
3 buah mobil mpv tampak mengekori 1 mobil kecil yang dikendarai pak Made berisikan grandmom, pak Surya dan pak Kasan di bagian depan.
Tidak terbayangkan riuh rendah keramaian anak-anak yang berada di dalam mobil begitu antusias tidak sabar ingin segera bermain.
"Setiap berapa kali dalam setahun kamu pulang ke sini?" Tanya Helena membuka percakapan.
"Rupanya kamu ga perhatiin ya kalo aku pamit pulang ke Bali. Yang pasti, kalo ada libur nasional atau kalo pas kerjaan lagi santai seperti ini, weekend aku ke sini." Jawab Langit sambil terus mengendarai mobilnya.
Yihaaaa...
Langit, anak-anak dengan para pengasuhnya gegap gempita bermain di wahana waterboom. Helena dan grandmom, pak Kasan dan pak Surya memilih ber-spa yang berada tidak jauh dari wahana.
Hari beranjak siang, Langit mengajak rombongan untuk santap siang bersama sebelum lanjut ke pantai Dreamland berikutnya.
Sementara anak-anak yang tak pernah lelah itu bermain di pantai dengan pengasuhnya, Langit mengajak Lenka dan yang lainnya duduk di salah satu pondok.
"Aku berencana akan menikahi Lenka dalam waktu dekat." Langit membuka percakapan.
"Baguslah, kapan rencananya?" Tanya pak Surya.
"Hm.. 1 bulan lagi, bagaimana sayang?
Helena menunduk tersipu.
"Pernikahan yang bagaimana nanti yang kalian mau?" Grandmom antusias.
"Yang simple aja, ga pake acara lamaran resmi hanya kita nanti bertamu membawa seserahan sehari sebelum pernikahan." Jawab Langit.
"Bagaimana kalau pernikahan kalian di sini saja, trus resepsinya besar-besaran di Jakarta. Gimana menurutmu San?" Pak Surya meminta pendapat sahabatnya.
"Ngikut anak-anak deh, gimana maunya." Sahut pak Kasan.
"Gimana maunya Lenka?" Tanya pak Surya pada Lenka.
"Emmm.. Boleh, pernikahan dengan mengundang keluarga dan kerabat dekat di sini, tapi ga pake resepsi besar-besaran, pa. Kami sudah punya rencana untuk mengundang rekan-rekan kami untuk merayakan pernikahan di resto milik teman." Jawab Lenka.
"Ya, jamuan makan siang khusus untuk teman-teman kami dan jamuan makan malam untuk kolega bisnisku ditempat yang sama. Lenka sudah setuju menikah disini, berarti resepsinya 2 hari kemudian di Ola Voila resto." Timpal Langit.
"Ah, jadi kalian resepsinya cuma di resto? Ah, Langit masa untuk hal yang sekali seumur hidup cuma biasa-biasa aja tempatnya." Protes grandmom.
"Nanti grandmom liat deh, tempatnya bagus dan nyaman." Sahut Lenka.
"Baiklah, kalo itu sudah jadi kesepakatan kalian." Jawab grandmom. Diam-diam grandmom terharu, calon cucu menantunya bukanlah orang yang neko-neko dan banyak maunya.
"Ada 1 hal lagi yang mau Langit sampaikan.." Langit menggenggam jemari sambil menatap mata Lenka dalam-dalam.
Helena mengangguk pelan.
"Rigel, anak lelakiku dengan Mayleen. Sekarang Rigel berusia 4 tahun, mengalami thalasemia dan itu membuatnya harus berobat secara intensif. Dalam waktu dekat, jika cocok aku akan mendonorkan sumsum tulang belakangku untuk putraku. Lenka juga sudah setuju apabila ke depannya aku akan membiayai Rigel sampai dia lulus kuliah. Mayleen sekarang sudah menikah dan punya kehidupan sendiri, aku berharap dia juga Lenka tidak keberatan jika kapan-kapan aku mengajak Rigel bersamaku.
Pak Kasan, pak Surya dan grandmom tampak tepekur mendengar perkataan Langit.
