Lenka's Dish

Lenka's Dish
8



Setelah 1 minggu menjalani perawatan di rumah sakit, Helena diperbolehkan pulang. Kesehatannya telah berangsur pulih dan ia siap menjalani aktivitasnya juga menyelesaikan misi berikutnya.


Ratu Acasha memberinya waktu 7 bulan untuk menuntaskan misi ke 2, dan masing-masing 3 bulan untuk meyelesaikan Misi 4 dan 5.


Tadi malam, nona Emma memberinya 3 gulungan kertas, tidak untuk dipilih melainkan untuk dikerjakan sekaligus.


Berbeda dengan misi sebelumnya yang batas waktunya menggunakan 'jam', ke 3 misi ini akan diselesaikan dalam hitungan 'bulan'. Mungkin karena misi ini sulit dan akan dikerjakan dalam waktu bersamaan, pikir Helena.


Ratu Acasha juga menegaskan jika Helena dapat menyelesaikan misinya lebih cepat juga dengan hasil yang baik maka, dia akan mendapat point spesial dan tidak menutup kemungkinan beserta hadiah kejutan.


"Apakah kamu mengetahui kesaktianmu yang ke 2, Helena?" Tanya nona Emma.


Helena menggeleng.


"Telapak tanganmu berfungsi sebagai pemindai. Kamu akan mengetahui sesuatu hanya dengan menempelkantanganmu di objek tersebut. Jika kamu ingin mempelajari buku tentang ilmu manajemen atau masakan misalnya, kamu cukup menaruh telapakmu di halaman buku atau di halaman media online yang menayangkan hal tersebut. Demikian juga jika kamu ingin mengetahui info tentang seseorang, tempelkan telapakmu di fotonya."


"Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya di kehidupanku yang lain? Tanya Helena.


"Aku kurang mengerti maksudmu Helena, sebutkan contohnya."


"Seperti menggunakan mesin cuci, mengendarai sepeda motor, menyetir mobil.."


"Owh.. kamu otomatis bisa melakukan apapun yang biasa dilakukan oleh Lenka. Percayakan pada sistem dan beranilah melakukan sesuatu itu."


Helena mengangguk senang.


"Dan ini, Jeannett Moon di Ola Voila Resto. Apa tugasku hanya menemuinya saja dalam waktu 3 bulan ?"


Nona Emma nyengir kuda.


"Tentu kalau hanya menemui seseorang tidak perlu waktu hingga 3 bulan bukan ? Kamu akan mengetahuinya jika sudah bertemu dengannya." Jawab nona Emma.


"Nona Emma, bisakah kau katakan berapa misi lagi atau berapa point yang harus kucapai ?"


"Maaf Helena. Aku sungguh tidak tahu sebab aku hanya perantara saja. Semua kendali penentuannya ada ditangan ratu Acasha. Aku dan kamu cukup melakukan titah ratu sebaik-baiknya."


"Baiklah. Semoga misi ini bisa cepat kuselesaikan agar boleh kembali berkumpul dengan keluargaku." Harap Helena.


Helena membuka buku misi-nya dan menambah daftar di catatannya :


● Menolong kucing belang tiga. Point 100. Done.


● Aimee. Point 1000. Done.


● Menyelesaikan Studi Lenka. Waktu 7 bulan.


● Jeanett Moon di Ola Voila. Waktu 3 bulan.


● Mengajarkan anak-anak memasak. Waktu 3 bulan.


(Anak-anak ? Lebih dari 1 dong).


🌻🌻🌻


Mendongakkan kepalanya Helena mengeja tulisan yang tertera diatas bangunan klasik itu demi memastikan nama tempat yang iya datangi "Ola Voila Resto".


Yes, pasti ini tempat yang dimaksud nona Emma, batinnya.


Kliiing


Lonceng kecil berbunyi tatkala Helena memasuki tempat itu dan memilih tempat duduk.


Menikmati sekilas ruangan bernuansa romantis dengan sentuhan vintage. Nyaman.


Resto tampak lengang.


"Jeanett Moon." Gumam Helena pelan mengingat siapa yang menjadi targetnya kali ini.


Nona Emma tidak memberi petunjuk apapun selain nama orang dan tempat yang harus dia kunjungi, dan


entah mengapa sistem seolah ikut-ikutan menutup info untuknya.


Setelah memesan hot cappucino, croissant dan French creepes, Helena mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, hingga terpaku pada seorang wanita yang tampak sedang memikirkan sesuatu.


Seolah melihat nona Emma tersenyum sambil menganggukan kepala kepadanya, Helena mengerti bahwa perempuan itulah orang yang dimaksud. Bangkit dari duduknya, Helena sejenak memikirkan cara membuka percakapan mereka.


Jeanett Moon, I'm cooming.


"Hai, maaf mengganggu bolehkah saya duduk di sini? sapa Helena sopan.


"Emm.. Ya, tentu. Silahkan, nona..."


" Eh, saya Lenka dan anda...?"


"Ah, tidak. Saya baru pertama kali ke sini, atas rekomendasi teman saya yang mengatakan bahwa restoran ini menyajikan hidangan Perancis terbaik di kota ini."


"Owh.." Dengan senyum getir Jeanett menanggapi.


"Tempatnya enak dan nyaman, tapi kenapa sepi pengunjung.." Kalimat Helena terputus karena pelayanan mengantarkan pesanannya. "Anda tidak memesan sesuatu?" sambung Helena lagi.


