Lenka's Dish

Lenka's Dish
23



"Honey, apa kau bahagia menjadi istriku?" Tanya Hans sambil memeluknya dari belakang, menaruh hidungnya di ceruk leher dan tangan yang melingkari perut buncitnya Helena.


"Sangat. Kamu tau, apa yang membuatku bisa kembali dalam pelukanmu?"


"Ehm.. karena efek racun itu sudah hilang dari tubuhmu?" Tebak Hans.


"Ck, itu hanya alasan yang kesekian saja rajaku. Utamanya adalah karena kekuatan cinta. Cintalah yang membuatku bertahan sehingga bisa berada di sisimu lagi."


"Ah, ratuku. Sejak aku tau rasanya kehilangan orang yang sangat ku cintai, aku jadi makin mencintaimu." Hans mengeratkan pelukannya.


Helena tersenyum sambil menikmati hangat pelukan lelaki kesayangannya ini.


"Honey, adakah keinginanmu yang belum terpenuhi olehku?" Tanya Hans.


"Hmm.. Apa ya? Aku ingin melahirkan banyak anak untukmu." Jawab Helena membuat suaminya terkekeh.


"Ah.. siap cintaku, sebentar lagi kau akan melahirkan anak ke 3, lalu ke 4 kemudian ke 5, lalu.."


"Emm.. Tidak, tidak jadi sayang. Cukup 3 saja, deh. Ah.. Aku mau salah satu kastil yang lama tidak terpakai kita jadikan panti asuhan."


"Panti asuhan? apa itu honey?"


"Semacam rumah penampungan bagi anak-anak yang kurang beruntung. Kita bisa mendidik mereka, mengurus mereka dengan kasih sayang seperti anak kita sendiri, bagaimana?"


Hans tampak berpikir keras, dahinya berkerut.


"Kira-kira apa keuntungan yang kita dapatkan?" Tanya Hans serius.


"Keuntungan? Setidaknya penggunaan uangmu lebih terarah dan bermanfaat bagi hidup orang lain. Manfaat lain, kita akan merasa lebih bahagia ketika kita tahu apa yang kita perbuat dapat membuat orang itu tersenyum."


"Baiklah, nanti aku pikirkan lagi. Kalau kita hanya memberi terus-terusan tidakkah akan membuat harta kita berkurang?"


"Sayang, ga pernah ada cerita orang menjadi miskin dan kekusahan karena terlalu banyak menolong orang lain selama kita iklas."


"Iklas, apalagi itu?"


Duhhh.. Gimana menjelaskannua ya. Helena bingung.


"Sayang lain kali kita bahas soal iklas, ya. Aku sedang ingin memberi usul.. Ketika kerajaan lain memberimu selir sebagai hadiah ataupun wujud kerjasama, jangan lagi diterima. Tapi mintalah sesuatu yang nantinya untuk kebutuhan anak-anak panti. Ok?"


"Ck.. Kamu seperti tidak percaya aku saja. Bahkan selama kamu tertidur, tidak ada satupun selir yang ku izinkan menemaniku. Aku ini lelaki yang setia, Helena."


"Benarkah, suamiku?" Tanya Helena gemas.


"Kamu bisa tanya dengan siapa saja, bahkan selir-selir itu sudah aku kembalikan ke tempat asalnya masing-masing sebelum menghangatkan malam-malamku. Aku takut kejadian ayahanda terulang lagi." Ujar Hans sungguh-sungguh.


"Baiklah cintaku, aku percaya padamu."


"Mau aku bikinkan teh madu?" Tawar Hans.


"Tentu." Jawab Helena.


Lalu Helena merasa semacam hembusan angin kecil hangat beraroma kopi menerpa pipinya.


"Enghhh.." Gumamnya sambil membalikkan tubuhnya.


Kembali dia merasakan tiupan tepat di kupingnya.


"Fuuuuuuh.. Fuuuuuuhhh..."


Helena menutup kupingnya, merasa terganggu oleh tiupan itu.


"Honey, bangun dooong. Mau aku cium?"


Eh.. Hans. Apa aku mimpi lagi, tapi kata-kata itu persis seperti Hans biasa membangunkan aku. Batin Helena.


Meskipun belum sepenuhnya sadar dari bangunnya Helena mencoba mengingat-ingat dimana dia sebelum tertidur.


Aaah, iya. Aku sebagai Lenka sedang ikut Langit pulang menemui papa dan grandmomnya. Baiklah. Lakon dimulai. Batinnya.


Pelan Helena membuka matanya dan mendapati Langit yang tersenyum tepat di depannya.


"Bahkan kamu bangun tidur aja, tampak cantik sekali sayang. Sexy, aku suka. Cuupp. Cuuupp" Langit mengecup seluruh bagian wajah Helena dengan bertubi-tubi.


"Jangan gombal, kenapa membangunkanku ini masih terlalu pagi bahkan masih gelap gini, aku masih ngantuk sayang." Ujar Helena memelas.


"Ayolah, aku mau mengajakmu menikmati udara pagi yang sehat dan segar. Cepatlah cuci mukamu, ikat rambutmu dan kenakan sweatermu. Dan oh ya, aku sudah membuatkan teh madu untukmu honey."


Ah, teh madu??


Helena mengikuti Langit yang berjalan beberapa langkah di depannya. Ternyata pak Kasan, pak Surya, grandmom sudah berada di halaman terlebih dahulu sambil melakukan gerakan senam kecil.


