
"Hola sayang, apa kabarmu?" Tanya grandmom pada Lenka.
"Baik grandmom."
"Aku bosan tinggal dirumah Langit, makanya pagi-pagi aku ke sini ingin mengajakmu seru-seruan."
"Seru-seruan, seperti?" Helena tidak mengerti.
"Memasak? Kemudian nanti setelah makan siang kita ke butik memesan baju untuk pernikahanmu. Malamnya kita menengok Rigel. Bagaimana?"
"Hm.. ok. Mari kita sarapan dulu grandmom. Aku membuat brownies kukus kacang almond dan smoothie buah, trus kita ke pasar ya grandmom, aku kehabisan bahan."
"Baiklah."
Dengan mengendarai skuter matic-nya Helena membonceng grandmom menuju pasar tradisional yang berada tidak jauh dari komplek perumahannya.
Usai berbelanja keduanya bergegas pulang.
Dari jauh tampak kerumunan orang, membuat Helena waspada dan menghentikan kendaraannya.
"Ada apa, pak?" Tanya Helena ketika melewati gerombolan orang itu.
"Tabrak lari, non." Sahut salah satu orang sambil menunjuk ke arah motor yang sudah melaju kencang.
"Ok, urus korbannya pak nanti saya kejar penabraknya." Sahut Helena sambil memacu laju kendaraannya.
Grandmom memeluk Lenka yang diduduk depannya sambil menutup mata, sungguh menakutkan bagi sang nenek ketika Lenka memacu motornya meliuk kencang membelah jalan, terasa seperti terbang.
"Hati-hati Lenka, jangan sampai kita jadi korban berikutnya." Cemas grandmom.
"Tenang saja, grandmom sedikit lagi kita akan menyamakan posisi dengan si penabrak.
"Heiii... berhentiiii..."
Tin.. Tin.. Tiiiiinnn.
Helena membunyikan klakson motornya.
"Heiiii..."
Tiiiiinnnn..
"Kamuuuu.. Tolong berhenti."
Siiiuuuuttt..
Helena berhasil mendahului motor pemuda itu dan langsung memblokir jalannya.
"Balik, mas. Jadi orang yang bertanggung jawab dong." Ujar Helena begitu berhadapan dengan si pengendara motor.
"Apa urusanmu nona?" Sahut pemuda itu emosi.
"Urusanku karena anda telah mencelakai orang lain."
"Aku buru-buru dan lagi pula kalau aku tidak cepat pergi, bisa-bisa aku dihakimi massa." Jawab pemuda itu.
Helena memelototkan matanya dan menepuk bahu pemuda itu 3 kali.
"Balik sana. Tidak ada penghakiman massa kalau niatmu baik, mari saya temani." Ucap Helena.
Alih-alih mengeluarkan suara protes, pemuda itu langsung menuruti perkataan Helena seperti kerbau yang dicucuk lubang hidungnya menuju ke lokasi kejadian.
Helena menemani pemuda itu bernegosiasi karena tujuannya adalah menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan asalkan ia mau menanggung segala kerusakan motor juga pengobatan orang yang ditabraknya.
Beres.
Setelah menyelesaikan urusannya Helena dan grandmom mengajak pemuda itu ke kedai kopi tidak jauh dari tempat kejadian.
"Istirahatlah sebentar, sebenarnya apa yang membuat anda terburu-buru?" Tanya Helena.
"Owh begitu." Helena merogoh sesuatu dari dalam tas-nya.
"Ini, kripik pisang dan brownies kukus buatan saya sendiri. Silahkan dimakan untuk memulihkan tenagamu juga untuk adikmu, semoga persalinannya lancar." Helena menaruh sebuah kotak makanan ukuran kecil di atas meja.
Pemuda itu memandang aneh potongan kue yang dikasih Helena untuknya, dengan ragu menerima pemberiannya dan mulai memakannya.
"Lain kali jangan seperti itu. Jangan karena ingin menyelamatkan satu nyawa kamu jadi mengabaikan keselamatan nyawa yang lain." Nasehat Helena.
"Aha.. Terimakasih sudah mengingatkanku nona. Terimakasih juga atas kuenya, sekarang saya merasa jauh lebih baik. Ehm.. bolehkah kita berkenalan? Saya Jeff, saya.."
"Bukankah tadi anda buru-buru karena mau ke rumah sakit tuan?" Cicit grandmom melihat gelagat kagum dari pemuda itu.
"Ah, iya. Baiklah saya permisi dulu. Terima kasih dan.. si.. siapa namamu?"
"Lenka." Jawab Helena.
"Nice name, senang berkenalan denganmu Lenka. See you next time." Pamit Jeff.
