Lenka's Dish

Lenka's Dish
32



Usai makan malam, Langit mengajak keluarganya berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Rigel, putranya yang baru saja selesai menjalani tranfusi darah.


Langitpun memperkenalkan Rigel kepada papa, grandmom Lenka dan pak Kasan.


"Hore, papi datang.." Rigel menyambut girang kedatangan Langit.


"Halo jagoan, boleh papi liat kamu mengepalkan tanganmu seperti ini ? Langit memberi contoh.


Rigel mengangkat tangannya yang bebas dari selang, meniru Langit mengepal tangannya seolah prajurit yang siap bertarung.


"Sekarang, coba tinju dada papi." Tantang Langit.


Bughhh...


"Awh.. Pukulanmu kuat sekali, jagoan. Papi yakin kamu akan segera sehat." Langit memotivasi putranya.


Grandmom menyeka airmatanya pertama karena beliau bahagia telah memiliki cicit, kemudian terharu melihat keadaan Rigel dan terakhir grandmom bahagia melihat Langit yang begitu menyayangi putranya.


"Tante bawa apa di papperbag itu, apa makanan untukku? Tanya Rigel.


"Sayang, jangan panggil tante ya. Karena sebentar lagi papi akan menikah, jadi panggil tante Lenka mami ya." Pinta Langit.


"Baik Rigel ulang ya. Mami bawa apa di papperbag itu, apa makanan untukku?" Ujar Rigel yang sontak membuat Langit tersenyum.


Mayleen tampak kesal sekali melihat kejadian di depan matanya itu.


Dari tadi Mayleen nampak sering menatap Langit dengan lekat, tapi iya sangat canggung jika harus bersitatap dengan Langit sejak kejadian hari itu.


"Lenka, jangan jauh-jauh dari Langit." Bisik grandmom curiga.


Langit meremas pelan jemari Lenka, karena Lenka lambat menjawab celoteh Rigel.


"Oh.. Eh.. Ini, tadi tan.. eh, Mami bikin cookies buat Rigel." Sahut Helena.


"Anakku ga boleh memakan makanan yang sembarangan." Cetus Mayleen.


"Ah, ini cookiesnya dari bahan oat sereal kok. Aku sudah brows ini aman untuk Rigel." Balas Helena.


"Baguslah, kalau begitu.. Emm, ayo ikut aku keluar sebentar ada yang mau aku omongin." Pinta Mayleen.


"Ngomong di sini aja, biar semua dengar." Pinta Langit yang bermaksud ikut dengan Mayleen dan Lenka.


"Kamu ga usah ikut, ada yang mau aku omongin sama Lenka, penting." Tegas Mayleen.


"Sayang, aku.." Langit menatap Lenka.


"Tenang Lang, aku tau kapasitasku." Potong Helena..


*****


"Apa yang diomongin Mayleen tadi sama kamu, sayang?" Tanya Langit sambil menyypir mobilnya.


"Emm.. Kasi tau ga yaaaa"


"Kasi tau dong yes, kalo ga mau kasi tau aku cium sekarang nih."


"I..Iya, aku kasi tau deh. Intinya, dia bilang kamu masih mencintainya buktinya kamu sangat perhatian dengan Rigel. Dia juga bilang kamu pasti akan meninggalkanku jika dia yang meminta, kamu terpaksa menikahiku karena takut mengecewakanku." Helena enggan mengatakan secara detail bahwa tadi Mayleen memintanya menjauhi Langit dan sempat mengancamnya juga.


"Astaga, trus kamu jawab apa?"


"Terima kasih." Sahut Helena singkat.


"Ck.. Kamu cuma bilang gitu?"


"Iya. Aku malas berdebat Mayleen Lang, yang ada nanti bakal jadi masalah dengannya." Jujur Helena.


"Hm.. Ok deh. Aku berharap kamu jangan mudah terhasut apapun yang dia bilang sama kamu. Hubunganku sama Mayleen benar-benar sudah selesai. Satu-satunya yang membuat kami masih terhubung semata karena Rigel saja." Ujar Langit.


"Ya, aku percaya sama kamu, Lang."


"Menggodamu secara langsung gimana?"


Langit diam sejenak memilih kata-kata yang tepat.


"Dia.. Mengingatkan kembali betapa mesranya kami dulu ketika masih sebagai sepasang kekasih yang tinggal bersama. Mayleen menanggalkan pakaiannya dan duduk dipangkuanku.."


