
Anak-anak panti mendapat waktu freetime setiap sabtu-minggu, dimana mereka bebas melakukan apa saja termasuk bangun kesiangan, menginap di rumah keluarga dan lain-lain. Tapi minggu ini, anak-anak justru bangun lebih pagi dari biasanya.
Beberapa ada yang jalan pagi ke hutan bambu dengan Langit, beberapa anak berkebun dengan grandmom, sebagian mencuci mobil bersama pak Made, sebagian lagi membersihkan pekarangan dan lapangan sementara Lenka masih bobo manis dan mimpi indah, hihi.
"Sayang, kapan-kapan kita liburan ya sama anak-anak?" Pinta Helena pada Hans.
"Hm.. Mau berkunjung ke kerajaan utara apa barat?" Tanya Hans.
"Keeee... Bali ya sayang."
"Bali? Dimana itu seperti baru dengar."
"Oopss.. Belum pernah dengar ya, hehe. Kita ke kerajaan Emerald saja mengunjungi papa dan mama, lagi pula kudengar istri abangku Javier akan melahirkan."
"Ok. Hei, honey.. Apa kamu tidak ingin kita memberi adik untuk Hugo dan Hana, hum?" Bisik Hans sambil mengeratkan pelukannya.
"Hm.. Boleh. Aku juga mau, hehe"
"Sayang... Heii... Apanya yang boleh nih, Lenka.. Lenka.. Sayang banguuun, apa mau aku cium?"
Menyadari Lenka bergumam ketika tidur, muncul niat iseng Langit, sengaja ia memeluk erat tubuh Lenka dari belakang.
"Sayang, beneran boleh?" Bisik Langit lagi memanfaatkan Helena yang masih setengah bermimpi.
"Hm, iya boleh kan aku sudah bilang aku juga mau, sayang" Jawab Helena masih dengan mata yang tertutup.
Langit terkekeh sambil melanjutkan aksi keusilannya.
"Jangan menggodaku sayang, menahan diri itu susah lho. Lagipula pernikahan kita sudah di depan mata." Bisik Langit lagi sambil masih memeluk Lenka dan menggosok-gosokkan dagunya ke telinga Lenka.
Geli.
What ?? Pernikahan.. Aku kan sudah menikah??
Sebentar.. Sebentarrr...
Helena berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Eh.. eh.. Langiiiit, disuruh bangunin Lenka malah mesra-mesraan." Grandmom yang mengikuti Langit sedari tadi langsung menjewer kuping Langit hingga memerah.
"Adududuuuhh.. Ampun grandmom, ampun." Ujar Langit memelas.
Seketika Helena langsung segar begitu mendengar ada insiden itu.
Owh iyaaa, kan aku lagi jadi Lenka. Iiissshhh.. Lagi-lagi Langit membuyarkan mimpi indahku. Batin Helena.
"Lenka, anak-anak nungguin kamu masak tuh." Ujar gradmom.
Sementara Langit menatap Lenka dengan senyum nakalnya.
"Bolehkan sayang, kamu juga mau kan?" Godanya.
"Apaan?" Helena pura-pura ga ngerti.
Untuuung saja tidak keceplos menyebut nama Hans.
"Haha.. Salahnya bangun kesiangan sih, ngigau kan jadinya."
π»π»π»
Setelah mencuci muka dan sikat gigi, Helena langsung menuju ke dapur.
Dia merebus air untuk membuat teh sebagai penghangat perut mendampingi biskuit yang telah tersedia.
Rupanya pagi ini tidak ada jam khusus untuk makan pagi bersama. Hanya siapa saja yang mau, boleh mengambil minuman dan biskuit di aula.
"Mbak Lenka, tadi kami ikut grandmom panen di kebun belakang." Ujar Wulan.
"Grandmom menyuruh kami membersihkan dan membawanya ke dapur, agar mbak Lenka bisa membuatkan sesuatu untuk kita makan." Sahut anak Radit.
"Owh iya, apa saja yang kalian bawa?" Tanya Helena.
"Ada pisang, jantung pisang, singkong, cabe, tomat, bayam, kacang panjang, labu kuning, lengkuas, serai, pepaya dan kangkung." Jawab Wulan, Yana, Radit dan Tino bersahutan.
"Hmmm.." Helena mengecek ketersediaan bahan dan bumbu.. Terasi, gula merah, tahu, tempe, ayam, kelapa.
"Radit, tolong panggilkan mas Langit." Pinta Helena.
"Baik, mbak Lenka."
"Hari ini, giliran siapa yang bertugas di dapur?"
