Lenka's Dish

Lenka's Dish
27



Kelelahan mempersiapkan materi seminar proposalnya, Helena tertidur diantara buku-buku yang berserakan.


Helena merasa seperti mengikuti selir Crystal yang tampak berjalan perlahan ke ruang rahasia kastil di bawah tanah sambil bersenandung kecil. Meskipun tanpa alat penerang, selir Crystal tampak sangat hafal tempat yang sedang ditapakinya.


Krriiieeettt.. Ceklek


Pintu ruangan itu menutup pelan diikuti suara pengunci


Apa yang dia lakukan disana? Pikir Helena.


Tidak sengaja Helena menempelkan kedua telapak tangannya di daun pintu. Baru Helena menyadari kalau dia bisa menembus pintu dan kedua orang di dalam ruangan itu sama sekali tidak tau akan keberadaan Helena.


"Ehm.. Ehm.." Helena berdehem.


Tidak ada reaksi.


Helena mendekat dan menari-nari memutar mengelilingi kedua orang itu


Masih tidak ada reaksi.


Kesimpulannya Helena menyimpulkan dirinya sebagai makhluk tak kasat mata, hihi..


"Kangen?" Tanya pria yang tampak sibuk merebus, menyampurkan cairan dengan bahan tertentu.


"Hm.. Apalagi, Ben. Emang kamu ga?" Tanya selir Crystal.


"Kangen sih, hanya saja aku harus segera menemukan formula yang tepat sebelum Helena bangun, aku masih kekurangan 1 bahan yaitu daun merah yang hanya ada di puncak gunung Golyam. Ini sudah hari ke 34 dan efek racun itu hanya 50 hari. Aku harus membuat ramuan yang bisa membuatnya sadar sebelum 50 hari, agar dia tidak mendapat kekebalan itu."


"Ah, sudah beberapa orang pengawal yang ke sana tapi tidak ada yang kembali membawa bahan yang kamu maksud, Ben. Pegunungan yang curam, belum lagi binatang liar yang berkeliaran, mungkin saja mereka sudah mati. Apa tidak ada pilihan lain?."


Ben menggelengkan kepalanya.


"Aku sedang mencari bahan pengganti yang efeknya mirip dengan daun merah itu, ini yang sedang kulakukan ketika kau masuk tadi."


"Begitu ya, tadi pagi ku dengar Hans kembali mengadakan sayembara, akan ada hadiah bagi siapa saja yang bisa membuat istrinya sembuh seperti sedia kala."


"Oh ya, berupa apa hadiahnya?" Tanya Ben.


"10 kantong uang emas, 1 buah kastil beserta isinya"


"Wow, Hans ga pelit juga ya demi kembalinya sang istri. Apa yang kau rencanakan sayang?"


Sayang? Apah.. Lelaki itu bilang sayang ke selir Crystal, siapa sih sebenarnya lelaki ini? Pikir Helena yang duduk di belakang kedua insan itu. Sengaja dia mengambil posisi yang dekat supaya ga salah dengar.


"Kalau formula yang kubuat ini berhasil, aku meminta imbalan.."


"Katakan, bercinta semalam suntuk?" Goda selir Crystal.


Uhhhukk..


Helena terbatuk. Owh.. Jadi hubungan mereka ini, yang seperti itu.


"Ck.. Ingat umur, Crystal. Ntar kamu lecet-lecet, nyalahin aku yang main kasar lagi kamu bilang." Ben terkekeh.


"Uuuh, lantas kamu mau imbalan apa Ben?" Kamu sudah punya segalanya.


"Haha.. Aku mau kebebasan, aku mau pengakuan."


"Maksudmu?"


"Yah, aku mau bebas dari tempat ini, bebas berkeliaran hidup seperti sebelumnya. Dan kamu tahu? aku sudah bosan berpura-pura menjadi kakakmu, berpura-pura menjadi paman bagi Jevan, aku mau pengakuanmu bahwa kita adalah sepasang kekasih dan akulah ayah kandung Jevan. Aku ingin menikahimu. Bagaimana?"


"Hmmm, jangan gila kamu Ben."


"Aku cuma bilang apa yang aku mau sayang. Nanti kita buat strategi, seolah ramuan rahasia milik Jevanlah yang bisa menawar racun itu."


"Apa dengan memiliki penawarnya ,tidakkah malah nanti dia dicurigai sebagai pelaku, maksudku pemilik racun itu?


"Heiii... Alex main aman kan, bahkan setelah kabar kematian Helena berembus orang-orang Jevan telah membunuhnya dengan cara yang keji.


"Hm.. Aku membayangkan, Jevan sebagai pangeran yang tidak dianggap kemudian dihargai, disegani bahkan mungkin kembali mendapatkan hati Tuan Arion karena telah menyelamatkan hidup Helena. Lalu kemudian Jevan akan dengan mudah menyingkirkan Hans dan menjadikan Helena istrinya."


"Putraku menginginkan Helena hidup, itulah alasanku menemukan formula itu secepatnya. Jika tepat 50 hari dia bangun berarti aman dan dia akan kebal terhadap segala macam jenis racun bahkan darahnya bisa ditelan menjadi penawar racun mematikan sekalipun, tetapi jika lebih 50 hari.. Helena akan mati mengenaskan." Jelas Ben.


