
Setelah makan siang pak Surya dan pak Kasan pergi memancing, sementara Helena dan grandmom istirahat sebentar trus pergi ke butik untuk memesan baju untuk pernikahan.
Pilihan Helena jatuh pada 2 gaun yang berkonsep sederhana no ribet berwarna offwhite untuk pengucapan ikrar pernikahan di Bali dan jamuan resepsi siang di Olla Voilla Resto, untuk gala diner malam harinya, atas desakan grandmom Helena memilih gaun berwarna broken white ala-ala princess berpotongan offshoulder yang menampilkan bagian bahu dan mengekspose hampir seluruh bagian punggung karena hanya tertutup kain transparan memberi kesan mewah elegan.
"Pilihan yang tepat, sayang. So sweet and sexy look." Ujar grandmom puas, sementara grandmom sendiri memilih kebaya modern berwarna ungu muda favoritnya untuk acara siang hari dan untuk acara malam gaun berwarna dark purple. Untuk acara di Bali, grandmom memilih menggunakan gaun santai miliknya saja.
Desainer dengan piawai menggores diatas kertas sketsa baju untuk Helena dan grandmom. Tidak lama, karena tidak banyak detail khusus mereka inginkan.
Tidak lupa Helena memberi daftar nama orang yang akan mengukur badannya untuk dibuatkan baju disitu dan akan datang kemudian, terutama Latiefa yang akan menjadi bridesmaid-nya nanti.
"Nanti kami kabari ya, 10 hari dari sekarang kami pastikan selesai dan bisa fitting ke sini." Ujar pemilik butik sambil memberikan nota.
"Trus dari sini kita ke mana grandmom, langsung ke rumah sakit?" Tanya Helena.
"Ke wedding organizer-lah dulu, biar ga ribet waktu kalian kurang dari 4 minggu lho ini. Masalah baju udah beres, hidangan buat resepsi di dua tempat juga aman, yang belum urusan dokumen untuk pernikahan, make-up artist, konsep acara, undangan, dokumentasi sama hal-hal yang lainnya. Cepat telpon Langit suruh menyusul kita ke Edelweis WO bilang aja disuruh grandmom."
"Ok." Sahut Helena sambil tersenyum melihat wanita sepuh yang lebih bersemangat ngurus pernikahan daripada calon pengantinnya.
Setelah mendapat jawaban dari Langit untuk bertemu di tempat yang dimaksud grandmom, Helena memesan taksi online menuju ke sana.
Setelah berkonsultasi dengan pihak WO, muncul beberapa perubahan dari rencana semula serta lebih detail. Pihak WO sangat memahami keinginan calon kedua mempelai yang ingin acara mereka nanti berlangsung sakral, elegan dan punya nilai estetika tanpa mengabaikan kemauan grandmom yang ingin kesan mewah.
Untuk acara di Bali, mereka memilih salah satu resort yang venue-nya cukup terkenal di dunia. Memang tidak salah, karena resort itu sudah di desain sedemikian rupa untuk mengakomodasi rangkaian prosesi pernikahan, walking down the aisle to wedding altar, upacara pernikahan, resepsi hingga tempat beristirahat bagi mempelai dan tamu. Sementara
Bentuk altar pernikahan, pilihan mereka jatuh pada gazebo dengan latar belakang matahari terbenam dan hamparan laut Samudra Hindia. Dan jamuan makan malamnya dia adakan di area yang tidak jauh dari situ.
"Kira-kira berapa orang yang akan ikut menyaksikan pengucapan ikrar pernikahan? Tanya pihak WO.
"Em.. hanya keluarga inti dan kerabat dekat saja sekitar 30 orang dan untuk resepsinya juga hanya untuk 200 orang saja karena nanti akan 2 resepsi." Sahut Langit.
Sementara Helena sambil melihat koleksi foto milik WO sudah senyum-senyum membayangkan bagaimana nanti dia sebagai Lenka dan Langit akan saling bertukar janji diiringi suara deburan ombak dan matahari yang kian tenggelam seolah ditelan laut.
"Kalau untuk acara yang di sini sudah dapat konsepnya?" Tanya pihak WO lagi.
"Gimana, masih mau di resto itu apa ganti ke ballroom aja, biar lebih wah gitu. Kan cuma sekali seumur hidup?" Tawar grandmom.
Merasa sudah mantap dan membicarakannya sama Jeanett Moon, Langit memutuskan tetap di Ola Voila saja.
"Baik, silahkan memilih tema-nya mas, nanti kita sambil sesuaikan sama lokasinya." Sahut pihak WO lagi.
"Masih ada waktu, bagaimana kalau kita ke situ sebentar" Ajak Langit yang langsung disetujui pihak WO.
