
"Eeum, jadi bisa dimulai apa yang mau kamu omongin, wahai calon nyonya Langit?" Langit berusaha menenangkan nada suaranya meski dalam hatinya gelisah tidak menentu.
"Maaf Lang, mungkin apa yang akan aku sampaikan ini adalah sesuatu diluar nalar, tapi inilah kenyataannya," Helena menghela nafas sambil menatap hampar hijau yang mulai menguning di hadapan mereka, tampak jika ia juga sedang memilih kata-kata yang tepat.
Langit mengerutkan dahinya sambil berusaha tidak memotong perkataan Lenka.
Helena menoleh dan meraih jemari Langit ke pangkuannya, "Lang ... apa kamu yakin kalau aku adalah Lenka?" tanyanya sambil tersenyum.
"Hah, aku tid-"
"Apa kamu tidak merasa Lenka berbeda sejak sadar dari koma-nya?" potong Helena.
"Em ... i-iya, kamu yang sekarang jauh lebih hangat, lebih perhatian, gak jutek dan ... kamu pinter masak Len," jawab Langit.
"Lang, sesungguhnya aku bukan Lenka tapi ... Helena."
"Maksudnya gimana?" jawab Langit nyaris terpekik.
"Cukup dengarkan saja, jadi begini ... aku sesungguhnya berada diambang kematian dan meminjam raga Lenka yang sedang koma sebagai media agar bisa kembali ke tubuh asalku dan aku bisa kembali jika menyelesaikan misi tertentu." Perkataan Helena terjeda, ia menyeka air matanya yang meleleh sementara Langit penasaran mendengar kelanjutan kisah Helena.
"Maaf, saat aku ditawarkan oleh ratu Acasha, penguasa Shelter transitee yang berkuasa atas roh yang belum jelas tujuannya, aku melihat sekilas profil Lenka dan tertarik, lalu aku memilihnya. Aku berasal dari kerajaan Hanover Raya, tempat yang bahkan aku tidak tahu jarak dan letaknya dari tempat kita sekarang. Aku memiliki suami bernama Hans dan 2 orang anak kembar, Hugo dan Hana yang masih bayi. Info yang kudapatkan aku mengalami 'kematian' akibat terminum racun yang sebenarnya ditujukan untuk suamiku, karena belum saatnya meninggal maka hal itu tertunda dan seperti yang aku katakan tadi, aku perlu raga Lenka untuk bisa kembali ke kehidupanku yang sebelumnya."
Langit membuka tutup botol minuman mineral dan memberinya pada Helena. "Minum dulu ... Len, ah ... Helena, benar begitu aku memanggilmu bukan?" Ujar Langit.
"Ya." Helena mengangguk pelan.
"Sebenarnya bisa saja aku tetap menjalani misi ini dan menyelesaikannya hingga aku bisa kembali ke ragaku tanpa memberitahukan siapapun tapi aku perlu seseorang untuk membantuku atau minimal menjadi temanku berbagi mengenai hal yang sulit untuk dipercaya ini ... tapi saat ini kondisi sedang tidak baik. Hans suamiku terkena panah beracun dan sedang pingsan, ratu Acasha memintaku memilih tetap menjadi Lenka yang artinya aku akan meninggalkan suami dan anak-anakku selamanya atau kembali ke ragaku, menjadi Helena tapi terancam meninggal dalam waktu dekat. Ratu Acasha bilang misi sebagai Lenka sudah komplit tapi aku harus melakukan misi lain sebagai pengganti agar bisa menyelamatkan suamiku. Lang ...."
"Sebentar, biar aku coba mencerna ... jika kamu memilih kembali ke raga asalmu, apa berarti Lenka ... Lenka juga akan meninggal?" tebak Langit ragu.
"Entahlah tapi apapun itu aku harap kamu siap termasuk untuk kemungkinan terburuk itu, aku hanya diberi waktu 10 hari oleh ratu Acasha."
"Ok, jadi apa misinya?" tanya Langit.
"Itu dia Lang, ratu Acasha tidak memberitahu apa yang harus kulakukan."
"Ya Tuhan, kenapa jadi rumit sekali? Kalau kamu tetap seperti ini ... berarti kamu akan kehilangan suami dan anak-anakmu? Oh, bukan. Mereka yang akan kehilangan kamu maksudmu?"
"Benar, Lang. Aku akan kehilangan mereka dan mereka akan kehilangan aku." jawab Helena.
"Tapi kamu akan mendapatkan aku. Ah, sulit dipercaya ternyata ada dimensi lain dalam kehidupan ini," desis Langit.
