
“Semoga Yang Mulia panjang umur dan selalu sehat.” lima keluarga menteri itu menunduk hormat di hadapan raja, ratu dan juga para pangeran.
“Selamat datang, Li Yang,” sapa raja dengan ramah, Menteri tersenyum tipis.
“Perkenalkan, Yang Mulia. Dia adalah ketiga putriku, Li Yao, Li Mei, dan Li Lien Hua.”
“Putrimu sangat cantik, Li Yang. Jadi yang mana yang akan menjadi tunangan putraku?”
Lien Hua yang mendengarnya menghela napas, niatan ingin makan dengan tenang. Namun malah gagal karena pertanyaan tak berbobot dari Raja itu.
“Oh, tunangan dari pangeran Zhang Xue adalah Li Lien Hua. Putri Tertua kami.” Menteri melirik Lien Hua yang tampak bodoh amat, dia melirik pangeran yang akan menjadi tunangan nya nanti. Dia dengan serius menatap penuh selidik Zhang Xue.
Setelah diam cukup lama, Lien Hua menghela napas. 'Ternyata dia hanya berpura-pura buta, aku pikir dia benar-benar buta. itu sebabnya kedua adik bodoh itu menolaknya.'
“Baiklah, mari kita bahas tentang pertunangan ini.”
...----------------...
'Cih, kenapa aku malah mirip boneka hidup? Yang bisa dibuang sesuka hati ataupun dipungut lagi, benar-benar cari mati! Kalau bukan karena balas budi, sudah pasti kuhabisi mereka langsung!' kesal Lien Hua sambil menendang batu tak bersalah yang menjadi pelampiasannya.
“Ada apa?”
Lien Hua menoleh ke asal suara, keningnya sedikit berkerut ketika melihat siapa yang datang. “Apa Anda perlu sesuatu, Pangeran Zhang?” tanya Lien Hua sambil berdiri.
“Tidak usah sekaku itu, kenapa kau sendirian di sini?” Zhang Xue duduk di kursi taman, Lien Hua ikut duduk sambil terus menjaga jarak dari sang pangeran.
“Kenapa kau tau aku sendirian?”
“Dengar ya, Nona Li Lien Hua. Aku mungkin tidak bisa melihat, tapi pendengaran ku sangat sensitif. Aku bisa mendengar suara deru napasmu itu.”
“Sampai sebegitu nya? Hebat sekali, tapi bukankah itu sedikit merepotkan. Bagaimana jika yang kau dengar itu deru napas seseorang dan juga hewan buas?” tanya Lien Hua yang malas.
“Memang cukup merepotkan, tapi aku bisa membedakan mana manusia dan mana hewan buas. Jadi jangan khawatirkan apapun.”
Lien Hua langsung memalingkan wajahnya ke samping. “Aku tidak mengkhawatirkan apapun,” gumamnya.
“Oh iya, di mana Li Yao dan Li Mei?”
“Oh, mereka sedang berbicara dengan para pangeran lain. Apa kau ingin bergabung, Nona Lien Hua?” tawar Zhang Xue.
“Tidak per-- Black?” Lien Hua berdiri dan menatap ke satu jendela, dimana seekor kucing hitam tengah duduk sambil mengeong.
“Apa? Siapa, Black?”
“Tunggu di sini, aku akan kembali!” Lien Hua berlari kecil masuk ke istana, dia merasa bingung sekaligus aneh dengan kemunculan Black di istana.
...----------------...
'Sial! Padahal tadi aku melihat Black, tidak mungkin dia langsung menghilang begitu saja!' Lien Hua menatap seisi kamar dengan tatapan peluh selidik, hingga seseorang tiba-tiba memegang pundaknya dan membuatnya terkejut.
Lien Hua menoleh dan melihat seorang gadis yang tengah mengenakan seragam pelayan. “Maaf menganggu, Nona. Tapi Anda dilarang masuk ke kamar Pangeran Zhang Xue.”
“Ehh? Ini, kamarnya Pangeran?”
“Ah, eh baiklah. Di mana Menteri?”
“Tuan menteri sedang membicarakan hal penting dengan Yang Mulia raja, jika Anda perlu sesuatu. Silahkan beritahu saya.”
