
Helena memandang tampilan fisik serta pakaian yang digunakan Lenka.
Hm... gadis ini sangat sederhana ujarnya.
Helena memperhatikan baju-baju di lemari Lenka serta mematut-matutkan beberapa pakaian yang tergantung itu denganhya
Pakaian orang-orang dimasa ini berbeda dengan yang digunakannya lebih simple. Ga seberat yang digunakannya. Bahkan Lenka tidak memiliki satupun gaun seperti punya Helena.
Kasihan sekali. Sementara di kerajaan, tiap hari Helena memakai gaun yang berbeda. Eh, Lenka justru ga punya.
Helena membuka bagian laci dari lemari pakaian itu.
Hmmm.. pakaian dalam. Satu per satu Helena melihat, meneliti dan menerawang pakaian dalam itu satu per satu. Bra, celana dalam, korset, berenda ada yang polos aneka warna dan motif. Ah lucu, ternyata pakaian dalam Lenka bagus-bagus. Seandainya bisa aku juga mau punya seperti ini di kerajaan, hihi. Batin Helena.
Lalu dengan pelan Helena mengelus perut Lenka yang masih rata karena naru 4minggu kehamilan.
"Hai baby, apapun alasannya kamu harus bertumbuh dengan baik disitu, aku akan memelihara dan menjagamu meskipun ibumu tidak begitu menginginkanmu." Gumamnya.
Mengingat dulu dia tergolong dia susah hamil, Helena merasa gadis yang dia gunakan tubuhnya ini tergolong beruntung dapat mudah hamil secepat ini.
Wuuussss...
Tiba-tiba nona Emma muncul dengan santai dan duduk dihadapannya.
"Hai Ratu Helena, bagaimana rasanya berada di tubuh Lenka ? Apa kamu senang?" Tanyanya.
"Tentu saja, berada ditubuh dan dimensi lain serta hasil akhir yang akan kuraih membuatku bersemangat." Balas Helena tersenyum.
"Baguslah. Helena, kamu harus belajar cepat menyesuaikan dirimu dengan kebiasaan Lenka, termasuk juga belajar menggunakan barang-barang Lenka." Termasuk benda ini, tunjuk nona Emma.
"Apa itu?" Helena penasaran.
"Ponsel. Alat buat berkomunikasi dengan orang lain. Nanti sistem akan mengajarimu cara menggunakannya."
"Ehm.. apa kita bisa berkomunikasi dengan alat ini? maksudku aku denga kamu dan ratu Acasha juga.. Alatku berbicara dengan Hans, suamiku?
"Huahaha.." Nona Emma hanya menjawab dengan tawa yang menggelegar.
"Helena, alat ini dirancang khusus untuk komunikasi saat ini saja. Ga bisa untuk komunikasi antar dimensi. Oh ya. Ratu Acasha ingin kamu ke kampus dan bantu menyelesaikan studi Lenka."
"Apa, kampus? menyelesaikan studi, maksudnya?"
Helena tidak mengerti apa itu kampus dan studi. Dulu dia hanya belajar secara private, dengan guru pembimbing yang didatangkan ayahnya ke istana secara bergantian. Bisa membaca, menulis berhitung saja sudah cukup, selebihnya dia belajar tentang bagaimana menjadi putri yang baik serta memanajemen kerajaan dan strategi perang alakadarnya saja.
"Berbeda dengan saat kamu di kerajaan dulu, di sini tersedia tempat kegiatan belajar-mengajar yang dinamakan sekolah. Sekolah ada tingkatannya, dan kampus adalah tempat menuntut ilmu tingkat atas, siswa yang belajar disebut mahasiswa dan yang mengajar disitu dinamakan disebut dosen. Nanti kamu tahu sendiri, deh, kan sistem secara langsung akan memberitahu untukmu." Terang nona Emma.
Helena mengangguk sambil berpikir. Ragu-ragu.
"Begitu ya. Hm.. apa aku bisa, aku kan bisanya cuma membaca, menulis dan berhitung saja yah istimewa sedikit cuma ilmu kepanduan putri kerajaan. Lantas, apa ga akan berpengaruh sama kandungan Lenka ? Dulu waktu aku hamil, terbatas sekali kegiatanku karena menurut tabib istana, kehamilanku rentan sekali." Tanya Helena Lagi.
"Tentu saja tidak masalah, Helena. Kamu bersyukur karena dikaruniai otak yang encer. Hanya saja, karena kamu hidup di dalam kungkungan istana yang mana sistemnya kamu dilayani, segala sesuatu mudah tersedia untukmu, makanya kamu jarang berpikir keras. Berbeda dengan Lenka, banyak hal yang dia lakukan dan pikirkan. Sehingga otaknya aktif bekerja hanya saja sering ga fokus, baik sama studi, kerjaan juga percintaannya.
