
"Len, maaf ... bolehkan aku memanggilmu seperti itu? Soalnya namamu dan Lenka, sama-sama ada 'Len'-nya juga," ujar Langit saat mereka duduk santai menikmati angin malam di beranda rumah.
"Hm ... tidak masalah," sahut Helena tersenyum kecil sambil memetik dedaunan kering tanaman janda bolong milik Lenka.
"Ok. Ah, aku jadi canggung ngobrol sama kamu, mengingat kamu bukanlah Lenka," ujar Langit pelan, menahan suaranya agar tidak terdengar orang tua mereka, termasuk grandmom yang asyik main gaple di ruang tengah.
"Senyamanmu aja Lang, jika pun ada sesuatu yang perlu akan aku sampaikan pada Lenka."
"Eh itu ... aku masih belum mengerti, bagaimana kamu berkomunikasi dengan Lenka via cermin?" tanya Langit penasaran.
"Oh, aku bisa menunjukkan caranya, tapi aku tidak tahu apakah bisa atau tidak jika ada orang lain, maksudku ... apa ini hanya antara aku dan Lenka secara pribadi atau bisa juga jika ada kamu."
"Baiklah, aku mengerti. Bagaimana kalau kita coba sekarang saja? Apa ada ritual khusus?" tanya Langit.
"Tidak juga, kita hanya perlu cermin. Aku kadang hanya pakai cermin kecil yang ada di wadah bedak itu sudah cukup, asal cermin saja bisa, kok," Helena menyakinkan.
"Ah, tapi itu kekecilan ntar gak puas melihatnya, Len. Aku mau nanti Lenka bisa melihatku juga."
"Boleh, tapi bagaimana? Dirumah ini cermin yang besar cuma ada di pintu lemari kamar Lenka sama di kamar mandi yang agak besar biar bisa memunculkan wajahmu juga, kalau kita berduaan di tempat itu, yang ada orang rumah akan beranggapan yang tidak-tidak, lho," sanggah Helena.
"Haha ... beranggapan yang tidak-tidak juga gak masalah, Len. Lagipula kan kita akan menikah kurang dari 3 minggu lagi."
"Hei Lang, jangan lupa lho... kamu yang akan menikah dengan Lenka tapi kan tidak dengan aku."
"Oh, haha ... benar juga, tapi kalau kamu mau tetap di sini, jadinya tetap saja kita yang akan menikah," balas Langit sambil nyengir.
"Trus ... gimana nasib Lenka, Hans juga anak-anak kami yang sedang kuperjuangkan, hm?" tanya Helena setengah mendelikkan matanya pada Langit tampak cengengesan.
"Maaf, aku cuma memikirkan yang simple-nya saja, Len. Yah, anggaplah apa yang kukatakan ini adalah kemungkinan terburuknya karena sebenarnya aku gak masalah, mau kamu sebagai Lenka dan Helena, aku tetap ingin hidup bersamamu."
"Kalau kamu benar-benar mencingai Lenka, harusnya gak ngomong gitu, dong," protes Helena.
"Bukan gitu, Len. Secara fisik kan Lenka tapi dalamnya kamu jadi ya ..."
"Mau bilang cintamu flexible gitu, Lang?"
"Eng ... maksudku gini, anggaplah ini alternatif, Len. Daripada jalan menuju sesuatu yang diperjuangkan masih gak jelas bagaimana dan kapan, kenapa kita tidak mengambil kesempatan yang ada aja?" tawar Langit berusaha mempengaruhi jalan fikiran Helena. Sungguh, ia lebih tertarik dengan Lenka yang diisi jiwa Helena saat ini. Jika Lenka kembali ke raganya sendiri, mungkin saja Lenka kembali menjadi pribadi sejenis kanebo kering seperti dulu.
Helena menatap lekat pada Langit.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa yang aku katakan, benar, bukan? Kuncinya ada di kamu, kok. Mau seperti apa dan gimana nantinya, bukankah kamu bilang kamu sedang berada dalam pengawasan shelter Transitee, suatu tempat yang tidak mengenal kata takdir? Itu adalah suatu keistimewaan, ketika kita dibebaskan untuk memilih sesuai keinginan kita," pancing Langit lagi.