"Begitulah. Aku sudah mempersiapkan jika suatu waktu Lenka kembali ke raga aslinya, semua yang terjadi aku tulis dibuku hariannya. Supaya Lenka gak bingung dan kamu bisa membantuku menjelaskan padanya."
"Oh tentu. Terima kasih, Helena. Hm, jadi semua yang terjadi belakangan ini ... seperti keahlian dan juga sikap Lenka adalah karena kamu yang di dalam raganya, kan?"
"Yah, kurang lebihnya begitu, Lang. Secara garis besar aku tinggal menjalani apa yang diminta ratu Acasha melalui misi yang dia berikan, kemudian aku menjalaninya semampuku," lanjut Helena. Ia kemudian menjelaskan secara detail mengenai misi yang telah ia lakukan, bagaimana ia berkomunikasi dengan ratu Acasha, nona Emma dan juga Lenka."
"Ehm, Lang maaf ... aku sempat memanfaatkanku demi menyalurkan kerinduanku pada suamiku," kata Helena malu-malu.
"Eh, maksudmu gimana?" tanya Langit heran, ia gagal memaknai kata-kata Helena.
"Itu ... Lenka keberatan ketika aku bilang aku menikmati saat kamu memeluk dan menciumku," jawab Helena perlahan.
"Haha, it's ok, Helena. Ya, aku faham. Lenka perempuan yang dingin karena dia tidak mencintaiku."
"Aku pikir Lenka bukan tidak mencintaimu, Lang tapi belum atau tidak menyadari kalau dia juga mencintaimu," sanggah Helena.
"Begitu, ya? Menurutku gak masalah, sih. Aduh aku juga bingung mesti jawab apa nih, Helena. Kayaknya aku cocok sama kamu," Langit cengengesan.
Keduanya sempat terdiam seraya memandang langit sore , ternyata pergantian warna keemasan menjadi lembayung senja di persawahan tidak kalah indahnya dengan sunset di tepian pantai.
"Ehm, Helena ... maaf, kalau boleh tahu kenapa kamu bilang sempat memanfaatkanku untuk menyalurkan kerinduanmu kepada suamimu?"
Helena lagi-lagi menunduk. "Aku wanita bersuami ... tentu saja aku rindu kehangatan dan keintiman suami-istri, hihi. Jujur, aku sempat akan membiarkan saja mendapatkan kepuasan batin melalui raga Lenka saat bersamamu."
Langit melongo kemudian terkekeh mendengar polosnya jawaban Helena. "Padahal tidak apa-apa, aku tidak keberatan kok, sama-sama enak ini," sahut Langit iseng
"Ck. Iya. Secara kebutuhan memang gak masalah, sih tapi ... aku tiba-tiba ingat Hans, aku telah rerikat pernikahan jangan sampai karena keinginan sesaat aku jadi mencemari kekudusan pernikahan kami sementara kamu juga akan segera terikat dengan Lenka."
"Apa bisa kutebak kalau ... kamu, sedikit tertarik padaku?" tanya Langit penuh percaya diri.
Helena tersenyum simpul atas perkiraan Langit.
"Atau begini saja, abaikan misi yang ditawarkan ratu Acasha, tetaplah menjadi Lenka. Kita menikah, bukankah artinya kamu tetap bersuami? Jujur saja, aku nyaman dengan Lenka yang adalah kamu saat ini. Gak kebayang kalau Lenka kembali menjadi seseorang sebelum kamu rasuki," ungkap Langit.
"Ish, kamu sudah tahu kebenarannya dan ingin menahanku kembali pada suami juga anak-anakku, jangan gila Lang, akan tidak adil bagi Lenka juga Hans," sahut Helena seraya memukul ringan lengan Langit.
"Haha ... aku serius, Helena. Sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu, aku tidak ragu hidup dengan wanita yang berpengalaman sepertimu," puji Langit.
Helena menatap lekat manik mata Langit, "Aku juga serius, Lang ... kecuali jika takdir yang menggariskan demikian dan kita gak kuasa menolaknya. Inikan kita sudah tahu dan sadar akan akibatnya jika ..."
"Baiklah. Aku mengerti, Helena," sambar Langit yang seketika membuat Helena lega.
"Ayo ikut aku,"ajak Langit.
"Kemana?"
"Nangkap belut, seperti yang dilakukan anak-anak itu." Langit menunjuk anak-anak yang sedari tadi asyik mengorek tanah persawahan.
"Hah?" Helena terperangah tapi tak kuasa menolak ajakan Langit. Lelaki ini lagi-lagi memberinya pengalaman yang tidak pernah ia alami saat masih berada di kerajaan Hanover Raya.