Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 18. Pil hitam



Keduanya kini tengah berjalan di terowongan bawah tanah, Lien Hua melihat sekeliling dengan wajah kebingungan.


“Lian, kenapa kita kemari? Kita tidak ingin berburu ataupun bertualang, kan?”


“Seperti yang kukatakan kemarin, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Dan jalannya hanya ini, jadi tetap bersembunyi di belakangku. Aku tidak ingin kau sampai terluka,” jawab Lian sambil terus berjalan.


'Kenapa aku malah mirip protagonis lemah yang hanya mengandalkan orang lain? Benar-benar menyebalkan!'


Lien Hua yang masih melamun tidak menyadari Lian yang telah berhenti dan membuatnya menabrak punggung Lian, Lien Hua memegangi dahinya dan menoleh ke arah Lian.


“Apa kau baik-baik saja?”


“Y-ya, aku hanya sedang melamun. Maaf sudah menabrakmu.”


“Tidak apa-apa, ayo.” Lian menggenggam tangan Lien Hua dan membuka sebuah pintu rahasia, Lien Hua dengan bingung mengikuti Lian yang berjalan masuk.


“Kita ada di mana?” tanya Lien Hua sambil melepaskan genggaman tangan Lian, dia merasa aneh dengan banyaknya prajurit yang berjaga.


Lian menoleh ke arah Lien Hua. “Hua, aku harap kau tidak akan terkejut ketika melihat hal itu nanti.”


“Hal itu?” bingung Lien Hua, Lian menatapnya dengan senyum tipis. Dia kembali berjalan dan membuat Lien Hua mengikutinya.


----------------


“A-apa ini?” Lien Hua menatap terkejut sebuah bola besar yang melayang di depannya, Lian menoleh ke arahnya. Dia membuka kepalan tangannya dan memperlihatkan 10 bulatan kecil berwarna hitam.


“L-lian, kau tidak bekerja sama dengan iblis kan?”


“Hua, ini yang ingin kuperlihatkan padamu. Apa kau akan membenciku?” tanya Lian.


“L-lian, ini tidak benar kan?” Lien Hua melangkah mundur, dia berbalik dan berlari namun pintu sudah lebih dulu ditutup oleh prajurit yang berjaga.


“Buka pintunya!” Lien Hua menggedor-gedor pintu.


“Hua, maafkan aku. Aku tidak ingin kau membenciku.”


Lien Hua menoleh ke arah Lian. “Kau pembohong! Aku seharusnya tidak percaya pada orang sepertimu! Kau sudah membohongiku, Zhang Lian!!”


Lian terkekeh geli mendengarnya, dia menatap datar Lien Hua. “Hua, aku juga tidak ingin melakukannya--” Lian memperlihatkan satu bulatan hitam kecil dan melirik Lien Hua.


“Tapi demi mendapatkanmu, aku akan melakukan apapun.” Lian berjalan mendekat, sementara Lien Hua yang berusaha lari namun ditahan oleh beberapa prajurit.


“Lepaskan aku, sialan!!” kesal Lien Hua sambil memberontak, namun para prajurit itu tidak mendengarkannya.


Lian berdiri di depan Lien Hua sambil memegang bulatan kecil itu, dia kemudian melirik salah satu prajurit dan memberi isyarat.


Prajurit yang mengerti isyarat dari sang atasan membuka mulut Lien Hua dengan paksa. ”Maafkan aku, Hua. Tapi jangan khawatir, kau akan melupakan semuanya besok.” Lian memasukkan pil ke dalam mulut Lien Hua secara paksa, setelahnya. Para prajurit melepaskan Lien Hua.


Gadis itu langsung terduduk sambil terbatuk-batuk. 'Cih, lihat saja nanti! Akan kupastikan kau menyesal!' Lien Hua menatap datar lantai.


'Bagaimana sekarang? Aku harus memuntahkan pilnya atau aku akan mati!'


Lian justru tersenyum iblis melihat itu. “Selamat datang, Kakak. Aku sudah menunggumu sejak lama,” kata Lian sambil merentangkan kedua tangannya, seorang pria dengan jubah muncul di belakang Lien Hua.


