
Ratu Acasha tersenyum simpul," jangan suka menarik kesimpulan sendiri gitu dong, Helena ... ayolah, berpikir positif. Sekarang aku tanya, antara Langit dan Hans, siapa yang kamu pilih?"
"Hah?" Helena melongo demi mendengar pertanyaan ratu Acasha. Nona Emma berusaha menutup tawa dengan menaruh telapak tangan dimulutnya.
"Jika kamu kesulitan memilih antara Lenka atau kembali ke ragamu, maka aku akan membantumu dengan pertanyaan yang mungkin memudahkanmu, Langit atau Hans?"
"Ah, itu sih bukannya membantu, Ratu, tapi menjerumuskan. Ratu tahu, Langit dan Hans punya pesonanya sendiri-sendiri, jika boleh tolong carikan seseorang yang merupakan perpaduan keduanya saja, baik wajah, fisik, watak maupun kekayaannya," sahut Helena cengengesan.
"Heh, dibantu kok malah ngelunjak, yah?" omel ratu Acasha sambil mengibaskan kipasnya.
"Hihi. Lagiaaan, pilihannya gak asyik banget, ratu Acasha. Tidak bisakah, aku kembali ke ragaku, Hans selamat dan Lenka baik-baik saja. Tidak bisakah, aku dan Lenka kembali ke raga kami masing-masing dan menjalani hidup kami sebagaimana mestinya, bahagia dengan pasangan dan keluarga masing-masing?" Tawar Helena.
"Huh, lama-lama hidup di dunianya Lenka membuat kamu kehilangan keanggunanmu sebagai ratu, Helena."
"Hahaha ...." pecahlah tawa Helena dan nona Emma berbarengan.
"Tuh kaaan, bahkan ketawa aja ngakak gitu. Sudah, baiknya begini saja ..." ratu Acasha tampak berpikir.
Tok ... Tok .... Pintu toilet diketuk.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" Tanya Langit.
"Eh ... i-iya, Lang. Aku baik-baik saja," jawab Helena gugup, khawatir percakapannya dengan ratu Acasha dan nona Emma terdengar oleh lelakinya Lenka.
"Yakin? Apa kita ke dokter sekarang?" tanya Langit lagi.
"Iya, yakin," sahut Helena tanpa ragu.
"Ratu Acasha, sebaiknya gimana? Apa ada solusi atau alternatif lain?" tanya Helena pelan setelah mendengar langkah kaki Langit menjauh dari toilet.
"Hm, aku memberimu waktu 10 hari untuk berpikir."
"Yang artinya sudah ada keputusan tepat sebelum Lenka menikah dengan Langit?"
"Tepat sekali. Sesungguhnya, walaupun misimu belum selesai tapi pointmu sudah cukup karena ketulusan hatimu menjalani hidup sebagai Lenka."
"Benarkah? Kenapa baru bilang, ratu? Aku kan bisa cepat-cepat kembali ke kerajaan Hanover Raya."
"Baiklah, jadi kamu telah memilih meninggalkan tubuh Lenka dan kembali menjadi Helena, kan?" selidik ratu Acasha.
"Bukankah memang seharusnya begitu, ratu?" Helena balik bertanya.
"Iya, sih ... tapi kamu tetap melakukan misi lain untuk menyelamatkan suamimu, Hans."
"Cepat katakan apa itu, ratu," pinta Helena tidak sabar.
"Ish, sebentar Helena, ini juga sedang kupikirkan apa itu. Point terbesar sebenarnya adalah membantu menyelesaikan studi Lenka dan membuatnya menikah dengan Langit," jujur ratu Acasha.
"Tapi untuk membantu Lenka menyelesaikan kuliahnya, perlu waktu beberapa bulan lagi, karena Lenka baru saja akan memulai penelitiannya. Sementara Hans ... dan juga fisikku sebagai Helena, apakah akan bertahan selama itu?"
"Nah, itu yang sedang aku pikirkan, Helena. Setidaknya kamu melakukan 1 kebaikan lagi untuk mempercepat proses semua itu," ucap ratu Acasha lagi.
"Sebut saja apa itu, ratu. Aku yakin jika memang hal itu diizinkan untuk kualami maka semesta pun akan membantuku mewujudkannya," sahut Helena mantap.
"Nah, pemikiran yanh seperti itu yang aku suka darimu, Helena," puji ratu Acasha.
Perlahan bayangan ratu Acasha dan nona Emma memudar dan hilang, meninggalkan Helena dengan pikiran yang semrawut. Bagaimana ia bisa baik-baik saja sementara Hans, lelaki yang dicintainya, tulang rusuknya itu saat ini sedang berada diambang hidup dan mati, belum lagi kegundahannya mengingat kedua buah cintanya Hugo dan Hana yang akan hidup sebagai yatim piatu jika ia dan Hans meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan.
