
"Hai, apa yang kau lakukan, ratu kesayanganku?" Tanya Hans sambil memeluk Helena dari belakang dan mengecup pundaknya.
"Memasak, spesial untukmu dan anak-anak, honey." Jawab Helena.
"Kamu yakin? Ck, apa gunanya kita memiliki pelayan kalau kamu turun sendiri ke dapur seperti ini, nanti kamu lelah sayang"
"Rajaku, sesekali aku ingin melayani keluargaku dengan tanganku sendiri. Anggaplah ini hari spesial."
"Hm.. Aromanya enak, aku tidak sabar menyantapnya. Apa masih lama ?"
"Sebentar lagi, honey. Bersiap-siaplah, kita dan anak-anak akan mengunjungi mama papa dan bersantap di sana."
Usai mengemas masakannya, Helena dan keluarga pergi ke tempat mama Agnes dan papa Arion melewati hari-hari mereka sebagai rakyat jelata.
Helena bahagia menikmati kebersamaan dengan keluarganya. Melihat sepasang bocah kembarnya yang berlari berkejaran menapaki jalan menuju rumah kakek dan neneknya dengan gembira.
Entah berapa fase yang kulewati hingga saat ini, tau-tau mereka sudah sebesar ini. Menggemaskan. Batin Helena.
"Jaga langkahmu, sayang. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kandunganmu, apa kamu mau aku gendong?" Tanya Hans sambil menggandeng tangannya.
Kandungan? Jadi aku sedang hamil? Pelan Helena mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
"Masakanmu lezat sekali, nak. Apa tidur panjang telah membuatmu pintar mengolah makanan? Bahkan koki istana belum pernah membuat hidangan seenak ini." Ujar permaisuri Agatha dengan mata berbinar bahagia.
Helena tersenyum mendengar kata-kata ibu mertua yang memujinya.
"Nenek benar, mom.. Hana suka yang ini, manis dan lembut apa namanya ini supaya kapan-kapan aku boleh minta bikinkan lagi sama momy."
"Owh, tentu saja sayang itu namanya puding caramel, habiskan ya." Jawab Helena.
Sementara Hans sedari tadi hanya mampu menikmati makanan itu tanpa suara dengan pandangan takjub yang tidak lepas dari Helena.
Ah, Hans selalu membuatku hatiku berbunga-bunga dengan menatapku seperti itu. Batin Helena.
Tokkk.. Tokkk
Ketukan pelan dan berulang itu cukup menggugah Helena dari mimpi indahnya.
Mimpi yang terasa nyata itu cukup mengobati kerinduannya terhadap Hans, Hugo, Hana dan kedua mertuanya. Its so nice, thanks ratu Acasha.
"Lenka, bangun nak. Kamu tidak ke kampus hari ini?"
"Lenka, apa kamu baik-baik saja nak?" Ujar Pak Kasan berusaha membangunkan Helena.
"Lenka...?"
" I.. Iya pak, sebentar hoooaammm." Jawab Helena sambil menguap dan menggeliat malas.
Helena perlahan bangun dari tidurnya, melihat jadwal kegiatannya hari ini lalu mandi dan bersiap-siap.
Ketika dia keluar dari kamarnya, tampak bapak sedang berbincang dengan Langit sambil minum kopi hitam
"Hushhh, tamunya baru juga nyampai sudah ditanya bawa apa, jangan didengerin Lang." Ujar pak Kasan.
Langit terkekeh.
"Kita nyari sarapan di luar aja, nanti pulangnya langsung ngantar kamu ke kampus gimana ?" Tawar Langit begitu melihat kekasihnya sudah cantik, rapi dan wangi.
"Ayo, lets goooo." Sambut Helena gembira.
π»π»π»
Wow.. Helena terkagum-kagum ketika mereka bertiga memasuki resto dengan elemen rustic elegan yang instagramable.
"Baru kali ini aku mengajakmu ke sini ya, sayang. Sajian legendaris dari resto ini yang buat bruch sih tapi karena jam bukanya dari jam 6, ada juga menu yang emang cocok buat sarapan. Ayo pilih menu-nya sayang, sekalian melatih taste-mu dalam memasak. Ujar Langit.
Helena masih kagum sama desain resto itu dan menyerahkan pilihan menu sarapannya kepada Langit.
"Konsep desain resto ini khas dari Denmark, disebut Hygge yang dalam bahasa Denmark, berarti suatu perasaan yang menggarkan rasa puas dan nyaman."Terang Langit seolah mengerti penasaran Helena.
"Owh, gitu." Jawab Helena singkat.
"Dan yang terpenting ini tempatnya ga jauh sama kampusmu, cuma 15 menit dari sini. Kalau kamu suka, lain kali kita bisa sering-sering ke sini"
Pelayan datang menghampiri mereka mengantarkan pesanan. Segera tersaji Hamburg Steak dengan poached egg dan grill vegetable dilengkapi cheese super creamy. Ada the rising sun, menu pilihan Langit yang lebih cocok untuk brunch. Satu hidangan ala English breakfast berisikan roti panggang, telur, sosis, jamur panggang, daging asap, potongan buah dan cokelat hangat. Dan sebagai dessertnya ada stone cake dengan campuran rasa pisang dan coklat, berbentuk seperti batu namum lumer di mulut seperti es krim.
"Naaah, sengaja aku pilih beda-beda menu-nya biar bisa saling mencicipi." Ujar Langit lagi.
"Waaahhh.. tempatnya kayak gini, makanannya juga kayak gini, pasti mahal nih." Celetuk pak Kasan sambil memilih-milih hidangan untuk dimakannya."
"Ah, ga juga pak. Ga apa-apa kan sekali-kali. Siapa tahu ke depannya kita punya rejeki untuk membuka usaha resto, jadi Lenka harus punya referensi. Lagian hari ini istimewa karena 3 tahun kita jadian, ya kan sayang ?" Jawab Langit.
"Uhukkk.. Ja.. jadian? " Helena yang sedari tadi antusias dan asik sendiri menikmati menu baik yang dari plate Langit maupun pak Kasan terkejut mendengar kata-kata Langit barusan.
Langit hanya tersenyum, tidak heran melihat reaksi Lenka yang melupakan tanggal jadian mereka.
Bisa dibilang hubungan mereka semi dijodohkan karena Pak Surya, ayah Langit bersahabat karib dengan pak Kasan.
Mungkin hanya sekedar tidak ingin mengecewakan orangtua sehingga Lenka mau saja menerima cinta Langit, sehingga kentara jika Lenka seolah terpaksa berpacaran dengannya.
"Ma.. Maafkan aku, sayang. Lain kali ku akan pasang di alarmku."
Dalam hati Helena merutuk, bisa-bisanya Lenka melupakan hal sepenting itu.
"Ah, tidak perlu honey. Sebab ini akan jadi hari jadian yang terakhir.."
"Maksudmu.. ? Kamu marah, karena aku melupakan hari jadi kita?" Tanya Helena.
"Karena akan ada hari spesial yang lebih penting dari hari jadi kita pacaran." Jawab Langit datar.
Pak Kasan yang paham maksud Langit hanya senyum-senyum melihat interaksi anak dan calon menantunya.