Hmmmmhh... Hmmmhhhh..


Berulang kali Helena menarik dan membuang nafas. Mengisi rongga paru-parunya dengan oksigen tanpa polusi. Terasa sejuk dan segar.


Remang perlahan terang ketika langkah kaki mereka sampai ditempat yang menyerupai hutan.


"Tempat apa ini, sayang?" Heran Helena.


"Hihi, maafkan aku sayang. Mungkin efek koma bikin otakku rada oleng." Ujar Helena malu-malu.


"Ahhh.. Cuman oleng gitu doang, ga oleng-oleng banget juga, malah bikin aku makin cinta." Balas Langit kocak.


Helena terkagum-kagum dan merasa nyaman akan suasana hutan yang tenang dan teduh bikin betah berlama-lama di tempat ini.


Sementara Langit yang hobi memotret tidak melewati keindahan alam dan kebersamaan mereka pagi ini.


"Mana aku liat hasil jepretanmu." Pinta Helena.


Langit memberikan kameranya untuk Helena.


"Wuiiihhh.. Cantik sayang, kamu ambil dengan angle yang tepat, hasil jepretanmu membuat yang sudah bagus jadi makin indah. Nih.. Nih.. apalagi yang ini, ketika cahaya-cahaya matahari menembus di sela-sela rimbunan pohon bambu, mantull." Puji Helena tulus.


"Modelnya yang indah, pulang yuk sayang, kamu mau kan nemani grandmom bikin sarapan pagi ini? Kata Langit.


🌻🌻🌻


"Apa ada anak yang alergi makanan tertentu?" Tanya Lenka sambil memakai celemek dan mengikat rambutnya.


"Tidak ada, semuabbahan yang tersedia ini sudah sesuai kebutuhan anak-anak." Jawab grandmom.


"Apa kamu ingin menemaniku memasak?"


"Ya, tapi grandmom cukup duduk di kursi ini memberikan instruksi untukku. Okay?" Perintah Helena membuat grandmom terkekeh.


"Halo kak Lenka aku Feni dan ini temanku Wulan.


"Halo, Feni, Wulan, ada apa kalian ke sini ? Tanya Lenka.


"Hari ini kami mendapat giliran untuk bertugas dan bertanggungjawab akan kebersihan pantry. Apa yang bisa kami lakukan?"


"Feni, tolong kamu cuci beras dan Wulan tolong bersihkan sayur-sayur ini ya."


Grandmom senang melihat Lenka yang luwes mempersiapkan hidangan pagi ini.


"Apa yang kita masak kak?" Tanya Wulan.


"Emm.. liat saja nanti, tolong kupas dan potong-potong alpukat ini beri sedikit saja gula trus diblender tanpa es, kalo sudah lembut dituang ke gelas ya dan beri susu coklat diatasnya. Mengerti?"


"Iya kak." Jawab Wulan


"Dan kamu, Feni. tolong kakak memotong bombay, sosis, wortel menyerupai korek ya."


"Baik kak."


Sambil menunggu nasi matang, Lenka membuat acar timun dan menggoreng chicken nugget.


"kalau sudah selesai tolong taruh diwadah ini ya Fen. Trus pecahkan telur-telur ini campurkan dengan bahan-bahan yang kamu rajang tadi."


"Kalian pernah nonton drama korea kan? Nah pagi ini


kita bikin gyeran mari, telur gulung ala korea." Ujar Helena sambil menambahkan beberapa bumbu pelengkap.


"Wooowww..." Sahut keduanya.


"Sini, perhatikan cara kakak membuatnya ya."


Helena menuang sedikit demi sedikit sambil menggulung telur di teflon begitu terus berulang-ulang.


"Ayo, Wulan, Feni silahkan dicoba cara membuat gyeran mari. Lakukan pelan-pelan saja, kalian pasti bisa. Kakak mau sambil liat nasi dulu biar lanjut menu berikutnya."


Sambil menunggu nasi berkurang uap panasnya, sesekali Helena mengambil alih apa yang dilakukan Wulan dan Feni.


"Mana telur yang sudah matang, biar gradmom potong-potong." Tawar grandmom.


Sementara sarapan dibuat, anak-anak panti yang lain beserta para pengasuhnya dengan bersemangat membersihkan tempat tidur, membersihkan kamar, mandi, mencuci dan menjemur pakaiannya masing-masing.


Tek.. Tek.. Tek..


Helena mengetuk pinggir wajan dengan spatula tanda dia sudah menyelesaikan membuat nasi goreng salmon.


"Kalian mandi dulu, nanti mbak pengasuh yang selanjutnya mengurus dan menyajikan hidangan." Kata grandmom.


🌻🌻🌻


07.15 seperti hari-hari biasa, anak-anak sudah duduk dengan tertib dengan peralatan makannya masing-masing.


Secara bergiliran mereka mengambil jatah makannya sesuai porsi masing-masing.


Termasuk para pengasuh, Lenka, Langit, pak Kasan, pak Surya, grandmom dan pak Made juga ikut mengantri.


Begitu sudah mendapat makanan, mereka serempak menyanyikan lagu 'mars makan' terlebih dahulu sebelum berdoa dan bersantap.


Wooowww.. Semua bahagia menikmati sarapan istimewa pagi itu.