
Hari masih gelap ketika Helena mendengar pintu rumah seperti dibuka. Dia menajamkan pendengarannya.
Bapak keluar rumah jam segini ?
Atau ada orang lain yang punya kunci rumah ini juga? Pikir Helena.
Tidak lama terdengar suara langkah mendekati pintu kamarnya dan ketukan pelan.
Helena terusik dan mengerjapkan matanya.
Seketika pusing dan mual menyerangnya.
"Sayang, ini aku." Lamat-lamat terdengar suara dari luar.
"Masuklah, tidak dikunci kok." Jawab Helena.
Perlahan Helena bangun dari tempat tidurnya, merapikan piyama.
"Hai, pagi honey. Selama kamu sakit, aku tiap hari ke sini menemani bapak. Jadi untuk mempermudah akses bapak memberiku kunci rumah ini. Bagaimana keadaanmu?"
"Pusing Lang." Jawab Helena.
Hoekkk.. Hoekkk..
Sungguh ia merasa perutnya seperti diaduk-aduk dan kepalanya terasa berputar-putar.
"Apa kemaren juga kamu mual muntah seperti ini, sayang? Apa perlu kita periksa kandunganmu lagi? Tanya Langit sambil memijat punggung dan tekuk Lenka.
"Ga enak banget Lang, aduh ga kuat aku. Lemes banget." Rengeknya.
Dengan sigap Langit merengkuh tubuh kekasihnya, membawanya duduk di tepi tempat tidur dan membaluri bagian tubuh yang dipijat dengan minyak kayu putih.
Apa sih yang diolesin sama Langit ini? Tapi, mmm.. aromanya enak juga. Helena.
"Aku bikinin teh hangat mau ya?" Ujar Langit.
Baru beberapa langkah Langit berjalan ke arah pintu, tiba-tiba tubuhnya menegang melihat sosok pak Kasan yang melihatnya tajam, berdiri di situ.
"Pagi, pak. Maaf mengganggu, saya hanya ingin memastikan keadaan bapak dan Lenka pagi ini."
"Lenka hamil kan? kalian harus menikah secepatnya." Tegas pak Kasan dengan suara yang bergetar.
Langit sih senang-senang aja disuruh menikah dengan Lenka, tapi jujur mentalnya belum siap juga bila harus menerima kehamilan Lenka akibat perkosaan, lebih-lebih pandangan orang lain nanti bagaimana. Langit mencintai Lenka tapi ia perlu waktu untuk itu.
Sementara Helena juga bingung. Dia senang sekali ada kehidupan baru di tubuh Lenka. Tapi Lenka sejak awal jelas-jelas menolak kehadiran bayi itu.
"Pak, ini tidak seperti yang bapak pikir. Aku dan Langit memang berhubungan tapi kami tahu batasannya. Pak, Lenka memang hamil, janin ini bukan.. Janin ini akibat diperkosa penjahat malam itu."Tutur Lenka dengan suara yang lirih.
"Apaaa, hamil karena diperkosa terus bagaimana ini Len...?!?" Pak Kasan tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya dan terduduk dilantai menangis.
Cepat Langit menghampiri pak Kasan untuk menenangkan beliau.
"Bapak, tenang ya. Bapak jangan khawatir. Semua ada jalan keluarnya. Apapun yang terjadi sama Lenka, Langit akan bertanggungjawab." Janji Langit.
"Tapi Lang, bapak ga tega kamu menanggung kesalahan yang tidak kamu buat."
"Pak, secepatnya saya akan menikahi Lenka." Tukas Langit tanpa berdiskusi dengan Lenka.
"Pikirkan baik-baik Lang. Jangan kamu menikahi anakku hanya karena kasihan. Pernikahan itu sakral ga untuk main-main."
Pak Kasan mengangguk, mengikuti Langit yang memapahnya ke meja makan.
Mereka menikmati sarapan dalam diam, tapi sibuk dengan pikiran masing-masing.
Helena menyukai taste bubur ayam yang dibelikan Langit dan memakannya dengan lahap.
Langit tersenyum heran, Lenka tidak pernah suka makan bubur ayam, bapak juga sudah hafal.
Itu sebabnya Langit membelikan nasi kuning untuknya.
