Lenka's Dish

Lenka's Dish
10



Jean dengan cekatan membagi masing-masing ke 4 hidangan itu dalam beberapa porsi.


Karena Lenka memasak dalam jumlah yang banyak, cukup untuk 11-12 orang, tiba-tiba saja Jean punya ide untuk menikmati olahan itu bersama seluruh pekerjanya.


Ya, kapan lagi Jean bisa ber-akrab ria sama orang-orang Ola Voila? Supaya mereka ga cuma taunya kerja aja, tapi juga menikmati apa yang sudah mereka berikan untuk resto ini dengan sepenuh hati.


Beberapa orang pelanggan yang kebetulan sedang menikmati makan malampun kebagian mencicipi olahan khas Thailand ala Lenka meski dalam porsi kecil, free sebagai sampel.


Tidak lupa Jean menyertakan kertas kecil bagi pelanggan menulis nilai, untuk mengetahui tingkat kepuasan atas hidangan tersebut.


"Inge, kita tutup lebih cepat malam ini. Tolong balikan tulisan open menjadi closed di depan pintu ya."


"Bagas, Arif, Dani, tolong siapkan meja di garden tempat kita makan bersama."


"Chef Alice Morel dan chef Benjamin Sinaga, tolong buatkan hidangan spesial untuk makan malam beserta minuman ringan yang segar buat kita, ya."


Titah Jean, kepada beberapa pegawainya.


"Apa hari ini begitu spesial nyonya, kok kaya ada perayaan ?" Tanya Chef Alice Morel.


"Ya, hari ini sangat spesial. Bukankah kita sudah lama tidak makan bersama ?" Balas Jean.


Hmm.. sudah lama aku tidak melihat nyonya Jean tersenyum bahagia seperti ini, batin Alice.


🌻🌻🌻


Jean, Helena, Langit, chef Alice Morel, chef Benjamin Sinaga beserta 15 karyawan lainnya sudah menyantap hidangan spesial yang tersedia di depan mereka.


Tiiiinggg


Alarm oven berbunyi.


"Oh, aku hampir melupakan sesuatu." Helena menepuk keningnya dan berlari kecil ke ruang masak.


Ia mengeluarkan paha bebek panggang dari oven lalu menyusunnya di piring dengan potongan lemon tipis di sekelilingnya dan membawanya ke meja untuk dinikmati bersama.


"Confit de canard ?" Ujar chef Alice dan chef Benjamin bersamaan sambil berpandangan.


"Ya, aku harap rasa-nya benar seperti confit de canard sesungguhnya." ujar Helena.


"Ah, sudah lama menu ini kami kosongkan dari daftar, karena hanya chef Marie Blanc yang bisa mengolahnya dengan khas." Ujar Jean terharu.


Langit tidak tinggal diam. Tentu saja dia asik mengabadikan moment pesta dadakan itu.


Walaupun sudah lapar, Langit terus memoto dan membuat video resto dari tiap sudut. Chef yang sedang sibuk memasak. Juga interaksi Jean dengan para pekerja di Ola Voila resto.


Tidak lupa memotret beberapa hidangan berupa makanan, minuman dan dessert olahan chef Alice dan chef Benjamin.


Cheseeee.. !


Jepret.. Jepret.. Jepret..


Dan merekapun larut berbaur dalam kebersamaan


"Teman-teman, saya punya kabar.." Cetus Jean tiba-tiba usai menikmati hidangan makan malamnya.


Hening.


Masing-masing penasaran dengan hal yang akan disampaikan Jean.


"Ola Voila resto akan tutup.."


Masih hening. Tampak para pekerja menahan nafas, sambil bertatapan satu sama lain.


"Yaaaah.. nyonya, kok begitu?" seperti koor suara para pekerja-nya mengeluh.


"Ya, Ola Voila resto akan saya tutup mulai besok." Lanjut Jean lagi sambil menunggu reaksi pekerjanya.


"Yaaaah.. nyonya, kok begitu?" seperti koor suara para pekerja-nya mengeluh.


Sedih, kecewa dan aroma frustasi menyelimuti wajah mereka.


"Yesss.!" Seru para pekerja gembira.


"Tapi dengan satu syarat." Tegas Jean lagi.


"Apa, potong gaji ya nyonya?" Tebak salah seorang pekerja .


"Bukan, kalian wajib membuat kritik dan saran untuk kemajuan resto kita. Dikumpul secepatnya ya, boleh via chat, email atau tulis tangan. Boleh dengan atau tanpa nama. Ok ?"


"Ahsssiiiaappp, nyonya !" Seru para pekerja bareng.


