Lenka's Dish

Lenka's Dish
22



Helena menyuguhkan bakpao dan teh jahe untuk pak Kasan dan pak Surya.


"Pak, tidur jangan kemaleman ya. Aku mau ikut grandmom dan Langit ke aula." Pamit Helena.


"Iya, nak." Jawab pak Kasan singkat.


Helena melangkah ke aula menyusul grandmom dan Langit.


Tampak Langit sedang asik membagikan beberapa bingkisan berupa pakaian, mainan juga alat-alat tulis untuk anak-anak panti.


"Perkenalkan ini kak Lenka, calon istri mas Langit." Ujar Langit.


"Haiii kak Lenka, salam kenal." Kompak anak-anak menyapa Helena.


"Hai, semua." Balas Helena sambil melambaikan tangannya.


Helena bergabung di aula, turut mendengarkan anak-anak yang sharing kegiatan mereka seharian ini satu per satu dengan menyebutkan nama dan usia mereka terlebih dahulu.


"Hai, namaku Alvin umur 9 tahun. Aku senang karena tadi bagi raport, nilaiku bagus semua dan aku naik ke kelas 3. Terimakasih kepada grandmom, pak Surya dan kakak-kakak pengasuh juga saudara-saudaraku yang telah mendukungku."


Prok.. Prok.. tepuk tangan 2x membahana.


Hai, namaku Vania umur 16 tahun. Aku juga senang tadi bagi raport nilaiku bagus dan kembali mendapat ranking 1, aku naik ke kelas 3 SMU. Terimakasih kepada grandmom, pak Surya dan kakak-kakak pengasuh juga saudara-saudaraku yang telah mendukungku."


Prok.. Prok.. Tepuk tangan 2x kembali membahana.


"Halo, aku Darel umur 3 tahun. Aku senang sekaligus juga sedih. Aku senang karena boleh menolong grandmom memasak. Sedihnya.. sedihnya.. Tadi pas aku ikut ni Lily ke pasar, aku sempat hilang karena ketinggalan..


"Hahahaha..." Ramai sekali teman-teman Darel menertawakan anggota panti terkecil itu.


"Sudah, sudah.. Lain kali kamu harus berhati-hati kalau ikut ke pasar ya Darel." Pesan grandmom.


"Ok, lanjut." Pinta Langit.


Enggg.. Hai, namaku Radit umur 10 tahun. Aku malu sekaligus sedih nilaiku jelek dan aku tidak naik kelas."


Hening.


"Radit, jangan sedih ya. Tinggal kelas itu hal yang biasa. Itu artinya kamu harus belajar lebih giat lagi. Tetap semangat, ya. Adik-adik yang lain juga, jangan minder walaupun nilai kalian jelek, tetap harus rajin belajar ya. Kalian juga harus menemukan paling tidak 1 hal yang menjadi minat kalian. Contohnya olahraga, menyanyi atau mata pelajaran tertentu di sekolah, agar minay itu nanti yang akan diasah." Spontan Helena menasehati anak-anak panti, membuat grandmom dan Langit terharu melihat perhatian Lenka.


"Hampir lupa, tadi kak Lenka ada bawa bakpao dari Jakarta. Bikinan sendiri. Ayo boleh disantap sambil sharing, jangan berebutan 1 orang boleh ambil 2 potong ya." Ujar Langit.


Usai mendengarkan anak-anak bercerita, giliran Langit yang didaulat untuk bercerita bagi mereka. Anak-anak terutama yang masih kecil duduk makin merapat mendekati Langit dan Lenka.


Happp..


Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun tanpa ragu melompat duduk di pangkuan Langit.


"Siapa tadi namamu, sayang?" Tanya Helena sambil tersenyum menyentuh jemari anak itu.


"Darel, kak" Jawabnya.


"Ayo mas Langit, kapan mulai dongengnya?" Teriak anak-anak mulai tidak sabar.


"Iya, nih. Keburu ngantuk." Timpal yang lain.


"Sebelum bercerita, mas Lamgit ada pengumuman untuk kalian."


Anak-anak mulai hening siap-siap mendengarkan lanjutan kalimat Langit.


"Besok pagi setelah sarapan, mas Langit akan mengajak kalian jalan-jalan ke dreamland waterpark."


"Jadi nanti, sebelum tidur masing-masing siapkan keperluan pribadinya, seperti baju ganti, handuk dan sabun. Naaaah.. Sekarang dengarkan dongeng Mas Langit ya."


Anak-anak dengan memeluk bingkisannya masing-masing mendengarkan dengan khidmat cerita yang disampaikan oleh Langit.


"Zaman dahulu kala, di kerajaan yang berada di sebuah pulau hiduplah seorang putri cantik yang bernama Rose atau Putri Mawar. Ia dipanggil begitu karena memiliki rambut panjang berwarna merah yang menyerupai bunga mawar. Rose sangat menyukai bunga mawar dan mempunyai watak yang baik sehingga rakyat mencintainya setulus hati mereka.


