
"Heiii.. Baginda raja Hans tampan rupawan rupanya yang bertamu. Selamat datang." Antusias Benefio menyambut Hans dengan pelukan hangat.
"Hai sir Benefio.. Maaf telah mengganggu waktumu. Aku membutuhkanmu untuk.."
"Ah.. Aku sudah mendengar percakapan kalian tadi, sudah jangan dengarkan apa yang diminta oleh Crystal. Mari ikut aku ke ruangan bawah tanah dan kita lihat apa yang bisa kita lakukan untuk membuat istrimu kembali sehat seperti sedia kala, ok?"
Selir Crystal mendelik sementara Hans mengangguk dan mengekori sir Benefio.
Hans memang tergolong cukup dekat dengan sir Benefio, karena sejak kecil ia dan Jevan pertama kali belajar berkuda, memanah dan berpedang diajari oleh Benefio. Hingga usia remaja mereka dilatih oleh prajurit lain karena sir Benefio punya tugas sebagai ahli kimia kerajaan Hanover Raya.
"Jika aku menelaah keadaan istrimu yang hampir 2 bulan tidak bangun-bangun tapi berangsur membaik dan tidak pucat lagi padahal ketika kena awal kena dia persis seperti orang yang meninggal, sepertinya dia terkena racun khusus yang unik. Uniknya karena racun itu tidak langsung mematikan tapi membuat orang dalam keadaan koma saja, mati tidak hidup juga tidak. Jika istrimu bertahan dan kuat hingga melewati 3 bulan dalam keadaan seperti itu maka ia akan berangsur pulih sendiri dan menjadikannya kebal terhadap semua jenis racun tapi apabila tidak, maka disitulah hidupnya berakhir."
"Jadi kita harus menemukan penawar itu sebelum 3 bulan pertama, sir ?"
"Hem.. Kamu tidak ingin istrimu kebal terhadap semua jenis racun?" Benefio balik bertanya.
"Aku ga mau gambling, sir. Bagaimanapun ini hidup-mati istriku yang tentunya sangat berpengaruh dengan keberadaan hidupku. Iya, kalau istriku kuat dan mampu melewati masa kritisnya, kalau ternyata.. Ah, aku tidak bisa membayangkan."
Benefio menarik tuas dan seketika ruang laboratorium menjadi berwarna biru terang.
Pandangan Hans berpendar mengelilingi ruangan itu dengan perasaan kagum.
"Kamu tau ini adalah ruang teraman di kastil ini. Aku sudah memodifikasinya menjadi ruang tahan peluru dan kedap suara. Hans, sudah saatnya kamu tahu tentang sesuatu, tapi aku mohon kamu berjanji untuk bertindak disaat yang tepat nantinya."
"Apa maksudmu, sir? Apa ada konspirasi dibalik kejadian yang menimpa istriku?" Selidik Hans.
"Kurang lebih begitu, Hans. Tapi istilahmu itu terlalu rumit untuk peristiwa kita. Sesungguhnya, target yang terkena racun itu adalah dirimu tapi malah istrimu terminum air yang didalamnya sudah dibubuhi racun itu."
Hans terbelalak.
"Jadi, istriku keracunan bukan karena terhirup aroma bunga kuning dan sebenarnya ada yang menginginkan kematianku, sir?"
Benefio mengangguk.
"Kamu bahkan sudah beberapa kali terminum racun itu, karena dibubuhi pada teh hijau yang kamu minum tiap pagi, maka efeknya jadi berkurang dan malah membuatmu sedikit kebal terhadap segala jenis racun. Nah, hari itu istrimu yang terminum air putih juga termakan cake yang telah dicampuri ramuan berbahaya itu. Mungkin daya imun istrimu, tidak sekuat tubuhmu makanya dia mudah tumbang." Terang Benefio.
Hans mengangguk tanda mengerti.
"Apa itu orang dari kerajaan lain yang menaruh dendam terhadapku?"
Benefio menggeleng. "Justru ini dilakukan oleh orang yang kamu kenal, orang dalam yang cukup dekat denganmu tapi memiliki hati yang dengki. Aku mengatakan ini karena ingin segera mengakhiri kemelut dalam kerajaan Hanover Raya." Pungkasnya.
Kemelut? Tidak ada perang atau hal apapun yang genting terjadi di kerajaannya.
Hans tercekat tak percaya mendengar perkataan sir Benefio. Hans merasa sudah memimpin dengan baik dan adil, bagaimana mungkin ada orang atau pihak yang dengki dengan kinerja-nya bahkan orang yang cukup dekat dengannya pula.
"Mana ada orang sepicik itu di kerajaan Hanover Raya, sir?" Tanya Hans dengan naifnya.
"Jelas ada, buktinya kita sedang menghadapi masalah bukan? Walaupun bukan kamu yang menanggung derita secara langsung tapi lihat efeknya selama istrimu sakit, roda pemerintahan berjalan seadanya bukan?" Pancing Benefio.
