Lenka's Dish

Lenka's Dish
17



"Lenka, nih abangmu mau ngomong." Kata pak Kasan mengangsurkan ponselnya untuk Lenka.


πŸ‘§(Lenka)


πŸ‘¦(Legawa)


πŸ‘¨ (Pak Kasan)


πŸ‘§ : Haiiii broda.. apa kabar lama ga jumpa


πŸ‘¦ : Hai lil sista, kabar baik. Issshhh denger-denger mau jadi manten. Cieeeeeh


πŸ‘§ : Nanti abang datang ya ke acaraku, harus!


πŸ‘¦ : Abang ga janji ya, dek. Dibolehin apa ga sama pimpinan.


πŸ‘§ : Nanti Lenka nitip sesuatu ya buat pimpinan abang yah, biar abang diizinin


πŸ‘¦ : Apaan dek, jampi-jampi ya?


πŸ‘§ : Heisss sembarangan emak adek dukun? Nitip ubo rampe, bang.


πŸ‘¦ : Yaelaah, dek. Emang pimpinan abang jenis demit dikasi sajen segala?


πŸ‘§ : Minta alamat abang ya, beneran lho ini.


πŸ‘¦ : Issshh, manis banget sih adeknya abang.


πŸ‘§ : Dah, ga boleh ngerayu calon bini orang bang , haha.. Bang, lanjut ngobrol sama bapak ya. Lenka ada kerjaan. Mmmuuuaaacchhh..


πŸ‘¦ : Haha.. Ya udah mana bapak?


πŸ‘¨ : Gimana adekmu, Legawa? (membawa ponsel menjauh dari Lenka)


πŸ‘¦ : Bapak benar, Lenka sudah kembali ceria seperti sebelum kejadian itu. Legawa jadi makin rindu, ingin pulang ke situ, pak.


πŸ‘¨ : Pulanglah nak, bapak ingin keluarga kita berkumpul lagi seperti dulu walau cuma sebentar


🌻🌻🌻


Keesokan harinya pak Kasan terbangun oleh aroma yang tidak biasa.


Helena sedang asik menyanggrai biji kopi dengan campuran kayu manis dan jahe.


"Pagi, nak. Bikin apa?"


"Kopi untuk Lenka kirimin ke bang Legawa." Jawab Helena.


Helena menaruh biji kopi yang sudah dihaluskan ke dalam dua wadah tertutup.


Kemudian dia membuka kulkas dan menemukan ikan roa juga tempe disitu. Aha..


"Pagi pak, apa kabar?" Sapa Langit sambil hidungnya mengendus wangi enak dari dapur.


"Pagi nak Langit. Ayo langsung ke belakang, sepertinya Lenka sudah selesai bikin sarapan." Balas pak Kasan.


"Pagi honey, lapar nih." Langit menyapa Lenka dengan kecupan mesra.


"Ih, sayang apaan sih, malu tau ada bapak juga."


"Jadi kalau bapak ga ada, ga malu dicium pagi-pagi?" Bisik Langit.


"Banyak amat nih laukya, kaya mau ada acara aja." Kata pak Kasan.


"Hehe.. Lenka bikinin kering tempe kacang sama sambal roa, pak. Nanti kalau sudah dingin sebagian Lenka masukin ke toples trus dipaketin ke bang Legawa juga bosnya. Ayo sarapan dulu."


Ketiga orang itu menikmati sarapan nasi hangat dengan lauk kering tempe-kacang, sambal roa, irisan timun dan jus wortel buatan Lenka.


"Sayang, nanti sebelum ke kampus anterin Lenka ke J*E ya, Lenka mau kirim paket buat bang Legawa."


🌻🌻🌻


Dikampus, Helena mengajukan judul skripsinya, agar segera di proses. Harapannya selesai ujian semester bisa langsung memulai penelitian dan menyusun skripsi.


"Kejar tayang nih, Len." Ujar seseorang.


Helena memandang perempuan yang berbicara dengannya. Latiefa/Fafa teman baik Lenka sejak semester 1. Fafa yang biasa bergantian dengan Langit menjaga Lenka sewaktu koma. Fafa baru muncul di kampus karena pulang kampung selama beberapa hari, ayahnya sakit. Sistem memberitahu Helena.


"Hemm.. Aku lama ga masuk kuliah Fa, jadi banyak tertinggal. Banyak yang harus dikejar biar cepat selesai.