"Aku dan Melan. Tapi Melan masih membersihkan pekarangan, sebentar lagi menyusul." Sahut Yana.
"Iya, mbak. Karena aku, aku mau belajar masak sama mbak Lenka, hehe."
"Ok. Sekarang kamu tulis apa saja yang mau kita bikin ya. Agar kegiatan kita terarah dan selesai tepat waktu."
"Nasi putih, ayam goreng bumbu laos, tahu tempe goreng, sambal tomat, tumis pedas jantung pisang ebi, sayur bening bayam sama labu kuning dan kacang panjang, sama kolak pisang."
Wulan pun menulis dengan cermat apa yang disebutkan Lenka.
"Honey, ada apa memanggilku?" Tanya Langit.
"Sayang, tolong kupaskan kelapa ya."
"Ahssiapp." Sahut Langit.
"Ayo Radit, Tino ikut mas Langit belajar ngupas kelapa." Ajak Langit.
Semakin lama, anak-anak yang di dapur bertambah banyak. Mereka dengan sukacita menemani Lenka memasak.
Mengambil tugasnya masing-masing, ada yang memarut kelapa, mengupas bawang, masak nasi, nguleg bumbu, mengungkep ayam, menggoreng tahu tempe, mengupas singkong, pisang, pepaya, dan memotong sayuran. Ada juga yang dengan sengaja mencatat bumbu-bumbu serta cara memasak.
Grandmom yang memperhatikan dari tadi tersenyum. Namanya juga freetime, jadi mereka bebas aja mau ngapain hari ini, bahkan hampir sebagian besar mereka memilih untuk memasak bersama Lenka.
Darel kecil yang kesiangan juga tidak ketinggalan.
Dia menghampiri Lenka dan mengayun-ayunkan tangan Lenka.
"Selamat pagi sayang, ada yang bisa mbak bantu?" Sapa Lenka.
"Bolehkah mbak Lenka memasakkan gyeran mari lagi tapi pakai isi sosis."
"Hmm.. khusus untukmu atau teman-temanmu yang lain juga?" Tanya Lenka.
"Untukku saja, mbak." Jawab Darel.
"Mbak Lenka.. kami mau lagi gyeran mari." Sahut seorang anak.
"Iya, kami juga mau." Sahut yang lain
Helena tersenyum.
"Baiklah, mbak Lenka akan membuat gyeran mari isi sosis juga untuk kalian. Darel bisa bantu memecahkan telur dan mengaduk bahan kan?
Darel mengangguk dengan semangat.
π»π»π»
Semua masakan sudah siap beserta cuci mulut berupa pepaya dari kebun grandmom. Tinggal kolak pisang yang belum dimasak, karena itu nanti buat snack time.
"Ok, karena hari sudah siang.. sebelum kita bersantap, mbak Lenka mau, kita mandi dulu. 10 menit dari sekarang kita ketemu di aula, ya." Ujar Lenka.
Anak-anak segera berhamburan kembali ke kamarnya untuk mandi.
"Kamu juga mandi dong sayang. Udah bangun kesiangan, telat mandi, eh tambah keringet karena masak.. acem-nya dobel." Ledek Langit.
Helena cemberut dan bergegas ke kamar mandi.
"Lenka, nanti temanin grandmom belanja ya buat ngisi stok. Sekalian kamu beli bahan makanan untuk diolah yang bisa tahan lama, untuk sarapan anak-anak." Ujar grandmom di sela-sela suapannya.
"Ok." Sahut Helena.
"Jangan dong grandma, kan nanti malam kami balik. Lenka cukup kasi catatan aja apa-apa yang di perlu buat olahan itu." Protes Langit
"Hmm.. ga terasa ya kalian dah mau balik aja, tapi nanti sebelum kalian kembali ke Jakarta, Lenka sempat masak kan, nah hidangan apa yang mau kamu masak untuk kita?"
"Enngg.." Helena mengingat bahan-bahan yang ada.
"Tumis kangkung campur cumi, fillet patin goreng tepung, telur balado, sama puding caramel."
Usai santap siang, grandmom menyuruh Lenka menuliskan apa saja yang perlu dibeli untuk olahan tahan lamanya.
"Bahan-bahan ini, mau bikin apa nanti?" Tanya grandmom.
"Abon ikan sama empek-empek." Jawab Helena.
"Aku ga yakin, menu itu tahan lama sayang." Celetuk Langit.
"Asal naruhnya di toples yang kedap udara, tahan lama kok." Sanggah Helena.
"Kayaknya bakalan cepat habis, makanya ga tahan lama. Haha.." Ujar Langit lagi.