Hans menunduk dan mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja di hadapannya. Masih tidak percaya, bingung tidak tau harus bertindak dan berkata apalagi.
"Aku tau persis karena pelakunya adalah anak dan juga kekasihku sendiri.."
"Hah, jangan mengada-ada sir. Anda mengenal pelakunya atau hanya menuduh tanpa buktinya saja? Bukankah selama ini anda tidak pernah menikah, bagaimana mungkin.."
Benefio terkekeh.
"Aku bilang pelakunya adalah anak dan kekasihku sendiri. Aku tidak ada bilang aku menikah dan punya anak bukan? Masa kamu ga tau.. Ga harus menikah hanya demi punya anak Hans, hehe." Lanjut Benefio sedikit konyol, membuat Hans ikutan terkekeh.
"Jadi kamu akan mengatakan untukku, siapa mereka?"
"Tentu saja, dan inilah tujuanku mengajakmu ke sini. Aku sudah berumur dan muak hidup dalam rasa bersalah seperti ini aku pikir sudah saatnya semua terkuak. Tadinya aku ingin menemuimu secara langsung, tapi aku masih sibuk menimbang waktu yang tepat. Syukurlah kamu berbesar hati ke sini terlebih dahulu. Jiwamu yang matang tentu bisa berpikir jernih.. Hans, sebesar apapun kesalahan orang-orang yang kucintai itu, aku mohon jangan pisahkan kami nantinya. Jika pun hukuman mereka nanti membuatmu harus membunuh mereka tolong bunuhlah aku juga, Hans. Tentu kamu mengerti apa yang aku maksud tentang perasaan tidak ingin berpisah dengan matahari, penerang dan pemberi semangat hidupmu kan? Seburuk apapun, mereka adalah nafas hidupku, Hans."
Hans meraih dan menggenggam tangan sir Benefio, "Aku berjanji, sir. Tidak ada kesalahan yang tidak termaafkan, meskipun nantinya apa yang orang itu lakukan dapat membuatku berpisah selamanya dengan Helena sekalipun. Aku hanya manusia biasa, tentu banyak kesalahan yang telah kulakukan dan akan bersyukur jika kesalahanku diampuni."
"Hans, orang itu adalah.. Jevan dan Crystal." Lirih Benefio.
Hans terdiam dan tampak berpikir keras
Hening.
Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Penunjuk waktu terus berbunyi sesuai menitnya.
Hans berusaha mengendalikan emosinya.
"Hans.."
"Hans.." Benefio berusaha menyadarkan Hans yang tampak bengong.
"Gimana ceritanya, sir?" Lirih Hans sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menghela nafas kasar.
"Oh no.. No.. No.. katakan anda sedang berbohong dan ber-acting dihadapanku, sir." Hans terisak. Runtuh sudah pertahanannya mendengar kenyataan yang disampaikan sir Benefio."
"Sayangnya, aku tidak sedang bermain-main apalagi berbohong sama kamu, Hans. Aku sudah tua, mungkin tidak lama lagi aku akan tutup usia. Untuk apa mengatakan omong kosong padamu hm?"
"Ja.. Jadi, maksudmu.. Aku dan Jevan bukan saudara se-ayah, sir?"
"Tentu, Hans. Jevan bahkan tidak punya hak apapun di kerajaan Hanover Raya termasuk juga limpahan kasih sayang dari raja Arion. Hanya saja, ibarat suami yang takut istri.. Tiap kali akan mengungkapkan hal ini, Crystal selalu mengancam untuk membunuh raja Arion dan seluruh keluarganya. Jujur aku ga mengerti bagaimana keserakahan begitu menguasai Crystal dan sialnya aku sangat mencintainya sehingga mau-mau aja menuruti semua keinginannya yang gila itu."
Benefio menuangkan air putih ke gelas yang tersedia.
"Minumlah, untuk mendinginkan hati yang panas." Tawarnya sambil meneguk air di gelasnya terlebih dahulu.
"Ini benar-benar gila. Cinta memang maha dahsyat ya, sir. Ga keliatan tapi kekuatannya bisa membuat seseorang oleng, berpikir tidak pada tempatnya, haha." Hans berusaha santai menanggapi Benefio.
Benefio hampir tidak percaya melihat reaksi Hans bisa setenang itu. Tidak ada emosi yang berlebihan hanya tampak tidak percaya dengan perkataannya saja.
"Hans.. Apa yang akan kau lakukan?"
"Entahlah sir. Aku belum mikir terlalu jauh. Sekarang yang penting adalah tolong buatkan penawar racun bagi istriku. Apabila istriku sembuh, aku akan memenuhi janjiku pada madam Crystal tadi.. Yaitu bertukar tempat dan menyerahkan tahtaku untuk Jevan."
