Lenka's Dish

Lenka's Dish
20



Helena mengambil kotak bekal berisikan bakpao daging dan kacang telur. Membagikannya untuk Langit dan juga pak Kasan.


Ketakutan Helena perlahan sirna setelah makan kudapan yang dibawanya mendengar perkataan pak Kasan, bahkan bisa tertidur selama di perjalanan. Ah, sepertinya Lenka's dish juga berefek baik untuknya.


Helena menarik nafas lega ketika pesawat mendarat sempurna di bandara Ngurah Rai.


Pak Made, supir keluarga Langit dengan sigap menyambut kedatangan mereka. Mengambil koper dan tas mereka kemudian memasukkannya ke dalam bagasi.


"Hai mas Langit, langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Sapa pak Made.


"Nyempetin liat sunset di Kuta trus ke tempat makan dulu, sebelum kita ke rumah." Jawab Langit.


Dengan santai pak Made mengendarai kendaraan menuju tempat yang dimaksud Langit.


Helena terkagum-kagum melihat kota Denpasar yang rupawan. Seketika dia teringat Hans, Hugo dan Hana.. Kapan ya bisa berlibur memanjakan mata seperti ini bersama mereka?


Ah, seandainya boleh meminjam pintu kemana saja-nya Doraemon.


Tentu saja Langit tidak menyia-nyiakan keindahan pantai yang menjadi simbol pariwisata di Bali, terlebih karena jaraknya yang tidak jauh dari bandara.


Pak Made sore ini kebagian tugas menjadi photografer dadakan dengan pengarah gaya dari model-nya sendiri.


Langit mengajak pak Kasan dan tentu saja kekasih hatinya Lenka untuk berfoto-foto di pergantian hari dengan bias jingga keemasan mentari sore turun perlahan seolah ditelan lautan yang indah itu sambil bermain pasir dan menikmati deburan ombak.


"Honey, aku senang sekali. Untuk pertama kalinya bisa mengajakmu jalan-jalan. Jadi berasa kaya orang pacaran beneran."


"Yeayyy, emang selama ini kita pacarannya bohongan. Kita sudah sama-sama selama hampir 3 tahun dan sudah sering jalan-jalan." Tanya Helena.


"Emm.. Jujur, aku baru merasa kita pacaran sungguhan ya, baru-baru ini. Ck, aku.. Maaf, jadi bersyukur kamu mengalami musibah malam itu yang menyebabkan kamu koma yang setelah sadar, justru membuat kamu jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku senang, kamu yang sekarang lebih terbuka, ceria, ga jutek lagi, mau membalas cintaku dan itu membuat aku makin nyaman dekat sama kamu. Makanya aku mau cepat-cepat kamu jadi milikku. Apa kamu bersedia?"


"Tentu saja." Balas Helena tersenyum meyakinkan.


"Tentu saja, apa?" Goda Langit.


"Tentu saja aku bersedia jadi milikmu dan ke depannya akan berbagi hidup denganmu."


"Ah, syukurlah. Jangan berubah ya, aku senang kamu yang sekarang. Jangan berhenti mencintaiku, Lenka."


Langit mengecup jemari Lenka. Kemudian meraih sesuatu dari sakunya.


"Lenka, kamu sangat berarti untukku, aku mau kamu memakai ini. Tolong jangan ditolak lagi ya, honey." Langit mengaitkan kalung dengan liontin jejeran permata kecil menyerupai huruf L.


Helena meraba dan menunduk melihat kalung yang melingkar manja di lehernya.


Kalung dan liontin pemberian Langit memang jauh lebih sederhana dibanding perhiasan yang pernah diberikan Hans untuknya, bahkan Helena punya koleksi tiara juga set perhiasan yang di desain khusus untuknya. Tetapi hal yang menggerakkan seorang pria untuk memberikan sesuatu untuk kekasihnya, berapapun harganya, sungguh tidak bisa dinilai dengan uang kan?


Helena mengingat tadi Langit sempat bilang 'tolong jangan ditolak lagi'. Hmm.. berarti sebelumnya Lenka pernah menolak pemberian pria tampan ini? Uuuh.. dasar Lenka, gengsian amat jadi orang.


"Terima kasih Langit. Terima kasih kamu sabar menungguku membuka hati. Terima kasih mau menerima aku apa adanya.."


