
Walaupun gelap telah turun menyelimuti bumi, keindahan tetap terpancar di hampir tiap sudut jalan yang mereka lalui.
"Kayak baru pertama ke Denpasar aja kamu, nak." Jawab pak Kasan.
Helena hanya menjawab dengan kekehan, walaupun di dalam hatinya bilang emang iya.
Hingga kendaraan yang dilajukan pak Made semakin mengarah ke suatu tempat yang makin sepi karena makin jauh dari pusat kota.
Helena melihat sesosok seperti pria dengan jubah dan tutup kepala juga wajah tertutup kain berwarna hitam, berjalan mengendap menuju Crystal Hills, istana tempat selir Crystal berada.
Lamat-lamat tapi makin jelas Helena mendengar percakapan di sebuah ruangan rahasia.
Alex, bagaimana target kita? tanya Jevan
"Siap Tuan, tinggal kick saja.. semua aman terkendali"
"Bagus.. jangan gegabah, kerja serapi mungkin, langsung bereskan siapa saja yang terlibat dan juga jika ada yang curiga. Aku mengandalkanmu, Alex silakan lanjutkan tugasmu"
"Siap tuan. Terimakasih" pamit Alex
Di situ juga ada selir Crystal yang duduk dengan anggun mendampingi putranya.
"Biar Arion tahu akibatnya karena dia telah memperlakukan kita tidak adil." Ujar Crystal.
"Ah, aku tidak sabar lagi bunda. Hans cepat enyah dari dunia ini. Aku naik tahta sekaligus juga mengambil istrinya jadi permaisuriku nanti, haha."
"Bodoh, jadi kamu menyukai Helena? Ck, macam ga ada perempuan lain aja."
"Bunda, apapun yang dimiliki Hans termasuk istri dan anak-anaknya harus jadi milikku juga." Jawab Jevan tegas.
"Baiklah. Lakukanlah segala sesuatu yang membuatmu bahagia anakku. Bunda mau tidur dulu." Pamit Crystal.
Ahhh.. ternyata pangeran Jevan dan ibunya ada dibalik kejadian itu, jadi aku 'mati' bukan karena terhirup aroma bunga kuning beracun seperti santer terdengar tapi seperti yang ratu Acasha bilang aku terminum racun dari gelas yang seharusnya diminum suamiku dan target mereka sebenarnya adalah Hans suamiku. Aiiisshh, teganya. Padahal, mereka saudara se-ayah.
Dan ayah sudah memperlakukan mereka dengan adil, sesuai peraturan kerajaan.
Ahhh.. manusia memang sering tidak mengenal kata puas. Rutuk Helena dalam hati.
"Sampaiii, Lenka bangun dulu nak nanti disambung lagi tidurnya." Ujar pak Kasan sambil menepuk lembut lengan Lenka.
"Biarkan saja, pak. Nanti Langit gendong ke dalam." Ujar Langit.
Pak Kasan keluar mobil dan bersiap ketemu calon besan-nya.
"Kasaaan."
"Suryaaa."
Kedua sahabat itu saling berpelukan melepas rindu.
"Permisi, kasih jalan dong, paaa" Kata Langit pada ayahnya sambil membawa Lenka dalam gendongan ala bridal style.
"Waduh, kelamaan di jalan sih.. Lenka berubah jadi putri tidur kan? Canda grandmom.
" Ishhh.. grandmom bisa aja." Balas Langit.
Helena sebenarnya tidak tertidur, hanya saja alam bawah sadar sedang membawanya berkelana ke masa itu. Sekarang meski mata masih terpejam, Helena malah menikmati enaknya di gendongan Langit.
Hihihi..
Pelan Langit menidurkan kekasihnya di sofa.
"Grandmom, how are you?" Sapa Langit sambil memeluk neneknya.
"I'm fine, sayang. Lebih fine lagi setelah mendengar kamu akan menikahi Lenka. Wuiiih, padahal grandmom sempat sedih waktu kamu bilang Lenka minta putus tempo hari"
Langit terkekeh mengingat sesuatu terjadi akhir-akhir ini yang cukup membuatnya terkejut sekaligus bersyukur.
Helena merasa inilah saat yang tepat untuk 'bangun' dan membuka mata.
"Sayang, apa kita sudah sampai?"
"Iya, ayo sapa papa sama grandmom dulu." Pinta Langit.
"Halo pa, halo grandma." Sapa Helena.
"Hai, nona cantik. Wuiiih sudah ada aura-aura pengantin nih, makin cantik aja." Ujar grandmom membuat Helena tersipu.
Hmm.. pantas aja Langit-nya tampan, ayanya juga tampan dan neneknya seorang bule. Batin Helena.
"Eh.. aku punya sesuatu buat kalian."
