Lenka's Dish

Lenka's Dish
5



Helena membuat tabel yang nanti akan dia isi dengan misi yang harus diselesaikannya beserta kolom untuk point dan kolom keterangan.


Menolong kucing belang tiga. Point 100. Done.


Hm.. baru 1, sementara aku ga tau berapa point yang harus aku kejar, apa saja yang jadi misiku dan berapa saja pointnya. Oh ratu Acasha, berbaik hatilah padaku.


Sementara menulis, sistem secara otomatis memberi info untuk Helena mengenai bapaknya Lenka.


Menutup bukunya, Helena menatap dan menyentuh foto keluarga di meja belajarnya.


Senyum manis terukir dari 4 orang di foto berukuran 3R itu. Ayah, ibu dan kedua anaknya yang sudah remaja.


Helena merasa tidak asing dengan orang-orang di foto yang berbingkai hitam itu.


Jika ada alat yang bisa membuat foto di dimensinya, tentu keluarga miliknya serupa dengan foto Lenka dan keluarganya ini.


Pak Kasan, umur 62 tahun. Pensiunan guru. Istri meninggal 5 tahun lalu. Memounyai 2 orang anak. Legawa anak pertama laki-laki umur 27 tahun. Sejak 5 tahun lalu pergi merantau jadi pekerja tambang di Sorong, Papua. Anak kedua, Lenka umur 22 tahun mahasiswi semester 7 jurusan manajemen.


Pak Kasan menderita sakit jantung dan asam urat sejak berusia 60 tahun, akibat alergi obat yang dia konsumsi jadi terkena sindrom Steven Johnson yang belakangan membuatnya sering keluar masuk rumah sakit. Penyakitnya tambah parah sejak tahu Lenka diserang penjahat dan koma.


Hmm.. Jadi hanya Lenka dan bapaknya yang tinggal di rumah mungil sederhana ini. Batin Helena.


Gaji pensiunan ayahnya ga seberapa, hal itu yang membuat Lenka tidak ingin menjadi beban dan giat mengambil pekerjaan paruh waktu.


🌻🌻🌻


Deru mobil yang berhenti di depan rumah membuat Helena cepat-cepat melangkah ke depan dan membuka pintu. Helena terkejut ketika melihat seorang bapak yang aslinya ternyata benar mirip sekali dengan ayahnya, Raja Richard.


"Welcome home, bapak." Sambutnya memeluk pria tua itu lalu kemudian menuntunnya duduk di sofa ruang tamu.


Sementara Langit sibuk mengambil beberapa barang bapak dari mobil dan membawanya masuk ke dalam kamar, pak Kasan sedikit heran melihat Lenka yang sudah kembali ke rumah dengan sikap yang lebih hangat dan ceria. Tidak seperti Lenka yang biasanya acuh tak acuh padanya.


"Apa kabarmu Len, sudah sehat?" tanya pak Kasan.


Lenka mengangguk dengan bersemangat.


"Sudah membaik, pak. Bapak jangan sakit lagi ya, sudah makan belum?" Balas Lenka.


Nah kan, Lenka sekarang jadi lebih perhatian. Batin pak Kasan.


"Pak, Len.. Langit kembali ke tempat kerja dulu. Kalau ada apa-apa kabarin aja." Pamit Langit usai menaruh barang ke kamar bapak.


"Lah, kok buru-buru Lang?" Tanya pak Kasan.


"Ngecek pabrik, pak. Sampai ketemu lagi pak, Len."


"Hati-hati ya sayang. Kapan ke sini lagi ?" Pertanyaan sederhana dari Lenka membuat Langit tersenyum semangat.


Lihat, bahkan Lenka ga menolak ketika kucium keningnya di depan rumah dan masih dapat terlihat oleh bapak dari ruang tamu. Ah coba dari dulu sikap Lenka begini, kan aku ga pernah akan merasa cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Sinyal bagus, aku harus segera menikahinya sebelum dia berubah pikiran. -Langit.