"Ssttt.. Aku juga berterima kasih kamu mau menerima masa laluku yang membuatmu ragu untuk melabuhkan cintamu." Langit mengecup bibir kekasihnya.


"Ehmm.. Maaf mas Langit, barusan nyonya menelpon meminta kita segera pulang." Ujar pak Made.


"Ishhh.. Pak Made ini ganggu suasana romantis aja." Canda Langit disambut kekehan.


"Maaf mas sengaja. Ituuu.. ponsel mas Langit ga aktif dari tadi, makanya nyonya menghubungi saya terus." Kata pak Made lagi.


"Ayo sayang." Langit memberikan tangannya untuk mengajak Lenka bangkit dari duduknya.


"Pak Made, sebelum pulang kita ke tempat makan favorit saya dulu ya." Pinta langit.


"Siap, mas."


Kurang dari setengah jam tibalah mereka disebuah bangunan dengan arsitektur bergaya Bali ini, berupa pendopo rumah khas bali dengan tulisan Nasi Ayam Kedewatan Bu Mangk*. 


"Wooowww.." Celetuk Helena yang begitu mengagumi suasana tradisional khas Bali dengan pekarangan rumah yang luas, terasa damai dan tenang serasa di desa.


"Bli Elang.. kenken kabare (apa kabar)? Lama ga mampir." Sapa sesorang.


"Eh.. Mbok Astika, becik-becik mbok. Iya nih, hampir 6 bulan. Oh ya, kali ini Elang sama calon istri dan calon mertua mbok. Mau Elang ajak ketemu sama grandmom."


"Owh.. Ini perempuan yang biasa kamu ceritakan itu? Jegeg, bli. Cocok sama bli."


"Honey, bapak, kenalin ini mbok Astika. Mbok yang dulu pernah merawat Langit waktu kecil sampai remaja. Trus kerja di rumah makan milik keluarganya di sini." Langit memperkenalkan.


"Ah, silahkan bli dan keluarga selamat menikmati makan malam ya, mbok mau lanjut kerja lagi." Pamit mbok Astika.


Langit mengarahkan Lenka dan yang lainnya mengambil tempat duduk di bale-bale dan duduk lesehan.


Tidak lama beberapa porsi nasi beserta ayam, jeroan, sate lilit, telur, ayam sisit, sayuran lawar yang berupa campuran sayur, parutan kelapa, juga sambal yang super pedas dan dilengkapi kerupuk kulit ayam dan kacang tanah goreng, telah terhidang diatas meja beserta minuman es jeruk dan air mineral.


"Lho kok banyak gini makanannya." Helena menghitung jumlah piring di depannya.


"Soalnya aku kalo makan di sini, makan 3 porsi baru puas." Jawab Langit malu-malu.


"3 porsi ? Astaga sayaaang, itu laper apa doyan sih."


"Dua-duanya, hehe.. Makanlah dulu sayang nanti kalau sudah tau rasanya pasti ngerti deh maksudku." Ujar Langit yang sudah ngiler dari tadi.


Dan benar saja, karena sensasi pedas Helena jadi tanpa malu-malu mengambil 1 porsi lagi. Demikian juga dengan pak Kasan dan pak Made.


"Sayang, kapan-kapan boleh ya bikinin aku masakan seperti ini?" Tanya Langit.


"Emm.. Boleh sih, tapi tentu ga selezat kalau kita makan di sini langsung sayang."


"Uh, itu namanya kamu ga mau bikinkan."


"Bukan, maksudku.. Kalau kamu mau makan nasi kedewatan, kita langsung cus ke sini aja. Aku juga suka, makanan dan tempatnya benar-benar cocok, bikin kangen buat ke sini lagi." Jawab Lenka.


Kembali ponsel pak Made berdering.


Grandmom : pak Made, sudah dimana?


Pak Made : Sebentar nyonya, mas Langit masih makan ditempat biasa.


Grandmom : Ok, nanti selesai makan langsung ke sini ya, aku sudah tidak sabar ketemu.


Pak Made : Baik, nyonya.


"Tuh mas Langit, sudah ditunggu pake banget sama grandmom."


"Aiiiisssh, grandmom.. Padahal aku mau ngajak Lenka wisata malam dulu sebelum ke rumah."