"Baiklah ratu Acasha, aku akan menjalani kehidupan Lenka sebaik yang aku bisa 10 hari ke depan, terlepas bagaimana nanti keputusanmu," gumam Helena yang tentunya didengar ratu Acasha sambil tersenyum lembut.
"Kamu orang baik, Helena. Tidak heran jika keberuntungan selalu menyertaimu dan kamu akan mendapatkan hal yĺang terbaik juga," balas ratu Acasha di singgasananya.
Helena keluar dari toilet. Ia telah memutuskan sesuatu dan akan menyampaikan hal itu pada Langit secepatnya.
"Lang, kamu ada waktu? Aku mau membicarakan sesuatu," kata Helena pada Langit yang sedang asyik berselancar di dunia maya.
"Iya sayang? Bukankah dari tadi kita berbicara? Selalu ada waktu untukmu, sayang," jawab Langit.
"Hem, tapi tidak di sini, Lang."
"Oh iya, kamu mau kita ke mana?"
"Ke tempat yang nyaman buat ngobrol, berdua saja."
"Baiklah cintaku, bersiaplah. Kita berangkat." Langit menyambar kunci mobilnya dan menghampiri grandma untuk berpamitan.
"Baru saja kamu setuju untuk tidak membuat Lenka lelah, tetapi kenapa malah mengajaknya pergi?" protes grandma.
"Grandma, ada hal serius yang mau kami urus. Aku janji untuk tidak membuat Lenka kelelahan," ucap Langit sungguh-sungguh, mengingat Lenka sampai minta tempat khusus buat bicara tentu itu hal yang serius, bukan? Langit jadi harap-harap cemas menebak apa yang akan disampaikan oleh Lenka. Ah, gadis itu benar-benar susah ditebak jalan pikiran dan keputusannya. Apakah ini terkait kedatangan Arnold, dokter tampan itu? Atau ... ah, jangan-jangan Lenka mau bilang kalau ada pria lain yang menggoyahkan cintanya lalu membuatnya ragu dan ... meminta agar pernikahan mereka dibatalkan saja? Aduh, bagaimana ini? Jangan Lenka. Please, jangan sampai seperti itu, batin Langit.
"Baiklah, Lang. Silakan selesaikan segala sesuatunya sebelum kalian menikah," sahut grandma yang dalam pikirannya tentu urusan masalah hubungan Langit dan Mayleen dulu atau persiapan pernikahan Langit dan Lenka. Entahlah, wanita renta itu hanya bisa berharap semua baik-baik saja dan jangan sampai Lenka berunah pikiran untuk membatalkan pernikahan saja. Grandma ingin melihat cucunya hidup bahagia dengan gadis yang dicintainya, itu saja.
40 menit kemudian.
Klik.
Langit memencet tombol untuk melepas seat belt milik Lenka. Kini mereka telah tiba di tepian jalan yang berbatasan dengan sawah.
"Kita ke situ," ajak Langit sambil menautkan jarinya dengan jemari Lenka, menuju sebuah gubug kecil yang tidak jauh dari situ.
"Lang, kok ke sini?" dahi Lenka berkerut.
"Kamu tadi bilangnya mau ke tempat yang nyaman buat ngobrol, kan? Atau kamu mau kemana, ayolah biar kita jalan lagi," Langit menghentikan langkahnya.
"Hm, tidak perlu. Kamu benar, di sini nyaman kok," jawab Helena yang seketika membuat Langit lega.
"Lagian hanya ada kita, gak ada orang lain yang akan mendengarkan omongan kita hanya itu ...." Langit menunjuk orang-orangan sawah.
"I-itu apa, Lang?" tanya Helena penasaran.
Langit terus menuntun langkah Helena hingga gubug yang ditunjuknya tadi.
"Duduk dulu, nanti aku jelasin cara kerjanya," ujar Langit sambil menahan tawa, masa iya sih Lenka baru melihat orang-orangan sawah? Pikirnya.
"Nah, ini dia ..." Langit menarik tali yang diikat dengan tiamg gubug.
Klotak ... klotak ....
"Apaan sih, Lang? Berisik amat," Helena terganggu dnegan suara itu.
"Haha, memang itu fungsinya, sayang. Berisik dan benda itu bergoyang, untuk mengusir burung-burung yang akan memakan buliran padi yang hampir matang itu," jelas Langit dengan wajah jenaka. Sungguh, entah Lenka sedang berpura-pura atau gimana tapi Langit tetap menjelaskan mengenai guna orang-orangan sawah itu, yang Langit tidak tahu, Helena memang baru melihat yang namanya hamparan padi, gubug, beserta orang-orangan sawah itu.