
"Aisshh, sialll.." Ben menggerutu sebal meremas rambutnya dengan kasar.
"Ada apa sayang?" Tanya Crystal.
"Kemaren kau bilang, ada melihat semacam tangan seseorang?"
"Yeah.. Tapi kupikir-pikir lagi mungkin saja aku salah lihat, maklumlah mataku rabun dan kondisi kita kemaren sedang itu.. Memangnya ada apa?"
"Sepertinya ada penyusup yang tak kelihatan yang masuk ke sini. Cairan bluesky-ku tumpah, salah satu fungsinya adalah untuk memunculkan sesuatu yang tersembunyi. Mungkin saja seseorang itu menggunakan jubah tak terlihat seperti punya Harry Potter sehingga kita tidak mengetahui, yang entah bagaimana cairan itu tertumpah ditangannya seperti yang kau lihat."
"Apa itu berbahaya untuk kita?"
"Ah.. Entahlah, seandainya ketahuan pun sudah resiko bagi kita. Bukankah aku sudah mengatakan aku sudah lelah untuk terus berpura-pura menjadi kakakmu, Crystal."
"Kamu tau kan akibatnya, jika semua terbongkar?"
Ah.. paling-paling juga mati. Hal terindah bagiku adalah bisa mati bersama orang yang kita cintai, haha."
Crystal mendengus sebal.
"Bersiap-siaplah, nanti siang Jevan dan rombongan akan mengajakmu mencari daun merah ke puncak Golyam."
"Banyak prajurit pulang tinggal nama gara-gara mencari daun merah. Kamu mau aku dan Jevan jadi korban selanjutnya?"
"Well.. well, Benefio sayangku.. Aku tahu kamu lelaki yang hebat dan cerdas, kamu tidak akan mati konyol demi ramuan itu, ok? Sahut Crystal sambil mengedipkan sebelah matanya dan berlalu.
🌻🌻🌻
Ketika Helena sedang merenung kembali pembicaraan selir Crystal dan pria-nya, ia mendapat pemberitahuan dari sistem bahwa Jevan, Ben dan rombongan akan menempuh perjalanan ke gunung Golyam.
Helena jadi memikirkan bagaimana agar tubuh jasmaninya bisa kembali terbangun dan hidup lagi, itu sebabnya Helenka berencana untuk bisa ambil bagian misi tersebut.
Tapi bagaimana caranya ya ?
"Ahaaa.. Dengan kekuatan Lenka's dish!! Seru Helena antusias.
Segera Helena mencari informasi makanan tahan lama yang bisa diberikan untuk Jevan dan pasukannya. Pilihannya jatuh pada kudapan tradisional Indonesia.
Helena mulai mengaron nasi dengan santan, kemudian menggiling daging ayam beserta bumbu untuk isian, mendadar telur tipis sebagai kulitnya lalu daun pisang sebagai pembungkus paling luar dan jadilah.. arem-arem bungkus telur.
Setelah hidangannya sudah matang, Helena kebingungan bagaimana caranya agar Jevan dan Ben punya kekuatan ekstra sehingga mampu memetik daun merah.
Klip..
Helena memencet tombol mutiara di jepitan rambutnya.
"Halo ratu Acasha, halo nona Emma, aku sedang butuh pertolongan." Ujar Helena.
Ratu Acasha tersenyum.
"Ambil 2 butir telur bebek, pecahkan salah satu untuk bergabung dengan mereka dan satu telur lagi agar kau bisa kembali ke sini." Terang ratu Acahsa sebelum ditanya.
Helena menulis 'do not disturb' dan menggantungnya di handle pintu kamarnya.
Menutup guling dengan selimut, agar tampak seperti sedang tertidur kemudian dia memejamkan mata dan 'pyaaar' dia memecahkan sebutir telur.
"Ron.. Ron.. bangun pangeran Jevan dan Sir Benefio akan segera melanjutkan perjalanan."
Helena terbangun dan memicingkan mata setelah merasa tubuhnya sedang diguncang-guncang seseorang.
Ron? jadi sekarang aku bernama Ron? Tanya Helena di dalam hati sambil memperhatikan pakaian yang digunakannya. Hm.. Ok, not bad.
"Di.. dimana mereka?" Ujar Helena.
"Haha.. Sabar, kita lagi manasin bekal, setelah makan malam baru kita melanjutkan perjalanan."
"Huuuh ganggu orang tidur saja." Dengus Helena yang sedang menjadi lelaki bernama Ron itu.
"Hei teman, apa yang ada di dalam tasmu Apa ibumu lagi-lagi memberimu bekal?"
"Ah, iya. Buka saja dan bagi-bagikan barangkali pangeran Jevan dan Sir Benefito berminat. Kalau aku 1 saja sudah cukup." Helena mencomot 1 arem-arem dan memakannya.
"Hmm.. baiklah, tampaknya ini enak."
Tidak berapa lama.
"Wow.. Mario, makanan apa ini? Baru kali ini aku melihat dan memakannya, rasanya benar-benar lezat." Komentar Jevan.
"Ini bekal dari ibunya Ronald, pangeran."
