Lenka's Dish

Lenka's Dish
13



"Itu temannya ga diajak masuk sekalian ngobrol sama kita disini" Ujar Ibu Miryam ketika melihat Lenka diantar seseorang ke depan rumahnya.


"Lagi ada perlu katanya, bu. Nanti kalau saya selesai dia jemput lagi."


"Oh, gitu. Ayo masuk Len. Santai aja ya kita. Saya sengaja mengundang kamu ke sini, kadang saya kangen juga punya teman ngobrol, hehe. Saya punya anak 2, yang satu perempuan sudah menikah tinggal di luar negeri yang satu lagi laki-laki mungkin sebentar lagi dia pulang kerja."


"Gitu ya, bu. Emm.. ini, saya bawa oleh-oleh buat ibu."


"Aduuuuh, repot-repot. Tau aja sih, kalau saya belum makan. Ayo, sekalian kita bahas judul skripsimu di meja makan aja."


Bu Miryam membuka kemasan makanan itu satu per satu. Hmm, wanginya enak sekali. Ada berbagai hidangan yang dikemas apik masing-masing 2 porsi. Ola Voila Resto. Eja bu Miryam dalam hati, hmm.. rumah makan itu.


"Malam, mi. Wah, ada tamu nih." Sapa seseorang dengan jas dokter mengecup pipi bu Miryam.


"Malam, sayang. Iya, nih mahasiswi mami."


"Oh, hai. Kenalin, saya Arnold."


"Hai saya Lenka." Balas Lenkan menyambut hangat jabatan tangan Arnold.


"Udah sana mandi dulu trus kita makan sama-sama." Ujar bu Miryam disambut anggukan dari Arnold.


"Lenka, bisa bikinkan kopi ?" Pinta bu Miryam.


"Boleh, bu." Helena bangkit dari duduknya menuju dapur mengekori bu Miryam.


Lenka berdiri di depan lemari pajangan di dapur, memperhatikan isinya sebentar lalu mengambil segenggam biji kopi dan menyanggrainya dengan sedikit jahe dan potongan kecil kayu manis. Kemudian Lenka merebus air dan mengambil coffe maker. Mencuci dan mengeringkan alat itu. Helena mengoperasikan alat itu dengan memasukkan biji kopi sangrai ke dalam grinder lalu kemudian menambahkan air panas.


"Hmm.. aroma kopinya enak banget." Ujar Arnold yang baru selesai mandi berjalan ke arah dapur, bertatapan dengan bu Miryam dan berbalasan senyum dengan maminya.


"Done." Ujar Helena menuangkan kopi ke dalam teko tahan panas, menyediakan 3 cangkir kosong beserta sendok kecil, tidak lupa Helena menaruh gula pasir, gula aren dan creamer diwadah lain, lalu membawanya ke meja makan.


"Tadinya saya pikir kamu akan menyeduh kopi sachet yang sudah tersedia di belakang. Ga taunya malah.. Almarhum suami saya pencinta kopi, dan dia selalu membuat kopi seperti caramu. Bahkan coffe maker itu, sudah lama ga kepake sejak suami saya meninggal." Ujar bu Miryam.


"Aku baru mau bilang hal yang sama, mi." Imbuh Arnold tersenyum.


"Silahkan dicoba kopi-nya, menurut selera masing-masing." Ujar Helena hendak menuangkan kopi ke cangkir masing-masing.


"Eh, sebentar. Aku mau nyicip kopi hitam murni dulu." Sela Arnold.


"Sluuuurppp, ahhhh." Seruput Arnold.


"Bagaimana apa mau pakai tambahan creamer ?" Tanya Helena.


"Enak, campuran rempahnya kaya kopi papi. Emm.. tolong tambahkan gula aren untuk kopiku dan gula sama creamer di kopi mami." Ujar Arnold lagi.


Helena menambahkan bahan sesuai pesanan lalu mempersilahkan ibu dan anak itu menyesapnya.


"Wanginya, rasanya pas.. sempurna." Ungkap bu Miryam senang.


"Dan kamu, ga nambahin apa-apa di kopimu?" Tanya Arnold.


"Hidupku udah pahit, rasa getir begini mah biasa aja bagiku." Jawab Helena santuy disambut kekehan bu Miryam dan anaknya.


"Oh iya, hampir lupa sama makanan yang dibawa Lenka. Ayo kita makan malam dulu." Ajak bu Miryam.


"Silahkan, bu. Kebetulan tadi begitu selesai masak saya langsung makan sebelum ke sini."


"Maksudmu, kamu masak ?"


"Iya, bu. Ola Voila Resto saat ini memang sedang tutup untuk 2 bulan ke depan tapi.."


"Eh, sebentar apa resto itu tutup karena kasus ditemukannya tikus di dapur resto ?" Potong bu Miryam.


"Kurang lebihnya iya, bu. Saya berteman dengan Jeanett Moon, owner Ola Voila. Jadi karena kasus itu Jean, begitu aku biasa memanggilnya ingin merombak sedikit restonya untuk mendongkrak kembali kepopuleran restonya. Hampir 3 bulan ini, usahanya sepi. Untung saja Jean optimis.


"Eh, tapi ini kok menunya chinesse food. Bukannya hanya menu Prancis aja yang dijual? Aku paling suka menu bebek confid de canard-nya." Arnold ikut nimbrung.