"Ah, aku juga lama ga masuk kuliah Len, bapak sakit. Ga ada yang membantu ibu mengurus ternak bebek kami dan adik-adikku. Bersyukur sekarang keadaan bapak sudah membaik dan sekarang aku bisa meneruskan kuliahku, ujian proposal dan kembali lagi ke desa untuk penelitian."


"Syukurlah kalau bapakmu sudah baikan."


"Iya. Kamu beneran sudah pulih Len?"


"Iya, sambil proses sih ini. Fa, ketika kamu pulang kampung, ada kejadian yang membuat aku harus kehilangan bayiku trus aku dikuret untuk membersihkan jaringan yang tertinggal.


Mata Fafa terbelalak.


"Kok baru kasih tahu sekarang? Tapi kamu sudah ga apa-apa kan? Baguslah, itu kan kamu hamilnya karena diperkosa jadi sebenarnya ga apa-apa kalau.. Emmm, kamu sama Langit, gimana? Kayaknya sekarang kamu sering diantar jemput sama dia."


"Baik, kan aku baru sembuh jadi.. Yah, daripada dia khawatir, aku mau aja di antar jemput sama calon suamiku itu."


"What, calon suami? Kamu serius, bukannya kamu bilang, mau putus sama dia?"


"Aku berubah pikiran, setelah apa yang sudah dia lakukan untukku selama ini."


"Baguslah, kalau ga kan.. Aku bisa permisi buat nikung, hihi."


"Ah, kamu bisa aja Fa. Habis ini kamu masih ada kelas ga? Nanti pulang kuliah ikut aku pulang ke rumah ya. Kita masak-masak.


"Ga ada, aku cuma masuk 1 kali sama ngajuin judul skripsi hari ini."


"Wah.. sama dong. Yuk ya, kita makan bareng bapak sekalian.


"Tapi sebelum ke rumahmu kita ke toko buku ya, nyari bahan referensi buat penelitian, sepertinya tinjauan pustaku masih belum cukup."


"Ok, sekalian aja nanti."


Hmm.. ga biasanya Lenka ngajak main ke rumahnya, ngajak makan sama bapaknya pula. Biasa juga kalo aku main ke rumahnya paling banter duduk di teras, itu juga ga lama. Ini apa gegara koma itu ya, udahnya jadi rada bener. Ga jutek dan tertutup lagi. -Batin Latiefa.


"Lenka, apa segala sesuatunya benar baik-baik saja?"


"Maksud mu?"


"Ah, tidak. Tidak apa-apa, mungkin hanya perasaanku saja. Kamu seperti orang yang baru kukenal, hehe."


"Anggaplah seperti itu, tapi aku masih sahabatmu lho." Sahut Helena kalem.


Baru Helena menyadari indahnya memiliki sahabat yang begitu saja dapat mendukung juga mengkritiknya apa adanya. Di Hanover Raya, Helena biasa dihormati dan diutamakan saja. Mungkin para dayang juga bisa mengkritiknya tapi tetap saja dengan penuh kehati-hatian dan rasa sungkan, takut jika sedikit saja menyinggung perasaan junjungannya maka mereka dan keluarga akan menanggung akibatnya.


Helena tersenyum.


Masa dan tempat berbeda, tentu saja masing-masing punya cerita, ciri khas, masalah dan solusi yang berbeda juga.


Tapi hidup di dunia Lenka asik juga. Batin Helena.


Ah, tidak. Aku tidak mau terus terperangkap di sini, di tubuh Lenka. Aku punya Hans, juga Hugo dan Hana. Lenka juga begitu, dia punya kehidupannya sendiri. Ratu Acasha, kapan semua ini akan berakhir dan kembali baik-baik saja seperti semula?


Aku bukannya lelah, hanya saja waktu terasa begitu lambat berlalu. Di dunia Lenka semua tampak begitu rumit. Banyak masalah, banyak hal yang perlu di pikir dan dilakukan oleh seseorang. Sementara di istana, semua sudah berjalan sistematis. Satu-satunya yang tidak boleh dilakukan orang lain hanyalah urusan pribadi dengan Hans. Ah, tidak juga sebenarnya. Jika aku membolehkan dan Hans juga menginginkan, tugas yang satu itu pun bisa dilakukan oleh selir, bahkan tidak hanya oleh satu selir saja.


Wah, apakah keadaan tubuhku yang tidak berdaya itu membuat Hans mencoba melampiaskan pada para selir?


Helena sedikit khawatir, walaupun sebenarnya sah-sah saja tapi kok rasanya ga rela harus berbagi kehangatan Hans dengan wanita lain.