Keluarga Langit tahu jika, Langit sangat terpukul akibat kecelakaan yang nyaris menewaskannya, apalagi disaat yang bersamaan harus kehilangan jejak kekasihnya. Bahkan pak Surya turut serta mencari keberadaan kekasih anaknya itu. Berulang kali Langit mengatakan bahwa gadis itu tengah mengandung anaknya, hanya dianggap angin lalu karena mereka pikir itu bisa-bisanya Langit saja. Ternyata..
"Owh.. Astaga, jadi apa kamu serius menerima Langit dengan masa lalu-nya, Lenka? Tanya pak Surya.
Helena menarik nafas panjang.
"Aku.. Aku menghargai Langit yang sudah mau menerima aku apa adanya. Beberapa waktu lalu aku mengalami penganiayaan, diperkosa lalu hamil. Aku sempat koma akibat kejadian itu selama 1 bulan. Setelah aku pulih, lagi-lagi aku mengalami kecelakaan yang menyebabkan aku keguguran. Aku telah gagal menjaga sesuatu yang berharga untuk suamiku." Helena mulai terisak.
"Sayang, jangan bersedih. Itu diluar kehendakmu. Langit justru ingin cepat memperistrimu karena dia ingin selalu melindungimu. Kamu juga hebat mau menerima Langit apa adanya." Hibur grandmom.
"Yah.. Aku juga sangat menghargai keterbukaan kalian." Akhirnya pak Kasan buka suara. Sebenarnya dia kecewa sama Langit tapi pak Kasan tahu, dia tidak boleh menghakimi masa lalu seseorang tanpa tahu apa penyebabnya.
"Langit, papa dan grandmom akan ke Jakarta secepatnya untuk menjenguk Rigel. Bagaimanapun, dia adalah darah daging kami juga." Kata pak Surya.
π»π»π»
Setelah puas jalan-jalan, Langit sekali lagi mengajak rombongannya makan nasi pendewatan di tempat mbok Astika bekerja. Sejak kemarin Langit sudah memesan tempat bagi mereka dan kali ini mbok Astika ikut bersantap bersama.
"Mbok Astika, bulan depan Langit menikah di sini lho." Ujar grandmom.
"Waaah, beneran bli Elang mau menikah dengan non jegeg ini? Turut senang saya nyonya. Kabarkan waktunya biar saya bisa menghadiri."
Mbok Astika bersahabat dengan April, mama Langit. Dulu dia bekerja sebagai pengasuh Langit demi membiayai hidupnya sebagai single mother. Satya, anak lelaki mbok Astika berusia 2 tahun di bawah Langit sering memanggil langit dengan sebutan bli Elang, yang keterusan sampai sekarang. Persahabatan mbok Astika dan mama April menular ke Satya dan Langit. Bahkan, Satya bekerja sebagai sekretaris Langit.
π»π»π»
20.30 wita anak-anak sudah berkumpul di aula untuk sharing, mendengarkan dongeng dan berdoa sebelum tidur. Lenka menghidangkan roti bakar isi pisang keju dan susu coklat sebagai kudapan mereka malam ini.
"Hai, namaku Wulan umur 11 tahun. Aku senang karena mas Langit mengajak jalan-jalan tapi paling senang lagi karena mbak Lenka mengajariku membuat jus buah dan gyeri mari."
Prokk.. prokk.. Terdengar tepuk dua kali.
"Hai, namaku Cindy umur 9 tahun. Aku tadi pas merasa tidak enak sekali ketika air masuk hidungku.."
"Hahahahaha..." Ramai anak-anak menertawakan Cindy.
"Hai, namaku Putra umur 10 tahun. Nasi goreng buatan mbak Lenka tadi pagi membuatku teringat sama mamahku, huhuhu.." Putra menangis sebelum menyelesaikan sharingnya.
"Hai, namaku Tino 16 tahun. Sama seperti teman-teman yang lain aku bahagiaaaa sekali hari ini. Aku mau usul, karena besok hari minggu kita freetime-nya di rumah saja. Tadi ada beberapa teman yang bilang mau belajar memasak bersama mbak Lenka."
"Ok, usul terima." Sahut Langit.