Lenka's Dish

Lenka's Dish
37



Haiii ... maaf ya, "Lenka's dish" baru muncul lanjutannya setelah sekian purnama. Semoga masih pada ingat kisah Langit-Lenka, Hans-Helena ini kalau lupa ... balik lagi ke bab awal ya. Selamat membaca.


 


Alih-alih merasa sakit, Hans malah menikmati kondisi yang tiba-tiba dialaminya itu. Dia ingat saat benda tajam itu melesat mengenai bahunya, ia sempat mengerang saat terjatuh dari kuda dan ia juga mendengar Sir Benefio panik memanggil kesadarannya. Sir Benefiio mengurus Hans, membersihkan luka dan berusaha menghentikan racun yang tertancap bersama anak panah agar tidak segera menyebar. Hans tersenyum, sungguh jika ini mimpi maka ia memilih untuk tidak pernah bangun saja, justru ia ingin tetap berada di situ bahkan jika berada ini adalah alam kematian sekalipun, Hans rela asalkan bisa terus bersama istri tercinta dan anak-anak mereka, karena itu adalah sesuatu yang sangat membahagiakannya.


🌻


Sementara itu di tempat lain, Langit dan Lenka (yang fisiknya masih digunakan Helena) sibuk mempersiapkan pernikahan mereka yang tinggal 3 minggu lagi.


"Sayang, wajahmu tampak pucat. Hei, aku tidak mau kamu terlalu lelah," kata Langit sambil membelai lembut punggung kekasihnya.


Helena menoleh dan tersenyum, "Aku tahu, Lang ..." jawabnya lembut


"Lang, ingat kondisi Lenka. Jangan ajak dia bepergian terus. Pernikahan kalian tinggal beberapa minggu lagi, lho," celetuk Grandma yang baru bergabung demgan kedua pasangan itu dengan nada khawatir.


"Iya, grandma. Elang tahu," sahut Langit.


"Tahu apa? Semalam perutnya kram dan dia nge-flek. Kamu gak lihat kalau wajah kekasihmu ini sedikit pucat?" ujar grandma lagi.


"Hah, flek? Apaan tuh?" Langit tidak mengerti.


"Hmm ... beberapa waktu yang lalu Lenka baru saja keguguran, sebaiknya antar dia kontrol, cek kesehatan kandungannya supaya gak ada kendala, nanti kalau kalian sudah menikah, kumpul, langsung jadi deh," harap Grandma.


"Hah? Beneran sayang? Kenapa kamu tidak bilang, hm?" Sekarang Langit menatap khawatir pada Lenka.


Helena hanya menunduk sambil mengelus perut Lenka yang pernah berisikan janin dari lelaki yang tidak pernah dikenalnya. Betapa Helena bersyukur atas ketulusan Langit mau menerima keadaan Lenka dan Lenka yang pelan-pelan mau belajar mencintai Langit. Ah, Helena jadi berkhayal jika nanti misinya tuntas dan kembali ke raga aslinya ... ah, ia jadi tidak sabar mengandung buah cintanya dengan Hans lagi. Helena tidak sadar jika telah mendapat point plus karena telah membuatnya Lenka mengerti anak adalah anugerah dan betapa bahagianya menjadi seorang ibu.


"Baiklah kalau begitu ... sayang, kamu sebaiknya dirumah saja, istirahat. Masalah persiapan pernikahan kita biar aku saja yang urus. Bahkan, kamu tidak perlu ke Olla Voila, dan satu lagi, kamu tidak perlu mengendarai motor atau mobil lagi, biar aku yang mengantarmu kemana-mana," pinta Langit yang seketika membuat Lenka mendongak.


"Tapi aku senang memasak bersama Jeanette, Lang. Aku juga perlu berada di Olla Voila untuk bahan penelitianku," protesnya.


Langit mendengus.


"Apa saja yang kamu perlukan? Biar aku yang mencarikan untukmu, kamu tinggal mengolah hasilnya. Kamu harus segera menyelesaikan skripsimu tanpa harus mengorbankan kesehatan dan bayi kita nanti," ujar Langit dengan nada tegas.


"Bayi kita? Ih, ada-ada aja kamu," sambil tersenyum manis Helena menepuk pelan bahu Langit, perasaannya mendadak hangat atas perhatian pria itu, lagi-lagi ia ingat Hans, suaminya.


"Ada-ada aja gimana? Aku kan bilang bayi kita nanti, emangnya kamu gak pingin cepat-cepat kasih cicit buat grandma?" balas Langit setengah menggoda.


Helena hanya tersenyum kikuk, mengingat Lenka yang dulu pernah sulit menerima kehamilannya, jika tidak karena ia yang setengah memaksakan kehendaknya dan dukungan penuh dari ayah juga Langit dan keluarganya, tentu Lenka memilih untuk menggugurkan janin tak berdosa itu, tapi kemudian itulah yang terjadi, Lenka keguguran setelah menolong Aimee. Calon bayi yang baru saja mulai diterima itu memilih kembali pada pencipta-Nya.