Apa hormon kehamilan bisa mengubah watak dan selera makan seseorang ? batin Langit.
Seandainya saja dia punya kemampuan, dia tidak akan membiarkan putrinya bekerja sampai malam hari demi memenuhi biaya hidup mereka.
"Jadi, apa hari ini kamu akan ke kampus? Biar aku temani." Tawar Langit.
"Ah, tidak perlu Lang. Kamu bekerja saja. Aku ada sedikit urusan." Jawab Helena sambil menghitung berapa waktu tersisa untuk menyelesaikan kasus ke 3. Terhitung sejak kemarin sore, 3 x 24 jam dan waktunya sudah terhilang sekitar 16 jam, berarti tersisa kurang lebih 56 jam, anggaplah 2,5 hari lagi untuk menyelesaikan misi-nya.
"Katakan saja apa yang bisa aku lakukan, setidaknya biar aku boleh merasa aku berarti untukmu." Ujar Langit.
Helena berpikir sejenak. Sekarang dia merasa sudah jauh enakan dibanding tadi.
"Lang, bantu aku beres-beres rumah ya." Pinta Lenka tersenyum manis.
Dan mulailah pemandangan indah sepasang kekasih yang bahu membahu menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci-jemur pakaian.
Helena merasa lucu, sekaligus bangga. Bagaimana tidak, sebelumnya Helena tidak pernah memegang sapu, pel, Helena tidak pernah menggunakan mesin cuci dan sekarang dia bisa mengerjakan semua dengan bantuan Langit.
"Honey, energiku terkuras nih dan sebentar pasti lapar lagi, tolong masak buat makan siang kita ya, nanti biar aku saja yang membersihkan halaman rumah."
"Hm, baiklah sayang. Semangat ya." balas Helena.
10.45, Helena melirik jam dinding ketika menuju dapur. Aimee akan pulang sekolah jam 14.00. Berarti masih ada waktu sekitar 2 jam lagi. Batinnya.
Kedua kalinya Helena yang tanpa ada rencana mau masak apa seperti sebelumnya membuka kulkas. Seperti dikomando tangannya mengambil beberapa bahan masakan yang seolah muncul begitu saja dihadapannya.
Dan dengan lincahnya Helena berkutat di dapur, memasak nasi, memotong, menggoreng, menumis merebus beberapa bahan. Aroma masakan menguar semerbak memenuhi ruangan bahkan sampai ke indera penciuman pak Kasan yang sedari tadi berada di kamar juga Langit yang berada di luar rumah.
Seperti memanggil-manggil, pak Kasan dan Langit mendekati Helena yang sedang sibuk dan waalllaaaa...
Kedua pria itu menelan ludah secara bersamaan demi melihat hidangan yang hampir tersaji sempurna.
Bistik Ayam, tahu tempe goreng, sop udang dan sambel tomat. Tanpa dikomando langsung mengambil nasi ke piringnya masing-masing. Siap bersantap.
"Sejak kapan kamu pinter masak Len? Enak banget Lho." Komentar pak Kasan yang hanya dibalas cengiran Helena.
Aku juga ga tau, pak. Batin Helena.
"Kemarin siang juga Lenka masak spesial pak. Aku dibikinin gulai ikan tuna sama sayur bening bayam jagung manis, sama Lenka. Rasanya juara banget." Jawab Langit sambil terus mengecap dan mengunyah makanannya.
"Oh ya? Padahal mana pernah Lenka memasak. Boro-boro masuk dapur aja jarang." Timpal pak Kasan.
"Pak, nanti setelah wisuda aku menyarankan Lenka tidak usah bekerja saja tapi ku membuka rumah makan, menerima cateringan atau jual makanan secara online. Sayang jika bakat terpendam seperti ini tidak disalurkan. Dengan begitu, Lenka jadi punya banyak waktu dirumah, bersama bapak. Bagaimana?"
"Bapak setuju, Lang. Nanti kita atur ruang samping rumah yang berbatasan dengan taman itu menjadi tempat ruangan memasak, kamar kerja Lenka." Jawab pak Kasan dengan mata yang berbinar semangat.
Helena hanya tertawa kecil mendengar percakapan Langit dan pak Kasan.