Lenka's Dish

Lenka's Dish
19



Helena telah menyelesaikan ujian semester bagi Lenka, dengan segala daya yang dia punya. Melihat nilai Lenka selama ini yang hanya standard, membuat Helena terpacu untuk berusaha lebih lagi. Mengingat ini semester terakhir yang ditempuhnya sebelum Lenka menjadi sarjana.


Pengajuan judul skripsinya pun sudah lolos, selama libur Helena sudah harus menyusun proposal dan nanti begitu masuk kuliah lagi, dia bisa melaksanakan seminar proposal.


"Honey, kegiatan di Ola Voila sedang kosong karena mulai renovasi, trus kamu kan lagi libur semester. Aku mau mengajakmu dengan bapak untuk pulang menemui keluargaku, bagaimana?"


"Emmm.. kalau bapak yes, aku sih yes juga." Sahut Helena.


"Nanti aku ngomong sama bapak. Semoga bapak tidak keberatan untuk ikut. Kalau kesehatan bapak sih ok, hanya bapak tidak boleh terlalu capek dan jangan terminum obat yang memicu penyakitnya kambuh."


"Rencanamu kapan, sayang?"


"Lusa, pas weekend. Jumat siang berangkat baliknya minggu malam."


Hm.. Lusa, berarti malam ini aku akan mulai mencari referensi untuk membuat proposal skripsi, besok paling tidak sudah selesai mengerik bab 1, target Helena.


"Sayang, apa yang bisa aku bawa untuk keluargamu? Mengingat ini pertemuan pertamaku dengan mereka. Aku ingin mereka berkesan dan menyukaiku."


Langit terkekeh bahagia, melihat Lenka yang begitu perhatian sekaligus khawatir akan reaksi keluarganya.


"Pertemuan pertama kamu bilang? Kamu lupa kalau orangtua kita bersahabat sejak lama, dan kita sudah sering bertemu. Keluargaku sudah jatuh hati sejak lama sama kamu, honey. Itu sebabnya mereka memilihmu untuk bisa jadi pendampingku. Makanya kamu tidak perlu repot-repot my honey, cukup bawa hati yang gembira dan senyum manismu untuk kamu bagikan ke keluargaku dan anak-anak."


"Anak-anak.. Maksudmu?


"Anak-anak panti, sayang. Setelah kakek meninggal, nenekku menghabiskan masa tuanya mengurus panti asuhan sebagai kesibukannya." Jawab Langit.


🌻🌻🌻


Helena masih setengah tertidur ketika dia menyadari lagi-lagi mengalami apa yang dinamakan lucid dream.


Ini bahkan bukan sekedar mimpi, ketika ia bisa merasakan sentuhan dan hembusan nafas Hans, suaminya. Hanya saja, Hans tidak mengetahui keberadaannya karena terlalu fokus dengan sosok cantik yang masih terbujur kaku di hadapannya.


"Sayang, bahkan hanya dengan memandang membelai wajahmu seperti ini saja sudah membuat separuh kegelisahanku berkurang." Ujar Hans lirih.


"Aku tahu, kamu kuat dan tidak akan mudah menyerah. Walaupun denyut nadimu melemah, tetaplah berjuang sayang. Demi aku dan anak-anak kita. Jangan tinggalkan aku, berjanjilah suatu saat nanti kamu akan bangun, sehat seperti sedia kala." Pinta Hans.


Helena terisak melihat kejadian itu. Entah sampai kapan ketulusan dan kesetiaan cinta mereka akan diuji seperti ini.


Setiap malam Hans hanya akan tidur sambil menjaga raga Helena, kecuali ada urusan yang sangat penting, Hans baru akan meninggalkan permaisurinya.


Walaupun demikian, Helena bersyukur. Setidaknya dengan terlempar ke Shelter Transitee dan menyelesaikan misi-misi dari ratu Acasha, Helena jadi ada kesempatan untuk berkumpul lagi dengan keluarganya.


Helena terbangun, dan membuka buku catatan misinya.


● Menolong kucing belang tiga. Point 100. Done.


● Aimee. Point 1000. Done.


● Menyelesaikan Studi Lenka. Waktu 7 bulan. On progres.


● Jeanett Moon di Ola Voila. Waktu 3 bulan. On progres.


● Mengajarkan anak-anak memasak. Waktu 3 bulan.


