Lenka's Dish

Lenka's Dish
12



Shelter Transitee


Ratu Acasha tersenyum melihat tayangan di tembok istananya.


"Aku suka Helena dia benar-benar gadis cerdas dan tangguh."


"Maaf ratu, Helena sering bertanya berapa misi lagi atau berapa point lagi yang harus dia kejar agar boleh kembali ke kehidupan yang sebenarnya." Tanya nona Emma hati-hati.


"Entahlah, aku suka dengan improvisasinya dalam hal ketulusan ketika harus melayani orang lain."


"Jadi, ratu akan tetap memberi beberapa misi lagi ?"


"Tentu, walaupun sebenarnya ketika nanti dia sudah menyelesaikan 3 misi terakhir, itu sudah cukup. Kamu tahu, bahkan banyak hal yang Helena lakukan lebih baik daripada ketika Lenka yang melakukannya. Aku akan membuat keberadaan Lenka lebih bermanfaat terutama bagi orang-orang disekitarnya karena sebelumnya Lenka adalah orang yang cuek, judes, dingin, kurang percaya diri, introvert dan mudah menyerah. Helena dengan keluwesannya baik dalam berpikir dan bertindak nantinya akan sangat membantu Lenka jika mereka telah kembali ke kehidupannya masing-masing."


"Emmm.. Apa ratu akan membuat Helena bimbang karena nyaman dicintai oleh Langit ?" tanya nona Emma.


Ratu Acasha tersenyum.


"Itu nanti alamiah aja, aku ga ngatur masalah ini, biar berjalan secara natural. Mau nanti Helena nyaman jadi Lenka atau dia tetap kembali kepada keluarganya, tergantung kata hatinya saja. Aku bahkan akan menambahkan sedikit warna untuk menambah kebimbangannya dan kita lihat bagaimana dia menjalani hal itu." Jawab ratu Acasha.


🌻🌻🌻


Tok.. Tok..


Helena mengetuk pelan ruang dosennya.


"Silahkan masuk."


"Selamat siang, bu. Saya Lenka, mau konsultasi mengenai judul skripsi saya."


"Ah, Lenka. Maaf sekali saya akan ada rapat sebentar lagi. Kalau kamu mau konsultasi membahas judul skripsimu dengan santai, datang ke rumah nanti malam jam 7 ya."


"Baik, bu. Terimakasih. Saya permisi."


"Sampai ketemu nanti malam, Lenka. Saya tunggu."


Ibu Miryam adalah dosen pembimbing akademik Lenka. Beliau ada mendengar desas-desus mengenai Lenka yang beberapa waktu lalu mengalami musibah dan sempat koma cukup lama.


Ibu Miryam sangat ingin memotivasi Lenka agar tidak patah semangat dalam menyelesaikan studinya.


Disamping itu karena sudah mengenal Lenka cukup lama, ibu Miryam berniat untuk mengenalkannya dengan Arnold, putranya seorang dokter yang masih jomblo.


🌻🌻🌻


Lenka tidak melupakan janjinya dengan Jean sore ini untuk belajar mengolah hidangan yang akan dimasukkan ke dalam daftar menu baru Ola Voila resto.


"Haiii." Sapa Helena kepada Jean, Alice Morel dan seorang perempuan yang belum dikenal oleh Helena, mereka tampak asik berbincang ketika Helena memasuki resto.


"Hai Lenka. Tumben kamu datang lebih cepat dari biasanya." Ujar Jean.


"Iya, soalnya aku tidak bisa lama-lama di sini. Nanti jam 7 malam aku ada janji ketemu dengan ibu Miryam, dosenku."


"Wow, its nice Lenka. Dan kamu bisa membawa hasil olahan kita sebagai oleh-oleh untuk dosenmu." Kata Alice Morel bersemangat.


"Aha, its good idea Chef Alice." Balas Jean.


"So, tunggu apa lagi ? Lets go girls." Ajak Alice Morel.


"Oh iya, kita punya teman baru 2 orang, sebagai tenaga tambahan andalan di dapur kita, yang ini namanya Mayleen, yang satunya lagi chef Maximillan, tapi berhalangan hadir saat ini. Hari ini kita masak Chinesse food. Mayleen, siap langsung training ya." Komando Chef Alice Morel.


Mayleen mengangguk.


Segera chef Alice Morel memberikan daftar masakan, beserta komposisi bahan dan cara masak. Helena dan Mayleen dengan cekatan mencari, membersihkan memotong bahan. Masing-masing bertanggung jawab atas 4 jenis olahan yang nantinya akan diseleksi lagi sebagai menu andalan Ola Voila resto.