Ewh, Langit bilang honey sambil mengecup kening dan mengacak rambutku, manis sekali. Membuatku makin rindu dengan Hans. Tunggu, perlakuan ini.. apa karena Langit dan Hans memiliki sisi romantis serupa atau memang beginilah standar umum perlakuan lelaki pada kekasihnya ya? Aku menikah dengan Hans kan atas perjodohan demi kepentingan kerajaan, cinta tumbuh sendiri seiring waktu kami bersama. Sekedar saling menyukai lawan jenis, ga tau namanya pacaran, tau-tau dah jadi suami aja. -Helena.


"Lenka, walaupun studimu belum selesai bapak tidak keberatan jika Langit ingin cepat menikahimu. Bapak rasanya sudah semakin lelah saja, bapak akan pulang dengan tenang jika ada yang bertanggung jawab dengan hidupmu."Ujar Bapak.


Dengan hangat Helena menyentuh lengan pak kasan.


"Pak, Lenka mau bapak sehat. Melihat Lenka wisuda, menikah, punya anak terus kita ketemu sama kak Legawa lagi. Bapak ga pingin ?"


Pak Kasan tersenyum haru. Terutama karena dia tidak merasa ada nada marah lagi ketika Lenka menyebut nama kakaknya, Legawa.


"Bapak senang, sudah seharusnya kamu ga marah lagi dengan kakakmu. Dia sangat mengkhawatirkanmu saat masih dirumah sakit. Di tempat kerja kakakmu cuma boleh cuti 1 tahun 2x terus karena tempat bekerja yang jauh kakakmu tidak bisa pulang ke sini. Karena itu dia menitipkan kita sama Langit, termasuk juga patungan sama Langit nombokin uang bapak buat bayar biaya rumah sakit kita."


Helena tau, kalau Legawa pergi tidak semata karena pekerjaan tetapi menghindari Lenka yang kala itu terus menerus memusuhinya. Ibu meninggal akibat kecelakaan ketika dibonceng Legawa. Tanpa mau memahami sebabnya juga akibatnya bagi mental kakaknya sendiri, Lenka menyalahkan Legawa karena tidak hati-hati.


Lenka, maaf kali ini kita berbeda pendapat. Aku memilih untuk memaafkan kak Legawa. Karena dia tidak sengaja menghilangkan nyawa ibumu. Kecelakaan itu juga membuat dirinya terancam. Kak Legawa sama terpukulnya dengan kamu dan bapak. Jangan hukum dia lebih lagi.


Demikian tulis Helena di buku lain yang sampulnya dia tulis Helenka's Diary.


Helena menggunakan buku-buku kosong milik Lenka. Salah satunya untuk menulis misi dan poit, buku yang lain menulis hal-hal yang mungkin terlupakan atau juga hal-hal istimewa lainnya.


Buku yang diharapkannya pasti bermanfaat jika nanti dia pulang ke dunianya dan roh Lenka kembali ke tubuh aslinya.


🌻🌻🌻


"Bapak, bersih badan dulu ya. Biar segar." Helena menggamit lengan pak Kasan ke kamarnya.


Mengangguk pak Kasan mensejajari langkahnya dengan Helena.


"Lenka, bapak senang kamu banyak berubah sekarang." Ujar pak Kasan terharu.


"Sudah seharusnya begini kan pak? Pernah merasa di ambang kematian membuatku ingin hidup lebih baik lagi, memperbaiki apa yang seharusnya tidak kulakukan. Maafkan Lenka ya,pak."


"Kamu sudah makin dewasa. Bapak bangga sama kamu,nak."


Gelap bergerak turun mengganti remang sore.


Dalam keheningan senja pak Kasan melantunkan bait demi bait hormat dan syukur atas nikmat yang Tuhan anugerahkan untuknya baik berupa suka maupun duka, atas perkenanan Tuhan mengizinkan segala sesuatu terjadi demi kebaikannya, demi menyempurnakan ibadahnya.


Seandainya boleh meminta umur panjang dan kesehatan yang terus membaik demi bisa bersama anak-anak dan penerusnya kelak. Tapi seandainya tidakpun pak Kasan tetap bersyukur atas kehidupannya.


Sejauh ini, tidak ada beban yang lebih berat dari kemampuannya memikul itu semua berkat.


Helena terharu melihat pak Kasan yang tepekur dalam sujudnya. Betapa tidak, beliau jelas-jelas masih dalam keadaan sakit tapi tetap mampu menaikkan syukurnya.