Setidaknya dari 3 tugas terakhir, sudah 2 yang on progres.


Jika ia ikut Langit mengunjungi keluarganya, paling tidak waktunya akan tersita 3 hari. Tapi.. Helena juga merasa perlu untuk refreshing. Tidak melulu mikirin target dan poin. Segala sesuatu kalau dijalani dengan enjoy akan terasa ringan bukan ?


🌻🌻🌻


Buah tangan yang sengaja Helena buat adalah penganan berupa bakpao isi daging dan kacang telur yang di taruhnya di dalam 2 wadah terpisah. Mengingat perkataan Langit bahwa tempat yang mereka tuju menempuh jarak lebih dari 1 jam dari Denpasar, Lenka sengaja menyiapkan 1 wadah kecil berfungsi sebagai bekal mereka di perjalanan agar mudah diambil sewaktu-waktu, 1 wadah lagi yang lebih besar untuk oleh-oleh.


Helena telah selesai berkemas dan menunggu Langit datang bertandang untuk makan siang dan berangkat bersama ke bandara.


Langit sengaja mengajak pak Kasan untuk ikut, pikirnya daripada pak Kasan ditinggal sendirian justru nanti membuat Lenka kepikiran lagipula kondisi pak Kasan memang sudah memungkinkan kesehatannya untuk bepergian.


Tiiiin..


Langit membunyikan klakson mobilnya.


Begitu keluar mobil, langsung masuk rumah menuju dapur.


"Sayang, lapeeeeerrr." Lapornya pada Lenka.


"Ayo, langsung aja nak mumpung masih hangat." Ajak pak Kasan.


Segera setelah membasuh tangan dan mukanya Langit duduk disebelah pak Kasan menikmati makan siang mereka berupa oseng buncis cumi, ayam bakar kecap dan sambal goreng pete.


20 menit usai bersantap, Langit menaruh barang Lenka dan pak Kasan ke dalam mobil.


"Yakin, ga ada yang ketinggalan kok dikit banget yang dibawa?" Tanya Langit seraya mencek barang yang dibawa Lenka.


"Eiiisshh.. Emang mau pindahan? balas Lenka.


"Hehe.. Simple banget sih kamu honey, aku aja bawa 1 koper besar. Ayo, kita meluncur takut macet."


Usai menitipkan mobil di parkiran bandara, Langit, pak Kasan dan Lenka, boarding.


Sejujurnya Helena cemas. Kemarin dia sempat mengecek perihal cara kerja pesawat terbang, sempat juga terbaca olehnya beberapa kejadian mengenaskan terkait kecelakaan pesawat. Membuat Helena keringat dingin dan pucat.


"Sayang, kenapa?" Tanya Langit.


"A.. Aku takut naik pesawat." Jawab Helena jujur. Di zamannya kan ga ada pesawat paling banter juga kereta kerajaan yang ditarik oleh kuda pilihan. Untuk perjalanan jauh menggunakan kapal laut yang bisa memakan waktu berminggu bahkan berbulan-bulan baru sampai di tempat tujuan.


"Sayang, apa yang kau takutkan. Bukankah kamu sudah sering naik pesawat?" Tanya Langit tersenyum.


"Eeenngg.. tidak tau, hanya merasa takut saja kalau-kalau.."


Pak Kasan juga merasa heran melihat Lenka yang sedari tadi tampak merenung dan cemas, tidak biasanya Lenka seperti itu, mengingat Lenka tergolong orang yang suka bepergian.


"Kecelakaan trus mati, maksudmu nak? Pak Kasan langsung ke poin pembicaraan.


"Nak, masih banyak orang mati ketika tidur dibandingin orang mati ketika naik pesawat. Apa yang kita khawatirkan jika umur ada di tangan Allah, Dia tau apa yang terbaik bagi kita. Sudahlah, sekarang kamu berdoa di dalam hatimu dan minum air putih." Anjur pak Kasan pada anaknya.


"Honey, nih **** permen ya sambil denger musik biar rileks." Langit memberikan permen juga headset untuk Lenka.


"Terimakasih."


"Sama-sama, cintaku." Langit tersenyum sambil memandang lekat pada Lenka.


"Apa?"


"Tidak apa-apa, hanya saja aku sudah merencanakan nanti setelah menikah kita akan berlibur ke tempat yaaaang, mungkin saja akan menempuh lebih dari 12 jam dalam pesawat."