendiri?" Langit balik nanya.
"Aku kan memang nginap di sini, sama Lenka," balas grandmom.
"Gak bisa gitu dong, mom. Ayo kita pulang," ujar pak Surya lagi.
"Gak mau!" seru grandmom.
"Lho kok gitu? Ayo Lang, balik," ajak pak Surya pada Langit.
"Aku sih, gampang. Masih ada yang mau omongin sama Lenka," Langit beralasan.
"Apa yang kalian omongin waktu pacaran di sawah masih kurang?" tanya grandmom.
"Iya, lagian kan kalian sebentar lagi mau menikah. Bisa puas-puasin ngobrol, deh," timpal pak Surya.
"Ish, kalau sudah menikah lain cerita, Pa. Bukan puas-puasin ngobrol tapi try to make a baby, haha," canda Langit yang sontak membuatnya mendapat lemparan bantal dari grandmom.
"Sudah, sudah ... kalian tidur di sini aja semua, biar re," solusi pak Kasan selaku tuan rumah.