Helena kemudian mencebik kesal. "Aku gak hamil dan gak sakit yang gimana-gimana, aku tahu sampai batas mana aku merasa lelah dan tidak mampu," balasnya tidak mau kalah, ia telah piawai berperan sebagai Lenka dan paham bagaimana bersikap seperti Lenka.


"Menurutlah, Sayang. Belum apa-apa kamu sudah tidak mau mendengarkan kata-kata calon suamimu ini," jawab Langit seraya mengelus punggung Lenka


"Bukan begitu, tapi ..."


"Lenka, dengarkan kata Elang. Jangan apa-apa mau kamu urus sendiri, percayakan pada uang ... jangan kaya orang susah," potong grandma menengahi, membuat Langit tersenyum penuh kemenangan sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


Langit meraih kertas dan menulis sesuatu :


- Pihak gereja yang akan melaksanakan pemberkatan nikah.


- Undangan.


- Daftar undangan.


- Fitting baju


- Foto Preweding


- Akomodasi keluarga dan teman-teman yang ikut ke Bali


- Baju seragam untuk teman-teman


- Test menu makanan


- Honey moon


"Hm ... apalagi, ya?" gumamnya seraya mengangsurkan catatan itu untuk Lenka. "Sayang tolong dicek, barangkali aku kelupaan, dan tolong di kasih tanda kalau ada yang sudah clear."


Helena menyambut perkataan Langit dengan anggukan. Berbeda dengan pernikahannya dengan Hans dulu, yang mana segala sesuatunya disiapkan dengan sempurna oleh orang-orang yang bahkan tidak mereka kenal. Bagi Helena pernikahan ala Langit-Lenka sangat merepotkan padahal mereka sudah menggunakan tenaga W.O, ribet banget.


'Beeep ... beeep ....' Helena mendengar jepitan mutiara yang kebetulan sedang ia pakai mengeluarkan bunyi, nona Emma atau mungkin ratu Acasha ingin berkomunikasi dengannya pasti ini sesuatu urgent.


"Em ... maaf aku mau ke toilet dulu," pamit Helena bergegas mencari tempat aman.


Sosok nona Emma muncul dihadapannya begitu ia menutup pintu toilet.


"Gawat Helena," ujar nona Emma dengan nada khawatir.


"Ada apa?" sahut Helena bingung.


"Hans terluka, ia terkena panah yang busurnya telah diberi racun oleh Jevan," kata nona Emma lagi.


"A-apa? Ja-jadi apa yang bisa kulakukan?"


"Kamu bisa memilih," ratu Acasha menampakkan wajah datarnya di sisi nona Emma.


"Me-memilih?"


"Tetap sebagai Lenka atau kembali ke kehidupanmu sebagai Helena tapi ... Hans meninggal," kata ratu Acasha tegas.


Helena bergidik ngeri membayangkan hidupnya tanpa Hans. "Ratu, apakah jika aku memilih sebagai Lenka aku tetap bisa melanjutkan misi agar bisa kembali menjadi diriku sendiri?" tanya Helena setengah memohon.


Ratu Acasha terkekeh, "Jika kamu memilih hidup sebagai Lenka maka segala hal tentang Helena, selesai ... sebab kamu balik disaat belum menyelesaikan misi-mu. Bisa saja kamu kembali ke ragamu sesaat lalu meninggal bersamaan dengan Hans."


"Hah, lalu ... bagaimana dengan anak-anak kami Hugo dan Hana? Mereka akan jadi yatim piatu padahal masih bayi. Tolonglah ratu, apakah tidak ada solusi lain?" Helena mulai terisak sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.


"Hm ... kenapa kamu gak menanyakan apa yang terjadi jika kamu justru memilihi kembali ke ragamu dan membiarkan Lenka berjuang sendiri?" selidik ratu Acasha.


"Hiks, bukannya sama saja? Aku balik ke ragaku saat ini pun juga gak bisa melakukan apapun, bukankah tadi ratu bilang hanya sesaat lalu meninggal? Sementara Lenka, dengan kondisinya saat ini tentu baik-baik saja bahkan tidak lama lagi dia akan menikah, jika terjadi sesuatu pun dia punya Langit yang selalu ada untuknya. Sementara aku, bahkan Hans terancam meninggal. Duh ratu Acasha kenapa sih giliran bagianku gak ada yang enaknya?


Ratu Acasha tersenyum simpul," jangan suka menarik kesimpulan sendiri gitu dong, Helena ... ayolah, berpikir positif. Sekarang aku tanya, antara Langit dan Hans, siapa yang kamu pilih?"