Helena terkejut dan matanya membulat sempurna menatap Langit yang nampak masih ragu melanjutkan ceritanya.


"Dan kamu dengan senang hati memberikan apa yang diinginkannya?"


"Sayang, aku ini lelaki normal. Jujur aku tergiur diperlakukan seperti itu untungnya ada grandmom yang menyelamatkanku."


"Grandmom menyelamatkanmu? Maksudmu, grandmom memergoki Mayleen yang duduk di pangkuanmu dalam keadaan tanpa busana, gitu?"


"Bukan, waktu itu tiba-tiba grandmom menelponku dan itu seketika menyadarkanku."


"Oh.. Jadi kalo waktu itu hp-mu ga bunyi bisa jadi kamu udah bercinta sama Mayleen?"


"Hm.. Mungkin." Jawab Langit cengengesan.


"Itu kan yang kamu bilang ke aku aja, entah kejadian sebenarnya seperti apa." Bibir Helena mengerucut sebal, membuat Langit gemas.


"Kejadian sebenarnya ya itu tadi sayang, aku hampir lupa diri karen aku benar-benar tergoda. Apalagi aku dah sering ngelakuin itu sama dia dulu, jadi aku sempat mikir tinggal nurunin celana dah langsung jleb aja."


"Ish.. Ngomongnya kok vulgar gitu, sih."


"Lhoo.. Kan kamu mau tau kejadian sebenarnya sayang. Makanya waktu itu, aku cepat-cepat ke rumahmu dan menghampirimu berharap kamu bisa menyurutkan hasratku yang memuncak waktu itu, maklumlah.. Udah lama ga gitu kan, tapi kamu memintaku bersabar dan mengingatkan bahwa kita belum menikah, dan yaaah.. Yang ada aku malah main sendiri, hihi."


"Sekali aja kamu goyah, berikutnya kamu akan lebih mudah untuk digoda." Lirih Helena.


"Oh iya sayang, kamu mau ya di skrining thalasemia?" Pinta Langit serius setelah diam beberapa lama.


"Apa maksudmu, sayang?"


"Itu, uji genetika molekuler untuk mengetahui kamu carrier thalasemia atau ga gitu."


" Owh, apa perlu?"


"Iya perlulah. Beberapa waktu lalu aku ke rumah sakit untuk nge-cek segala sesuatunya agar bisa mendonorkan sumsum tulang belakangku untuk Rigel. Tapi dokter bilang ga bisa karena mereka mendeteksi adanya mutasi pada gen β-Globin, intinya aku carrier untuk thalasemia. Nah, aku mau kamu juga di skrining agar tau kamu normal, thalasemia minor atau thalasemia mayor." Terang Langit.


"Lalu?"


"Em.. Aku sih berharapnya kamu normal sayang, biar nanti kalau kita punya anak ga masalah. Tapi kalau..."


"Kalau ternyata aku juga carrier atau bahkan thalasemia mayor berarti kita sebaiknya ga usah punya anak, begitu?" Selidik Helena.


"Yah.. Mungkin, tapi ga tau juga, gimana baiknya nantinya aja, yang pasti ini untuk mencegah kita punya anak dengan derita yang sama dengan Rigel nanti."


"Baiklah.. Atur aja, aku siap kok." Helena menjawab sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Tapi ngomong-ngomong nih, terlepas dari apapun hasil skrining itu nanti.. Kan kita sebentar lagi akan menikah, kamu.. berencana untuk menunda punya anak ga sih?" Tanya Langit.


Uhhhukk..


Helena tiba-tiba terbatuk mendengar pertanyaan Langit.


Langit memberikan sebotol air mineral untuk diminum Helena.


"Kamu maunya gimana?" Lempar Helena.


"Aku pengennya kamu cepat hamil dan memberiku anak. Tapi aku tetap menghargai keputusanmu, aku takutnya kamu masih trauma atas kejadian beberapa waktu lalu. Aku kasian lihat kamu tersiksa ngalamin morning sickness dulu, kapan kamu siap jadi ibu aja."


"Sayang.. Ga semua perempuan bisa hamil dengan mudah, jadi aku setuju sama kamu untuk tidak menundanya." Sahut Helena yang mengingat dulu ia pernah menunggu 7 tahun demi mendapatkan si kembar Hugo dan Hana.


Ccuuupp...


"Terima kasih, sayang." Ujar Langit bahagia.