Hmm.. Jangankan anak-anak, Helena pun turut terbuai kagum dengan cara bercerita Langit yang dapat merubah mimik dan intonasi suaranya ketika ada percakapan antar karakter. Seru sekali.


".. Karena kejahatan sang penyihir sudah begitu menumpuk, tubuhnya pun meledak menjadi potongan-potongan kecil. Rose dan kembali melanjutkan kegiatannya dengan burung emas dalam waktu yang lama, bunga mawar bisa tumbuh kembali di sekitar kerajaan, hingga sampai sekarang pun kita dapat melihat bunga mawar tumbuh dengan indahnya. Begitu." Langit menutup dongengnya


"Nah.. ceritanya sudah selesai, coba kira-kira apa pesan yang ingin mas Langit sampaikan lewat dongeng tadi?" Tanya Langit memancing reaksi anak-anak yang telah mendengar dongengnya.


"Ga boleh iri, mas." Jawab salah seorang anak.


"Ga mudah berputus asa, mas." Celetuk anak yang lebih besar.


"Ga boleh menyimpan kebencian."


"Ga boleh dendam, mas." Imbuh yang lain.


"Benar semua, wah kalian anak-anak yang hebat. Lewat cerita tadi kita boleh belajar bahwa yang pertama; ga boleh iri hati, ga mudah putus asa, trus kebencian dan dendam tidak dapat menyelesaikan masalah, juga.. Meskipun terlihat sulit dan melelahkan, kebaikan dan ketulusan hati akan selalu menang melawan kejahatan." Ujar Langit memungkasi ceritanya dengan pesan yang syarat makna, tidak saja bagi anak-anak tapi juga bagi semua orang yang turut berada ditempat itu tanpa terkecuali.


Nah, sekarang waktunya kita beristirahat, siapa yang mau pimpin doa sebelum tidur?" Tanya Langit.


"Saya, mas." Ujar si Darel kecil mengacungkan jarinya.


"Wah, anak hebat kecil-kecil sudah berani belajar jadi memimpin." Puji Langit dengan tulus.


Wow, tampaknya ini cara jitu untuk anak-anak berimajinasi dan mengembangkan daya pikirnya, juga untuk menanamkan etika dan nilai-nilai kehidupan tanpa bermaksud menggurui mereka secara langsung. Ah, nanti aku juga akan bercerita seperti itu jika sudah berkumpul bersama kedua anak kembarku Hugo dan Hana. Janji Helena di dalam hatinya.


Usai berdoa Langit, grandmom, Lenka dan para pengasuh mengantar anak-anak itu kembali ke kamar mereka. Anak balita yang berjumlah 4 orang berada dalam 1 kamar dengan pengasuh. Anak yang lebih besar dikelompokkan masing-masing 3 orang dalam 1 kamar juga dengan pengasuh menurut gendernya.


Helena memperhatikan bangunan 2 lantai dengan takjub. Lantai atas terdiri dari 7 kamar masing-masing di kedua sisi dengan posisi pintu yang berhadap-hadapan dilengkapi ruang kosong yang berfungsi sebagai tempat mencuci, menjemur pakaian dan tempat menyetrika.


Aula yang merangkap ruang makan dan ruang nonton TV terletak di lantai bawah,beserta 5 kamar masing-masing di kedua sisi juga dengan posisi yang berhadapan.


Ruang yang berbatasan langsung dengan aula adalah tempat memasak sekaligus cuci piring. Terdapat pintu yang mengarah keluar menuju kebun milik gradmom yang dirawat bersama anak-anak panti.


Helena baru menyadari lahan kosong antara bangunan utama dengan panti merupakan lapangan serba guna.


"Lapangan ini bebas, kadang berfungsi sebagai tempat anak-anak latihan bela diri, kadang lapangan volley, kadang lapangan basket, kadang lapangan badminton atau apa saja menurut kebutuhan anak-anak." Jelas grandmom sambil mereka melangkah ke dalam rumah bangunan utama.


"Ayo, langsung ke kamar ya kamu tentu lelah selama diperjalanan." Ujar grandmom lagi.


Helena mengangguk. Setelah membasuh kaki dia langsung membaringkan tubuhnya di sisi grandmom.


Tok.. Tok..


"Grandmom, bolehkah Langit menemanimu dan Lenka tidur di sini?" Tanya Langit.


"Hei, bukankah kamu punya kamar sendiri?" Balas grandmom.


"Sayang, kamu mau aku dongengin sebelum tidur?" Langit berbicara pada Lenka, mengacuhkan perkataan grandmom.


"Ck, jangan modus anak muda. Cepat kembali ke kamarmu sebelum aku menjewermu." Ancam grandmom.


Helena terkekeh.


"Aiiisshh.. Grandmom, aku hanya ingin memberikan kecupan selamat malam untukmu dan kekasihku ini." Jawab Langit sambil tersenyum.