"Begitu ? Panggilkan Ronald kemari."
"Baik, pangeran.
Ron mengekori Mario menemui Jevan.
"Ron, bekal buatan ibumu kali ini enak sekali." Puji Jevan jujur.
"Terimakasih pangeran, semoga bisa menambah kekuatan pasukan kita agar berhasil memetik daun merah."
"I hope so. Btw, apa nama makanan ini? Biar kapan-kapan aku minta pelayan membuatkan untukku. Bentuknya mirip sarmi (makanan ringan khas Bulgaria) tapi itu dibungkus daun kobis tapi ini.. rasanya berbeda."
"Baiklah, kalau begitu kita beristirahat dulu, tengah malam baru kita bergerak."
"Siap pangeran."
🌻🌻🌻
Kabut tebal menyelimuti gunung yang mereka daki, tampak jurang menganga di sisi kanan dan kiri.
Terdengar lolongan anjing malam kian dekat dengan arah arah yang merekan tuju.
"Tetap jaga pandangan dan jangan berpencar." Titah Jevan.
Kabut kian jatuh kian tebal menyelimuti langkah mereka, berbanding terbalik dengan nyali sebagian besar rombongan. Terlebih ketika mereka menyadari telah dikelilingi bayangan hitam besar bermata merah.
Syereeem.
"Mario, apa kamu masih menyimpan bekal dari ibuku? Tanya Helena (Ron).
"Masih, dalam keadaan begini kamu masih kepikiran untuk makan, ck?"
"Bukan untukku, sudah minta sini."
Ron meremas arem-arem itu sampai hancur dan melemparnya ke beberapa bagian.
"Pergi, kami tidak bermaksud jahat. Hanya ingin memetik daun merah untuk obat penawar racun." Seru Ron berulang kali.
Dan ajaib, benda hitam yang ternyata berbentuk menyerupai serigala raksasa itu berlari menjauhi rombongan dalam sekejap.
"Hm.. its work." Gumam Helena.
Kini mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan lancar menuju puncak gunung.
"Wow.. Jangan-jangan bekal ibumu mengandung magic, buktinya dapat menghalau penunggu hutan itu." Cetus Mario girang.
Helena tersenyum.
"Jangan berisik, tolong jangan habiskan bekal tadi. Barangkali masih kita butuhkan.. Kalau lapar, hehe." Jawab Ron asal.
Hari mulai terang ketika mereka sudah mendekati ditempat daun merah berada. Dari jauh mereka sudah jelas melihat tanaman perdu itu. Tumbuhan berupa berkayu yang bercabang-cabang, tumbuh rendah dekat dengan permukaan tanah, bahkan tingginya hanya se-dada orang dewasa.
Anehnya, semakin mereka mendekat, tanaman itu semakin tidak terlihat. Namun sebagai kepala rombongan Jevan tetap mengarahkan mereka ke titik yang diyakini tempat tanaman itu berada.
Srek.. Srek..
Sir Benefio beberapa kali memercikkan cairan bluesky miliknya di tempat yang mereka yakini adalah posisi tanaman daun merah.
Wussssshhh..
Angin berhembus pelan.
Perlahan tampaklah di depan mereka tumbuhan berdaun merah melambai-lambai dengan indahnya di hadapan mereka.
Rombongan merasa lega melihat apa yang mereka cari sudah di depan mata.
Dengan gontai Jevan melangkah dan memetik daun merah tersebut.
Tidak bisa dipetik.
"Aku kira mudah memetik daun merah ini, ternyata kuat sekali. Tolong kalian coba memetiknya juga." Ujar Jevan.
Beberapa anggota maju mencoba memetik, bahkan sir Benefio yang merasa ini adalah peluang pencitraan tidak ingin ketinggalan. Dia mengeluarkan pisaunya dan..
Jlebbb.. Jlebbb..
Sir Benefio mengayunkan pisaunya, mengujam tanaman itu. Muncul kilatan api kecil ketika pisau beradu dengan tanaman itu.
Tapi..
Tidak terjadi apa-apa, malah pisaunya jadi rusak. Seolah dihantamkan pada benda yang keras.
"Bagaimana ini, paman?" Gumam Jevan.
Sir Benefio kembali memercikkan cairan lain.
Setelah menunggu beberapa lama, kembali mencoba memetik daun itu dan mencoba memotongnya.
Nihil, usahanya tidak berhasil.
"Pangeran, anggaplah tanaman berdaun merah ini milik seseorang, bukankah akan lebih baik jika pangeran meminta izin dan mengatakan tujuan penggunaan daun merah ini nantinya?" Usul Helena.
Jevan yang mengerti maksud Helena, segera berlutut.
"Maaf, saya Jevan dari kerajaan Hanover Raya ingin meminta sedikit daun merah, sebagai bagian cairan penawar racun bagi permaisuri kami, Helena."
Usai berkata begitu, Jevan dengan mudahnya mengambil tumbuhan itu kemudian.
"Yes, saranmu sungguh berguna, Ron." Ujar Jevan.
"Mari kita pulang, sebelum matahari semakin tinggi dan menyebabkan daun ini layu."