
Memang salahku yang tak pernah bisa, melupakan dirinya 'tuk bersama kamu.
Terbersit rasa bersalah dipikiran Langit, alasannya tidak menemani Lenka menemui dosen karena ada perlu dan keperluan yang dia maksud tadi adalah ingin menemui Mayleen, bagaimana lagi?
Sudah lama Langit mencari Mayleen yang menghilang bagai ditelan bumi. Putus harapan Langit, membuatnya berusaha menerima tawaran dari orangtuanya untuk mendekati seorang gadis baik sedikit jutek, yaitu Lenka putri sahabat ayahnya.
Takut kesempatan tidak datang dua kali, Langit memutuskan untuk meninggalkan Lenka sejenak demi menyelesaikan urusannya dengan Mayleen.
Langit memarkirkan mobilnya di posisi agak tersembunyi tapi masih leluasa mengawasi Ola Voila dan menunggu Mayleen yang baru keluar dari resto setelah lebih dari 1jam.
"May.." Panggil Langit
Mayleen malah mempercepat langkahnya menjauhi Langit.
"May, tunggu. Kita harus bicara, kamu telah meninggalkanku begitu saja. Aku perlu alasan, May." Langit berlari kecil mengejar Mayleen.
"Dengar May, bahkan hatiku masih berdebar kencang ketika di dekatmu. Kemana saja kamu selama ini?"
"Jangan mengada-ada Lang, bahkan kamu sudah memiliki gadis itu."
"May.. katakan apa salahku hingga kamu meninggalkan aku begitu saja."
"Lang, aku tidak tau kalau kamu ada di kota ini dan aku tidak menyangka akan semudah ini bertemu denganmu. Asal kamu tahu, alasanku pergi dan mungkin bertemu kembali denganmu hanya karena 1 hal."
"Kita cari tempat yang enak buat ngobrol, ya May." Ajak Langit yang melupakan janjinya untuk menjemput Lenka.
Flashback 5 tahun yang lalu.
Langit dan Mayleen adalah sepasang kekasih. Mereka sama-sama menempuh pendidikan di Singapura. Beda kampus, beda angkatan dan beda jurusan. Mereka bertemu di acara perkumpulan mahasiswa asal indonesia dan baru tahu kalau mereka tinggal di apartemen yang sama. Demikianlah singkatnya awal pertemuan mereka.
Orang tua Mayleen tidak suka sama Langit. Karena menurut mereka, Mayleen, putri mereka yang cantik, pintar dan berbakat haruslah berjodoh dengan pria konglomerat. Bukan dengan lelaki yang hanya bisa kuliah di luar negeri karena beasiswa.
Langit dan Mayleen tidak peduli akan hal itu. Bahkan semakin menjadi-jadi melampaui batas. Mereka yang tadinya hanya berada 1 gedung apartemen tapi beda lantai kemudian memilih untuk tinggal bersama.
Langit bertekad akan membahagiakan kekasihnya dan tentu saja akan memanjakan pujaannya itu dengan harta yang berlimpah nantinya.
Hingga pada suatu ketika, Mayleen melupakan sesuatu sehingga dia hamil. Merasa kurang yakin dengan alat tes kehamilan, Mayleen ke klinik kandungan untuk memastikan kehamilannya. Penggunaan pencegah kehamilan membuat hormonnya terganggu dan haid tidak teratur, jadi dia pikir hanya terlambat biasa saja.
Mayleen bahagia ketika melihat sosok mungil sebesar kacang mete dan mendengar degub jantungnya janin yang berusia 10 minggu itu.
Ah, sayang sekali Langit masih sibuk dengan survey-nya. Mayleen menaruh print out usg beserta foto perutnya yang tidak terlalu rata lagi dibagian bawahnya ke dalam amplop dan menuliskan 'ga sabar nunggu dia ada diantara kita 7 bulan lagi' kemudian dia bubuhi emoji hati beserta tanggal dia membuat tulisan itu. Kemudian Mayleen menutup amplop itu dan menyelipkannya di salah satu buku milik Langit.
Sayang, cepat pulang aku punya kejutan untukmu. Liat buku cover biru di nakas.
Pesannya untuk Langit.
Mayleen menyiapkan makan malam spesial sambil bersenandung membayangkan bagaimana ekspresi Langit ketika tahu dia akan menjadi ayah. Walaupun tidak terduga, Mayleen yakin Langit sangat menginginkan anak ini. Setidaknya, karena tidak lama lagi studi Langit akan selesai dan pulang ke Indonesia, Mayleen punya sesuatu untuk mengikat Langit, anak ini.
Mayleen mendengar langkah kaki masuk tanpa mengetuk pintu. Pasti..
"Katakan, apa yang kau lakukan di klinik kandungan?" Suara itu menghenyakkan Mayleen.