Helena mengambil sisa bekal dari tas cangklongnya juga mengambil wadah dari kopernya.
Lalu menghidangkan kacang telur ke atas meja.
"Sebentar, yang ini perlu dihangatin dulu sebelum dimakan. Sebentar ya."
Grandmom yang penasaran akan apa yang ada di dalam wadah yang dibawa Lenka, mengikuti Helena ke dapur.
Jangan heran, Helena sudah diberitahu oleh sistem bagaimana Lenka biasa memanggil ayah dan nenek Langit juga tempat memasak di rumah itu.
"Wowww, bakpao. Sebentar, anak-anak pasti suka kue ini." Ucap grandmom antusias.
Anak-anak panti asuhan yang dimaksud Langit ternyata adalah anak-anak yang menempati rumah dibagian belakang rumah bangunan utama. Berjumlah sekitar 20-an orang dari usia balita hingga remaja yang sengaja ditampung keluarga Langit.
Beberapa orang diantaranya merupakan anak jalanan yang sengaja Langit bawa dari Jakarta jika ia akan pulang mengunjungi papa dan grandmomnya.
Sambil menunggu bakpao-nya dihangatin, Helena merebus air untuk membuat teh jahe.
"Nanti jam 20.30 Wita, anak-anak akan berkumpul di aula untuk sharing kegiatan mereka seharian, kemudian mendengarkan dongeng dan berdoa bersama sebelum tidur." Ujar grandmom.
Helena melirik ke jam dinding yang ada diruang tengah. 20.10, Ah, 20 menit lagi gumamnya.
"Wah, asik. Nanti kita ikutan ya nek. Kebetulan bakpao dan kacang telur yang aku bawa sepertinya cukup kok."
Grandmom tersenyum, memang tidak salah Surya memilih Lenka menjadi menantunya karena seperti mereka, senang berbagi.
Langit yang sudah mandi dan berganti pakaian membawa koper besarnya ke arah belakang rumah menuju aula yang dimaksud grandmom.
"Sayang, mau kemana?" Tanya Helena.
"Mau ke aula honey, ngantar ini buat anak-anak. Kamu mandi sana biar seger."
Duuuh mesra-nya Langit dan Lenka sekarang, manggil aja pake sayang-honey. Terutama Lenka, ga se-jutek dulu orangnya, jadi tambah manis kan. Batin grandmom.
"Lenka, kamu bersih-bersih badan sana. Nanti biar grandmom yang nungguin bakpaonya. Ohya, nanti kamu tidur sama grandmom ya, barang-barangmu sudah dimasukin ke kamar sama Langit. Kamar yang tengah, Len." Ujar grandmom.
"Ok." Jawab Helena.
Sebelum Helena menuju kamar yang dimaksud, terlebih dahulu ia menengok pak Kasan yang tampak asik main catur dengan pak Surya.
"Pak.. Ah, tidak apa-apa hanya ngecek bapak sudah ganti baju belum aja. Obatnya sudah diminum, pak?" Tanya Lenka.
"Sudah tadi sama Langit." Jawab pak Kasan tanpa mengalihkan pandangannya dari papan hitam putih di depannya.
Masuk ke kamar grandmom, Helena mengambil piyama-nya dan bersiap untuk mandi. Ketika sedang menyikat gigi, Lenka muncul di cermin wastafel.
"Helena, kamu lagi dimana?" Tanya Lenka.
"Di kamar grandmom, aku sama bapak ikut Langit pulang."
"Owh, pantesan berbeda dengan kamarku biasanya. Bagaimana apa mereka menyambutku dengan baik?"
"Tentu saja."
"Hm.. Syukurlah. Heiii.. kalungmu bagus sekali, baru ya?"
"Iya, kalung ini dikasih Langit tadi sore pas kami menikmati sunset di pantai Kuta. Bagus kan, liat liontinya 'L'. Makanya, jadi orang jangan gengsian." Ledek Helena sukses membuat Lenka cemberut.
"Uuuhh.. Apa Langit bilang kalau aku pernah menolak pemberiannya?"
"Iya dan tadi dia seneng banget aku mau menerima ini. Lenka, Langit ga seburuk yang kamu pikir lho. Sejauh ini aku menilai dia pria yang bertanggungjawab, selama ini yang dia minta cuma pengertianmu agar bisa menerima masa lalunya saja."
Lenka diam, perlahan mengangguk dan menghilang dari bayangan cermin.
Ah, semoga kamu mengerti Lenka, bahwa mencintai seseorang apa adanya juga termasuk menerima masa lalunya sekelam apapun. Karena, ga masalah bagaimana dia dulu yang penting dia yang sekarang setelah bersama dengan kita. Batin Helena.