
Hai pembaca tercinta.. Mohon dukung author ya, klik like, kasi komentar, rate bintang 5 sama vote seiklasnya. Baca dan dukung juga karyaku yang lain. LANGIT YANG KURINDUKAN.
Diusahakan fdbck. Terima kasihππππ₯°π₯°π₯°π₯°π₯°
----------------------------------------------
Dengan perasaan riang rombongan itu kembali pulang menyusuri jalanan terjal yang agak menukik turun.
Ssssiiiiuuuuttt... Braakkkkk...
Jevan dan pasukkannya terjatuh hampir bersamaan. Ketika mencoba berdiri dan melanjutkan perjalanan, kaki mereka seolah terantuk sesuatu yang tidak kelihatan.
"Kenapa ini?" Gerutu Mario ketika langkahnya hanya disitu-situ saja seolah jalan ditempat, karena terhalang sesuatu.
"Haha.. Kamu sedang latihan baris berbaris ya?" Celetuk temannya yang lain.
"Entahlah, seperti ada benda yang menghalangi jalan kita, kau coba saja."
Duuuuukkk..
"Haha.." Ramai anggota rombongan menertawakan salah satu teman mereka yang kepalanya benjol akibat terbentur benda tak kelihatan itu.
Kembali sir Benefio memercikkan cairan bluesky dan nampaklah tembok kokoh menjulang hingga awan di hadapan mereka.
"Bagaimana ini paman?" Tanya Jevan pada Ben.
"Entahlah, tapi aku akan mencoba menggunakan cairan penghancur objek, semoga berhasil." Sahut sir Benefio.
Sreekkk.. Srekkk..
Sir Benefio memercikkan cairan yang diyakini bisa menghancurkan tembok itu.
Hanya tampak lubang-lubang kecil akibat cairan itu. Tidak bisa menghilangkan sama sekali, paling tidak mereka membutuhkan 1 ember cairan jika hendak membuat lubang yang cukup untuk mereka lewati, sementara Sir Benefio hanya membawa botol kemasan kecil dan itupun sudah habis isinya.
"Sialll, aku bakal bekerja lebih keras lagi untuk membuat ramuan itu." Sungut Ben.
"Silahkan bagi punya usul untuk mengatakan pendapatnya." Ujar Jevan.
Melalui lubang-lubang kecil itu mereka mengintip untuk melihat keadaan di balik tembok.
Mereka saling berpandangan ngeri ketika melihat berbagai hewan raksasa seolah menunggu mereka menjadi mangsa.
"Pangeran, tampaknya walaupun kita lolos dari tembok ini, kita tidak bisa pulang dalam keadaan hidup." Cemas Mario.
"Hmm.. Pasti ada cara. Lets think." Sahut Jevan serius.
Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Waktu terus berjalan, sementara mereka masih terperangkap di hutan lereng gunung Golyam.
"Ah.. bagaimana kalau kita makan dulu saja. Perut lapar bikin kita ga bisa mikir maksimal." Usul Helena.
"Baik, ayo masing-masing keluarkan bahan makanan yang kalian bawa untuk kita makan bersama." Komando Jevan.
Serentak mereka mengeluarkan bekal. Ada yang membawa daging rebus, beras, roti, rempah-rempah, bawang bombay, kacang hijau, terong, okra, kacang polong, kentang, keju, yogurt dan air. Tidak ketinggalan juga peralatan memasaknya.
"Wah, kalian ini.. Lengkap sekali yang kalian bawa macam mau piknik keluarga aja." Omel Jevan.
"Yang lain silahkan beristirahat saja, kali ini biar aku yang memasak." Tawar Ronald.
Dengan dibantu beberapa temannya pekerjaan Ronald cepat selesai. Ada yang memotong-motong sayur, ada yang memasak nasi, mencari kayu bakar, ada yang berceloteh saja menghibur teman yang lain.
"Ahh.. Ayo kita beristirahat sebentar sambil menunggu makanan kita matang." Ajak Ronald sambil mengatur api guna menjaga tingkat kepanasan agar masakannya matang sempurna walaupun dalam keadaan dan peralatan seadanya.
Setelah tertidur kurang lebih 2 jam, jadilah patatnik yang sajikan dengan yogurt dan hotchpotch plus nasi.
Uuhh.. Tak terkira kebahagiaan anggota pasukan menikmati hidangan istimewa ala kerajaan pagi itu.
"Ah, Ron.. Ga biasanya kamu bisa memasak selezat ini." Ujar teman-teman Ron memuji.
"Anggap saja ini kebetulan dan kalian bernasib baik hari ini. Sudah dimakan saja, jangan banyak omong dan jangan lupa membantu aku membersihkan semuanya setelah kita bersantap." Ujar Ronald.