Jean menggeleng pelan sambil menghela nafas, menatap dan memegang botol air mineral di depannya.


"Inilah yang sedang saya pikirkan." Jawab Jean tanpa melihat Helena yang sedang asik menikmati French creepes dengan toping ice cream strawberry dan slices kacang almond di depannya.


"Maksud anda ? Ehm, tidakkah anda berminat menikmati menu yang telah tersaji ini." Tanya Helena.


Jeanett menggeleng pelan.


"Silahkan, Nona. Sebenarnya resto ini merupakan warisan dari orangtua saya, sehingga otomatis sayalah ownernya. Saya merasa sangat kehilangan atas kepergian chef andalan yang merupakan sahabat orang tua saya."


Helena memperhatikan dan menunggu tiap kata yang meluncur dari mulut Jean seraya menikmati cemilan khas Perancis itu.


"Chef Marie Blanc dan suaminya sudah seperti orangtua bagiku. Mereka sangat baik. Selain memiliki taste yang khas, chef Marie mengusung konsep hanya memasak sayuran organik yang diambil dari lahan di sekitar kebun ini dan pak Damar, suami chef Marie adalah pengelola kebun organik tersebut."


"Wow, keren mereka pasti pasangan yang serasi." Sela Helena.


Jean tersenyum dengan sudut mata yang agak basah.


"Mereka pasangan termanis yang pernah ku temui. Bahkan orangtuaku sekalipun tidak seperti mereka. Darlene, putri satu-satunya mereka telah berulang kali memohon kepadaku untuk tidak lagi memperkerjakan kedua orangtuanya dengan alasan, mereka sudah lanjut usia dan sudah saatnya menikmati hari tua mereka dengan anak juga cucunya."


Jean meminum air mineral di hadapannya kemudian menarik tisu untuk menyeka airmatanya.


"Hingga kejadian hari itu membuat kami semua terpukul." Lanjut Jean lagi.


"Mereka kecelakaan atau jatuh sakit ?" Tebak Helena.


"Aku kehilangan mereka dengan cara yang sangat menyedihkan. Seperti ada yang mengatur, seorang pelanggan melihat tikus berkeliaran di dapur kami, memotonya dan mengunggahnya ke media sosial."


Helena bergidik geli mendengar kata tikus berkeliaran.


"Tempat sebersih ini? bagaimana mungkin ada tikusnya?" Ujar Helena seolah tak percaya.


"Hampir 2 dekade Ola Voila resto berdiri dengan konsep yang dibuat oleh papaku dan pak Damar, sehingga tercipta suasana dan cita rasa yang khas, hangat, nyaman dan tidak terlupakan. Papaku seorang arsitek, beliau yang mendesain resto ini hingga ke detailnya dan mengolah makanan dari sayuran organik yang ditanam sendiri merupakan ide dari pak Damar yang seorang insinyur pertanian. Agar resto ini dapat memberikan kualitas terbaik bagi pelanggan kami, kelayakan juga kebersihan tempat dan hasil masakan sangat diperhatikan. Termasuk juga menjadi alasan resto kami menggunakan alat anti tikus, kecoa dan nyamuk sejak lama."


Helena manggut-manggut kagum mendengar penjelasan Jean.


"Menarik sekali. Jean, aku sedang akan menyelesaikan tugas akhirku. Apakah boleh aku melakukan penelitian di resto ini ?"


"Kamu yakin ? Aku bahkan berencana akan menutup resto ini dan menjualnya, sudah 3 bulan sepi pengunjung dan omzet kami menurun drastis. Apa yang bisa kamu teliti?" Heran Jean.


"Emmm.. mungkin meneliti loyalitas pelanggan terhadap menu andalan yang disajikan, barangkali?"


"Ah.. aku bahkan kehilangan chef andalanku Marie Blanc, aku belum menemukan penggantinya. Sudah beberapa orang yang melamar, tetapi aku belum mendapat cita rasa khas seperti Marie Blanc."


"Bolehkah aku mencoba ?" Tawar Helena.


"Tentu. Kalau kamu ada waktu, mari ikut aku ke dapur sekarang." Sambut Jean.


Segera Helena membuntuti Jean ke bagian belakang resto.


Memilih dan mengolah bahan. Membuat kulit pie, memotong bawang bombay, sosis, bayam dan mencampur bahan lain seperti keju, susu, totole dan bahan lain.


Sementara memanggang, Helena melihat isi kulkas dan melihat paha bebek disitu.


Helena membuka halaman di media online dengan ponselnya, memilih 1 masakan dan memindai dengan tangannya tanpa disasari oleh Jean. Dengan bersemangat Helena kembali mempersiapkan bahan-bahan untuk menu selanjutnya.


"Ada berapa makanan yang akan kamu buat?" Tanya Jean.


"Untuk hari ini cukup 1 menu saja. Dan satu lagi untuk besok." Jawab Helena tersenyum.


Jean mengangguk sambil mengendus aroma masakan yang menggelitik hidungnya.


"Silahkan dicoba Jean." Helena mengeluarkan dari oven dan menyajikan hasil olahannya."


"Wow.. Quiche Loraine !" Seru Jean.


"Yes. Bagaimana rasanya ?"


"Sempurna" Jawab Jean bahagia.


"Besok sore aku akan ke sini dan menyelesaikan menu yang satu-nya lagi" Balas Helena.


"Tentu, aku menunggumu Lenka. Dan aku senang kamu telah berkunjung ke resto-ku"