Lenka's Dish

Lenka's Dish
26



Pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan mulus di Jakarta. Langit sudah mengantar Lenka dan pak Kasan kembali ke rumah.


"Aku langsung pulang ya pak, Len" Pamit Langit.


"Iya, nak Langit. Hati-hati di jalan." Balas pak Kasan sambil melambaikan tangan.


"Pak, besok aku jangan dibangunin ya. Aku mau bangun agak siang ga apa-apa kan? Aku lelah sekali." Ujar Helena.


"Ok, nak. Istirahatlah." Jawab pak Kasan sambil menuju ke kamarnya.


Helena pun masuk ke kamar. Usai membersih badan dan berganti pakaian Helena siap-siap beristirahat.


Wuuusss...


Nona Emma muncul dihadapan Helena dengan senyum manisnya.


"Selamat Helena, kamu mendapat 2.000 poin." Ujarnya.


"Ah, bagaimana mungkin aku menyelesaikan misiku?" Tanya Helena.


"Kamu lupa, kamu telah membuat anak-anak suka memasak dan mengajarkan mereka memasak ketika di panti."


"Benarkah? Sampaikan terima kasihku untuk ratu Acasha ya." Balas Helena.


"Tentu. Terus semangat untuk menyelesaikan misi yang lain ya Helena." Ujar nona Emma sambil perlahan menghilang dari pandangan mata Helena.


Helena mengambil buku catatan misinya.


●Misi 5 : Mengajarkan anak-anak memasak. Waktu 3 bulan. point 2.000. Done.


Tulisnya melengkapi keterangan di buku itu dengan hati bahagia.


Hmm.. Masih ada 2 misi lagi dan sedang berjalan.


Ddrrrttt..


Pesan text masuk dari Langit.


Langit : Honey, sudah tidur belum?


Helena : Hampir.


Langit : Aku mau bilang, besok pagi-pagi sekali aku harus nge-cek pabrik ke luar kota bersama Satya, maaf aku tidak sarapan di situ ya sayang.


Helena : Ok, sayang. Tidak apa-apa.


Langit : Baiklah, selamat beristirahat dan mimpi indah, sayangku. I love you, Lenka.


Helena : I love you too, Langit.


Sejenak Helena tersenyum kecil melihat percakapannya dengan Langit.


Lenka pasti sebel jika tau aku sering mengatakan kalimat sakti "i love you" pada Langit. Batinnya.


🌻🌻🌻


Tokkk.. Tokk..


"Masuk." Jawab Langit tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang dibacanya.


"Bli Elang, ada perempuan bernama Mayleen ingin bertemu denganmu." Lapor Satya.


"Oh iya, tolong antarkan dia ke sini ya dek."


Tidak lama kemudian, sosok cantik yang pernah membuat Langit susah makan, susah tidur, susah nafas telah berdiri di hadapannya.


"Hai May, apakah sesuatu yang membuatmu datang ke sini? Sambut Langit.


"Lang, kamu serius ingin menikahi gadis itu?" Tanya Mayleen langsung pada intinya


"Iya."


"Omonganmu ga bisa dipegang. Bukankah kamu bilang, dadamu berdebar kencang ketika di dekatku. Kamu akan membatalkan pernikahan kalian dan meninggalkannya jika aku minta."


"Iya. Apa kamu meminta agar aku meninggalkannya?"


"Aku hanya memastikan apakah aku penting bagimu."


Langit menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan.


"Dengar Mayleen, aku memang mencintaimu. Benar, dadaku bahkan masih berdebar kencang jika di dekatmu. Kamu masih orang yang penting bagiku, terlebih karena kamu ibu dari anakku. Lalu, apa yang sebenarnya yang ingin kamu sampaikan." Tanya Langit.


"Aku.. Aku hanya kecewa melihatmu bahagia dengan Lenka. Semudah itukah cintamu yang besar itu berganti?"


"Ya, jika memungkinkan." Mayleen mulai terisak.


"May, tidak semua semudah yang terlihat. Aku bisa berada di titik ini pun dengan usaha yang sulit. Kamu tidak tau, aku sempat depresi setelah kejadian itu. Aku berusaha bangkit dan menyadari tidak ada harapan untuk bisa bersamamu lagi."


"Tolong pikirkan, kita bisa mencoba untuk memulai dari awal lagi, Lang. Yang terjadi dalam hubungan kita di masa lalu, sungguh diluar kendaliku."


"Jadi sekarang, hubungan kita akan ada dalam kendalimu? Tanya Langit.


"Ingat Lang, kita punya Rigel."


"Aku tahu, demi Rigel kita tidak perlu menghancurkan banyak hati. Sebagai ayahnya aku bertanggung jawab membiayai pengobatan juga semua kebutuhannya sampai dia lulus kuliah bahkan menikah. Aku siap mencurahkan kasih sayangku untuk Rigel kapanpun, dan Lenka bisa menerima itu."


"Aku masih mencintaimu, Lang. 2 kali menikah semua atas landasan keterpaksaan saja. Seandainya aku bisa memilih.."


