Lenka's Dish

Lenka's Dish
35



Suasana kampus masih lengang.


Di parkiran tampak seorang pria tampak menunggu dengan gelisah, celingak-celinguk melihat ke arah gerbang kampus.


"Lenkaaa.." Ujarnya setengah berteriak sambil melambaikan tangannya.


"Heiii.. Arnold, tumben ngampus ga kerja?" Balas Lenka.


"Kerja, tapi ngantar mommy ke sini dulu Len. Eh, kamu sama siapa nih?"


"Owh, ini.. Latiefa, teman sekelasku. Mahasiswinya bu Miryam juga dan masih jomblo lho."


"Ish, apa sih Len." Ujar Latiefa tersipu sambil menyambut uluran perkenalan dari Arnold.


"Hai, saya Arnold."


"Hai juga Arnold, saya Latiefa."


Mereka sejenak bertukar senyum.


"Kapan ke rumah, Len? Kangen kopi buatanmu." Ujar Arnold.


"Rencana sih besok sore, tapi aku belum bilang sama Langit."


"Hm.. Calon suamimu itu. Dia pria yang posesif ya kok maen ke rumah temen aja harus izin dulu.


"Ah, ga juga. Hanya menjaga perasaannya aja, daripada misah-misuh ga jelas, susah lho ngebaik-baikin orang ngambek, haha."


"Hehe.. Padahal aku cuma mau berteman dengan calon istrinya. Belum juga mau nikung, eh tau-tau calon gebetan ane dah mau nikah aja. Ya Udah, ajak aja Langit juga Latiefa sekalian besok ya Len. Biar dia ga salah faham. Syukur-syukur aku bisa berteman dengan Langit." Harap Arnold.


"Ok, Nold." Lenka mengangguk setuju.


"Aku kerja dulu ya. See you." Arnold melambaikan tangannya dan bergegas menuju mobilnya setelah berpamitan.


Langit yang melihat interaksi mereka menyipitkan matanya dari arah depan pintu depan dan segera menghubungi Lenka.


Langit : Sayang, ngapain laki-laki semalem ke kampusmu, kangen kopi-mu lagi?


Lenka : Sayang, Arnold itu lagi nganterin mommy-nya bu Miryam yang ngajar di sini. Kebetulan ketemu sama aku pas lewat parkiran.


Langit : Tapi ngapain pake lambai-lambai gitu trus ngobrol segala, jangan-jangan emang sengaja pengen ketemu kamu aja.


Lenka : Ya ampun, sayaaaang.. Cuma ngobrol basa basi aja lho tadi. Oh ya, besok aku sama Latiefa mau konsul sama bu Miryam, kamu temanin yah..


Langit : Harus ya aku yang nganterin kalian ke situ?


Lenka : Ya, kan bakal ketemu sama Arnold juga, ntar kamu..


Langit : Owh. Iya sayang iyaaa.. Dah sana masuk kelas, belajar yang benar. Nanti jam 2 aku jemput, ok. Ingat, jangan lirak-lirik cowok lain. Kamu dah mau punya suami, lho."


Lenka mengernyit.


"Langit ya, Len?" Selidik Latiefa sambil menahan tawa.


"Iya, Fa. Gini amat ya rasanya kalo mau punya laki."


Latiefa mengangkat kedua bahunya dan tersenyum.


"Haha.. Aku belum ngalamin, jadi ga tau gimana rasanya Len." Timpalnya.


"Hehe.. Iya juga ya Fa. Nomong-ngomong Arnold boleh juga lho, Fa."


"Apaan sih, Len. Kayaknya dia malah seneng sama kamu deh Len, hihi.."


"Haha.. Masa sih, baru juga beberapa kali ketemu."


"Apalagi aku yang baru kenalan tadi, tapi who knows kan. Pantas aja kalo Langit cemburu karena merasa terancam."


🌻🌻🌻


Hans mengusap lembut rambut dan mengecup mesra dahi istrinya.


"Sayang, semalem kita ketemu di dalam mimpi. Begitu nyata rasanya, kita seperti beneran bercinta bahkan lebih dahsyat dari yang sudah-sudah. Selama kamu tidur panjang, baru tadi malam aku tertidur pulas di kamar kita." Hans membelai lengan Helena.


"Aku pasti melakukan apa saja demi bisa membuatmu sembuh seperti sedia kala, meskipun itu harus meruntuhkan ego-ku, menemui sir Benefio di kediaman selir Crystal. Semoga cara ini berhasil ya, sayang." Hans terus berbicara walaupun secara fisik tidak ada reaksi dari Helena, tapi dia sangat yakin istrinya mendengar setiap kata-katanya hanya saja tidak bisa menyahut.


"Pelayan.." Panggilnya.


"Hamba, paduka."


"Kalau Hugo dan Hana sudah selesai berjemur, tolong bawa mereka kemari." Titahnya.


"Siap, paduka."


