
Kicauan burung yang hinggap di pohon mangga membangunkan Helena dari tidurnya.
Huuummmpph... Helena menarik dan menghembus nafasnya pelan sambil membaca dan menuliskan hal tertentu yang sekiranya akan menjadi bahan diskusi untuk seminar proposalnya 2 hari lagi.
Kali ini dia tidak menggunakan 'kesaktiannya' memindai informasi dari media yang dibacanya tapi lebih memilih Komat-kamit membaca sambil berlatih di depan cermin, dengan cermat mempersiapkan dirinya menghadapi seminar itu.
"Apa yang kau lakukan, Helena?" Tanya Lenka yang tiba-tiba muncul melalui cermin di depannya.
"Aku sedang membantumu menghadapi seminar proposal, Lenka."
"Wuiiih.. Secepat itu, bukannya aku masih banyak ketinggalan mata kuliah?"
"Sudah tertangani Lenka, aku turut senang jika kamu cepat menyelesaikan studi-mu."
"Terima kasih banyak Helena, kamu memerankan aku dan menjalani hidupku bahkan lebih baik dari aku." Tulus Lenka.
"Hemm.. Ini ga lepas dari andil Langit lhooo.."
"Masa ?"
"Hehe.. Beneran. Kamu dan Langit akan menikah dalam waktu kurang dari 3 minggu lagi."
"Astagaaa.. Secepat itu?"
"Apa salahnya, Langit sangat mencintaimu. Dia ingin kamu segera halal untuknya.."
"Kamu seriusa kalau dia benar mencintaiku tanpa maksud lain?
"Maksud lain seperti apa, Lenka?"
"Entahlah.. Tampaknya kamu lebih mengenal Langit daripada aku."
"Ah.. Itu hanya karena kamu terlalu jaga image aja, Lenka. Kamu terlalu gengsi sehingga enggan mengakui dan mengekspresikan perasaanmu terhadap Langit. Sampai-sampai pemuda itu merasa kamu abaikan dan tidak kamu perlukan."
"Dan kamu.. Apa yang sudah kamu lakukan sama Langit tidak membuatnya menilaiku 'murahan'?"
"Sepertinya tidak. Asal kamu tau, sempat terbersit dipikiran Langit untuk kembali pada Mayleen mantan pacar yang telah melahirkan anaknya itu.."
"Apa? jadi benar Langit punya anak.."
"Benar Len. Anak Langit dan Mayleen bernama Rigel, saat ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja dia dalam perawatan karena ada kelainan darah, itu yang membuat Langit bertanggung jawab dan masih kontak dengan Mayleen. Tapi Mayleen malah lain tanggapannya, padahal dia sudah menikah lagi, masih saja menggoda Langit. Sebagai pria dewasa tentu dia tergoda tapi masih tau batasannya, itu sebabnya dia membutuhkan kamu sebagai penyemangatnya. Dia ingin memilikimu segera dengan cara yang semestinya." Terang Helena.
"Hm.. Begitu ya. Helena aku berterimakasih, kamu sudah memperbaiki hubunganku dengan ayahku, dengan Langit, abang Legawa juga orang-orang di sekitarku. Aku harus banyak belajar darimu soal ini."
"Eissh.. Tiap kita pribadi yang unik Lenka dan punya ciri khas masing-masing. Aku dengan caraku menjalani hidupku, belum tentu sesuai dengan pilihan pribadimu. Aku hanya menambah sedikit bumbu dalam relasimu jadi orang lain, bagaimana kamu mau atau nyaman diperlakukan oleh orang lain seperti apa, perlakukanlah seperti itu terhadapnya terlebih dahulu."
"Whatever, aku sangat berterima kasih padamu Helena. Aku jadi menemukan semangatku kembali untuk menjalani hari-hariku."
"Syukurlah. Lenka, aku minta maaf. Aku masih memakai tubuh dan hidupmu sebagai mediaku menyelesaikan misi-ku demi kepentinganku yaitu agar boleh berkumpul dengan suami dan anak-anakku."
"Tidak masalah Helena, aku tahu mereka sangat berarti untukmu. Aku senang jika dengan ini aku bisa turut mewujudkan kebahagiaanmu. Ah, keluargamu pasti sudah sangat merindukanmu."
"Terima kasih Lenka, nanti kamu akan mengerti jika sudah mempunyai keluarga-mu sendiri." Sahut Helena pelan sambil tersenyum.
Lenka mengangguk dan menghilang dari hadapan Helena.