"May, kamu bisa sampai 2 kali menikah dengan pria yang tidak kamu cintai, harusnya kamu menyadari dimana letak kesalahanmu. Ini hidupmu, kamu berhak bahagia dengan pilihanmu sendiri dan harus memperjuangkan pilihanmu sungguh-sungguh jika kamu mau, tapi kenyataannya kamu malah mengizinkan orang lain mengurusi hidupmu terlalu jauh."


"Maafkan aku Lang, waktu itu ketika aku diancam mama, yang terpikirkan olehku hanyalah keselamatan bayi kita dan kamu.."


"Ya, dan inilah kenyataannya. Bayimu dan aku masih bernafas sampai detik ini. Kita sedang berada dalam hubungan yang merupakan hasil persetujuanmu terhadap kemauan ibumu bukan? Lalu apalagi yang kamu mau?"


"Kamu sudah tidak mencintaiku? Apa sudah tidak ada jalan untuk kita bersama lagi?"


"Aku telah berusaha melupakanmu, melupakan rasa sakit akibat kamu tinggalkan begitu saja. Aku bahkan memaksakan diriku menerima gadis lain demi mengobati luka itu. May, jika ada sesuatu yang membuat kita masih terhubung itu hanya karena Rigel, tidak lebih. Aku tau, kamu menikah tentu karena suatu alasan. Nah, buatlah alasan itu untukmu terus bertahan dengan pilihanmu."


Langit menelan ludahnya ketika Mayleen dengan gerakan cepat melucuti pakaiannya sendiri satu per satu hingga tidak menyisakan sehelai benangpun untuk menutupi tubuhnya.


"May, apa yang kamu lakukan?"


"Menggodamu untuk mempertahankan pilihanku."


Mayleen memutar kursi Langit ke hadapannya dan tanpa sungkan menaruh pantatnya dipangkuan Langit.


Mayleen membelai wajah pria yang pernah mengisi hari-harinya sambil menggesek-gesekkan bagian tengah tubuhnya ke bagian tengah tubuh Langit yang mulai menegang.


"Lang, aku sangat menginginkanmu."


Langit hanya memejamkan mata, mengendalikan hasratnya yang sudah memuncak.


Pertahanannya kian tipis, hanya sebatas 2 lapis kain yang begitu dia lepaskan pengaitnya trus diturunin, selesailah sudah.


Kuatkan hatiku, Tuhan. Rapal Langit di dalam hati.


Langit tidak mengingkari kemolekan Mayleen dihadapan matanya, masih lekat dalam ingatan Langit bagaimana tubuhnya dan tubuh Mayleen menyatu saling memberi kenikmatan. Aaahhh...


Disaat Mayleen makin gencar melakukan aksi erotisnya, tiba-tiba ponsel di saku Langit bergetar.


"Shiiiitt.." Pekik Mayleen.


Grandmom : Besok pagi aku dan papamu ke situ.


Langit : Ok grandmom, aku tunggu.


Grandmom : Barusan aku menelpon Lenka dan bapaknya...


Mayleen sengaja memberi rangsangan ekstra di bagian sensitif Langit dan membuatnya mendesah.


Grandmom : Heiii.. Apa yang sedang kau lakukan. Jangan bertindak bodoh untuk kedua kali, Lang.


Langit : Ah.. Ok, terimakasih grandmom.


"Mayleen cukup." Pinta Langit.


"Mulutmu dengan tubuhmu memberi reaksi berbeda Lang. Jangan mengingkari, dia bahkan semakin keras ingin jepitan yang empuk untuk bisa tidur kembali."


Tangan Mayleen sudah merogoh masuk menyentuh dan merem*as bagian yang dia bilang semakin keras.


"Lang, aku sangat merindukannya. Aku mau dia memasukiku, aku sudah siap."


Langit menutup matanya demi mengendalikan gejolaknya.


"May, berhenti." Langit menarik tangan Mayleen dan berusaha berdiri dari kursinya.


"Aku tau kamu juga menginginkanku, Lang. Ayolah, sekali saja, ya.." Mayleen masih berusaha menggoda.


"Jangan menjadi murahan hanya karena pernikahan yang menurutmu bukan keinginanmu. Asal kamu tahu, aku bisa saja mendapatkan kepuasan dengan perempuan manapun yang aku mau, tapi sejak kamu meninggalkan aku, aku belajar untuk menghargai wanita, menghargai kesucian pernikahan." Tegas Langit sambil memungut pakaian Mayleen.


"Pulanglah. Kenakan pakaianmu dengan benar dan kembalilah ke pelukan lelaki yang telah memintamu menjadi bagian hidupnya. Maaf jam kerja sudah habis, aku duluan." Ujar Langit sambil meraih jas-nya dan melangkah keluar ruangannya.


Mayleen menangis, kata-kata Langit begitu mengoyak jiwanya bahkan Langit telah mengusirnya dengan cara yang halus tidak saja dari kantornya tapi juga dari hatinya.


"Padahal dulu, dia selalu menginginkanku walaupun aku tidak sedang menggodanya." Gumam Mayleen.