Hans mulai menyeka tubuh istrinya, membalurkan minyak wangi di sekujur tubuh istrinya kemudian memasangkan pakaian yang indah. Khusus untuk hal sepribadi itu, Hans hampir tidak pernah menyerahkan kepada pelayannya, hanya sesekali dayang senior saja yang dia izinkan untuk menggantikannya.


Ketika ia memasangkan pakaian dalam Helena, Hans teringat benda yang tertinggal subuh tadi. Benar berbeda dengan semua yang dimiliki istrinya.


Meskipun heran, Hans masih menutupi hal itu dari siapa pun. Tidak jarang Hans merasakan tubuhnya seperti dipeluk seseorang atau merasakan aroma khas istrinya, tapi dia pikir itu hanya halusinasi saja, karena dia sangat merindukan sentuhan istrinya. Selembar celana dalam yang tertinggal itu benar-benar misteri untuknya.


"Baginda, ini Hugo Hana sudah selesai berjemur dan sarapan." Ujar pelayan.


"Baik. Turunkan dan biarkan mereka merangkak ke arahku.." Sahut Hans.


Hans terkekeh, begitu bahagia melihat kedua buah hatinya yang lincah itu mulai bergerak berkejaran mendekatinya dengan mulut yang riang berceloteh.


"Ratuku, cepatlah bangun dan temani aku membesarkan si kembar." Hans berbicara kepada Helena.


"Ayo sayang, bilang Hallo sama mommy kalian." Hans menggendong putra dan putrinya dan menyodorkan mereka satu per satu menghadap wajah Helena."


"Terima kasih telah menjadikanku ayah bagi anak-anak yang manis ini, Helena. Aku sungguh bersyukur memilikimu dan mereka."


"Pelayan, tolong mandikan anak-anakku ya." Perintahnya pada para pelayan dan bergegas para pelayam menuruti kata-katanya.


"Siap paduka."


🌻🌻🌻


Kastil Crystal Hills


Hans melompat turun dari punggung kudanya. Menatap bangunan di depannya, menghela nafas panjang dan mulai berjalan menuju kediaman selir Crystal.


"Suatu kehormatan bagi kami, baginda raja Hans sudah berkenan mengunjungi kami di sini. Ada kabar yang ingin disampaikan? Tanya Crystal sambil membungkukkan badannya.


"Langsung saja ya, madam Crystal. Anda tentu tau kabar istriku Helena yang pingsan dan kemudian tidak bangun-bangun dari tidurnya hampir 2 bulan ini. Beberapa tabib bahkan dari kerajaan lain juga telah aku minta untuk mengobati istriku, tapi tidak ada hasilnya sama sekali bahkan aku sudah menyampaikan sayembara dengan iming-iming fantastis tapi juga.. Ah, madam Crystal bolehkah aku meminta sir Benefio membuatkan ramuan obat untuk menawar racun istriku?"


"Hemm.. Kenapa harus kakakku sir Benefio yang kamu mintai tolong?" Selidik Crystal yang sudah mulai tidak menaruh hormat di perkataannya terhadap raja Hans.


"Karena hanya sir Benefio yang belum aku mintai tolong. Tolonglah aku madam Crystal, apapun yang kalian minta akan aku penuhi bahkan setengah dari kekayaan kerajaan Hanover Raya pun akan kuberi jika itu yang kalian mau."


"Hahaha.. Bagaimana jika kamu harus turun tahta, dan anakku Jevan abang tirimu itu yang menggantikan posisimu sebagai raja Hanover Raya?"


Hans terhenyak mendengar pernyataan selir Crystal. Dalam hati ia merutuk ayahnya yang bisa-bisanya terjerat wanita ular ini dulu. Dengan syarat yang diajukan oleh Crystal, entah mengapa tiba-tiba aja Hans merasa ada persekongkolan dibalik kejadian pingsannya helena.


"Bu.. Bukankah Jevan sudah diserahkan seluruh bagian selatan kerajaan Hanover Raya oleh ayahanda, apakah itu masih kurang, madam?"


"Ah, itukan yang sudah seharusnya. Ini aku yang minta jika seandainya Benefio bisa menemukan ramuan untuk istrimu. Kamu paham kan bahwa ga ada yang gratis di bawah kolong langit ini."


Sejenak Hans berpikir. Tidak ada salahnya dia menyerahkan kepada Jevan, toh Jevan adalah abang satu ayah hanya beda ibu dengannya. Lagipula, untuk apa dia memiliki seluruh kekayaan jika dia tidak bisa menikmati kebahagiaan itu. Apapun akan dia lakukan demi kesembuhan istrinya dan mereka bisa bersatu seperti dulu lagi."


"Baiklah, madam. Aku setuju, 1 bulan setelah istriku sadar berkat ramuan yang dibuat sir Benefio nanti, aku akan bertukar tempat dan menyerahkan tahtaku untuk Jevan putramu." Jevan membuat surat pernyataan singkat dan membubuhi metrai kerajaan di bahan yang sudah disediakan selir Crystal."