
"Silahkan nona." Langit membukakan pintu mobil untuk Lenka dan Latiefa, dengan gaya bellboy.
"Ayo masuk, Fa." Ajak Lenka.
"Bapaaak, Lenka bawa teman nih."
"Halo, saya bapaknya Lenka."
"Halo, pak. Saya Latiefa. Tadi Lenka mengajak saya ke sini mau ngerjain tugas sekalian numpang makan, hehe."
"Owh, silakan Latiefa. Bapak mau kontrol ke rumah sakit dulu sama nak Langit."
"Lenka, bapak pergi dulu ya. Masak yang enak."
"Siap, pak."
Tiba-tiba Langit datang menghampiri Lenka.
"Honey, aku pergi nganter bapak dulu ya." Pamitnya sambil mengecup kening Lenka.
"Iya sayang, hati-hati ya."
"Kami tinggal dulu ya, Fa." Pamit Langit pada Latiefa juga.
Latiefa terkejut, melihat Lenka yang santai aja dicium Langit.
"Widiiih.. Kamu, kamu ga salah pake sayang-sayang gitu trus ga nolak dicium sama Langit ?"
"Ga, emang kenapa Fa?"
"Hm.. ga apa-apa sih, 3 tahun pacaran kan kalian paling banter cuma pegangan tangan. Boro-boro bilang sayang. Apa kabar Langit yang kamu bilang, pacaran sama kamu hanya karena pelarian?"
"Ah, banyak nanya kamu Fa. Sekarang aku tahu kok, Langit tulus dan sungguh-sungguh mencintaiku. Aku yakin, akan jadi perhentiannya." Jawab Helena pasti.
"Aku ikut senang dengerinnya. Sementara aku, kapan punya pacar ya, hihi.."
"Udah ah, ayo kita masak dulu bentar."
Latiefa mengekori Helena yang berjalan ke arah dapur.
"Masak apa kita hari ini?"
"Emmm.. kita lihat stok di kulkas dulu ya. Kamu masak nasi gih Fa, biar cepet. Jangan lupa di cetek 'cook'nya ntar udah semangat mau makan, buka rice cooker ehhh berasnya masih berair belum jadi nasi, haha.."
"Iya.. Sering banget kejadian gitu, hihi. Trus masak apa nih kita?"
Helena menaruh bahan yang diambilnya dari kulkas di sebuag wadah berupa nyiru dari plastik.
"Ini ada ikan nila, daun melinjo, wortel, kacang, labu siam, jagung manis, tahu tempe, menurutmu..?
"Aha, aku tau Len.." Mata Latiefa tampak berbinar ceria.
"Apa coba?" Tanya Helena.
"Yang simple aja Len, sayur asem jakarta, ikan nila goreng, petenya dibakar trus lengkapi sama sambal terasi, bagaimana?"
"Ok, setuju. Cusss eksekusi." Sahut Helena.
Dengan cekatan kedua gadis itu membersihkan sayur, membuat bumbu dan mulai memasak.
"Kamu bikin sambel terasi-nya ya, Fa. Aku mau goreng emping blinjo dulu buat pelengkapnya." Kata Helena
"Siap. Eh btw, aku baru tau kalau kamu bisa masak, Len."
Aku juga ga nyangka bisa masak, Fa. Batin Helena.
Begitu selesai, memasak mereka sepakat mandi dan berganti pakaian lalu mengerjakan tugas kuliah sambil menunggu kedatangan pak Kasan dan Langit.
"Tadi ngajuin judul skripsi apa, Fa?"
"Ehmm.. Analisis Manajemen Keuangan Usaha Ternak Bebek Balagung Di Desa Babaluh." Jawab Latiefa.
"Wah, kamu penelitian langsung pulang kampung dong."
"Hihi, iya. Sekalian modus Len, kan usaha ternaknya juga milik perusahaan yang ga jauh sama rumah bapak. Kalau kamu, judul yang kamu ajuin apa?"
"Ada 2 sih, yang pertama Analisis Loyalitas Konsumen pada Ola Voila Resto trus yang kedua Analisis Persepsi Konsumen terhadap Confid de Canard (Survey Pada Konsumen Ola Voila Resto)."
"Busyeeet, kaya ga ada pilihan lain aja kok malah di Ola Voila sih, Len?"
"Emang kenapa?"
"Ah, berita itu terlalu dilebih-lebihkan Fa. Kalo ga percaya, nanti sore kita ke sana. Kebetulan aku ada cooking class disitu."
"Apa, cooking class di Ola Voila? Wah, bakalan seru tuh Len."
"Ayo cepetan nyelesein tugas ini, habis makan siang kita istirahat trus sorenya ke sana deh."
15 menit kemudian.
"Halooo.. nona-nona, wah lagi rajin bikin tugas ya." Sapa pak Kasan."