"Haha.. Bagiku ga penting juga Helena itu, mau mati mau hidup. Yang penting anak kita bisa naik tahta menjadi raja Hanover Raya. Masalah permaisuri gampanglah nanti." Ujar Crystal.


"Hmm.. Crystal, sayangku.." Ucap Ben dengan nafas yang berat mulai membelai mesra rambut Crystal.


"Ya?.." Crystal paham apa yang diinginkan kekasihnya mulai ikut gerakan Ben yang menempelinya dari belakang.


Erangan, desahan kenikmatan lolos begitu saja dari keduanya seiring gerakan yang saling menggoda satu sama lain.


"Sebentar.." Ben menghentikan aktivitasnya sejenak dan mengambil sesuatu.


Crystal melepas gaun dan penutup tubuh yang lain lalu mendudukan pantatnya di tepi ranjang dengan posisi ngangk*ang dan kedua kaki yang sengaja di buka.


Ben tersenyum senang melihat pemandangan yang amat menggugah hasrat kelelakiannya itu. Dengan berjongkok di sisi tempat tidur, Ben memainkan bagian inti liang favoritnya yang tampak kemerahan dan menonjol, membelai, menjelajahi dengan jemarinya lalu berganti dengan lidahnya menyapu, mengecap dan mengis*ap bagian itu sampai membuat Crystal meleguh tidak karuan.


"Owh.. Beeeeennnn."


"Ya, sayang kamu siapkan?" Tanpa menunggu persetujuan yang bersangkutan Ben segera membuka tutup botol sesuatu yang diambilnya tadi, mengoleskan di sepanjang bagian benda pusakanya juga di sekitar liang milik Crystal.


"Apa itu, ayo Ben cepatlah.." Crystal memohon.


"Biar licin, langsung jleb. Enak kan, ga sakit lagi?" Bisiknya.


Dan berlanjutlah pertarungan mesra dua insan yang tidak lagi belia itu berlangsung panas, sempat berganti 3 variasi posisi terus dan terus hingga keduanya lemes terkulai ga berdaya lalu tidur berpelukan tanpa sempat mengenakan kembali pakaian mereka.


Owh astaga, kenapa kok aku malah ngeliat gituan sih, sampai selesai lagi. Uhhh.. Helena mengatur nafas. Kirain orang udah berumur ga butuh have fun jenis ini ga taunya sama aja, hihihi. Helena terkikik geli membayangkan nanti jika dia dan Hans sama-sama tua tapi masih doyan wikk.. wikk.


Tiba-tiba kecoa mengenai kaki Helena dan awwwhh..


Keterkejutan Helena membuatnya menyenggol salah satu botol dan isinya tumpah mengenainya sehingga lengan Helena yang kena cairan biru tersebut kelihatan.


"Be.. Beeennn.. apa itu, seperti tangan manusia." Ujar Crystal melihat nanar. Sayang, mata yang sudah mulai rabun serta hentakan-hentakan dari Ben membuatnya semakin sulit memperhatikan apa sebenarnya yang telah dia liat itu.


Cepat-cepat Helena memasukkan lengannya ke dalam jubah yang dia kenakan.


"Sst.. Jangan mikir macam-macam sayang, harus fokus dong bentar lagi kelar nih." Jawab Ben yang masih sibuk menggenjot kekasihnya.


"Ah.. cuma salah liat ternyata." Crystal kembali mengimbangi pergulatan mereka.


Iiissshh.. Sial, hampir aja ketahuan. Rutuk Helena sambil cepat-cepat melangkahkan kakinya keluar ruangan itu.


Eh.. aku tadi lagi ngapain ya, kok bisa tiba-tiba ngikutin selir Crystal? Helena kebingungan sendiri.


Klip..


Helena memencet jepit rambut mutiaranya. Dan segera saja dia kembali ke posisi sedang merebahkan kepalanya diatas meja belajar, diantara buku-buku.


17.25 liriknya pada jam yang nangkring manis diatas meja. Hmm.. Aku tertidur sampai hampir gelap. Helena masih mencerna apa yang baru saja dia lihat tadi, selir Crystal dan lelaki bernama Ben yang ternyata adalah ayah kandung Jevan. Berarti Jevan bukan anak Tuan Arion dong. Aaahhh...


Ceklek..


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


Sosok tegap tinggi besar yang baru masuk itu langsung meraup tubuh Helena yang masih duduk, mengangkatnya dan membaringkannya ditempat tidur.


Hmmmphh..


Berulang kali Helena kehabisan nafas karena sosok yang sedang menindihnya itu mencium dan melum*at bibirnya dengan membabi buta.


Kyaaaaaa...!


"Ampun.. Tolong, hentikan."


Tapi sosok itu masih saja sibuk menindih Helena, menggesek-gesek bagian tertentu miliknya ke bagian tertentu milik Lenka.


"Honey, aku sangat menginginkanmu. Boleh ya?


"Sa.. sayang, hentikan. Ingat, kita belum menikah. Heii.. sayang.. Sayang bentar lagi halal, sabar ya." Helena menepuk2 punggung Langit.


Mendengar lirih suara Lenka, Langit perlahan mengurangi aktivitasnya dan tersadar.


"Maaf, aku.. Aku terpancing emosi di kantor, dan aku perlu pelampiasan." Jawabnya.


"Mandilah." Jawab Helena tanpa menanyakan apa penyebab emosi Langit terpancing.


"Sayang, pinjem handukmu ya." Balas Langit.