Lenka's Dish

Lenka's Dish
42



Film tentang superhero fiktif bergenre laga, petualangan dan fiksi ilmiah itu sukses membuat Helena terperangah beberapa kali. Langit sesekali tersenyum, dalam keremangan cahaya ia dapat melihat Helena yang melongo atau sesekali menggenggam jemarinya. Tidak heran mengingat sebelumnya ia belum pernah menonton bioskop saat di Hanover Raya.


"Jadi bagaimana menurutmu cerita tentang film tadi?" tanya Langit pada Helena usai mereka menonton.


"Seru banget. Tadinya kupikir kamu mengajakku menonton cerita tentang laba-laba, ternyata superhero."


"Lebih seru lagi kalau kamu menonton film sebelumnya, kamu pasti mengerti tentang cerita demi cerita superhero yang satu ini," ujar Langit lagi.


"Memang ada berapa film tentang manusia laba-laba ini?"


"Ini film ke 9."


"Hah? Jadi sudah ada 9 tema cerita dengan karakter yang sama?"


"Iya, namanya juga idola sejagad. Filmnya selalu ditunggu, dimana saja. Aku punya koleksi filmnya dari yang pertama hingga yang ke delapan."


"Oh gitu, nanti aku boleh nonton film-film Spiderman yang sebelumnya itu, ya?"


"Tentu."


"Eh tapi yang tadi itu keren banget,lho. Saat identitas Spiderman terungkap, Peter meminta bantuan Dr. Strange terus karena suatu kesalahan yang kemudian justru mengundang musuh berbahaya dari dunia lain, membuat Peter mencari apa makna sebenarnya menjadi Spider-Man ...." analisa Helena terhenti.


"Kamu sedang ingin menyatakan ada korelasi dengan ...?" Langit menginterupsi.


"Dengan aku-lah. Jadi mikir, apa makna sebenarnya aku menjadi Helena sekaligus sebagai Lenka seperti saat ini. Yah, memang gak mirip banget sih ceritanya, tapi seperti kamu bilang tadi pasti ada pelajaran dari film itu, untuk aku khususnya," sahut Helena bak membedah cerita.


Helena melanjutkan perkataanya lagi, "Aku seperti Peter Parker yang gelisah, bedanya dia difitnah dan kondisi itu membuatnya tersudutkan yang secara tidak langsung, rumor tersebut pun mempengaruhi hubungan Peter dengan kekasihnya yang baru berusia seumur jagung. Sementara aku, aku gelisah karena pilihan. Lang ... jujur saja, aku ... aku mulai nyaman denganmu," ungkap Helena.


"Hah? Kamu sadar ngomong apa soal rasa nyaman-mu denganku?" Langit memastikan pendengarannya.


"Hm, i-iya ...." Helena menyahut singkat, entah dari mana keberaniannya menyatakan hal itu pada Langit, muncul.


"Yah, aku sangat menghargai itu, tapi .... Ah, sampai lupa, tadi kita mau mencoba berkomunikasi dengan Lenka. Ehm maaf, malah mengajakmu menonton. Ayo kita pulang," ajak Langit, dia sangat senang saat tahu perasaannya disambut baik oleh Helena, tapi ia ingin memastikan 1 hal agar tidak ada penyesalan baik untuknya maupun untuk Helena dikemudian hari.


"Lho, ini ... kamu bilang kita pulang, tapi kok sepertinya ini bukan arah ke rumah bapak deh, Lang?"


"Memang, aku mengajakmu pulang ke apartemenku, Len."


"Hei, jangan bilang kamu ..."


"Jangan bilang apa? Aku memang sengaja mau mengajakmu ke apartemenku, karena di situ ada cermin yang besar dan jika bisa diperbolehkan ketemu dengan Lenka, tentu kita akan leluasa berbicara," terang Langit.


"Owh ..."


"Emangnya kamu mikir apa, Len?" Langit seolah tahu arah pikiran Helena.


"Ah, tidak ... aku hanya-"


"Tidak akan terjadi sesuatu yang kita inginkan kecuali kamu setuju untuk itu," potong Langit serasa menggenggam pelan telapak tangan Helena.


"Eh, 'untuk itu'? Apa maksudmu?"


"Jangan terlalu naif, Len. Kamu pikir, ngapain sepasang kekasih berduaan semalam ini di apartemen? Main halma doang, hm?"


"Sepasang kekasih di apartemen, kita emang mau ngapain? Main halma? Apaan lagi sih, Lang?"


"Sudahlah Len, jangan mengalihkan pembicaraan. Aku tahu sebenarnya kamu tahu 'untuk itu' yang aku maksud," jawab Langit sambil terkekeh seraya mengedipkan sebelah matanya.