"Demi langit dan bumi, please jangan lakukan itu Hans. Bagaimana mungkin kamu serahkan tahtamu untuk orang yang tidak pantas jadi pemimpin."
"Tapi aku sudah berjanji dan sudah membubuhkan metraiku di surat pernyataan yang dipegang oleh madam Crystal. Anda tidak bangga jika putra anda menjadi raja Hanover Raya?"
"Aissshh.. Persetan dengan itu semua, Hans. Walaupun mungkin aku memiliki seluruh dunia ini beserta isinya.. Bagiku yang terpenting adalah bersama anak dan kekasihku saja. Kamu seorang suami dan ayah juga tentu kamu mengerti maksudku Hans"
"Sir, aku hanya ingin jadi orang yang bisa dipercaya dan memegang pernyataanku. So, biarkan aku memenuhi janjiku nanti segala sesuatunya kita atur sewajar mungkin. Dan satu hal, kebenaran mengenai Jevan juga madam Crystal.. Biarlah orang-orang taunya begini adanya saja. Jangan sampai skandal ini jadi perbincangan di khalayak umum."
"Owh.. My goodness, terbuat dari apakah hatimu ini nak? Tolong beri kami hukuman yang membuat kami tetap bersama saja. Tinggal di pengasingan sekalipun tidak masalah. Aku pikir Jevan yang angkuh itu bisa mengerti nanti jika dia tau kenyataan kalau aku adalah ayah kandungnya. Dia pasti mau menerima apapun hukuman yang akan kami terima nanti. Aku tau Jevan anak yang baik, hanya saja dia terpengaruh oleh orang yang serakah saja."
"Beri waktu untukku berpikir, sir. Sungguh, apa yang anda sampaikan hari ini sangat menguras emosi dan jiwaku. Bagaimana ya seorang sir Benefio sanggup menyandang semua ini hanya karena cinta? Fiuuuuhhh."
Benefio terkekeh.
"Bukankah kamu sampai ke tempat ini juga karena cinta yang tidak biasa-biasa saja, Hans? Ramuan untuk istrimu sedang dalam proses pengujian. Aku bahkan telah membuat penawar itu jauh sebelum kamu minta."
"Terima kasih, sir."
"Aku juga sangat berterima kasih padamu, Hans."
Benefio dan Hans sejenak berpelukan dengan penuh rasa haru dan kemudian Benefio menarik kembali tuas-nya, membuat ruangan kembali normal.
Ceklek..
Pintu terbuka dan masuklah Crystal bergabung dengan mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" Selidik Crystal.
"Tidak seperti yang sering kita lakukan disini, Crystal. Hans sedang mempelajari tentang campuran dan khasiat campuran tertentu juga belajar membuat ramuan untuk bikin ramuan penawar bagi permaisuri Helena." Jawab Benefio sekenanya.
"Owh. Bikin yang benar ya, Ben sebab Hans telah berjanji untuk menyerahkan tahta kerajaan Hanover Raya dan bertukar dengan wilayah selatan yang di pegang oleh puteraku Jevan selama ini."
"Jika ramuan ini berhasil, puteramu dapat tahta lalu aku dapat apa hm?" Tanya Benefio setengah menggoda Crystal.
Crystal mendengus kesal.
"Aku harap kamu tidak melupakan janjimu Hans." Pinta Crystal.
"Baik, madam. Siap. Asalkan anda memastikan sir Benefio bisa membuat ramuan yang ampuh untuk istriku."
Tidak lama Hans pun berpamitan dan kembali ke istananya.
Jlepppp..
Anak panah melesat cepat berhenti di bagian bahu belakang Hans.
"Aaaaaaa..." Hans terjatuh dari kudanya dan tergeletak pingsan.
Seseorang tampak tersenyum puas melihat kejadiam itu dari jarak aman.
"Mati aja kamu, Hans. Sejak kecil, kamu hanya bisa merebut apa yang seharusnya milikku saja. Aku benci kamu, Hans."
"Jevan ! Jangan gegabah melakukan segala sesuatu." Hardik Crystal. "Huh, kalau begini.. Hanya nambah masalah kita sama pihak kerajaan Hanover aja." Sungutnya lagi.
Jevan nampak acuh dan bergeming.
"Nanti orang-orangku yang mengurusnya, ma. Biarkan saja." Sahutnya.
Sementara dalam pingsannya, Hans mengalami hal yang manis.. Dia dan Helena seolah sedang berpiknik dengan anak-anak mereka.. Hm, tidak hanya ada Hugo dan Hana, tapi ada juga seorang bayi perempuan yang belum bisa berjalan sempurna.
Sementara Helena tampak kesusahan karena kehamilan yang membuat perutnya membuncit itu sibuk mengatur bekal mereka, menatanya diantara teriakan bocah-bocah kecil mereka yang kelaparan. So sweet.