Jean tersenyum melihat kekompakan pekerjanya. Semoga akan terus seperti ini, harapnya dalam hati.


"Langit, Lenka, kalian juga boleh ikut dengan kita." Ucap Jean.


Gelagapan, Langit dan Lenka hanya berpandangan dan tersenyum.


"Akan kami pikirkan nanti, bu Jeanett. Mungkin Lenka saja, sebab jika kami berdua yang pergi, tidak ada yang mengurus bapak."Ujar Langit pelan.


"Baiklah kalau begitu mas Langit, saya mengerti." Balas Jean.


"Oh ya Lenka, walaupun resto tutup kamu juga ketiga chef-ku dan beberapa asisten chef tetap ke resto 4hari ke depan. Kita sama-sama mengolah hidangan untuk memperbaharui daftar menu kita."


🌻🌻🌻


Jeanett Moon bersyukur, bertemu Lenka yang entah bagaimana telah membuatnya kembali menjadi orang yang berpikiran positif, optimis dan berjiwa besar.


Tadinya dia berpikir tidak masalah dengan menutup Ola Voila, memberi pesangon untuk semua pekerjanya yang walaupun 3 bulan terakhir pemasukan jauh merosot toh, tidak akan membuatnya jatuh miskin.


Jean hampir lupa, walaupun dia menutup resto-nya bukan karena bangkrut, bagaimana nasib para pekerja yang menggantung hidupnya di resto ini, bagaimana keluarga mereka ?


Malam tadi sambil menemani Aimee di rumah sakit, Jean terus memikirkan hal itu.


Kemunculan Lenka seolah mengingatkannya untuk tidak mementingkan diri sendiri.


Kemudian dia menghitung diatas kertas, kerugian memang ada, tapi masih lebih besar keuntungan yang didapatnya selama ini.


Dibandingkan dengan keuntungan yang tidak akan dapat diperolehnya jika tanpa para pekerja setianya, berapa sih uang yang akan dikeluarkan untuk reward atas ke-loyalitas-an pekerjanya?


Dengan cermat, Jean membuat rincian pengeluaran untuk gaji pekerja, berlibur, uang saku, baju seragam dan sepatu baru dan kenaikan gaji 15% ketika mereka mulai masuk kerja kembali. Dana untuk para pekerja pengganti yang akan bertanggung jawab mengurus kebersihan resto dan memelihara kebun, selama resto tutup. Termasuk dana renovasi, menambah bangunan lantai dua untuk ruang meeting/acara khusus kapasitas 150 orang, memperluas ruang masak dan membuat perubahan agar dapur resto sedikit terbuka sehingga siapa saja bisa melihat proses pengolahan makanan, begitu ruang penyimpanan yang perlu diperluas sedikit dan hmm.. juga mengganti beberapa alat di resto-nya karena Jean punya ide untuk memajang saja benda yang sudah dipakai sejak usaha ini baru dirintis .


Jean juga merasa perlu menambah chef dan tenaga pekerja lainnya. Segera dia akan membuka lowongan pekerjaan.


Hmm.. Anggaplah aku memulai usaha ini dari 0 dan perlu mengeluarkan modal. Batinnya Jean bersemangat.


🌻🌻🌻


"Honey, kamu sungguh mengejutkan." Ujar Langit sambil menyetir


"Maksudmu, bukankah dari tadi aku hanya diam saja ?" Tanya Helena.


"Bukan. Maksudku, kamu layak jadi chef. Bagaimana kamu bisa mengolah masakan tadi ala chef handal padahal sebelumnya kamu.. bisa dibilang ga bisa masak." Hati-hati Langit mengatakan itu sambil tersenyum.


"Aku cuma mempelajari resepnya dan mencoba, sayang. Aku bahkan belum layak mendapat gelar chef, karena aku memasak hanya coba-coba, hihi."


"Coba-coba masak aja enak, apalagi diseriusin." Celetuk Langit lagi.


"Nanti akan aku seriusin deh kapan-kapan, aku mau fokus menyelesaikan studiku dulu." Timpal Helena.


"Pikirkan baik-baik ya, sayang. Aku mendukungmu." Ucap Langit serius.


Tidak lama mereka tiba dirumah, dan tidak lupa Helena membuka kotak makanan yang dibawanya dari resto untuk pak Kasan.


"Mari, pak. Makan malam dulu." Ajaknya.


"Wow, makan enak nih dari resto." Ujar pak Kasan tidak sabar ingin mencicipi.


"Itu bikinan Lenka, lho pak." Kata Langit bangga.


"Apa iya ?" Balas pak Kasan hampir tidak percaya.