
Sudah seperti rutinitas bagi Langit untuk pagi-pagi berkunjung ke kediaman pak Kasan dan Lenka sebelum berangkat kerja. Langit berusaha untuk sarapan bersama Lenka dan pak Kasan, karena khawatir dengan padatnya aktivitas membuatnya susah melihat keadaan kekasih dan juga calon ayah mertuanya.
"Hm.. sarapan spesial nih bubur menado komplit dan roti bakar isi pisang keju." Ujar Langit disambut senyuman hangat Helena.
"Kamu senang ?"
"Tentu, honey. Kamu layak jadi chef." Ujar Langit lagi.
"Hehe. Bisa aja. Ngomong-ngomong nih Lang, aku akan mengajukan judul skripsi. Rencanaku, pagi ini aku akan ke kampus dan nanti sore aku ke Ola Voila Resto yang mungkin aku akan menjadi objek penelitianku."
" Maksudmu kamu akan meneliti tentang masakan di resto yang beberapa waktu lalu heboh dikabarkan ada tikus bersarang di situ?" Selidik Langit.
"Kurang lebih begitu Lang. Aku perlu bantuanmu membuat film singkat tepatnya untuk keperluan iklan untuk resto tersebut."
"Baiklah, aku akan menyiapkan peralatanku dan nanti sore kita ke sana." Janji Langit.
π»π»π»
Ola Voila Resto
"Halo Jean." Sapa Helena begitu memasuki resto
"Halooo Lenka, aku tidak sabar menunggu kedatanganmu, apa kabar ?" Balas Jean.
Helena senang karena Jeanett Moon bukanlah orang yang susah untuk didekati. Malah mereka kini layaknya sepasang teman yang sudah lama tidak bertemu.
"Kabar baik, Jean. Seperti rencana kita tadi malam, aku mengajak pacarku ikut ke sini untuk membantumu membuat dokumenter tentang resto ini."
"Terima kasih, Jean. Aku akan mengikuti saranmu ini, sebelum benar-benar menutup Ola Voila Resto. Oh ya, mana pacarmu?"
Kliiinngg..
Lonceng kecil di pintu berbunyi ketika Langit memasuki resto.
Langit dan Jean sama-sama terkejut ketika bersitatap.
"Hai ibu Jeanett, masih ingat saya?" Ujar Langit.
"Hai juga Mas Langit. Sebentar, jadi Lenka ini.."
"Ya, Lenka adalah orang yang menolong Aimee putri anda, bu. Calon istri saya."
"Oh my God, dunia ini sempit sekali ya ternyata, haha. Lenka, maafkan saya tidak menjengukmu sama sekali. Waktu itu saya sangat panik dan yah.. saya melupakanmu." Jujur Jean.
"Tidak apa-apa, Jean. Langit sudah menyampaikan salammu waktu itu, kok. Lagian sekarang saya baik-baik saja dan bagaimana keadaan Aimee sekarang ?"
"Aimee, Aimee baik-baik saja walaupun masih koma dan tidak tahu kapan akan sadar." Jawab Jean dengan mata pucuk mata yang sedikit berlinang.
"Maaf, saya tidak bermaksud untuk.."
"Ah, tidak apa-apa. Jangan khawatir Lenka. Saya justru bersyukur Tuhan telah mempertemukan kita dengan cara yang unik. Kamu telah menyelamatkan hidupku, Lenka. Pertama kamu telah menolong buah hatiku Aimee, dan sekarang aku yakin kamu pasti bisa menolong usahaku agar tidak tutup. Sungguh ini kebetulan yang manis." Tutur Jean.
Tidak ada yang kebetulan Jean, semua telah diatur sedemikian rupa oleh ratu Acasha. Batin Helena.
"Bagaimana jika kita langsung ke belakang, aku ingin menyelesaikan masakanku kemarin. Dan mencoba menu-menu lain untuk bahan dokumentasi Langit."
π»π»π»
Helena mulai menata paha bebek yang telah dimarinasi selama 24 jam lalu memanggangnya di oven dengan suhu yang sudah diaturnya.
"Dipanggang berapa lama?" Tanya Jean.
"3 jam."Jawab Helena.
"Woww.. Selama menunggu matang, apa yang bisa kita buat nih?" Penasaran Jean.
"Menurutmu? Aku tidak punya ide. Kamu ingin kita mencoba resep lama khas Ola Voila, meracik masakan khas negara lain atau membuat penganan dengan kreasi kita sendiri, siapa tau bisa menjadi menu andalan resto-mu dikemudian hari ?" Tantang Helena.
"Ketiga-nya boleh, bagaimana kalau sekarang kita coba buat makanan khas negara lain, seperti Korea atau Thailand misalnya. Kamu lihat saja di kulkas bahan-bahan apa yang bisa diolah jika perlu sayuran segar, aku akan mencarinya di kebun." Antusias Jean.
"Boleh juga, Jean. Sebentar aku cek persediaanmu dulu ya." Balas Helena tidak kalah antusiasnya.
"Sayang, bikinlah beberapa porsi biar nanti pelanggan yang sedang makan di sini bisa kita mintai pendapatnya dan tolong platting yang bagus ya, biar nanti aku foto. Aku mau ikut ibu Jeanett, melihat kebun sayur organiknya." Ujar Langit.
Ini situasi yang diharapkan Helena, sejak semalam dia sudah memindai beberapa resep masakan.
