Lenka's Dish

Lenka's Dish
33



POV Benefio


Awalnya aku masuk ke kerajaan Hanover Raya, sebagai prajurit biasa, karena memiliki kesukaan mempelajari ilmu tentang komposisi dan sifat-sifat materi, membuat cairan tertentu.


Beberapa karya yang kubuat ketika masih prajurit adalah membuat ramuan yang dapat meredakan demam dan pilek, cairan penghilang noda dan yang paling terkenal ramuan yang membuat kebal terhadap gigitan serangga dan ular.


Sebab itulah aku diangkat menjadi ahli kimia kerajaan dan diberi laboratorium sebagai tempat penelitianku serta fasilitas penunjang lainnya.


Aku sangat mencintai Crystal, apapun yang dia mau selalu kulakukan sehingga bersedia mengikuti apapun rencananya dulu.


Bahkan aku rela ketika Crystal menjadi selir raja Arion, turut berperan mengelabui sehingga raja Arion percaya kalau Jevan adalah putranya.


Setelah kami memiliki Jevan, aku harus menerima bahwa darah dagingku sendiri harus menyebut pria lain dengan panggilan papa sementara aku hanya dikenal sebagai paman, kakak dari ibu kandungnya.


Sejak Jevan kecil, aku sering aku mendengar keluhannya yang kerap merasa diperlakukan berbeda dengan Hans, sang putera mahkota.


Aku menyesal semua terjadi karena aku tidak berpikir akan begini akibatnya. Crystal dengan segala kecerdikkannya telah menanamkan sifat iri, licik dan selalu ingin menang sendiri pada Jevan. Sehingga Jevan tumbuh menjadi pribadi yang egois dan terbiasa membenci 'ayah'nya baginda raja Arion dan juga 'saudara'nya Hans.


Diusia yang beranjak senja, aku ingin melakukan segala cara agar aku selalu berada di dekat kekasihku dan anakku karena sudah lama aku merindukan kami hidup bersama selayaknya keluarga yang utuh, walaupun nantinya akan hidup di pengasingan, tetapi.. Lagi-lagi aku hanya bisa mengikuti rencana Crystal.


Aku hanya tidak lebih dari pria pecundang.


Ahh.. Andai saja aku dapat membalikkan waktu.


🌻🌻🌻


"Apa tidak ada penawar racun yang benar-benar ampuh untuk memulihkan istriku paman Louise?" Hans berkonsultasi dengan tabib istana perihal kemajuan kesehatan Helena.


"Harusnya ada, tapi hamba kurang yakin. Sebaiknya baginda menanyakan ini dengan sir Benefio. Dia senang bereksperimen membuat larutan dengan manfaat tertentu. Dan perlu baginda ingat, sir Benefio memiliki keahlian meracik obat, barangkali dia punya solusi demi kesembuhan ratu Helena."


"Sir Benefio yang kakaknya selir Crystal itu kan? Ah, paman.. Aku paling malas jika harus berhubungan dengan mereka, apalagi jika harus bertemu dengan Jevan.."


"Ayolah, baginda. Hanya sir Benefio yang mungkin bisa menolong kita, ini demi ratu Helena. Lupakan kejadian yang sudah-sudah. Datanglah dengan kebesaran hati, pasti dia mau menolong kita."


"Hm.. Akan aku pikirkan paman. Aku sambil menunggu hasil sayembara, barangkali ada yang berhasil menemukan obat atau cara menyembuhkan istriku."


Helena diam-diam mendengarkan percakapan antara Hans dan paman Louise. Dia memikirkan cara untuk melunakkan hati Hans agar mau menemui sir Benefio.


Fiuuuhhh...


Helena meniup pelan wajah Hans. Membuat Hans seketika mengantuk dan tertidur sehingga Helena dapat dengan leluasa memasuki dunia mimpi Hans.


"Sayang, kau kah itu?" Ujar Hans.


"Hm.. Kamu pikir siapa lagi, tuan rajaku?" Balas Helena tersenyum.


"Apa yang kau lakukan di dapur malam-malam begini?"


"Membuat cemilan buat suamiku. Tentu nikmat kan menyantap cupcakes dengan teh camomile sebelum kita tidur?" Helena menghidangkan secangkir teh di hadapan suaminya.


