
Helena merasa perlu untuk memberi kabar agar Langit tidak mengkhawatirkannya.
Telpon ahhh...
Lenka : Sayang, tidak perlu menjemputku. Aku sudah pulang diantar anaknya bu Miryam
Langit : Baiklah honey. Selamat beristirahat.
Tumben Langit ga banyak bicara. Dia sedikit berbeda sejak bertemu Mayleen tadi sore, pasti ada sesuatu. Batin Helena.
Helena menetap cermin agar bisa berkomunikasi dengan Lenka.
"Hai Lenka. Tadi sore Langit bertemu Mayleen, apa kamu tau sesuatu mengenai hubungan mereka ?" Tanya Helena.
"Mayleen ? Kalo ga salah itu mantan kekasih Langit. Sebenarnya bukan mantan juga sih, mereka pisah tanpa ada kata putus. Mayleen pergi di hari Langit kecelakaan dan tidak pernah menemukannya lagi. Baguslah kalau mereka ketemu."
"Kamu ga cemburu?"
"Ga lah, aku jadi pacarnya Langit cuma buat pelarian aja kok. Dia ga sungguh-sungguh mencintaiku."
"Masa sih Len, dia baik banget lho. Perhatian banget, tiap pagi dia ke sini, sarapan bareng aku dan bapak. Trus antar jemput aku kuliah."
"Astaga, kenapa kau biarkan tubuhku berdekatan dengan pria itu, Helena."
"Lho memangnya kenapa, lagian dekatnya juga bukan yang gimana-gimana juga kok."
"Aku dulu bahkan ga mau diantar jemput kuliah sama dia."
"Lho, memangnya kenapa?"
"Sudah ku bilangkan, aku cuma pelarian. Aku ga mau dimanfaatkan lelaki itu. Dia pernah cerita kalau mungkin saja dia sudah punya anak, hasil hubungannya dengan Mayleen karena dia mendapati amplop yang berisikan usg kandungan Mayleen. Jadi dia mohon aku mengerti jika suatu saat.. Ah, aku benci lelaki yang tidak bisa menjaga kesucian kekasihnya."
"Jadi, kamu sama dia.."
"Kalau sama aku sih ga pernah macam-macam sebatas pegangan tangan aja."
"Ah, masa sih ? Sering kok dia mencium juga memeluk tubuhmu. Aku juga kadang kalau lagi manja, sering kok bersandar di bahunya. Dia memanggilku honey, aku memanggilnya sayang."
"Helenaaaaa... jaim dikit dooooong. Aduh seneng deh Langit digituin." Lenka sebal.
Hahaha.. Helena tertawa akan sikap Lenka. Jelas sekali sebenarnya gadis itu sudah jatuh cinta sama Langit, hanya dia belum bisa menerima masa lalu lelaki itu aja.
π»π»π»
Biiip.
Helena memencet butiran mutiara di klip rambutnya agar terhubung dengan Shelter Transitee.
"Hai ratu Acasha, Hai nona Emma." Sapa Helena.
Haiii..." Tampak ratu Acasha dan nona Emma tersenyum manis di tampilan dinding kamar Lenka.
"Tanya dong, Mayleen kok bisa muncul? Trus Arnold kayanya suka deh sama Lenka."
"Ya, biar hidup Lenka lebih berwarna aja." Jawab ratu Acasha simple.
"Trus Arnold?" Tanya Helena lagi.
"Kalau Lenka yang ditemui Arnold adalah Lenka yang sebelumnya ga bakal dia suka deh. Arnold dan bu Miryam suka sama Lenka itu efek ajaib dari kopi yang kamu buat dan masakanmu yang mereka makan."
"Aku kudu piye, ratu?"
Ratu Acasha dan nona Emma hanya tersenyum penuh misteri.
Tayangan di dinding kamar pelan-pelan memudar lalu hilang.
Uh, ga ada petunjuk sama sekali. Gumam Helena.