π»π»π»
Begitu sampai rumah, Helena dan grandmom berkutat di dapur. Membereskan belanjaan, menaruh bahan-bahan makanan tertentu di kolkas, meramu bumbu, kali ini grandmom mengajari masakan yang belum pernah dimasak oleh Lenka sebelumnya.
Helena senang sekali walaupun bertampang bule, grandmom ternyata sangat piawai mengolah aneka makanan khas indonesia.
"Sekian lama kamu dekat dengan cucuku, tidak pernah dia bilang kalau kita memiliki passion yang sama dalam memasak. Yang aku tau, kamu gadis yang dingin dan acuh. Langit selalu bercerita padaku mengenai bagaimana hubungan kalian. Berulang kali Langit hampir menyerah karena merasa seperti kekasih yang tidak dianggap olehmu, malah sempat putus kan?"
"Iya grandmom, aku hanya.. Ah, aku ga tau bagaimana caranya menjadi kekasih yang baik, karena aku belum pernah memiliki pacar sebelumnya. Setelah Langit menceritakan tentang kekasih masa lalunya, aku tiba-tiba merasa kecewa karena hanya sebagai pelarian saja bagi Langit. Maaf, bahkan perlu waktu 3 tahun untuk meyakini bahwa aku telah salah menilai Langit."
"Tapi kamu sungguh ga mempermasalahkan masa lalu Langit kan sayang?"
"Ya, grandmom. Sekarang aku mengerti, ga ada orang yang sempurna, aku justru bangga Langit tidak berusaha menutup-nutupi agar terlihat baik. Hal itu yang tidak kusadari sejak awal karena cuma melihat hubungan kami sebagai sebuah perjodohan, semata menghargai hubungan baik bapak dan papa Surya, hehe."
"Hm.. syukurlah Lenka, kini kamu sudah benar- benar siap menjadi pendamping cucuku. Orang yang mencintai kita tentu senang jika tahu kita membutuhkan mereka, dan merasa keberadaan mereka berarti untuk kita, Langit type orang yang seperti itu, Lenka."
Lenka tersenyum.
"Dan aku membutuhkan Langit lebih dari yang aku perlu, dia pendukung yang luar biasa untukku. Aku ingin lebih mengenal Langit dan selalu ingin jadi yang terbaik untuk Langit, grandmom."
"Pengenalan sama pasangan kita, ga akan berhenti meskipun kita sudah hidup bertahun-tahun dengannya dan pernikahan justru akan membuka matamu lebih lagi mengenai cinta, pengertian membuat kalian selalu bertahan di dalam segala kendala. Langit sesunguhnya adalah orang yang rapuh, dia perlu cintamu untuk membuatnya terus kuat."
"Aku pulaaaaang." Teriak Langit yang tau-tau sudah berada di area meja makan.
"Heiii, bukannya kamu bekerja kok jam segini sudah pulang?" Heran grandmom.
"Aroma-aroma masakan dari dapur ini memanggilku pulang untuk bersantap siang dan itu membuatku lapar, aku yakin 2 wanita kesayanganku pasti sudah membuat sesuatu yang spesial, ya kaaannn?" Sahut Langit.
"Ish.. Lama-lama aku bisa diabetes keseringan dengar omongan dari mulut manismu itu." Tukas grandmom.
"Sayang, sementara makan siang siap, tolong panggilin bapak dan papa, ya. Mereka sedang membuat sesuatu di samping." Pinta Helena.
"Siap, segera laksanakan cintaku." Langit menjawab sambil mencuri kecupan di pipi Lenka.
"Ishh.. sempat-sempatnya.."
"Tapi syuka kaaan, tuh pipimu bersemu merah." Goda Langit lagi.
Langit senang sekarang dia merasa telah memiliki kekasih yang sebenarnya. Terlebih ketika melihat papa dan pak Kasan semakin akrab. Langit bersyukur, calon bapak mertuanya juga bisa menerima masa lalunya yang memalukan itu.
"Karena cinta kalian aku kuat." Gumamnya sambil tersenyum.
Berulang kali, Langit masih mendapat godaan dari Mayleen yang jujur saja sangat berpotensi menggoyahkan imannya sebagai pria dewasa apalagi memang Langit masih menyimpan 'rasa' terhadap Mayleen, apalagi jika terkenang saat mereka masih tinggal bersama, duuuhhh..
"Wah.. Spesial nih." Langit menambahkan kecambah diatas nasi yang sudah tersiram kuah rawon. Tidak lupa dia menambahkan perasan jeruk purut dan sambel tomat."
"Senang ya Lang, menikmati hidangan kolaborasi 2 wanita spesial kita siang ini." Pak Surya menimpali sambil mencomot tempe mendoan.
"Iya, bikin selalu ingin pulang buat makan bersama, hehe." Jawab Langit pula.