Segera Hans menyeruput teh yang masih mengepul itu.


Sluuuurphh..


"Uuh segar banget teh-nya. Sayang, kamu tampak sehat sekarang" Heran Hans melihat istrinya yang tersenyum cerah sambil bergerak lincah melayaninya.


"Tentu saja. Ini berkat ramuan yang diracik oleh sir Benefio."


"Oh ya? Aku belum menemuinya bahkan berencana pun tidak.. Bagaimana mungkin.."


"Jadi maksudmu aku harus.."


"Bukankah kamu akan melakukan apapun demi kita bisa terus bersama, tuan raja kekasihku?" Ucap Helena dengan sedikit mendesah.


"Helena.. Aku merindukanmu, sayang."


"Aku juga Hans."


"Aku menginginkanmu sekarang."


"Aku juga sangat menginginkanmu." Bisik Helena.


Hans menggendong tubuh istrinya menuju ke kamar mereka lalu merebahkan tubuh istrinya di tempat tidur dan mulai mencumbu dengan bergairah.


"Ahh.. Aku sangat merindukan saat-saat ini, Helena."


"Awh..ku.. ah..."


Helena hanya mampu menjawab suaminya dengan desahan demi desahan yang semakin membuat suaminya bersemangat menggoyang pinggul dengan gerakan yang tidak beraturan.


Hans tersanjung karena Helena kali ini yang berperan aktif bahkan agresif demi mencapai klimaks-nya. Erangan istrinya terdengar sangat merdu dan seksi di indera pendengaran Hans, sehingga ia ingin memberi lebih dan lebih lagi.


Helena mendorong tubuh Hans hingga telentang, lalu ia mengambil posisi duduk diatas junior suaminya dan.. melanjutkan kembali penyatuan mereka dengan gerakan yang membuat suaminya pasrah dikasih yang enak-enak gitu.


Seolah sangat nyata, keringat membasahi tubuh mereka yang saling berlomba menyenangkan pasangannya dalam memberi kenikmatan. Hampir sepanjang malam itu mereka bercinta dengan luar biasa.


"Kamu luar biasa Hans, aku mencintaimu." Bisik Helena sambil memberikan kecupan di dahi suaminya yang masih terlelap.


"Kamu juga luar biasa , Helena. Aku sangaaat mencintaimu." Balas Hans dengan mata yang masih terpejam.


Fiuuuhhh..


Tidak lama Hans terbangun setelah Helena kembali meniupkan udara dari mulutnya ke wajah Hans.


Helena pun kembali ke dunia Lenka, sementara Hans duduk termenung di sisi tempat tidur dengan perasaan bahagia campur bingung.


Bagaimana tidak heran, ketika terbangun dia mendapati tubuhnya tidak tertutup apapun dengan kondisi benda pusaka-nya yang masih terdapat cairan lengket, sementara tempat tidurnya berantakan layaknya telah terjadi pertempuran suami-istri yang dahsyat disitu lengkap dengan aroma khas percintaan. Dan apa itu..? Mata Hans menangkap benda mungil transparan berenda berwarna maroon yang tergeletak di lantai.


Hans mengambil benda itu dan menghirup aromanya.


Hmm, bau-nya Helena banget nih tapi aku tidak pernah tau kalau Helena memakai celana dalam seperti ini.


Kalau bukan milik Helena lantas milik siapa ini. Batin Hans.


Sementara itu, Helena merasa perlu menyegarkan dirinya usai bercinta habis-habisan di dalam mimpi tapi nyata tadi memekik tertahan ketika menyadari tadi dia kembali sebelum sempat memakai celana dalam yang semalam telah dilepas lalu dilemparkan ke sembarang arah oleh Hans.


"Hah, kok bisa aku lupa memungut celana dalam itu tadi.. Bisa ketinggalan di sana, berarti bercinta-nya juga beneran dong, uhh.. Pantas aja nikmatnya berasa nyata banget." Gumam Helena.


Tok.. Tok..


Pak Kasan mengetuk pintu kamar Lenka.


"Nak, bapak pergi olah raga dulu sama pak Surya dan yang lainnya ya." Pamit pak Kasan.


"Hati-hati, pak." sahut Helena.


Usai membersihkan diri, Helena mengatur alarmnya karena ia tidur sebentar untuk memulihkan staminanya.