"Udah selesai kok, pak." Jawab Latiefa.
" Ayo, pak Lenka temani bapak ganti baju dulu trus kita makan siang sama-sama." Ujar Helena menggamit lengan bapaknya.
Sementara Langit, tanpa disuruh langsung menuju ke meja makan. Menyendok nasi ke 4 piring, menuangkan air minum, cuci muka dan tangan dan duduk manis menunggu Lenka dan pak Kasan.
π»π»π»
"Halo, Jean. Aku bawa teman nih."
"Halo Lenka. Halo temannya Lenka, perkenalkan saya Jeanett Moon. Kamu boleh memanggilku Jean, dan ini teman kita satu lagi, Mayleen.
"Hai Jean, hai Mayleen, saya Latiefa. Panggil aja Fafa."
"Em.. masak apa kita hari ini?" Tanya Helena.
"Tuh, ada chef Benjamin Sinaga dan Chef Maximillan, tanya aja sama mereka apa menu kita hari ini." Jawab Jean tersenyum sambil melongok seperti mencari seseorang.
"Langit masih di mobil, tadi sedang nerima panggilan telpon." Ujar Helena seolah mengerti.
"Begitu ya, kirain ga datang." Ujar Jean.
Setelah berkenalan, Lenka dan Latiefa mengekori kedua chef ganteng itu bergelut manis dengan bahan dan peralatan masak.
Kali ini Jean meminta Mayleen saja yang ikut memasak dengan chef sementara Lenka duduk manis saja sambil memperhatikan kedua chef itu.
"Hari ini, Mayleen dan cook helper lainnya sedang ditraining hidangan ala Italia, besok masakan khas Indonesia. Kita di sini aja, sebagai tim penilai." Ujar Jean.
Tidak lama Langit masuk dengan membawa peralatan dokumentasinya.
"Wow.. Italian cuisine!" Seru Langit antusias sambil memoto kedua chef dan Mayleen yang asik memasak.
Kurang dari 2 jam kemudian terhidanglah beberapa hidangan khas italia dihadapan mereka.
Ada ayam parmigiana, ayam goreng yang garing digabung dengan spageti dan keju.
Fettucine alfredo, mie lebar dengan saus yang terdiri dari mentega, krim, lada hitam segar, dan keju parmesan.
Hidangan klasik Italia, Lasagna dengan kulit lezat dari tepung terigu dan dipanggang di oven.
Makanan tradisional Italia Linguine alle vongole, pasta dengan saus kerang dicampurkan dengan bawang putih dan minyak saus.
Pizza Margherita, es krim gelato dengan campuran nutela dan biskuit, tiramisu dan tentu saja kopi sebagai pelengkapnya.
"Kalau sudah chef yang bikin, jangan tanya dah." Ujar Latiefa.
"Jangan salah, walaupun chef-nya mumpuni tapi lidah si penerima belum tentu sama dalam menilai. Bisa dibilang selera mempengaruhi harga." Jawab chef Maximillan yang sudah fasih berbahasa Indonesia.
"Nah.. nona-nona juga mas Lintang, karena hidangan sudah siap dan selesai didokumentasi, mari kita makan bersama." Ajak Chef Benjamin Sinaga.
Latiefa sungguh sangat senang hari ini karena baik ketika makan siang maupun makan makan malamnya lidah dan perutnya begitu dimanja hari ini.
Rejeki emang ga kemana. Batin Latiefa.
"Ehm.. teman-teman, dalam waktu dekat aku dan Lenka akan menikah." Ujar Langit sambil menggenggam tangan Lenka, usai bersantap.
"Wooow." Seru orang-orang yang ada di meja itu bahagia, kecuali Mayleen yang memilih ikut berpura-pura bahagia walaupun dalam hatinya dia sedih karena masih berharap bisa menjalin hubungan kembali dengan Langit.
"Saya pribadi berencana, akan mengadakan resepsi di.. tapi ini kalau pihak keluarga calon istri saya dan pemilik tempat tidak keberatan sih.." Tambah Langit lagi.
"Cepat katakan mas Langit, jangan bikin penasaran." Desak Jean tidak sabar.
Sementara Lenka hanya mengernyit aneh memandang kekasihnya, sungguh dia tidak tahu apa yang akan Langit katakan.
"Karena konsep acara kami simple dan tidak banyak tamu, hanya kalangan keluarga, kerabat dan beberapa rekan bisnis saja maka.. saya mau-nya, tapi ini masih mau-nya saya lho ya, saya mau-nya di Ola Voila resto, bagaimana menurutmu bu Jeanett?"
"Really ??" Jerit Jeanett tak percaya.
Lebih-lebih Helena dan Latiefa yang terkejut mendengat rencana Langit.