"Ok.."
Wuuuuuussshhh...
Begitu mereka selesai makan, tiba-tiba kabut pekat bergulung datang bersamaan dengan hujan kilat dan salju.
Hawa mencekam terasa menyelimuti pasukan.
"Astaga, cuaca apa sih ini? Aneh banget." Gerutu mereka.
"Owh, aku takut sekali."
"Apa yang bisa kita lakukan dengan keadaan seperti ini, bisa-bisa kita mati ditempat." Sungut yang lain.
Ronald berdiri.
Cuaca seketika kembali cerah dan bersahabat seperti sebelumnya.
"Pulanglah dan gunakan daun merah itu sebagaimana mestinya." Sebuah suara menggelegar terdengar entah darimana.
Anggota pasukan saling melempar tatap tidak mengerti.
"Ron lakukan seperti tadi malam, barangkali bekal ibumu benar-benar mengandung magic untuk menolong kita sekarang." Bisik Mario sambil memberikan beberapa biji sarmi alias arem-arem kepada Ronald.
Ronald mengangguk menyambut pemberian Mario lalu meremas penganan di tangannya itu hingga hancur dan mulai menghamburkannya ke segala arah dan menaruh kedua telapak tangannya di tembok itu dengan tekanan yang cukup kuat.
"Dengan kekuatan Lenka's dish." Gumamnya.
Blaaarrr...
Tembok tinggi kokoh itu seolah menghilang begitu saja.
"Yeiiii..." Seru mereka bersamaan, tapi tidak lama.
Lenyapnya tembok itu membuat mereka tidak bersekat dengan bagian yang sebelumnya berada di sisi luar.
Kini tanpa pembatas apapun justru kekhawatiran mereka kian menjadi-jadi, karena yang lebih menakutkan adalah bagaimana mereka melewati hewan raksasa kelaparan itu dengan selamat.
"Berikan padaku sisa makanan kita tadi." Pinta Jevan.
Rombongan itu kian maju mengekori Jevan yang melempari remah makanan itu ke sembarang arah di depannya.
Lancar.
Ajaibnya, hewan-hewan buas yang tadinya tampak kelaparan seketika asik menyantap remah makanan seolah itu mangsa besar yang mereka idamkan sehingga mengabaikan pasukan Jevan melewati mereka.
Jevan mengedikkan bahu tak percaya kemudian kembali memimpin pasukan melanjutkan perjalanan.
Hingga sampailah mereka di kaki gunung tempat menambatkan kuda yang mereka tunggangi sebelum ke puncak gunung Golyam.
Tidak lupa Jevan membersihkan tangan dari sisa remah makanan dan memberikan air bekas cucian tangannya kepada kuda sambil berharap itu akan berefek baik bagi kuda-kuda mereka.
Setelah beberapa waktu berkuda, seluruh pasukan tiba di kastil milik Jevan dengan selamat sebelum matahari tenggelam.
Well, terimakasih untuk petualangan kali ini teman-teman. Silahkan kalian pulang ke rumah masing-masing." Komando Jevan.
"Ah, pangeran.. saya mengantuk sekali, izinkan saya tidur sebentar sebelum pulang." Mohon Ronald.
Ditempat yang terlindungi dan jauh dari pandangan teman-temannya, Ronald meraih 1 butir telur bebek dari sakunya.
Pyaaarrr..
Ronald menghempaskan telur itu ke tanah.
Helena tersenyum, dia sudah berada kembali di kamar dan menjadi Lenka.
"Terima kasih, ratu Acasha." Gumamnya sebelum terlelap.
π»π»π»
"Nak, apa kamu sangat kelelahan atau sakit? Kamu tidak keluar kamar selama 2 hari, bapak khawatir terjadi sesuatu padamu." Ujar pak Kasan begitu melihat Helena keluar dari kamarnya.
"Aku baik-baik saja, pak. Hanya perlu me time." Jawab Helena ringan.
Pak Kasan hanya menggelengkan kepala atas kelakuan tidak biasa putrinya itu.
"Ah iya, yang penting kamu baik-baik saja Lenka." Gumamnya.
Tokk.. Tokk..
Pagi-pagi Langit bertamu ke rumah pak Kasan dengan mengajak ayahnya dan juga grandmom.
"Haiii putri tidurku, apa kamu baik-baik saja?" Sapa Langit pada Lenka.
"Seperti yang kamu lihat, sayang." Sahut Lenka.
"Aku pikir kamu perlu kecupanku untuk membangunkan tidurmu yang do not disturb itu." Ujar Langit sambil terkekeh.
.
.
.
.
.
Note :
Patatnik dan hotchpotch adalah makanan khas Bulgaria.