Helena cepat-cepat menarik jemarinya dari genggaman Langit, membuat Langit makin terkikik.


"Apa yang akan terjadi antara aku dan Langit nantinya akan mengubah segalanya?" batin Helena. Seketika Helena merasa 'klik' saat menangkap maksud Langit, tiba-tiba ia membayangkan hangatnya lelaki itu memeluknya.


"Jangan bodoh, Helena," rutuknya dalam hati.


"Selamat datang, silakan masuk nona Helena." Ucap Langit sambil membukakan pintu apartemen, kali ini ia menyebut nama Helena dengan benar, bukan dengan 'Len' saja, yang bisa saja berarti ia sedang berbicara dengan Lenka.


"Wow, tempatmu nyaman sekali. Apa Lenka sudah sering kemari?"


"Ehm ... bukan itu juga maksudku ..." kilah Helena.


"Sudahlah, begitu aja juga gak apa-apa, Helena," balas Langit lagi.


Langit lalu mengajak Helena ke kamarnya.


"Eeh, ngapain kok ke sini?" protes Helena.


"Udah nurut aja, sini. Eh, kamu mau di situ apa di kamar mandi?" tawar Langit terkesan ambigu di telinga Helena.


"Ehm, terserah kamu aja, enaknya dimana." Langit terkekeh mendengar sahutan Helena yang tidak kalah ambigunya.


Langit membawa Helena ke ruang yang hanya berpintu separuh. Tampak lemari tanam bercat putih dari bawah hingga ke langit-langit, memberi kesan luas dan mewah. sementara di sisi lai lain yang berseberangan dengan lemari itu terdapat cermin berukuran super besar dan ditengah-tengah ada sofa panjang, empuk tanpa senderan.


"Bagaimana kalau di sini?" tanya Langit.


"Bagus, ini sudah lebih dari cukup."


"Ok, silakan mulai."


Helena mengguk dan mulai berkonsentrasi sambil menatap cermin di hadapannya.


"Lenka ... Lenka ... Lenka ...." Helena memanggil Lenka sambik menjetikkan jarinya 3 kali.


Wuzzz. Dalam sekejap mata, pantulan rupa Helena di cermin itu segera berganti ekspresi.


"Wow ... oh, may go-" Langit terbelalak. "It's so ... amazing."


"Ada apa Helena? Eh, kamu sedang di mana ini?" tanya Lenka.


"Ehm, aku ... a-aku," Helena bingung mau jawab apa.


"Lenka! Apa kamu lihat aku?" teriak Langit antusias.


"Hei Lang, bagaimana bisa kalian ..."


"Aku yang memintanya Lenka, aku sudah tahu rahasia antara kamu dan Helena, makanya aku mengajak Helena ke apartemen karena memiliki cermin yang luas dan kalau kita bicara, orang rumah tidak akan berpikiran aneh-aneh," jelas Langit.


"Oh," jawab Lenka dengan mode juteknya.


"Lenka, begini ... aku mau tanya, apakah kamu nyaman di situ?" tanya Langit lagi.


"Maksudmu?"


"Ehm, begini ... tidak lama lagi kan, kita akan menikah sementara Helena sedang dalam masalah dan dia harus memutuskan apakah dia akan tetap tinggal diragamu atau kembali ke tubuh lamanya. Harus gercep, Lenka sebab nyawa suaminya sedang di ujung tanduk saat inu. Kamu, mau kembali ke kehidupanmu saat ini atau tidak?" lempar Langit tanpa ragu.


"Itu terserah Helena saja, biar dia yang memutuskan, dari awal juga ... aku gak keberatan hidupku berakhir, gak guna juga hidupku."


"Hei, tidak boleh seperti itu, sayang. Setidaknya keputusanmu bisa jadi bahan pertimbangan Helena, sebab tubuhmu sedang dipakai oleh Helena jadi kamu juga berhak mengutarakan pendapatmu."


"Bagaimana, ya?" Lenka tampak berpikir. "Kalau aku bilang biar saja Helena pakai ragaku seterusnya berarti rohku akan pindah alam untuk selamanya, dong?"


"Benar dan kalau kamu mau kembali ke tubuh ini, maka Helena bisa kembali ke tubuh yang sebenarnya, untuk selamanya juga," timpal Langit lagi.


"Beri aku waktu,"


"Ok, 5 menit. Gak pake lama."


"Enak saja, ini keputusan sulit, tau? Gimana kalau 2 hari," aju Lenka.


"Kelamaan, sayang. Kondisi genting, inih. Aku cuma, cuma ... gak mau kamu ataupun Helena menyesal sudah memutuskan hal itu."


"Ya udah, aku ngikut aja, deh," balas Lenka dengan wajah yang kusut.