"Benar, tapi tidak sebebas itu juga, Lang. Aku perlu memikirkan baik-buruk dari akibat pilihanku itu, lagipula apapun yang aku pilih ... kamu lihat sendiri, tidak ada yang cuma-cuma, aku harus melakukan misi tertentu demi mencapai apa yang kuinginkan tersebut," balas Helena dengan nada yang lirih.
"Aku janji, jika itibyang terjadi, aku akan mencintaimu dan menerimamu apa adanya. Aku bahkan bisa membahagiakanmu seperti suamimu mencintaimu," ungkap Langit.
"Kita lihat saja nanti," Helena mengedikkan kedua bahunya dan menyudahi aktivitasnya memetik dedaunan kering dan mencuci tangannya.
"Ah, udahlah Len, ayo kita bersiap dan berpamitan dengan orang rumah," ajak Langit seraya memasuki rumah untuk mengambil kunci mobilnya.
"Udah ikut aja?" balas Langit.
"Tapi ini sudah malam, Lang ..."
"Emang kenapa kalau udah malam? Kamu akan berubah jadi upik abu?" seloroh Langit.
"Upik abu apaan? Aku cuma gak enak sama bapak, papa dan grandmom," alasan Helena lagi.
"Ah, mereka ngerti kok ... kalau calon pengantin perlu waktu buat bonding sebelum menikah."
"Hah? Bonding, semacam kursus pra nikah, gitu?"
"Haha, kursus? Kebanyakan nanya kamu, Len. Udah, ayo kita pamitan sama mereka."
Tanpa perlu waktu lama, kedua sejoli itupun meninggalkan ke tiga orang tua yang masih asyik bermain gaple.
"Tempat apa ini Lang?" tanya Helena sedikit heran saat mereka tengah mengantri di suatu tempat yang ramai.
"Cinema, mungkin ditempatmu tempat seperti ini tidak atau belum ada," sahut Langit.
Helena melihat sekelilingnya, di dinding bangunan itu ada banyak sekali poster beraneka tema dan gambar. Perlahan Helena memindai beberapa poster itu dan mengerti sinopsisnya.
"Ini semacam melihat pertunjukkan kisah hidup orang lain?" ujar Helena memastikan info yang didapatnya.
"Ya begitulah, namanya film. Tema, alur cerita, tokoh sejak akhir hingga akhir cerita ditentukan oleh penulis, sutradara didukung kru dan situasi untuk menguatkan unsur cerita itu pendukung. Sama seperti kisah hidup kita yang telah digariskan oleh sang pencipta dan dilihat oleh orang lain."
"Untuk apa ada orang yang mau membuat dan mengatur kisah orang lain sementara hidupnya sendiri dirancang oleh Sang pencipta?" Helena penasaran.
"Setiap kisah ada hal yang ingin disampaikan oleh penulis katakanlah itu semacam pesan moral, hikmah atau mungkin suatu peringatan. Jadi, selain memberi pelajaran, sebuah film juga memberi unsur menghibur orang lain dan bagian yang tidak kalah pentingnya adalah bisa menjadi nafkah bagi segenap yang terlibat di kisah itu,"terang Langit lagi.
"Spiderman no way home?" eja Helena saat melihat karcis masuk yang diterima langit dari kasir.
"Iya, semoga kamu dapat menikmati tontonan film pertama-mu, Len."
"Ck, apa menariknya kisah tentang laba-laba yang gak bisa pulang ke rumahnya?" celetuk Helena.
"Haha, udah ... ayo kita masuk dan menyaksikan kisah laba-laba yang satu ini," Langit meraih tangan Helena.
"Wooow, layarnya besar sekali," ujar Helena antusias saat mereka memasuki ruang bioskop.
"Iya, biar lebih terasa nyata kisahnya," sahut Langit sambil mengajak Helena menuju nomor kursi mereka.
"Hm ... kursinya empuk dan ruangannya sejuk. Hanya demi melihat kisah orang lain kita dibikin nyaman dan membayar untuk itu, aaaah!" Helena tiba-tiba terpekik saat ruang bioskop menjadi gelap gulita.
"Sssttt ... tenang, gangan berisik, filmnya sebentar lagi akan mulai," ujar Langit seraya mengangsurkan cup coklat hangat dan pop corn pada Helena.