Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 9. Istana



“Ada apa, Nona? Anda terlihat kurang sehat,” ucap Xia He meletakkan lauk pauk di meja, Lien Hua menggeleng.


“Aku tidak apa-apa, hanya merasa sedikit pusing. Pasti nanti akan sembuh.” Lien Hua tersenyum tipis, dia melirik sekitaran dan tidak menemukan siapapun.


“Di mana yang lain?”


“Ohh, pelayan lainnya sedang cuti karena ada urusan keluarga. Katanya, pangeran juga akan bertunangan dengan salah satu putri dari Tuan menteri.”


Lien Hua ber-oh, dia memakan sarapannya dengan tenang.


“Oh iya, Nona Lina. Saya ingin meminta izin pada Anda, besok pagi saya ingin pulang ke kampung untuk bertemu dengan nenek saya yang sedang sakit.”


Lien Hua melirik Xia He sekilas. “Hem, terserah saja. Oh iya, tolong beli beberapa barang di pasar siang nanti. Akan kuberi catatan yang perlu kau beli,” kata Lien Hua yang masih sibuk dengan sarapannya.


“Baik, Nona.”


...----------------...


“Egh, sekarang waktunya santai. Tapi, aneh. Aku tidak melihat Black lagi, apa dia bilang lagi?”


Lien Hua mengisi waktu luangnya dengan membaca buku di perpustakaan, Lien Hua mencari buku secara acak hingga dia tanpa sengaja menemukan satu buku berwarna hitam.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Lien Hua mengambil kursi dan menaikinya. Dia kemudian mengambil buku itu dan melompat turun dari kursi.


'Kenapa buku ini bisa berdebu sekali?' batin Lien Hua sambil menepuk-nepuk buku dan menghilangkan debu yang menutupi judul buku.


“Mantra sihir?”


“Buku apa ini? Apa ini buku tentang sihir atau cara penggunaan sihir? Sepertinya cukup menarik, lebih baik aku membacanya juga.” Lien Hua meletakkan buku itu di atas tumpukan buku lainnya, dia kemudian duduk di lantai dan bersandar di rak buku.


Dia mengambil salah satu buku dan membukanya, Lien Hua terbatuk-batuk karena debu yang tiba-tiba beterbangan dari dalam buku.


'Apa semua buku-buku ini berdebu?' Lien Hua menghela napas, dia dengan tekun membaca buku-buku itu hingga tanpa sadar. Matahari telah terbenam.


Hingga, suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Lien Hua. 'Apa Xia sudah kembali? Tapi ini-- eh, sudah sore? Aku tidak sadar.'


“Nona Lina, apa Anda di dalam?”


“I-iya, aku ada di sini. Ada apa?” tanya Lien Hua dan menutup buku-bukunya.


Xia He membuka pintu perpustakaan dan berjalan masuk. “Nona Lina, Menteri dan Nyonya menunggu Anda di bawah.”


“Lagi? Kenapa mereka selalu kemari?” gumam Lien Hua, dia berdiri dan mengambil salah satu buku dengan acak. Dengan langkah cepat, Lien Hua berjalan keluar perpustakaan menuju ruang tamu diikuti Xia He dari belakang.


...----------------...


“khem.. ada apa ya? Kenapa Tuan dan Nyonya menteri ke kediaman gadis biasa sepertiku?”


“Lien, Aku kemari karena ingin membahas sesuatu.”


Lien Hua menatap tenang Menteri yang berbicara dengan nada tidak enak. “Tentang? Oh tunggu, biar ku-tebak! Pasti Tuan Menteri kemari ingin membicarakan pertunangan secara paksa itu kan?”


“Benar, bagaimana kau bisa tau?”


Lien Hua melirik Nyonya menteri yang sedari tadi hanya diam, Menteri yang menyadari lirikan Lien Hua menghela napas.


“Sepertinya ibumu sudah memberitahu semuanya, ya?”


“Ralat! Mantan ibu!” ucap Lien Hua cepat, Menteri langsung menatapnya dengan garang.