π»π»π»
"Satu kehormatan bagi kami mas Langit dan Lenka, mau memakai resto kami sebagai tempat melaksanakan resepsi pernikahan." Ujar Jeanett Moon.
Baik grandmom dan pihak WO tampak kagum melihat tempat pilihan Langit dan Lenka. Ola Voila resto dengan interior romantis yang menarik, bergaya vintage modern, sehingga tidak membutuhkan dekor terlalu banyak, cukup menambah sedikit detail dan fokus pada table decoration agar tampilan tempat itu lebih manis dan berbeda dari biasanya.
Belum lagi bagian sisi samping resto yang memiliki garden dan kolam renang, membuat tempat itu semakin menarik.
Olla Voila memiliki 50 meja makan dengan berbagai ukuran masing-masing kapasitas 5 sampai 8 orang per meja sehingga bagian dalam dan garden resto cukup untuk menampung 300 tamu dengan area parkir cukup luas karena selain di halaman dan bagian bawah resto.
Langit memperkirakan rekan bisnisnya, teman-teman Lenka maupun kerabat dan para tetangga calon mertuanya tidak melebihi 250 orang, maka ia setuju dengan konsep makan di atas meja, dengan memanfaatkan perabotan yang sudah ada di resto. Jeanett juga menawarkan halaman rumahnya yang bersebelahan dengan resto sebagai area parkir tambahan.
"Apa perlu menggunakan lantai atas, bagian situ rencananya nanti untuk meeting room." Tawar Jean.
"Emmm.. kayaknya cukup di bawah aja bu Jeanett, karena kita mau ambil venue garden sama kolam renangnya, jadi nanti terserah tamu mau duduk santai di dalam atau di luar resto." Ujar Langit.
"Honey, bagaimana? Semua sudah ok kan menurutmu?" Tanya Langit pada Lenka.
Lenka mengangguk setuju.
Selesai membahas konsep acara beserta estimasi biaya dan membayar downpayment, mereka pun berpamitan pulang.
Setelah tiba di rumah. Mereka cukup heran melihat mobil lain selain milik pak Kasan.
"Ada tamu kayaknya." Gumam Langit.
Helena merasa tidak asing dengan mobil itu.
"Nah, itu Lenka sudah datang." Ujar pak Kasan.
"Hai Lenka." Sapa seorang pria.
"Hai dr. Arnold, apa kabar?" Sahut Lenka.
Ck, sejak kapan sih Lenka punya teman cowok, mana cakep lagi. Batin Langit kesal langsung membuntuti grandmom ke dapur, bersiap memasak untuk makan malam.
"Em.. Kabarku baik Len. Aku hanya khawatir karena kamu ga pernah membalas pesanku, makanya aku ke sini."
"Wah, maaf ya Arnold. Aku ga sempat membalas pesanmu. Ada apa, apa bu Miryam yang menyuruhmu ke sini?
"Em.. Tidak. Aku.. Kangen kopi buatanmu Len, hehe."
"Owh, nanti kapan-kapan kalau aku konsultasi skripsi dengan bu Miryam aku ke sana deh, kita ngopi-ngopi kaya kemaren. Oh iya kenalkan ini bapakku, dan pak Surya calon mertuaku." Ujar Helena.
Glekkk. Apa, calon mertua? Kalah cepat dong aku. Batin Arnold.
"Sayaaang, sini dulu sebentar." Helena memanggil Langit.
Langit yang sebenarnya dari tadi mendengar percakapan antara Lenka dan Arnold bergegas menghampiri mereka.
"Hai, aku Langit calon suami Lenka." Langit memperkenalkan diri.
Arnold pun menyambut jabatan tangan Langit dengan perasaan patah hati.
Isshh.. Baru saja aku merasa bersemangat untuk mengenal Lenka lebih jauh dengan harapan dia bisa jadi kekasihku, eh.. tau-tau dah punya calon suami aja. Rutuk Arnold dalam hati.
"Hai, juga. Aku Arnold, aku.. Temannya Lenka. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Maaf sudah mengganggu waktunya. Saya permisi ya Len, Langit, pak.." Pamit Arnold sopan.
"Sejak kapan kamu kenal sama cowok itu?" Tanya Langit ketus sepeninggal Arnold.
"Baru sih, dia anaknya bu Miryam, dosenku. Dia yang mengantarku pulang malam itu."
"Baru kenal kok bisa kangen sama kopi buatanmu."
Sebagai lelaki, Langit tau kalau Arnold menaruh perasaan terhadap Lenka. Bisa jadi ancaman untuk hubungan mereka.
"Waktu aku ketemu bu Miryam, aku sempat membuat kopi dan kata mereka rasa kopi buatanku persis seperti buatan ayahnya."
"Aku ga suka kamu dekat-dekat sama dia." Tegas Langit.
Dia kenapa sih, cuma teman kok sebegitunya. -Lenka