Helena mengambil buku petunjuk penulisan skripsi sesuai saran bu Miryam juga buku-buku lain dan memindai dengan tangannya. Dan mulai membuat kerangka penulisan.
Hm.. begini ya rasanya jadi mahasiswa. Ga kalah seru dengan belajar strategi perang batin Helena.
Sebagai Lenka, aku harus bagaimana ya?
Gimana kalau ternyata Langit masih punya perasaan yang dalam sama Mayleen, trus mau balikan?
Apa aku tetap harus meneruskan hubunganku dengan Langit dan menikah dengannya?
Ck, aku kok malah dapat tugas yang ga berhubungan dengan misi yang diberi ratu Acasha sih, ga bakal nambah poin malah nambah pikiran gini.
Tinggg..
Nona Emma tiba-tiba muncul.
"Helena, tolong lakukan yang terbaik untuk Lenka ya. Kamu ingat tadi ratu Acasha bilang biar hidup Lenka lebih berwarna? itu artinya apapun keputusanmu akan sangat mempengaruhi hidup Lenka dikemudian hari."
"Tadi aku sempat berbicara dengan Lenka, tapi kesan yang kudapat seolah dia ga peduli akan hubungannya sama Langit. Padahal aku tahu kalau dia sebenarnya mencintai Langit."
"Ah, memang Lenka aslinya begitu. Sok jual mahal tapi butuh, haha. Kok malah ngomongin orang sih? Fokus sama misimu Helena, tapi juga jangan abaikan masalah penyerta lainnya. Kamu harus pandai membantu Lenka mengelola emosi, menolongnya menjadi pribadi yang dapat mengungkapkan perasaannya juga mengembangkan bakat yang ada pada Lenka."
"Baiklah nona Emma, terimakasih motivasimu. Hanya, aku kadang kesal dengan sistem yang kadang ga berfungsi disaat aku perlukan."
"Haha, biar kamu tahu kalau hidup ga selalu mudah Helena. Ada hal-hal yang diluar kendalimu tetapi kamu tetap dituntut terampil menghadapi hal-hal tersebut. Ratu Acasha ga pernah janji segala sesuatu tersedia dengan mudah untukmu kan? Tapi dia memberimu bekal yang apabila kamu gunakan dengan tepat akan menolongnu melewati semua itu dengan baik." Terang nona Emma dengan senyum yang memudar seiring kepergiannya dari hadapan Helena.
Drrrtt.. Drrrttt..
Helena tersenyum melihat tanda video call dari Langit.
π€΄: Honey, aku cuma iseng nih. Ngecek kamu sudah tidur apa belum. Ternyata malah diterima. Kenapa belum tidur sayang?
π€΄: Benarkah? Apa perlu aku ke situ?
πΈ: Ga usah, ah. Udah jam berapa ini?
π€΄: Ga masalah, asal kamu yang minta. Aku segera meluncur ke situ, honey.
πΈ: Ga usaaaah. Aku cuma perlu penjelasanmu mengenai 1 hal.
π€΄: Tentang apa, sayang?
πΈ: Mayleen, aku seperti melihat ada sesuatu diantara kalian. Kamu juga sedikit berubah setelah bertemu dengannya.
π€΄: Emmm.. Kamu cemburu?
πΈ: Entah apa nama dari rasa yang rasakan ini, yang pasti aku perlu penjelasanmu.
π€΄: Harus sekarang, honey?
πΈ: Tahun depan aja, sayang.
π€΄: Haha.. Baiklah, baiklah. Buka pintu sekarang, apa kamu tega membiarkan kekasihmu ini bentol-bentol digigit nyamuk.
πΈ: Astaga, kamu sudah di depan rumahku?
π€΄: Kamu pikir dimana lagi ada pemandangan dengan buah mangga bergelantungan sebagai background-ku?
Ceklek..
"Sayaaang." Helena menghamburkan dirinya ke pelukan Langit.