"Baiklah nona Emma, aku mengerti. Dan apa yang menjadi misi ke duaku?"
"Ya, menyelesaikan studi bagi Lenka. Hanya karena ini sifatnya jangka panjang, kamu tidak bisa segera mendapat point dari misi ini. Aku menawarkan, bagaimana jika kamu mengerjakan misi ini sambil mengerjakan misi berikutnya agar pointmu segera bertambah."
"Memangnya menyelesaikan studi bagi Lenka ini berapa lama?
"Kalau rajin sih 1 semester, 6 bulan lagi selesai. Kalau sangat rajin bisa lebih cepat dari itu, kalau malas ya ga tau deh.
"Baiklah, keep untuk kisi ke 2 ini ya nona Emma dan aku akan mengambil tugas untuk misi ke tiga." Tegas Helena.
"Good, Helena. Nah, sekarang silahkan memilih salah satu gulungan kertas ini."
"Aimee. Waktu 3x24 jam. Point 1000."
Demikian tulisan yang tertera dikertas itu.
Melihat dahi Helena berkerut membuat nona Emma merasa geli.
"Ratu Helena, apa kamu ingat salah satu kandidat yang ingin kamu pilih waktu itu ada seorang gadis berumur 7 tahun sedang koma ?" Tanya nona Emma.
Helena mengangguk pasti karena dia memang masih ingat dan lebih-lebih karena tergiur melihat jumlah point yang akan didapat.
Entah berapa misi yang akan diselesaikannya dan berapa point yang harus dikejarnya. Yang pasti Helena tahu, dia harus melakukan tugas sebaik-baiknya.
"Nah, sedikit kilas balik ke sebelum kejadian dia mengalami koma. Orang yang berperan menyelamatkan Aimee adalah Lenka."
" Jika Aimee sudah diselamatkan Lenka, terus apa yang yang bisa kulakukan demi mendapat point dari Ratu Acasha ? Selidik Helena.
Nona Emma hanya tersenyum simpul.
Pergilah ke wilayah utara, tepatnya ke SD Tunas Harapan 1 Jalan Pinus 03. Waktumu 3x24 jam mulai dari sekarang Helena
Wushhhh...
Nona Emma sekejap hilang persis seperti kedatangannya tadi.
π»π»π»
"Sayang, kamu darimana saja? Terimakasih makan siangmu spesial banget." Tanya Langit yang baru melihat kemunculan Lenka.
"Ehm.. aku beres-beres di kamar, Lang." Jawabnya khawatir kalau Langit mendengar percakapannya dengan nona Emma tadi.
"Aku ke sini berniat untuk melihat keadaanmu, makanya aku sempatin mampir. Ga taunya di perjalanan sebelum tiba dirumahmu, aku melihatmu sedang memanjat pohon. Aku khawatir sekaligus senang.
Khawatir terjadi apa-apa denganmu, juga senang ternyata kamu baik-baik saja." Jelas Langit.
"Terima kasih ya, Lang."
"Hm.. Apa nama masakanmu tadi. Enak banget, jadi susah pengen nambah terus, hihi."
"Oh itu, cuma gulai ikan tuna sama sayur bening bayam jagung manis, enak ya ?"
"Enak banget sayang, juara deh. Jadi pengen tiap hari makan di sini."
"Bisa aeee, bilang aja mau makan gratisan." Canda Lenka.
Langit benar-benar heran dengan sikap Lenka sepulang dari rumah sakit. Gadisnya ini biasanya jutek dan cuek. Sekarang, bisa ngajak becanda dan memanggilnya 'sayang'. Apa mungkin karena hormon kehamilannya?.
"Hehe, tau aja. Tapi bener lho disuruh bayar juga ga apa-apa, mulai sekarang aku kasi uang belanja mau ya sayang. Atau nanti setelah kamu wisuda, kamu ga usah kerja tapi kita buka rumah makan, gimana ?" Usul Langit.
"Baru dimasakin gulai tuna sama sayur bening aja dah mau rumah makan. Ada-ada aja haha."
"Beneran sayang, kamu kan biasanya paling banter bikinin dadar telor aja itupun kalo ga gosong ya keasinan, kalo ga ya dua-duanya, masak aer aja sering gosong." Timpal Langit membuat Lenka mencebik.
"Masa segitunya sih aku, Lang ?"
"Hehe.. Emang gitu kok, lupa ? Oh iya, bapak hari ini boleh keluar dari rumah sakit. Kamu beresin kamar buat bapak ya, nanti biar aku aja yang jemput bapak."
Bapak ?
Helena berpikir keras berharap mendapat info tentang bapaknya Lenka.