Sekarang, tinggal melihat persediaan bahan di kulkas dan rak penyimpanan. Ikan salmon, kepiting, beras ketan, telur, susu, kelapa, tepung, keju, ubi ungu..
Ahaaaa..
Dia meraih ponselnya dan menghubungi Langit.
"Sayang, tolong bilang sama Jean, aku perlu kentang, timun dan paprika."
"Ok. Ada lagi ?" Tanya Langit yang saat itu sudah berada di kebun.
"Hm, mungkin cabe sama tomat sedikit." Jawab Helena.
"Ditunggu ya bu, pesanannya" Goda Langit.
π»π»π»
Sebentar saja Helena sudah asik berkutat dengan alat dan bahan makanan yang tersedia. Sambil menunggu ubi ungu empuk direbus Helena memarut kelapa dengan mesin ketika Jean dan Langit memasuki ruang masak.
"Honey, ini ada buah mangga yang matang aku petik barangkali bisa jadi apaaa kalau ditanganmu." Kata Langit.
"Mangga matang? Yes, aku ada ide buat dessert-nya." Balas Helena.
"Lenka, aku sudah membersihkan sayuran yang kamu perlukan. Sekarang apa yang bisa aku bantu?" Tanya Jean.
"Tolong potong-potong timun, paprika dan cabe-nya Jean."
"Dan kamu sayang, jangan lewatkan tiap proses-nya dengan kameramu ya." Kata Helena kepada Langit.
π»π»π»
Pertama Helena menumbuk ubi ungu rebus sampai halus, lalu menambahkan terigu, tapioka, baking powder, susu, membentuknya menyerupai bola-bola kecil dan menggorengnya.
"Dessert sederhana ini namanya Khanom khai nok krata." Ujar Helena sambil menghidangkan olahannya.
"Sebentar, biar aku tulis nama menunya. Tolong eja huruf per huruf untukku." Pinta Jean.
"Jangan lupa sebagian ditata yang bagus, ya sayang. Biar aku take fotonya." Tambah Langit pula.
Helena mengangguk sambil menata bola ubi ungu goreng, mennyusunnya seperti piramida di beberapa piring kecil dan menabur sedikit gula halus diatasnya dengan ayakan.
"Ok, 1 hidangan selesai, next.." Ujar Langit sambil melihat hasil jepretannya.
"Nah, ini sudah matang." Seru Helena sambil mencicipi nasi ketan yang dia kukus.
"Jean tolong kupas mangga dan iris sesuai seleramu, aku mau bikin sausnya dulu." Pinta Helena.
Tanpa diminta Langit, Helena segera menyendok nasi ketan panas itu ke dalam mangkok kecil, menekan-nekannya kemudian membaliknya diatas piring kecil.
Mangga yang sudah dipotong-potong oleh Jean ditaruh mengelilingi nasi ketan. Kemudian Helena menyiramkan sedikit saus campuran dari maizena, susu, santan, menaburkan keju yang sudah diparut dan potongan kecil daun pandan sebagai garnisnya.
"Hidangan penutup ini namanya Mango Sticky Rice, sangat populer di Thailand."
"Wooow, tampilannya menggugah selera." Kata Langit sambil terus mengambil foto.
"Jean, kamu pernah makan kroket kan ? Mari kita bikin Tod man pla." Ujar Helena sambil mengangsurkan food processor untuk Jean.
Jean memasukan bahan-bahan yang sudah disiapkan Helena. Ikan Salmon, telur, santan, maizena dan minyak sayur, memproses-nya hingga halus. Kemudian menambahkan red curry pasta, bumbu lain juga kentang dan memproses-nya kembali hingga rata.
Jean tidak kalah cekatan mengolah kroket khas Thailand itu, setelah menambah rajangan buncis dan daun jeruk, Jean mengambil adonan dan membentuk bulat pipih lalu menggorengnya.
"Walaaa... dan jadilah kroket ikan tasty. Ayo difoto Lang." Seru Jean.
"Sebentar, ini kurang sausnya. Eh, tepatnya acar timun buat cocolannya." Tambah Helena.
"Ini aja nih, makanan beratnya apa dong honey? Lapar tau, dari tadi motret makanan sambil nahan iler." Canda Langit.
"Sabar dong sayang, ini lagi aku siapin bentar." Balas Helena.
Jean tersenyum melihat interaksi sepasang kekasih didepannya. Dia juga sepikiran dengan Langit.
Senja mulai menyelimuti bumi, saatnya makan malam.
Hmm.. aroma bawang putih yang ditumis menguasai ruang masak Ola Voila. Helena membuat nasi goreng dengan kepiting yang sudah dilepas dari cangkangnya, saus ikan/ nam pla dan telur orak arik beserta, paprika merah, kuning dan hijau. Dan tidak lupa Helena membuat saus khas yang merupakan campuran rawit dan nam pla sebagai pelengkap nasi gorengnya.
Uhhh.. dengan tampilan full color, nasi goreng itu tampak menarik. Kemudian Helena memasukan nasi itu ke dalam mangkok untuk membentuknya dan menambahkan selada, timun, tomat beserta peterseli sebagai garnisnya.
"Apa nih nama menu-nya?" Tanya Jean dengan alat tulis ditangannya.
"Khao Pad Poo, nasi goreng khas Thailand." Sebut Helena.