“Em.. tidak perlu, aku akan pergi.” Lien Hua berjalan pergi meski pikirannya masih mengarah pada Black yang ada di dalam kamar Zhang Xue.
'Tidak mungkin aku salah lihat kan? Aku yakin itu Black! Atau, aku hanya salah liat saja? Akh!! Menyebalkan sekali, aku ingin cepat-cepat pulang!!'
...----------------...
“Bagaimana dengan gadis itu, Yang Mulia?” Raja berjongkok dengan satu kaki sebagai tumpuan dengan kepala tertunduk, di depannya. Seorang pria dengan pakaian putra mahkota duduk di kursi kebesarannya.
“Cari tau tentang gadis itu, mungkin saja dia orang yang dicari Ibunda. Ingat, jangan sampai diketahui siapapun! Para adik bodohku sangat ingin memperebutkan gelar Putra Mahkotaku, dan jika ketahuan kalau gadis itu memang dia. Bisa-bisa malah gadis itu yang diincar oleh mereka!” suara berat pria itu mengalun di telinga sang raja.
“Baik, Yang Mulia. Saya akan memerintahkan beberapa prajurit dan pengawal untuk mengawasi dan melaporkan semua yang dilakukan gadis itu,” ucap Raja dengan hormat.
Pria di depannya hanya berdehem, dia kemudian mengibaskan tangannya. Raja berdiri dan membungkuk hormat, setelahnya. Dia mundur beberapa langkah dan pergi dari ruangan gelap yang hanya diterangi celah di dinding.
'Semoga itu benar-benar kau, gadisku. Ibunda telah menunggumu sejak lama.'
----------------
“Achuu..”
“Apa Nona sedang sakit? Lebih baik jangan istirahat saja dulu, saya akan menyiapkan air hangat.” Xia He berujar sambil menuangkan teh ke cangkir teh milik Lien Hua.
“Tidak perlu, aku baik-baik saja. Mungkin hanya flu ringan, pasti sebentar lagi akan sembuh.”
“Oh iya, bagaimana dengan keluargamu? Bukan seharusnya kamu ke desa untuk bertemu nenekmu?” tanya Lien Hua bingung.
“Benar, Nona. Saya memang akan kembali ke desa, tapi waktunya diundur karena tidak ada jalan ke sana. Jadi mungkin saya akan pergi besok siang.”
“Bagitu ya,” gumam Lien Hua sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
'Kalau Xia beneran pergi, aku malah akan kesepian di sini. Apa aku mendaftar di akademi saja ya? Tapi akan merepotkan jika ada misi.lagipula, Kakek tua itu menyuruhku untuk ke sana karena misi penting.' Lien Hua memijat pelipisnya pusing, Xia He sedari tadi memperhatikan gelagat aneh dari Nonanya itu.
“Ada apa, Nona? Apa Anda perlu sesuatu?”
“Ah, tidak. Aku hanya ingin memberitahu mu sesuatu, Besok juga. Aku akan pergi selama beberapa bulan karena urusan pekerjaan, jadi kalau bisa. Tolong bawa Black sekalian, aku tidak ingin dia sendirian di kediaman.” Lien Hua dengan anggun meminum tehnya, dia melirik Xia He dan kembali meletakkan cangkir teh ke meja.
“Baik, Nona Lina. Saya akan membawa Black bersama saya, tapi apa tidak apa-apa jika saya pergi? Nona juga pergi beberapa bulan, dan saya kemungkinan akan menginap selama seminggu.” Xia He mengetuk-ngetuk dagunya seolah berpikir.
Lien Hua bersandar dan ikut berpikir. “Benar juga, kediaman akan sepi. Mungkin sebaiknya aku membiarkan anak-anak itu tinggal untuk sementara waktu,” gumam Lien Hua yang kebetulan didengar oleh Xia He.
“Anak-anak?”
Lien Hua menoleh ke arah Xia He. “Benar, aku sempat menemukan seorang anak laki-laki bersama adiknya di pasar saat membeli sayuran. Kalau bisa, Xia. Tolong kau kepasar sekarang dan bawa keduanya kemari.”
...----------------...