"Kejadian itu, membuat chef kepala di Ola Voila mengundurkan diri. Chef Marie Blanc, spesialis membuat menu yang kamu bilang tadi dan juga suaminya pak Damar selaku pengelola kebun organik milik resto tersebut, sama-sama berhenti. Jadi bisa dibilang, Ola Voila seolah kehilangan nafas akibat kejadian itu. Nah, Jean ingin mengubah sedikit konsep di resto itu nanti dengan menambahkan menu khas dari negara lain, seperti Thailand food, Chinesse food termasuk nanti menu tradisional Indonesia akan ada tanpa mengeyampingkan menu makanan Perancis yang menjadi ciri khas andalannya." Terang Helena.


Helena tersenyum.


"Kebetulan saya suka masak, tepatnya mencoba resep masakan. Jadi saya disana meracik makanan, jadi tester juga rencananya memberi tutorial kepada cook helper di resto itu."


"Wah, berarti kamu pinter masak dong." Celetuk Arnold sambil mulai menikmati satu per satu hidangan yang tersedia.


"Emm.. saya bawa pesan dari Jeanett Moon, agar ibu memberikan nilai dengan range 50-90 untuk masing-masing menu yang sudah ada ditempeli nama masakannya, bu."


"Penilaian aku perlu ga ?" Tanya Arnold.


"Tentu saja." Jawab Lenka.


"Kalau kopi-mu tadi perlu dinilai juga ga Len ?" Canda bu Miryam.


"Kita berasa kaya juri master chef ya, mi. Bedanya, kalo juri nyicipnya dikit-dikit sementara kita nyicipnya seporsi, haha."


Bu Miryam dan Arnold sibuk memberi komentar atas menu yang mereka santap. Sambil tidak lupa membandingkan hasil penilaian mereka yang terkadang diselingi pertengkaran kecil.


"Bikin game yuk, mi. Lenka, diantara makanan ini, tentu ada yang kamu buat kan? Nah, gimana kalau kamu nulis menu yang kamu buat. Aku dan mamiku juga menulis maksudku menebak menu yang mungkin kamu buat. Gimana?" Usul Arnold.


"Ok." Jawab bu Miryam dan Helena berbarengan.


Bu Miryam menulis : won ton, ayam cincang gong bao, capcay, lun pia, sapo tahu.


Helena menulis : capcay, ayam cincang gong bao, lun pia, tangyuan.


Arnold menulis : won ton, ayam cincang gong bao, kwetiau goreng, bebek peking, capcay, lun pia, sapo tahu, la ji zi, ayam kuluyuk, fuyunghai, dim sun, tangyuan.


"Baik. Yang menang adalah bisa menebak dengan benar dan jawabannya sesuai dengan jawaban Lenka. Siap, mi? Tanya Arnold.


"Ok, hitungan ketiga tunjukkan jawaban kita." Ujar bu Miryam.


Satu.. Dua.. Tigaaa..


"Taraaa... aku menang, aku menang." Jawab Arnold kocak.


"Eh, kamu menang apanya. Kalau cuma nulis semua nama menu yang ada ini, mami juga menang dong." Protes bu Miryam atas kejahilan putranya.


Helena terkikik melihat kehebohan ibu dan anak itu lagi-lagi terlibat pertengkaran lucu. Hilanglah citra bu dosen killer jaim, introvert itu di mata Helena.


"Astagaaa.. Tujuan utama kamu ke sini kan membahas bakal judul skripsi-mu Len. Malah bahas makanan, maaf ya Len."


"Ga apa-apa,bu. Lenka senang kok, lagi pula judul yang saya bawa ini juga ga jauh-jauh dari soal makanan."


"Oh ya, boleh saya lihat ?"


"Ini, bu. Yang pertama Analisis Loyalitas Konsumen pada Ola Voila Resto trus yang kedua Analisis Persepsi Konsumen terhadap Confid de Canard (Survey Pada Konsumen Ola Voila Resto)." Ujar Helena sambil memberikan ulasan singkat dari masing-masing bakal judul skripsinya nanti.


"Hmm.. Bahkan kamu penelitiannya di resto itu ya, Len ?".


"Iya, bu. Karena saya kenal baik dengan ownernya dan kondisi resto sepertinya cocok untuk jadi objek penelitian nanti jika resto itu mulai beroperasi lagi."


"Kalo analisa aku sih, tepatnya kamu ambil judul kedua aja Len." Ujar Arnold sok akrab.


"Hus, yang dosen pembimbingnya mami lho." Ingat bu Miryam pada putranya.


"Maksudku tepatnya kalau Lenka jadiin kita tester untuk menu confid de canard by ola voila itu mi, haha.."


"Baik. Ini nanti tergantung tim sih ya Len. Segera saja ajukan. Saya bantu kamu bikin variabelnya ya. Jangan lupa sambil pelajari pedoman penulisan skripsi, ya."


Helena menunggu bu Miryam menulis sambil membersihkan sisa-sisa makanan. Tidak lupa Helena memoto hasil lembar penilaian bu Miryam dan Arnold untuk dikirimkan kepada Jean.


"Sudah selesai. Kamu menghubungi teman kamu yang nganter tadi ? Tanya bu Miryam.


"Saya kirimin penilaian tadi untuk Jean, bu."


"Owh, kirain. Nanti pulangnya Arnold aja yang antar, ya."