“Apa? Kasih sayang? Ibu, ahahaha. Apa Anda sedang melawak, Tuan?” tanya Lien Hua sambil tertawa terbahak-bahak, dia menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


“Khem.. baiklah, kembali ke tujuan awal. Tentang pertunangan itu, Anda bisa memberikan apa padaku sebagai bayaran?”


“Bayaran?? Kau--”


“Sudahlah, Tuan. Lien, bukankah kita sudah membicarakannya kemarin?” tanya Nyonya Menteri, Lien Hua mengangguk membenarkan.


“Ya, memang benar. Lalu, kenapa ingin membahas pertunangan yang sudah pernah kita bahas? Apa kalian kehilangan topik?”


“Lien Hua, kami kemari agar kau ikut ke istana besok.”


“Hm, tidak perlu begitu repot. Tuan dan nyonya, saya akan pergi sendiri! Jadi, kita akan bertemu di istana. Jadi, tolong jangan menganggu saya. Sekarang! Oleh sebab itu, dengan hormat. Saya ingin kalian meninggalkan kediaman saya, sekarang juga!”


...----------------...


'Cih, yang benar saja? Untuk apa mereka mengirim kereta kuda kemari?? Sangat, sangat merepotkan aku saja!' Lien Hua mengomel dalam hati sambil memasang aksesoris rambutnya, setelah merasa cukup bagus.


Lien Hua berjalan menuju ke halaman kediaman, dimana kereta kuda yang diperintahkan Menteri telah menunggunya.


Lien Hua naik ke kereta kuda dengan wajah masam.


“Selamat pagi, Nona Li Lien Hua,” sapa sang kusir dengan ramah, namun hanya dibalas lirikan mata oleh Lien Hua yang menopang dagunya.


“Berapa lama kita sampai di istana?”


Kereta kuda mulai berjalan, Lien Hua menatap kediamannya yang mulai jauh. “Kira-kira, butuh waktu 23 menit untuk sampai di kekaisaran.”


“Oh,” gumam Lien Hua, dia hanya diam dengan perasaan bosan yang memenuhi pikiran dan lubuk hatinya.


Nona Li Mei'Andaikan aku tau akan sebosan ini, pasti aku akan mengambil beberapa buku sebagai teman dalam perjalanan. 23 menit? Huh.. aku bisa mati karatan jika menunggu selama itu tanpa melakukan apapun, menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan!!'


Lien Hua menghela napas berat, dia bersandar dan menatap ke depan dengan tatapan tenang. 'Kira-kira, bagaimana orang yang akan menjadi tunangan ku nanti? Apa dia benar-benar buta? Semoga saja tidak buruk rupa! Itu tidak penting, semoga saja dia tidak menyebalkan atau aku tidak akan tahan untuk menghabisi nyawanya itu!'


Karena terus berceloteh dalam hati, Lien Hua sampai tidak sadar kalau kereta kuda telah berhenti.


“Nona Li, kita sudah sampai.”


Suara sang kusir membuat Lien Hua tersadar, dia segera turun dari kereta kudanya dan bergabung dengan keluarga Menteri yang sudah menunggunya.


“Aku pikir kau tidak jadi kemari karena malu.”


Lien Hua menatap datar Li Yao yang berbicara dengan nada sinis. “Astaga, aku juga berpikir kau tidak akan ikut karena berani menolak pertunangan yang diajukan raja. Tapi ternyata--” Lien Hua menatap dengan tatapan sedih.


“Kau sangat bodoh dan tidak tau rasa terima kasih, bahkan lebih dari yang aku pikirkan,” lanjut Lien Hua dengan senyum mengejek.


“Kau!”


“Sudah! Ayo kita cepat masuk, jangan membuat keluarga kekaisaran semakin menunggu. Dan kau, Lien Hua. Jaga bicaramu dengan mereka, mau bagaimana pun. Mereka itu tetap adikmu!” tegur Menteri, Lien Hua berdecih sinis.


“Dengar ya, kalau bukan untuk balas budi. Kau pikir aku ingin membantu keluarga tidak tau diri kalian itu?”


“Lien Hua, cukup. Jangan melawan ayah dan adikmu lagi, ayo kita masuk,” lerai Nyonya Menteri yang sudah jengah dengan sikap suami dan anaknya.


Lien Hua berdecih.


...----------------...