Jean selalu menyukai kondisi ini. Aroma masakan yang wangi menguar dari dapurnya sangat menenangkan jiwa gundah akan masalah yang dihadapinya.


Jean dan Yuan, mantan suaminya sepakat untuk bergantian hari menjaga Aimee di rumah sakit agar tidak ada kesempatan untuk bertemu.


1 jam, 2 jam berlalu, ketiga perempuan cantik itu masih sibuk berkutat didapurnya.


Kliiingg...


Seorang pria tampan memasuki resto, lalu mencari posisi nyaman untuk menyiapkan lighting juga kamera.


"Halo mas Langit, silahkan bertugas." Sapa Jean ramah.


Disambut senyuman Langit.


"Halo Jean, aku langsung ya." Balasnya berjalan ke arah dapur dengan peralatan dokumentasinya.


Tampak beberapa jenis masakan tersaji dengan artistik menggoda Langit untuk diabadikan dan dicicipi tentunya.


"Hm, Chinesse food ya menu hari ini." Gumamnya sambil terus memoto dengan angle yang indah.


"Masih banyak lagi yang bel.." Tanya Langit terpotong.


Dheggg..


Langit terkesiap ketika netranya bersitatap dengan seseorang yang sangat dikenalnya.


"Ma.. May ?"


"La.. Langit ?" Balas Mayleen tidak kalah terkejutnya.


Helena yang ingin menaruh hasil masakannya di meja itu tidak sengaja melihat interaksi antara Langit dan Mayleen merasa heran. Adakah sesuatu yang tidak diketahui Lenka ? Batinnya.


Uuh, lagi-lagi kali ini sistem tidak memberinya informasi apapun tentang hubungan keduanya.


"Eh, sa.. sayang, udah hampir jam 6 lho. Nanti kita terlambat menemui dosenmu." Langit mencoba mengalihkan perhatian Lenka.


"Sudah selesai semua ?" Tanya Jean.


"Satuuuu lagi, nyonya. Ini bebeknya lagi di iris-iris." Sahut Chef Alice Morel.


"Kita makan bersama dulu, ga apa-apakan Len? Dan jangan lupa kamu siapin bingkisan makanan untuk ibu dosenmu. Ujar Jean pada Helena.


"Mayleen, hidangan apa yang kamu buat? Tanya Jean.


"Kwetiau goreng, la ji zi, sapo tahu dan ayam kuluyuk, nyonya."


"Dan kamu Len?."


"Aku bikin capcay, ayam cincang gong bao, lun pia dan tangyuan, Jean?"


"Tangyuan ?" Tanya Jean.


"Iya , tangyuan ini semacam wedang ronde ala Sichuan Jean. Di dapurmu lengkap bahan-bahannya ada nasi yang difermentasi ada ketan jadi deh aku bikin itu trus ada rebung yang aku jadiin campuran isi lun pia." Terang Helena.


"Nah... kalau aku, bikin bebek peking. Yang dari kemarin bebek pedaging ini khusus aku rendam  pake gochujang selama 24 jam trus menjelang siang aku tiriskan, aku gantung selama 6 jam baru dipanggang selama 45 menit. Sambil nunggu bebek matang, aku bikin won ton atau pangsit isi daging cincang yang terus dibungkus tepung terigu berbentuk lembaran sama bikin fuyunghai dan aneka dim sum. Jadi deh." Jelas chef Alice Morel panjang lebar tanpa ditanya.


Jean tersenyum senang, bahagia membayangkan lidah dan perut pengunjungnya nanti dipuaskan dengan aneka masakan hasil kreasi dari dapur Ola Voila, seperti dia saat ini.


"Mmm.. kalian memang hebat-hebat. Aku bingung memilih mana yang akan selalu kita hidangkan di resto dan siapa yang bertanggung jawab menyiapkan bahan-bahannya. Bagaimana menurutmu mas Langit?" Tanya pada langit.


"Em.. aku, oh.. eh, aku bingung juga bu Jeanett. Mau makan apa saja dan dimana saja saku cuma mengenal 2 jenis rasa masakan." Jawab Langit.


"Wah, rasa apa itu?" Penasaran Jean.


"1 rasa enak dan 2 rasa enaaak sekali, haha"


"Kamu ga berubah ya Lang, dasar tukang makan." Celetuk Mayleen ringan.


"Aku pikir rasa yang pernah ada." Sahut Helena dingin.