Langit dengan sukacita mendekap kekasihnya. Menyadari kekeliruannya tadi yang sempat mengakui bahwa hatinya masih berdebar kencang ketika di dekat Mayleen, bahkan dia sempat merencanakan membatalkan niatnya menikahi Lenka demi Mayleen dan putranya Rigel.
Sekarang dia merasa nyaman di pelukan Lenka. Gadis yang semula memang hanya dia jadikan sebagai pengalihan dari kekecewaannya terhadap Mayleen, tapi tidak lagi kemudian. Langit tahu, tidak perlu Mayleen lagi karena Lenka saja sudah lebih dari cukup untuknya.
"Kita akan terus berpelukan di sini dan kamu tidak mempersilahkan aku masuk, honey?" Langit mengendurkan pelukannya.
"Maaf, aku lupa. Aku hanya.. aku hanya takut kehilangan kamu karena gadis itu." Jawab Helena.
Langit bahagia mendengar kata-kata Lenka.
Penting bagi Langit untuk tau kalau dia ternyata dibutuhkan oleh Lenka, kalau ternyata Lenka takut kehilangannya.
Penting bagi Langit untuk tau kalau Lenka mencintainya dan mau menerima masa lalunya.
"Honey, aku ke sini untuk memastikan perasaanku." Ujar Langit sedikit membuat Helena sedikit terkejut.
"Emm.. Maaf Lang, aku bikinin kopi buat kita dulu. Biar ngomongnya lebih santai." Pamit Helena.
Sluuurrrpphh..
Langit menyeruput kopi buatan Lenka untuknya.
Perasaannya membaik setelah meneguk kopi itu, makin ringan hatinya untuk berbagi dengan Lenka.
"Aku cuma minta kamu mau sedikit bekerjasama denganku."
"Dalam bentuk apa?" Tanya Helena.
"Pengertianmu, honey. Intinya, aku ingin kamu mengerti bahwa aku akan bertanggungjawab terhadap Rigel, putra kami."
"Kamu akan menikahi Mayleen?" Tanya Helena ragu.
"Jika kamu izinkan, haha.."
Bibir Helena mengerucut dan itu sangat menggemaskan bagi Langit.
"Tidak.. tidak, bentuk tanggung jawabkan ga harus aku menikahi Mayleen. Maksudku, aku akan membiayai hidup Rigel sampai dia mandiri, terutama saat ini Rigel sedang terapi pengobatan thalasemia dan bila memungkinkan aku akan mendonorkan sumsum tulang belakangku demi kesembuhannya. Bagaimana menurutmu?"
Helena tampak berpikir sebentar.
"Ok, ga masalah. Tapi kamu harus janji.."
"Janji apa, honey ?" Tanya Langit.
"Janji kalau hanya sumsum tulang belakangmu saja yang kamu donorkan untuk anakmu?"
"Lho, kan memang cuma itu yang dia perlukan. Emang apalagi yang perlu aku donorkan ?"
"Lebih baik hubungan kita sampai di sini saja jika kamu juga mendonorkan benihmu lagi ke ibunya anakmu itu." Bisik Helena.
"Hahaha.. Terus kemana dong nanti aku donorkan benihku ini, kamunya masih belum mau ku nikahi?"
Lagi-lagi Helena mengerucutkan bibirnya.
"Apa kamu mau jika ku donorkan benihku sekarang?" Bisik Langit sambil mendekat dan melumati bibir Lenka.
"Lenka.. aku mau kamu sekarang." Bisik Langit lagi.
"Sayang, pulanglah sebelum kita sama-sama tidak bisa menahan diri." Balas Helena.
"Kamu tidak ingin aku menginap di sini, sayang?" Rayu Langit.
"Aku mau, tapi nanti setelah aku syah jadi milikmu."
"Baiklah. Terimakasih. Kalau gitu aku permisi ya. Sampai ketemu besok." Pamit Langit.