“Sebegitunya kau ingin mendapatkan gelar Putra Mahkota.” Lien Hua yang mendengar suaranya merasa familiar, dia menoleh ke asal suara dan melihat pria itu.


'Apa dia si kakek tua? Em, sepertinya bukan. Suaranya lebih mirip.. Zhang Xue??' Lien Hua menatap pria berjubah itu dengan mata memicing.


“Ahahaha, Kakak memang benar. Tapi kali ini berbeda, pil yang kuberikan tidak akan membunuh Hua. Pil itu hanya akan membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.”


Lien Hua kembali menoleh ke arah Lian, dia masih tidak menyangka kalau teman tiga bulannya itu sangat jahat. Bahkan diluar ekspektasinya.


“Lian, aku membencimu!!” teriak Lien Hua, dia berdiri dan berlari keluar sambil membanting pintu hingga menimbulkan suara nyaring.


----------------


'Cih, merepotkan sekali aku harus berpura-pura jadi gadis lugu yang sangat mudah dibodohi.' Lien Hua mengasah belati yang dibawanya, dia melirik pintu besar di sampingnya.


'Untuk berjaga-jaga, aku akan diam di sini jika saja pria berjubah itu membutuhkan bantuan. Atau mungkin saja mereka sekongkol untuk kembali membodohi ku, ah Lilia. Lupakan soal itu, yang penting sekarang. Kau harus memuntahkan pil sialan itu sebelum racunnya merambat ke pembuluh darahmu, tapi masalahnya. Bagaimana aku bisa mengeluarkan pil itu? Memuntahkannya? Ah tidak, itu terlalu beresiko. Pilnya bisa saja hancur sebelum waktunya, mungkin aku akan menemukan cara mengeluarkan pil itu di perpustakaan.' Lien Hua menghela napas, dia menoleh ke belati yang sudah di asahnya.


Senyum tipis terbit ketika melihat belati di tangannya yang sudah sangat tajam hingga langsung menggores tangannya meski hanya menyentuh bagian tajam belati.


“Sempurna, dengan belati ini. Aku bisa membunuh dengan lebih mudah,” gumam Lien Hua, seseorang tiba-tiba muncul di belakangnya.


“Ada apa, Kakek tua? Apa ada misi yang bisa kukerjakan?”


“Lily, kali ini. Misi yang diberikan padamu sangat sulit dan juga, mungkin tidak akan bisa kau lakukan.” Lien Hua yang merasa diremehkan berdiri dan berbalik badan ke arah L.


“Apa kau meremehkanku? Kakek tua.”


“Bukan begitu, Lily. Tapi misimu ini.” L memberikan secarik kertas, Lien Hua mengambil kertas itu dan membacanya. Keningnya sedikit berkerut ketika selesai membaca isi kertas, dia kembali menatap L yang diam.


“Kakek tua, aku ini seorang pembunuh. Kenapa malah menyuruhku mencari informasi tentang Putra Mahkota? Itu benar-benar tidak sesuai dengan pekerjaan ku!” kesal Lien Hua.


“Terserah Lily, kau ingin menerima misi ini atau tidak itu terserah kau. Tapi jika kau menerimanya dan misimu berhasil, kau akan mendapatkan seribu koin emas sebagai imbalannya.”


Lien Hua seketika terbatuk-batuk ketika mendengarnya, dia menatap L dengan mata membulat sempurna.


“A-apa?? Seribu koin emas??” tanya Lien Hua tak percaya, L mengangguk.


“Jika kau menerima misinya, temui Seniormu untuk detailnya.” L langsung menghilang ditelan asap hitam, Lien Hua menghela napas sambil menatap kertas di tangannya.


Tiba-tiba, terdengar suara dentuman keras dari dalam ruangan dan mengejutkan Lien Hua.


Dia segera membuka pintu dan menatap terkejut ruangan yang kini sangat berantakan dan juga beberapa kerusakan tembok akibat sihir.


“Apa, yang terjadi?”


“Oh, Nona. Apa Anda baik-baik saja?” Lien Hua menoleh ke asal suara dan melihat pria berjubah itu, dia membawa sebuah pedang berlambang kekaisaran.


----------------