"Mama.. Apa yang membuat mama ke sini?" Tanya Mayleen.
"Ga usah basa-basi, aku tau semua." Jawab mama Mayleen.
"A.. Aku hamil, ma. Bagaimana mama bisa tau kalau aku ke situ ?"
"Aku selalu mengawasimu, anak nakal. Tinggalkan pria itu, atau kamu tidak akan pernah melihatnya lagi dalam keadaan hidup."
Hari itu juga Mayleen ikut mamanya pulang ke Indonesia dan hari itu juga Mayleen mendapat kabar bahwa Langit kecelakaan parah.
"Mama.. Jangan sakiti Langit, bagaimanapun dia ayah dari anak yang aku kandung."
"Aku tau yang terbaik untukmu, nak."
π»π»π»
"Siapa nama anak kita dan bolehkah aku menemuinya?"
"Anak lelakiku bernama Rigel, usianya 4 tahun. Dia menderita thalasemia, harus transfusi darah seumur hidupnya kecuali mendapatkan donor.."
"Aku bersedia, aku akan melakukan apapun yang terbaik untuk anak kita." Jawab Langit cepat.
"Bagaimana dengan gadis itu, apa dia akan mengerti ?"
"Aku akan berbicara dengannya, bahkan jika harus membatalkan rencana pernikahan kami, aku akan.."
"Tidak, aku tidak mau kamu mengorbankan orang demi kami."
"Di hari seharusnya aku bahagia mendapat kabar mengenai kehamilanmu, pulang survey aku kecelakaan parah, koma 6 bulan dirumah sakit lanjut terapi untuk mengembalikan fungsi fisikku seperti sedia kala. Untung saja pihak penabrak bersedia membayar segala biaya bahkan memberiku modal usaha. May, aku sudah mencarimu kemana-mana, tapi.."
"Ah, Langit. Maafkan aku. Maafkan keluargaku. Semua dibawah kendali mamaku." Potong Mayleen.
"Maksudmu?"
"Mama sengaja mau memisahkan kita, ketika mama tau aku hamil.. Keberadaanku juga sengaja disembunyikan rapat-rapat dari kamu. Setelah melahirkan aku sempat dipisahkan dengan Rigel, lalu aku menikah dengan lelaki pilihan mama. Sementara Rigel dititipin di panti asuhan. Usia 9 bulan Rigel sakit-sakitan, pihak panti menghubungi papa dan syukurlah aku boleh merawat anakku, meskipun awalnya aku harus berpura-pura mengadopsinya. Lang, aku tahu bagaimana mamaku. Aku malas berdebat yang kupikirkan waktu itu hanyalah keselamatanmu dan bayi kita. Aku ikuti rencana mama, sambil berharap kemudian hari kita bisa memperjuangkan cinta kita. Mamaku ada dibalik kecelakaanmu, termasuk si penabrak yang baik hati itu adalah orang suruhan mama, Lang."
Langit mematung.
"Aku.. aku akan datang menemui mamamu untuk meminta restunya."
"Tidak bisa, Lang."
"Aku akan memohon padanya, May."
"Tidak bisa, Lang. Kamu pikir kenapa aku sampai harus melamar pekerjaan di resto ? Usaha keluargaku bangkrut akibat ulah lelaki pilihan mamaku itu.
Lelaki sialan yang menjadi suamiku itu ternyata juga menjalin hubungan dengan mamaku. Dia habis-habisan telah menipu mamaku. Mamaku depresi lalu bunuh diri. Lalu kami yaitu aku, Rigel, papa dan juga orang kepercayaan papa yang kemudian menikahiku pindah ke kota ini, memulai hidup baru buka kios roti di sini sambil mengobati Rigel, aku.. Walaupun suamiku bekerja, aku berusaha mencari tambahan sebab perlu banyak biaya untuk pengobatan Rigel."
"Kamu tahu, bukan kebetulan kita bertemu. Aku akan ambil bagian dalam pengobatan Rigel. Jangan menolak, Rigel juga anakku" Ujar Langit.
π»π»π»
Ratu Acasha tersenyum melihat tampilan di dinding istananya.
"Bagaimana menurutmu nona Emma?"
"Mengharukan sekali, ratu. Kalau saya jadi Lenka, biarin aja si Langit balikan sama mantannya dan mending jadian sama sama Arnold deh."
"Begitu ya? Kalau takdir menuliskan sih.. sebenarnya Mayleen belum saatnya bertemu dengan Langit.
"Ah, lalu kenapa kenyataannya seperti itu ratu?"
"Aku mau lihat aja bagaimana Helena mengambil keputusan. Dan aku tidak akan mempengaruhi suasana hatinya." Ujar ratu Acasha.