Helena kembali membuka buku misi-nya dan memperhatikan list yang telah dibuatnya :
β Menolong kucing belang tiga. Point 100. Done.
β Menyelesaikan Studi Lenka. Waktu 7 bulan.
β Jeanett Moon di Ola Voila. Waktu 3 bulan.
β Mengajarkan anak-anak memasak. Waktu 3 bulan. Point 2.000. Done.
Hm.. baru dapat 3.100 point. Entah berapa point yang harus ku kejar dan entah berapa misi lagi yang harus aku selesaikan. Syukurlah 2 tugas sedang dalam progres. Aku harus menyelesaikan misi ini secepatnya agar segera berkumpul dengan suami dan anak-anakku kembali. Batin Helena mensupport dirinya sendiri.
Wuusss...
Nona Emma muncul di hadapannya.
"Hai Helena, apa kabar?"
"Hai non Emma.. Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja bahkan mulai terbiasa menjalani hari-hari sebagai Lenka dan pada saat-saat lain menjadi diriku meskipun melalui mimpi yang nyaris nyata."
"Kamu terlihat bersemangat.. Apa karena mimpi manis itu?" Goda nona Emma.
"Ah.. You know-lah nona Emma." Helena tersipu. "Terima kasih ya, walaupun lewat media mimpi kerinduanku cukup terobati dan itu jadi booster-ku menyelesaikan misi dari ratu Acasha."
"Kamu pantas mendapatkan itu, Helena. Teruslah bersemangat dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarmu. Dan... kamu mendapat 1.000 point diluar misi tiap kali membuat orang lain bahagia dan merasa tertolong karenamu."
"Owh, benarkah nona Emma? Jadi.."
"Kamu mendapat 18.700 point hasil akumulasi rasa bahagia dari pak Kasan, Langit, Latiefa, abang Legawa, Jeanett Moon dan karyawannya, ibu Miryam dan Arnold, anak-anak panti beserta pengasuhnya, grandmom, bahkan dari Jevan dan prajuritnya juga Lenka sendiri yang merasakan efek kehadiranmu. Teruslah berbuat baik Helena, dengan ada atau tidak adanya point itu."
Nona Emma pun menutup kunjungan singkatnya dan menghilang dari edaran pandang Helena.
3.100 ditambah bonus 18.700 jadi 21.800 point, Helena menambahkan coretan dilembar itu sambil tersenyum dan menentukan fokus utamanya menyelesaikan studi Lenka.
π»π»π»
Di salah satu sudut rumah sakit.
"Aku mohon jangan ganggu hubunganku dengan Lenka." Pinta Langit.
"Owh, jadi rubah betina itu sudah mengadu kalau aku mengancamnya.." Sahut Mayleen
"Tidak. Kamu ngancam apa emangnya?"
"Ah, apa dia tidak mengatakan kalau aku akan membuatnya jauh dari orang-orang yang dicintainya jika masih ingin merebutmu dariku."
"Heiiii.. Dia tidak merebutku darimu. Dengar, walaupun tidak pernah ada kata putus diantara kita dulu tapi hari kamu memilih meninggalkanku kuanggap semua sudah selesai. Walaupun begitu, aku tetap bertanggung jawab atas Rigel, anak kita."
"Hm.. Tapi aku maunya kamu kembali dihidupku, Langit."
"Ga bisa, kita sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Kamu sudah menikah dan aku juga tidak lama lagi akan menikahi Lenka. Mayleen, aku sungguh minta maaf atas semua yang telah kulakukan padamu dulu, aku khilaf dan meskipun aku tidak bisa menikahimu, aku pasti bertanggung jawab atas kekhilafanku itu."
Mayleen melengos.
"Tidak ada pilihan lain? Aku berharap kita bisa memperbaiki semuanya dan kembali dari awal lagi."
"Ga ada May, terlalu banyak hati yang akan tersakiti oleh alternatif-mu itu. Lagipula, aku bersyukur dengan keadaanku sekarang dan benar-benar ingin hidup yang lurus aja, ga mau macam-macam lagi. Aku pikir, aku sangat berterimakasih sama ibu-mu yang secara tidak langsung membuat hidupku begini."
Mayleen terdiam menyesali apa yang sudah terjadi dan mulai terisak.
"Tidak, jangan menangis, May. Cukup, hatiku tidak akan goyah dengan kemolekan tubuh dan juga airmatamu. Aku selalu berdua semoga kamu dan Rigel bahagia, walaupun aku tidak bersama kalian." Sambung Langit acuh dan berlalu pergi.